http://www.radarbanten.com/read/berita/140/9277/Sajak-sajak-Rian-Ibayana.html
TENTANG JARAK
jika jarak terlalu dekat
punah sudah nikmat rindu
2012
MELELEH
Matahari
Amarah
Api Ungun
ada kamu
aku meleleh
2012
FLORENCE TAN
tinggal rindu yang berhasil kukemas dari episode-episode yang menjulur jauh,
bengis musim kerap melahirkan prahara berkulit drama
tinggal rindu juga yang berhasil ku layarkan menuju langitmu
yang kerap berubah warna di musim salju.
2012
CIWIDEY II
Jika waktu meruncing ke ulu jantung
dan habis daya, paru menimba udara.
Benamkan jasadku di bukit itu,
hempaskan juga kenanganku
bersama silir dingin serta tipis kabut.
Sehingga damai,
setenang batu-batu beku
di dasar tanahnya.
2011
DI BAWAH SELIMUT
yang rindu dan tua
menikmati bulan-bulan tak berwajah.
Gelap,
siapa menuntun jalan
ke titik yang tepat
berbenah dengan nyaman.
Kini angin tak bisa lagi dipercaya
sebab melahirkan dingin di wujud kemarau, bahkan badai.
Yang rindu, yang menggigil
di bawah selimut
menunggu
dengan wajah lucu
2012
KENANGAN
-Sharon Den Adel
aku mematung di sini, pada beku kota
aliran nafas mengental bersama suara pedagang nasi goreng di lamirin malam
lampu taman yang perkasa tak mampu membuka apa-apa
dari kelam yang melekatkan beberapa riwayat.
hampa, kenangan melesat ke lain langit
menembus cahaya lampu pengendara malam
mendobrak baliho yang baru dipasang.
suram, suaramu hilang ditelan gerimis yang menukik ke atas atap seng kios malam.
2012
Kamis, 02 Mei 2013
Kamis, 14 Maret 2013
DUA PENYAIR CIWIDEY MASUK "ANTOLOGI DARI NEGERI POCI 4 "
Antologi Penyair Indonesia dari Negeri Poci 4
Dua penyair asal Ciwidey, Bandung selatan. Lolos seleksi dan puisinya masuk dalam antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci 4.
Rian Ibayana dan Yogira Yogaswara
NEGERI ABAL-ABAL, Antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci 4
ISBN: 978-602-8966-44-3
Tebal: 722 hal.
Edisi Hard Cover
DAFTAR PENYAIR:
Dua penyair asal Ciwidey, Bandung selatan. Lolos seleksi dan puisinya masuk dalam antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci 4.
Rian Ibayana dan Yogira Yogaswara
NEGERI ABAL-ABAL, Antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci 4
ISBN: 978-602-8966-44-3
Tebal: 722 hal.
Edisi Hard Cover
DAFTAR PENYAIR:
- Abah Yoyok
- Abdul Salam H.S.
- Adri Darmadji Woko
- Alex Robert Nainggolan
- Alya Salaisha-Sinta
- Antho M. Massardi
- Arther Phanter Olii
- Aspar Paturusi
- Astry Anjani
- A’yat Khalili
- B. Irawan Massie
- B. Priyono Soediono
- Boedi Ismanto S. A.
- Cunong Nunuk Suraja
- Dahta Gautama
- Dalasari Pera
- Daru Maheldaswara
- Dedet Setiadi
- DG Kumarsana
- Dharmadi
- Dharnoto
- Dianing Widya
- Dimas Indianto S.
- Donny P. Herwanto
- Dwi Rahariyoso
- Eka Budianta
- Eko Budihardjo
- Elis Tating Bardiah
- Endang Werdiningsih
- Es Wibowo
- Evi Idawati
- Fakhrunnas M.A. Jabbar
- Farra Yanuar
- Frans Ekodhanto Purba
- Gunoto Saparie
- Hamzah Muhammad
- Handrawan Nadesul
- Handry T.M.
- Hanna Yohana
- Hardho Sayoko S.P.B.
- Hendro Siswanggono
- Hendry Ch. Bangun
- Heni Hendrayani Sudarsana
- Herman Syahara
- Husnul Khuluqi
- Imelda Hasibuan
- Isbedy Stiawan Z.S.
- J. Btara Kawi
- Joshua Igho
- Jusuf A.N.
- Kurnia Effendi
- Kurniawan Junaedhie
- Lailatul Kiptiyah
- Landung Simatupang
- Latief S. Nugraha
- M. Enthieh Mudakir
- M. Djupri
- Mardi Luhung
- Mariati Atkah
- Memed Gunawan
- Moh. Ghufron Cholid
- Muhammad Asqalani eNeSTe
- Naning Pranoto
- Nella S. Wulan
- Nia Samsihono
- Nissa Rengganis
- Oei Sien Tjwan
- Prijono Tjiptoherijanto
- R. Valentina Sagala
- Rahadi Zakaria
- Rahmat Ali
- Rahmat Heldi H.S.
- Rama Firdaus
- Rama Prabu
- Ratu Ayu
- Rika Istianingrum
- Rini Fardiah
- Rismudji Rahardjo
- Rukmi Wisnu Wardhani
- Rian Ibayana
- S.P. Budisantosa
- Setiyo Bardono
- Sides Sudyarto D.S.
- Sjafrial Arifin
- Slamet Riyadi Sabrawi
- Soni Farid Maulana
- Sus Setyowati Hardjono
- Susy Ayu
- Sutirman Eka Ardhana
- Syaifuddin Gani
- Syarifuddin Arifin
- Udin Sape Bima
- Wahyu Wibowo
- Wayan Sunarta
- Windu Mandela
- Yadi Riyadi
- Yogira Yogaswara
- Yvonne de Fretes
- Elvynn G. Masassya( Penyair Tamu:)
Kamis, 24 Januari 2013
KABAR PRIANGAN 23 JANUARI 3013
CIWIDEY TENGAH MALAM II
satu baliho
sosok berkopyah hitam
dipasang lagi
meramaikan malam
2012
PADA TITIK INI SEGALANYA MENGENTAL
pada titik ini segalanya mengental
riwayat beringin tua, suara kereta serta kerlip lampu kota
menyatu menjadi riwayat baru
Bandung beku malam ini seperti sayu matamu yang sulit ditafsirkan
kerling yang tak jua dipahami
gerimis merintis jejak kepergian
kau menjauh dengan secarik rindu di tangan
puisi hampir lahir di sini
dan aku membidaninya sendiri...
2012
JAKET
masuklah ke dalam saku jaketku
hangatkan sulur-sulur hatimu yang diliputi gelisah
seperti puisi berbenahlah dengan nyaman
percayalah meski hujan melahirkan badai
dan cuaca melesatkan dingin
kau dijamin aman.
bersemayamlah dengan mesra
sebab jalan berontak adalah diam
merenung sambil meninju waktu.
masuklah ke dalam saku jaketku
hangat yang kekal
episode baru kelak menghampirimu
2012
KAOS
menyablon kisah di atas kaos putih
garis demi garis
arsiran cerita
merah gelisah
hitam kelam
biru haru
hijau galau
lalu cinta ?
2012
SEPERTI WAKTU YANG BERJALAN TERATUR
Seperti waktu yang berjalan teratur
menekuni petak-petak dimana rakaat demi rakaat didirikan
terjal ini mesti ditaklukan, undakan demi undakan
meskipun angin telah dinikahkan dengan hujan kemudian melahirkan topan.
Dunia tahu sakral sabdamu, tegak lurus membelah cadas jahiliyah
juga menikung menghantam sejarah kekeliruan.
Seperti waktu yang berjalan teratur
membina sengkedan-sengkedan dimana sholawat demi sholawat dilantunkan
runcing kerikil dan tajam bebatuan bukan penghambat niat yang terpahat
Sebab rindu padamu Tuan, meneguhkan kekuatan
menuju puncak kepasrahan.
2012
http://www.epaper.kabar-priangan.com/
Jumat, 04 Januari 2013
HARIAN MIMBAR UMUM MEDAN 5 JANUARI 2013
SEPI
Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau
lebih mengetahui titik waktu yang buntu.
Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.
Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,
saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.
Sepi menyelinap saat bulan bercadar
dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.
2011
DI GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT, AKU MENGENALMU SEPERTI MENGENAL PUISI BARU
Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan
lewat perkenalan dan jabat tangan.
Aku melihat puisi di kantung matamu
juga dari rambutmu kutemukan kalimat bersalju.
Ketika angin selatan berpapasan dengan angin utara.
Kita beranjak ke dalam ruang berdinding lukisan
dengan lampu besar yang menyala.
kita intim dalam kata, tenggelam dalam mantra.
Udara mencekam, hujan menggedor jendela kayu ruang itu
segalnya diam
namun kata kembali menderas seperti getar pesawat yang melintas
ataupun gemuruh topan yang ditunggangi seribu puisi.
Kita mabuk dalam pusaran yang sama, pusaran kata.
Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan
lewat perkenalan dan jabat tangan.
Sejenak kita lupa pada laju kereta maupun lalu-lalang kendaraan
kita hanyut dalam bingar kata,
dalam bingar kata.
GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT
14 FEBRUARI 2010
TELAGA TANDATANYA
Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau
lebih mengetahui titik waktu yang buntu.
Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.
Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,
saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.
Sepi menyelinap saat bulan bercadar
dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.
2011
DI GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT, AKU MENGENALMU SEPERTI MENGENAL PUISI BARU
Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan
lewat perkenalan dan jabat tangan.
Aku melihat puisi di kantung matamu
juga dari rambutmu kutemukan kalimat bersalju.
Ketika angin selatan berpapasan dengan angin utara.
Kita beranjak ke dalam ruang berdinding lukisan
dengan lampu besar yang menyala.
kita intim dalam kata, tenggelam dalam mantra.
Udara mencekam, hujan menggedor jendela kayu ruang itu
segalnya diam
namun kata kembali menderas seperti getar pesawat yang melintas
ataupun gemuruh topan yang ditunggangi seribu puisi.
Kita mabuk dalam pusaran yang sama, pusaran kata.
Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan
lewat perkenalan dan jabat tangan.
Sejenak kita lupa pada laju kereta maupun lalu-lalang kendaraan
kita hanyut dalam bingar kata,
dalam bingar kata.
GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT
14 FEBRUARI 2010
TELAGA TANDATANYA
Yang tehampar luas di mata sunyi adalah genangan tinta tak
terhingga
cekungan pekat tak beujung.
Aku yang tak pernah beruntung
menangkap cahaya di langit-langit kamar, kerap sendiri dalam
memar
Bagaimana mungkin aku berjalan tegar?
langkahku hanyut pada kantuk, terlelap dalam
keterjagaan
Yang terperangkap dalam angin ribut, pada senja yang hitam
adalah pesan yang tak tersampaikan
kandas di pertengahan musim, jalan cuaca senantiasa sunyi,
untuk ini.
Hatimu telaga tanda tanya
tak terselami
dan hatiku genangan tinta
untuk pesan cerita yang tak pernah terbaca.
Maret 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)
Carita Tina Dua Carita “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“ ...
-
Selain sebagai kota kuliner serta fashion. Bandung juga bisa disebut kota museum karena Bandung memiliki beberapa museum yang sangat menarik...
-
GUNUNG PADANG, SITUS WISATA YANG TERSEMBUNYI. Mendengar kata Ciwidey, yang terlintas dalam pikiran kita tidak akan jauh dari wisata. Terle...
-
http://www.suarapembaruan.com/pages/e-paper/2011/06/19/ MENCURI KELAM Mencuri kelam dari tubuhmu ayang udzur, lebih menegangkan dibandin...
