Sabtu, 29 Agustus 2020

PUISI RIAN IBAYANA. BMR FOX 27 AGUSTUS 2020

 LEWAT SIARAN RADIO

-          Kepada Moch Syarif Hidayat

 

Di udara, kalimat-kalimat isyarat  menentukan nasibnya.

Puisi mengembara, merambat lewat celah gelombang

Menuju  titik takdirnya masing-masing.

Di udara, kata demi kata  membentuk wasilahnya sendiri.

Entah untuk membunuh rindu ataupun mengabadikan kenangan.

Merawat baik-baik hingga sampai ke palung batin, pendengarnya.

 

2020

 

Menuju Duhur

Sekian jam kita mengolah cemas dengan kadar yang berbeda.
Tak terhitung detak jantung diburu, waktu yang setajam pisau.

Buka lemari kecil di dapurmu, masih adakah cadangan tabah yang kau simpan?
Masih luaskah loyang kesabaramu?

Sebelum tulang iga lelah menjaga rahasia

Sebelum lutut menjadi payah menopang perkara

Siapkan alat masak dan segenap bumbu
sudah saatnya kita mematangkan rindu

2020

 

 PENGANGKUT AIR



Mengarungi sungai peluh dari dahi menuju ujung kaki
dapat kuhayati betapa jauhnya jarak langit dan bumi.
Kegelisahan merambat lewat urat nadi

Ketika musim tiba-tiba berubah
semua mata kehilangan arah.

Mendaki pundak kanan yang semakin hari semakin berlubang
kutemukan makna perjuangan
tak sia-sia
langkah demi langkah makin berharga.

Mengarungi sungai peluh dari dahi menuju ujung kaki
dapat kuhayati betapa jauhnya jarak langit dan bumi.

Ketika tanah pecah kekeringan
Kehadiranmu adalah harapan.



2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SINAN*

Adalah untuk keagungan yang tak terbatas.
Pondasi kau tata
di atas tanah damai ini
Benteng-benteng panjang
serta megah kubah dan menjulangnya menara.
Tata kota gemilang
air mancur serta kolam sultan.


Bukan sekedar tumpukan batu
apa yang kau susun, apa yang kau bangun
Adalah ketegaran do'a,
serta keluasan rindu kepada-NYA


* Arsitek jaman raja Sulaiman, Turki othoman.


NOVEMBER 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ONOMATOPE HATI


Anjing menyalak di puncak bukit


Namun hati,
berteriak tanpa suara
menentang kekeliruan raga.


2020

 

 

OMRAN ALAN (KE KOTA LUKA 3)

 

lagi-lagi, ke kota luka, kepala demi kepala disetir getir

menyaksikan sebuah jam,  pecah di ubin darah

 

di sana masa depan seperti terhenti tertimpa puing-puing

 

tolong diam beberapa menit, tengoklah

seorang bocah telungkup di tepi laut

 

ke kota luka, mata kita digiring

memahami nurani yang semakin kering

 

tolong diam sejenak, seorang bocah dengan tatapan kosong

menyeka luka di dahinya, wajah penuh debu  dan darah

 

apa yang dapat diharapkan, dari deru peluru dan desing pesawat

yang memekakan telinga?

 

semua sia-sia

 

lagi-lagi, kepala demi kepala disetir getir

ke kota luka

ya, ke kota luka

 

2016


http://epaper.bfox.co.id/2020/08/27/mobile/index.html

 

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...