LEWAT SIARAN RADIO
-
Kepada
Moch Syarif Hidayat
Di udara, kalimat-kalimat
isyarat menentukan nasibnya.
Puisi mengembara, merambat lewat
celah gelombang
Menuju titik takdirnya masing-masing.
Di udara, kata demi kata membentuk wasilahnya sendiri.
Entah untuk membunuh rindu ataupun
mengabadikan kenangan.
Merawat baik-baik hingga sampai ke
palung batin, pendengarnya.
2020
Menuju Duhur
Sekian
jam kita mengolah cemas dengan kadar yang berbeda.
Tak terhitung detak jantung diburu, waktu yang
setajam pisau.
Buka lemari kecil di dapurmu, masih adakah cadangan tabah yang kau simpan?
Masih luaskah loyang kesabaramu?
Sebelum tulang iga lelah menjaga rahasia
Sebelum lutut menjadi payah menopang
perkara
Siapkan alat
masak dan segenap bumbu
sudah saatnya kita mematangkan rindu
2020
Mengarungi sungai peluh dari dahi menuju ujung
kaki
dapat kuhayati betapa jauhnya jarak langit dan
bumi.
Kegelisahan merambat lewat urat nadi
Ketika musim tiba-tiba berubah
semua mata kehilangan arah.
Mendaki pundak kanan yang semakin hari semakin
berlubang
kutemukan makna perjuangan
tak sia-sia
langkah demi langkah makin berharga.
Mengarungi sungai peluh dari dahi menuju ujung
kaki
dapat kuhayati betapa jauhnya jarak langit dan
bumi.
Ketika tanah pecah kekeringan
Kehadiranmu adalah harapan.
2020
SINAN*
Adalah untuk keagungan yang tak terbatas.
Pondasi kau tata
di atas tanah damai ini
Benteng-benteng panjang
serta megah kubah dan menjulangnya menara.
Tata kota gemilang
air mancur serta kolam sultan.
Bukan sekedar tumpukan batu
apa yang kau susun, apa yang kau bangun
Adalah ketegaran do'a,
serta keluasan rindu kepada-NYA
* Arsitek jaman raja Sulaiman, Turki othoman.
NOVEMBER 2019
ONOMATOPE HATI
Anjing menyalak di puncak bukit
Namun hati,
berteriak tanpa suara
menentang kekeliruan raga.
2020
OMRAN ALAN (KE KOTA LUKA 3)
lagi-lagi, ke kota luka, kepala demi
kepala disetir getir
menyaksikan sebuah jam, pecah di ubin darah
di sana masa depan seperti terhenti tertimpa
puing-puing
tolong diam beberapa menit, tengoklah
seorang bocah telungkup di tepi laut
ke kota luka, mata kita digiring
memahami nurani yang semakin kering
tolong diam sejenak, seorang bocah
dengan tatapan kosong
menyeka luka di dahinya, wajah penuh
debu dan darah
apa yang dapat diharapkan, dari deru
peluru dan desing pesawat
yang memekakan telinga?
semua sia-sia
lagi-lagi, kepala demi kepala disetir
getir
ke kota luka
ya, ke kota luka
2016
http://epaper.bfox.co.id/2020/08/27/mobile/index.html