Minggu, 23 Oktober 2016

PUISI RIAN IBAYANA DI SUARA MERDEKA 23 OKTOBER 2016

Berikut adalah beberapa puisi saya yang tayang di surat kabar Suara Merdeka. semacam pemicu gairah menulis, sebab lebih dari tiga tahun bersemedi di goa sunyi.
Selamat menikmati



ELEGI TERAKHIR

kecemasan itu tercurahkan sudah
lewat buih dan awan tebal
sayang, sungguh kita terlalu mabuk
menikmati putaran dunia menutup celah segala petaka
sementara alam telah gelisah
merambatkan getarannya pada urat bumi

senja ini
kita bisa membaca selengkapnya
isyarat-isyarat terungkap sudah


sayang kita susuri hutan ini
hingga ke puncak
hingga dapat kita lacak
dag dig dug perut gunung
serta debar samudera

semoga ini
elegi terakhir di pucuk takdir.

2010




MELEWATI  27

Parka usia
Lurus menembus jauh
Beberapa jembatan terlewati
Senyap dan sepi
Hingar keramaian
Satu persatu
Silih berganti

 Ke arah manakah langkah menepi?

 Kompas telah lepas
 Arloji sesaat lagi mati

Aku melihat jarum alam menunjuk lurus
Ke garis akhir
Baqa.

 2016








28 APRIL (BBM Untuk Chairil )

 Bung, aku tau sekarang
Kenapa gambarmu tengadah.
Bukan melihat burung ataupun mega.
Tapi muak menyaksikan amburadulnya negara.
Bung, smsku memang tak pernah kau baca.
Namun aku yakin, kau tak pernah buta
Membaca alurnya urat-urat peristiwa.

 Bung, sepertimu aku hampa
 Sepi ini menekan mendesak, muak.
 Entahlah esok atau lusa, apa aku mampus atau terjaga.

 Bung, semoga BBM ini tidak ceklis.
Jikalau ceklis aku tentunya menangis.

2015









INDRAGIRI

Membacamu
Membaca telapak tangan yang  dingin
Membaca jemari yang memancarkan ketenangan
Dari setiap ruasnya.

Seperti dzikir, aku mengingatmu berkali-kali
Bahkan melupakan mantra
Yang senantiasa diwiridkan para pertapa

Membacamu
Membaca garis-garis ketentraman
Yang sebenarnya



2016

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/puisi-rian-ibayana/




CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...