Senin, 28 November 2016

PUISI RIAN IBAYANA DI SUMUT POST MINGGU 27 NOVEMBER 2016

CIWIDEY TENGAH MALAM III


Memahami kembali getar trotoar yang pernah kita pijak
ada sunyi yang lebih dingin
dari malam-malam gugur gemintang.
Bau pesing dan tumpukan sampah di sudut taman,
menyeruak memecah kenangan demi kenangan.
Ada yang berubah,
sebuah wajah telah musnah,
cahaya neon pedagang kaki lima, melahirkan bayang-bayang asing
bengis beton dan rangka yang melingkar
Sementara di sudut lain, menara masjid tampak bisu,
Ada pilu yang lebih kental dari nyeri-nyeri yang pernah kita kenal

CIWIDEY 2016

KEPADA ANNA CHAPMAN


kita berbahasa lewat rahasia

lewat matamu, seluk-beluk lubuk terlihat
lika-liku langkah yang kerap membangunkan bahaya
dalam terjaga
raga waspada
dalam lelap
kerlingmu terjaga

lewat matamu, berlembar-lembar kabar tergambar
sisi-sisi informasi
kalu lesatkan ke jauh
ke timur.

rahasia di balik rahasia
terbuka di meja rahasia

2016

ELEGI DI SEBUAH PASAR


Apa artinya teriakan ini, jika kelir getir tak juga dipahami
bertahun-tahun gelisah beranak-pinak,
di antara batu-batu yang tersembul di jalanan pasar.
Sementara debu-debu masa lalu masih menusuk mata, menampar wajah-wajah gusar.
Angin yang diboncengi bau sampah, seperti mengabarkan ngeri yang tak kunjung henti.
Dada-dada tersenggal oleh penggalan episode lama
ketika hijrah menjadi cara.

Di sini harapan demi harapan menjelma kepalan tangan.

Ciwidey November 2016

ANJANI PIJAR KENCANA


ANJANI
Tangis permata
Menyapa jagat raya
Sepi pun musnah

PIJAR
Jantung bergetar
Dialiri cahaya
Pijar di nadi

KENCANA
Harap melangit
Budi pekerti emas
Anggun mulia

MEI 2015



 http://www.langgamsp.com/2016/11/27/7003/puisi-puisi-rian-ibayana/


Minggu, 23 Oktober 2016

PUISI RIAN IBAYANA DI SUARA MERDEKA 23 OKTOBER 2016

Berikut adalah beberapa puisi saya yang tayang di surat kabar Suara Merdeka. semacam pemicu gairah menulis, sebab lebih dari tiga tahun bersemedi di goa sunyi.
Selamat menikmati



ELEGI TERAKHIR

kecemasan itu tercurahkan sudah
lewat buih dan awan tebal
sayang, sungguh kita terlalu mabuk
menikmati putaran dunia menutup celah segala petaka
sementara alam telah gelisah
merambatkan getarannya pada urat bumi

senja ini
kita bisa membaca selengkapnya
isyarat-isyarat terungkap sudah


sayang kita susuri hutan ini
hingga ke puncak
hingga dapat kita lacak
dag dig dug perut gunung
serta debar samudera

semoga ini
elegi terakhir di pucuk takdir.

2010




MELEWATI  27

Parka usia
Lurus menembus jauh
Beberapa jembatan terlewati
Senyap dan sepi
Hingar keramaian
Satu persatu
Silih berganti

 Ke arah manakah langkah menepi?

 Kompas telah lepas
 Arloji sesaat lagi mati

Aku melihat jarum alam menunjuk lurus
Ke garis akhir
Baqa.

 2016








28 APRIL (BBM Untuk Chairil )

 Bung, aku tau sekarang
Kenapa gambarmu tengadah.
Bukan melihat burung ataupun mega.
Tapi muak menyaksikan amburadulnya negara.
Bung, smsku memang tak pernah kau baca.
Namun aku yakin, kau tak pernah buta
Membaca alurnya urat-urat peristiwa.

 Bung, sepertimu aku hampa
 Sepi ini menekan mendesak, muak.
 Entahlah esok atau lusa, apa aku mampus atau terjaga.

 Bung, semoga BBM ini tidak ceklis.
Jikalau ceklis aku tentunya menangis.

2015









INDRAGIRI

Membacamu
Membaca telapak tangan yang  dingin
Membaca jemari yang memancarkan ketenangan
Dari setiap ruasnya.

Seperti dzikir, aku mengingatmu berkali-kali
Bahkan melupakan mantra
Yang senantiasa diwiridkan para pertapa

Membacamu
Membaca garis-garis ketentraman
Yang sebenarnya



2016

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/puisi-rian-ibayana/




Minggu, 10 April 2016

CIWIDEY KOTA PENUTUP ROADSHOW NOVEL MANEKEN


Mengisi hari libur, Minggu 10 April kemarin, Kawah Sastra Ciwidey (KSC) menggelar bedah buku Maneken, karya Sangaji Mungkian. Seorang penulis muda asli kelahiran Ciwidey. Bedah buku yang diselenggarakan di Cs Me Cafe dan Resto yang beralamat di Jalan Ciwidey - Rancabali KM 4 itu, dihadiri puluhan peserta terutama para remaja yang hobi menulis  juga ingin menimba ilmu dan pengalaman secara langsung dari penulis.
Novel Maneken merupakan novel fiksi yang menceritakan dua Maneken, boneka kayu yang selalu dipajang di toko busana. Kedua Maneken dibuat hidup oleh Sangaji Mungkian, masing-masing bernama Claudia dan Ferelly. Selayaknya manusia, kedua Maneken tersebut saling mencintai dan dituntut untuk memperjuangkan cinta mereka. Dengan berbagai konflik serta kerikil dalam memperjuangkan cinta, akhirnya kdua maneken tersebut berakhir bahagia dalam dunianya.

Sangaji Mungkian penulis Novel Maneken mengatakan bahwasanya gelaran bedah buku serta diskusi itu merupakan penutup dari Roadshow buku Maneken yang diselenggaran di lima kota di Indonesia. Sebelumnya dilaksanakan di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Sumedang serta Magelang.  Aji (nama panggilan penulis) juga mengatakan bahwa roadshow tersebut terselenggara  atas jalinan apik dengan berbagai komunitas serta club pecinta buku di kota-kota tadi. Aji sengaja ingin menutup roadshow buku Maneken  di tempat kelahirannya yaitu Ciwidey. KSC sebagai wadah para pecinta sastra di Ciwidey menyambut baik keinginan Sangaji Mungkian untuk menggelar Bedah Buku tersebut.
Aya Sofi seorang pembaca buku yang hadir pada  acara tersebut mengatakan bahwa Novel Maneken membisikan bahwa imajinasi mampu menghidupkan benda mati dan cintalah yang membuat manusiawi. Diskusi diisi dengan tanya jawab serta sesi berbagi pengalaman menulis, termasuk suka duka ketika menulis novel tersebut yang rampung selama 4 Bulan. Mengirimkannya ke berbagai penerbit namun ditolak, hingga suatu hari penerbit Republika menerima Karya penulis muda Ciwidey itu.
   Lupita Lestari, panitia dari KSC yang merangkap juga sebagai MC. Mengatakan bahwasanya diskusi Maneken karya Sangaji tersebut merupakan agenda bulanan yang selalu  diselenggarakan oleh KSC. Lupita juga memaparkan bahwa dua bulan sebelumnya telah diadakan kajian jurnalistik dengan pemateri Yogira Yogaswara dan diskusi santai membahas tema Budaya Populer oleh Ferry Fauzi Hermawan M.Hum.


Diskusi berlangsung selama dua jam dan berjalan secara hangat. Untuk memecah kejenuhan penulis memberikan beberapa hadiah bagi para peserta yang bisa menjawab pertanyaan perihal novel Maneken. Diskusi ditutup oleh penampilan dari beberapa anggota KSC yaitu Pembacaan Puisi serta Stand Up Comedy. (Rian Ibayana)

CIWIDEY, 2016

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...