MEMURNIKAN JELAGA
Seakut inikah sunyi menyelinap di kantung malam.
Aku seperti berjalan sendiri pada lintasan purba, tak terkira jaraknya
Saujana, hamparan langit tak bertiang, tanpa penyangga.
Seakut inikah sepi mengarak di samudera hidup
aku hilang haluan, limbung bahtera, terang redup.
Kekasih, jejakmu benar pasti, memurnikan jelaga.
2011
BULAN
Sebelum kita menjadi asing kembali.
Saling tanya nama satu sama lain.
Peluklah aku sebagaimana engkau memeluk malam.
Peluklah aku sampai berkeringat
dan langit menurunkan airmata.
Juni 2010
JEMBATAN BIRU
Masih banyak yang perlu dilengkapi
sebelum moncong lokomotif mengoyak perjalanan.
Dan melarungkanmu ke jauh ruang.
Di atas jembatan biru berkarat, engkau membaca raut keriput seorang pengemis
seperti membaca waktu yang semakin dekat ke hilir takdir.
Matamu menerawang ke jauh batas, ke ujung rel yang hilang disekap asap.
Seperti berdoa.
Banyak petualangan yang terlewati dari sejuk langkah hingga nyeri
melayari langit kusam hingga pijar pelangi,
masih banyak yang perlu dilengkapi
sebelum bengis roda kereta melindas kita.
Masih banyak yang perlu dibangun, pilar serta tiang penyangga
sebelum tamat
sebagaimana jembatan biru yang habis oleh karat.
2011