GERAM
Siapa yang tak geram, ketika negara dikoyak dari dalam
Rakyat dipaksa membuat riwayat baru, riwayat melarat dari waktu ke waktu
Tak bisa dipahami, selalu saja ada cara menghujamkan tangan
Kemudian menyembunyikannya dengan apik
Tak bisa dimengerti. begitu mudah otak meracik taktik
Menyulap yang ada menjadi tiada, juga sebaliknya
Mengidupkan yang tiada menjadi tampak di depan mata.
Sementara rakyat semakin tercekik, tanpa ada yang melirik
Semacam hikayat baru telah terlahir.
Siapa yang tak geram, ketika negara dikoyak dari dalam
Kursi demi kursi yang tercipta dari rahim ambisi, hanya mampu melemparkan getir
Hilang pegangan, musnah faedahnya.
Kepala demi kepala seperti menciptakan kepala baru, kepala batu.
Kepala yang penuh reka perdaya,
Menyulap yang ada menjadi tiada, juga sebaliknya
Menghidupkan yang tiada menjadi tampak di depan mata.
Sementara rakyat semakin terhimpit, di ruang yang penuh jerit
Sandiwara baru tercipta kembali.
2017
Basa-basi rindu
Demi rindu, berbagai cara kau tempuh,
meski jalanmu dipenuhi serpihan kaca, sisa kekacauan kemarin.
Tampaknya isi dadamu lebih menggebu dari berkobarnya api.
Rindumu berlapis-lapis, lebih tebal dari deretan kawat berduri
Saat terjadi kekacauan kemarin
Ya rindu jualah yang memaksamu memasak lebih dini
bangun lebih janari dan mencuci lebih pagi
Agar segera bersua, mematangkan isi kepala.
Ah, jangan terlalu serius, ini hanya basa-basi rindu
Desember 2016