Senin, 03 Juni 2019

CERPEN RIAN IBAYANA DI DENPASAR POST MINGGU 02 JUNI 2019


MARTIL PAMUNGKAS

Martil Terakhir
Matamu tampak memancarkan rona amarah tiap kali mengusap benda itu. Sebuah martil tua yang kau pajang di ruang tengah rumahmu. Martil yang berwajah dingin, legam seperti menyimpan dendam. Napasmu terlihat tidak beraturan lebih cepat dari biasanya ketika menurunkan benda itu ke atas meja, kau amati dengan seksama mulai dari kayu pegangan yang terbuat dari kayu rasamala  hingga bagian kepala martil tersebut. Kau memandangi benda itu dengan khusyu, seperti menyelami masa lalu.
            Setiap malam ke empat belas, ketika bulan bulat sempurna, kau senantiasa membersihkan martil itu, bahkan sifatnya menjadi wajib. Kau rajin melingkari tanggal-tanggal pada kalender yang bertepatan dengan bulan purnama dan kau haramkan orang-orang untuk bertamu jika malam sakral itu telah tiba. Sebenarnya tak ada yang menarik dengan martil yang kau manjakan itu, bentuknya sama dengan martil biasa dipakai oleh para pemecah batu. Namun caramu merawat benda itu membuatku tidak paham, kau seperti merawat amarah dan dendam yang ada pada benda itu.
            “Ini martil terakhir di keluarga kita” ungkapmu di sebuah malam purnama. Umurku baru tujuh tahun kala itu, belum mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Namun aku bisa melihat di sudut matammu tampak basah, seperti habis menangis. Kau menyuruhku memegang martil yang beratnya kira-kira 10 kilogram itu. “Peganglah, namun sampai akhir hidupmu jangan sekali-kali memegangnya lagi” suaramu lirih. Tanganmu yang sedikit kasar, mengarahkan tanganku ke arah benda dingin itu. “Martil ini warisan dari kakekmu, warisan paling berharga milik kita, setelah ini kamu jangan sekali-kali menyentuhnya lagi, berjanjilah, kita sudah hidup layak saat ini, sudah saatnya mengubur kerasnya masa lalu” .
            Selepas malam purnama itu, aku tidak pernah melihat airmatamu lagi. Matamu lebih sering memancarkan cahaya merah, seperti api. Sejak itu aku tidak berani mendekatimu ketika kamu melakukan ritual pembersihan martil, kau telah berubah.
Potret Usang
        Senja merah tembaga, kamu duduk di teras rumah, di hadapanmu ada sebuah koper hitam, sedikit berdebu. Kau menyuruhku duduk lebih dekat, kemudian tanganmu mengelus rambutku dengan manja, hal yang jarang kamu lakukan. Sebuah album foto berwarna merah hati kau keluarkan dari dalam koper tua itu kemudian menyuruhku membuka album itu lembar perlembar.
            “ Itu kakekmu” katamu sambil menunjuk sebuah potret lelaki tua menggunakan baju safari berdiri di depan sebuah helikopter. Potret hitam putih dengan sudut gambar yang sudah memudar. “Kata kakekmu, foto ini diambil ketika pemerintah mengadakan program pameran alusista di lapangan kecamatan, masyarakat kecil seperti kakek merasa senang sebab menjadi hiburan tersendiri, makanya kakekmu sengaja memakai baju paling bagus. Dan ikut berfoto di depan helikopter yang dipamerkan.” Kau tampak bersemangat menceritakan sosok di foto itu.
            Pada halaman kedua album tersebut , aku tak berani bertanya apa-apa, aku hanya diam melihat foto dua anak yang wajahnya tampak mirip, sepertinya anak kembar, atau kakak beradik yang usianya tidak berjauhan. Kedua anak itu duduk di tepi kolam, tampak habis berenang. Yang satu sedang tersenyum sambil mengangkat tangannya, sementara anak yang satu lagi tampak dingin dengan sorot mata kosong.
            “Ini bapak” katamu sambil menunjuk ke arah anak yang bermata kosong. Aku mengangguk pelan, tanpa memberikan tanggapan lebih. Kemudian tanganmu mengelus wajah anak yang sedang tersenyum pada potret usang itu. “Ini saudara kembar bapak” ungkapmu dengan bibir gemetar. Semenjak itu, aku tahu bahwa bapak mempunyai saudara kembar.

KEPERGIAN IBU
          Pernah suatu ketika aku bertanya soal ibu kepadamu, namun tamparanmu kala itu seakan mengunci mulutku hingga saat ini. Semenjak itu, pikiran tentang ibu seolah-olah lenyap, aku seakan tak peduli tentang ibu. Matamu yang memerah ketika pertanyaan itu aku lontarkan, seakan menyiratkan pesan amarah yang sangat dalam.
            Beberapa hari sebelum aku melemparkan pertanyaan tentang ibu, tanpa sengaja aku menemukan berkas-berkas tua di dalam laci lemari gudang. Entah berkas apa, namun di sana tedapat nama ibu, nama kamu, serta nama yang hampir mirip denganmu, mungkin itu saudara kembarmu. Nama kakek serta nama nenek yang menurut cerita dari suadara meninggal karena bocor jantung.
            “Jangan tanya-tanya lagi soal ibumu, dia sudah mati bersama kekasihnya yang lebih dulu mati.” Entah apa yang kau ungkapkan, pada saat itu aku belum mengerti dan sampai sekarang sama sekali tidak ingin mengerti. Sejak saat itu ketika ada teman atau tetangga yang bertanya soal ibu, aku selalu bilang bahwa ibuku adalah sebuah martil yang selalu disayangi bapak. Ibuku adalah sebuah benda tumpul yang selalu dimandikan setiap malam bulan purnama.

Rahasia
            Memasuki kamar rahasia itu adalah tindakan yang paling diharamkan, tak ada seorangpun yang boleh memasukinya termasuk aku, anakmu. Aku paham betul apa yang akan terjadi jika peraturan itu dilanggar. Entah apa yang ada di dalam kamar rahasia  itu, aku sama sekali tidak bisa menerka-nerka. Setiap hari kamar itu terkunci rapat hanya kamu yang mampu membuka kunci tersebut, bahkan apabila kamu keluar kota untuk urusan pekerjaan, kamar rahasia itu sampai dikunci ganda.
            Namun berbeda dengan malam itu, kamu tiba-tiba meninggalkan kamar dengan tergesa, pintunya dibiarkan terbuka. Tampak isi kamar sangat berantakan, lampu kamar berwarna hijau menambah angker suasana di dalamnya, wewangian aneh menyeruak ke luar kamar. Beberapa koran tampak tercecer di lantai bersama bunga-bungan yang sudah mengering kecoklatan. Entah apa yang biasa kamu lakukan di dalam kamar rahasia tersebut.
            Aku beranjak memasuki kamar rahasia tersebut, pada dinding kamar tampak terpasang foto-foto usang, ada foto seorang kakek yang sedang memecah batu, ada foto seorang ibu tua yang sedang duduk di dalam tenda, ada juga foto sepasang anak kembar yang berpose di antara batu-batu. Pada dinding bagian lain  ada foto pernikahan kamu dengan ibu, foto aku ketika masih bayi dan foto lain yang tidak kukenali.
            Namun yang paling menggetarkan dada adalah ketika aku membaca headline koran-koran yang tercecer di lantai, tampak dari titi mangsanya adalah koran lama yang terbit jauh sebelum aku dilahirkan.  Ada yang berjudul “Seorang Pemuda Dibunuh Saat Gerhana Matahari”. Kemudian di halaman koran yang lain ada berita utama dengan jjudul “Sadis, Pelaku Menggunakan Martil Untuk Membunuh”.

            Namun yang membuat hati ini lebih ngilu adalah ketika membaca Headline surat kabar yang bertitimangsa jauh dengan koran sebelumnya namun masih berkaitan. “Terungkap, Pelaku Pembunuhan Menggunakan Martil adalah Saudara Kembar Korban. Motif Pembunuhan adalah Karena Cemburu”. Hati menolak untuk percaya namun berita pada surat kabar tersebut sudah menjadi bukti lembaran kelam hidupmu. Kau telah membunuh  saudara kembarmu sendiri.
            “Dirga...! berani-beraninya kamu melanggar peraturan yang sudah bapak tentukan, kamar ini haram buat siapapun untuk memasukinya.” Tubuhku bergetar manakala melihatmu berdiri di pintu kamar. Wajahmu memerah, tanganmu memegang sebuah martil, ya martil itu tampak berdarah.

2019





CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...