MUSEUM
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
berpaling dari mata zaman yang kerap menyilaukan.
Izinkan kubangun ulang ta'arufku padamu
yang hampir pudar dibakar matahari kekinian.
Biar kukecup punggung tanganmu yang berlukis kisah purba.
Jari-jarimu adalah prasasti, sedangkan di telapak tanganmu tergambar
liku sejarah.
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
memutar-balikan langkah melawan deras jam yang menghanyutkan.
Izinkan kupelajari ulang kejayaan silam di tubuhmu yang kini tebal berdebu.
Sehingga dapat kuperbaiki bentuk dayung
serta lebar perahu biar tak tenggelam di jeram kekeliruan.
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
memeluk setiap centi dingin tubuhmu.
Kembali menafsirkan aliran darah yang kaya dengan petuah-petuah leluhur
meraba setiap tonjolan urat-uratmu yang mengisyaratkan perjuangan.
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
meramaikan kesunyian yang hinggap berabad-abad.
Kemudian izinkan kunikmati matamu yang pusaka,
kulit halusmu yang berlukis naskah tua
dan kekuatan langkahmu yang serupa roda kereta.
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
meninggalkan tajamnya abad baru yang keliru.
Mari kutata ulang romantismu lama yang hampir musnah.
Biar kudekap mesra tubuhmu, menyatukan diri menjadi menhir maupun candi
yang tak lekang diterpa zaman.
APRIL 2010
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
berpaling dari mata zaman yang kerap menyilaukan.
Izinkan kubangun ulang ta'arufku padamu
yang hampir pudar dibakar matahari kekinian.
Biar kukecup punggung tanganmu yang berlukis kisah purba.
Jari-jarimu adalah prasasti, sedangkan di telapak tanganmu tergambar
liku sejarah.
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
memutar-balikan langkah melawan deras jam yang menghanyutkan.
Izinkan kupelajari ulang kejayaan silam di tubuhmu yang kini tebal berdebu.
Sehingga dapat kuperbaiki bentuk dayung
serta lebar perahu biar tak tenggelam di jeram kekeliruan.
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
memeluk setiap centi dingin tubuhmu.
Kembali menafsirkan aliran darah yang kaya dengan petuah-petuah leluhur
meraba setiap tonjolan urat-uratmu yang mengisyaratkan perjuangan.
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
meramaikan kesunyian yang hinggap berabad-abad.
Kemudian izinkan kunikmati matamu yang pusaka,
kulit halusmu yang berlukis naskah tua
dan kekuatan langkahmu yang serupa roda kereta.
Sudah saatnya aku mengunjungimu kembali
meninggalkan tajamnya abad baru yang keliru.
Mari kutata ulang romantismu lama yang hampir musnah.
Biar kudekap mesra tubuhmu, menyatukan diri menjadi menhir maupun candi
yang tak lekang diterpa zaman.
APRIL 2010
SABUNG PATANA
saat isi kepala melambung, mengabarkan pekik gelisah yang terhimpit di
ruang sempit
amarah bergejolak melakoni pentas yang tak jua retas
sementara derai-derai kebenaran seperti asap tanpa wajah
punah harmoni dari degup jantung, derap langkah didera debar resah
saat semua sadar, ribuan peta telah karam di danau
sementara ruang tenang terbelenggu deretan gembok
maka
bung
bung
bung
pekik si jago membahana dengan jantan
kaki-kaki tajam mengeruk tanah
sayap mengepak tegas
paruh mematuk perkasa
saat segala cara lebur dalam debur
sebelum lahir prahara dari ketidaksepahaman kepala
bung
bung
bung
maka
saatnya sabung digelar
2011
saat isi kepala melambung, mengabarkan pekik gelisah yang terhimpit di
ruang sempit
amarah bergejolak melakoni pentas yang tak jua retas
sementara derai-derai kebenaran seperti asap tanpa wajah
punah harmoni dari degup jantung, derap langkah didera debar resah
saat semua sadar, ribuan peta telah karam di danau
sementara ruang tenang terbelenggu deretan gembok
maka
bung
bung
bung
pekik si jago membahana dengan jantan
kaki-kaki tajam mengeruk tanah
sayap mengepak tegas
paruh mematuk perkasa
saat segala cara lebur dalam debur
sebelum lahir prahara dari ketidaksepahaman kepala
bung
bung
bung
maka
saatnya sabung digelar
2011