Selamat menikmati
ELEGI
TERAKHIR
kecemasan
itu tercurahkan sudah
lewat
buih dan awan tebal
sayang,
sungguh kita terlalu mabuk
menikmati
putaran dunia menutup celah segala petaka
sementara
alam telah gelisah
merambatkan
getarannya pada urat bumi
senja
ini
kita
bisa membaca selengkapnya
isyarat-isyarat
terungkap sudah
sayang
kita susuri hutan ini
hingga
ke puncak
hingga
dapat kita lacak
dag
dig dug perut gunung
serta
debar samudera
semoga
ini
elegi
terakhir di pucuk takdir.
2010
MELEWATI
27
Parka usia
Lurus menembus jauh
Beberapa jembatan terlewati
Senyap dan sepi
Hingar keramaian
Satu persatu
Silih berganti
Ke arah manakah langkah menepi?
Kompas telah lepas
Arloji sesaat lagi mati
Aku melihat jarum alam menunjuk lurus
Ke garis akhir
Baqa.
2016
28
APRIL (BBM Untuk Chairil )
Bung, aku tau sekarang
Kenapa gambarmu tengadah.
Bukan melihat burung ataupun
mega.
Tapi muak menyaksikan
amburadulnya negara.
Bung, smsku memang tak pernah kau
baca.
Namun aku yakin, kau tak pernah
buta
Membaca alurnya urat-urat
peristiwa.
Bung, sepertimu aku hampa
Sepi ini menekan mendesak, muak.
Entahlah esok atau lusa, apa aku mampus atau
terjaga.
Bung, semoga BBM ini tidak ceklis.
Jikalau ceklis aku tentunya
menangis.
2015
INDRAGIRI
Membacamu
Membaca telapak tangan yang dingin
Membaca jemari yang memancarkan
ketenangan
Dari setiap ruasnya.
Seperti dzikir, aku mengingatmu
berkali-kali
Bahkan melupakan mantra
Yang senantiasa diwiridkan para pertapa
Membacamu
Membaca garis-garis ketentraman
Yang sebenarnya
2016
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/puisi-rian-ibayana/
