Senin, 09 April 2012

RADAR TASIKMALAYA 8 APRIL 2012

SEPEDA ANAK

cerita masa kecil melaju di sepeda biru roda tiga
dengan perlahan menggilas keramik rumah
menggilas gang demi gang
menggilas waktu yang merentakan setiap kayuhan.
pikiran-pikiran mungil melambung seiring lagu anak yang diperdengarkan.
bergeraklah nak
sebab usia berputar seiring rotasi roda
semakin jauh
kayuh dengan cepat
dan berlarilah.
2012


SAMPAI DRAMA INI BERAKHIR

Ingin kusetubuhi potretmu dengan leluasa
lewat hasrat liarku hingga dapat kau kecap,
nafasku yang berantakan.
Hasratku menggila
kulumat kehormatan potretmu
seperti penjajah
melumat habis tanah jajahannya.
Ketidakberdayaanmu
berarti kejayaanku
maka rasakanlah
kekuatan serta ambisi
ang mengalir dalam aortaku.
Jangan menjerit
mendesahlah untuku
agar tak sia-sia kebejadanku.
Berbaringlah...!
Biar kulipat hari-harimu dalam dadaku
Karena berantakan pula nafasmu.
Sampai drama ini berakhir
disambut sorak sorai dan tepuk tangan.
SEPTEMBER 2010


MEMOTONG RAMBUT

Memotong rambut, mengakhiri musim sunyi
yang mengendap di dada kanan dan kiri.
Menutup pentas gelisah cuaca.
Cahaya gemilang kelap-kelip di hadapan
semakin ke atas semakin terang.
Lama sudah, beban-beban bergelayut di raut rambut
terkadang menarik ke belakang
hingga langkah oleng, limbung jalan.
Memotong rambut, menamatkan alamat lama
memburu ruang baru.
2010


HALAMAN MALAM

Anyir sepi menyeruak ke ruang malam
Seiring lampu neon yang sengaja dipecahkan
Tak ada ruang buat menambatkan temali
Kebenaran yang kental tumpah di ubin
Tak ada yang lebih lindap selain kehilangan kebebasan
Tak ada yang lebih jalang s
elain mengarungi bulan yang bergetar dalam getir
Ketika musnah waktu minum susu,
musnah waktu menenangkan gelisah
musnah waktu mengubur debur huru-hara.
Anyir sepi menyeruak ke ruang malam
seiring lampu neon yang sengaja dipecahkan
hilang ruang untuk bersidekap memahami ketentraman langit
hilang ruang untuk menumbuk butir takdir dan memahami ketentraman bumi.
“Saat setiap kepala merasa benar, saat itulah dunia makin nanar”
2011


DUKA MENGENDAP DI DEKAT TIANG TOKO

duka mengendap di dekat tiang toko
di bawah remang cahaya neon
ternyata nasib tak seritmis gerimis
memeras jantung dan memaksa memahat jejak ini
gelisah yang semakin hari semakin kenta
ltumpah di ubin orange depan mall yang telah mendengkur
usia yang mengahadap pagar trotoar
melahirkan bayangan di lengang jalan
duka mengendap di dekat tiang toko
langit seperti menaburkan memar
saat runcing kilat mendenyutkan ungu subuh
ah, tak ada yang menghampiri malam ini
hanya angin dan gaung sunyi
sebab hidup harus tetap bersidekap
langkah ini bergulir mantap
2012


PRAHARA

sesak
seperti tak pernah dia temui jalan datar
tangga demi tangga makin memuncak
sementara dadanya berdetak
melebihi nada dering di handphone
melebihi ketiukan-ketukan dari dalam mobil yang memanggil mesra
lelah
seperti tak pernah dia temui pijar fajar
maupun raut matahari
begitupun dengan cahaya dan kunang-kunang
seperti meredupkan degup
lalu menghilang
jenuh
dia seperti hilang seluruh.
2012



KE KOTA LUKA II
-tragedi Bima

patahkan kuas
bakar kanvas di tanganmu
tiada lagi yang mesti dilukis
sebab tetes demi tetes darah lebih pekat dari cat
lihatlah ke tenggara, di pagi buta langit memerah amarah
pelabuhan kota dibingkai luka
hilang rasa keadilan adalah takdir terlindap
patahkan kuas
bakar kanvas di tanganmu
tiada lagi yang mesti dilukis
sebab hidup ada di bawah ancaman
moncong bedil dan tajam belati
serta taring kekuasaan
hilang rasa kemanusiaan adalah tragedi tergelap

ujung 2011

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...