Sabtu, 17 Desember 2011

RADAR TASIKMALAYA 18 DESEMBER 2011

KOI

apa yang hendak dipilin selain mengamini angin

yang menggiringmu ke gigir dingin

sebab puasa rindu telah dikhatamkan waktu

perkenalan yang menjelujur arah tak daya meluruskan langkah

apalagi kisah

ah

apa yang hendak dihimpun dari detak yang berserak

dari debar yang raib di ubin.

saat irama-irama alam memanjakan debur umur

saat itulah kenangan memadat di dada.

apa yang hendak dirajut selain benang-benang ragu yang makin kusut

jarak yang melenggangkan gairah memupuskan deru temu

perkenalan yang melahirkan gejolak tak mampu memahat batu

apalagi hikayat baru

2011

SENJA TELAH SELESAI II

- Mengenang Almarhum Wan Anwar

Senja telah selesai, kelebat waktu telah mengantarkanmu

pada Nopember yang dingin dan lebih asing dari geladak kapal yang ditinggal nelayan.

Sampai pula pada malam-malam yang lebih pucat dari gugur gemintang.

Senja telah selesai. gelombang masa telah melayarkanmu ke Jauh

melewati pulau demi pulau, ketabahan karang serta palung-palung sunyi.

Tak ada lagi rintihan yang menggambarkan asam kenyataan

serta melukiskan jarak antara kerlip kota dan tambak-tambak.

Senja telah selesai

perjalanan dan pencarian

berakhir di Utara

ya, di Utara.

2009-2011

TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR

akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan

mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik

apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.

sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari

memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda

asing.

kemudian segenap kenangan yang sempat membukit

perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan

ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.

seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu

akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.

langkah dan peristiwa tak terukir di batu.

2011

SANGKURIANG DIPECUNDANGI WAKTU

-

Ferry Fauzi Hermawan

Siapa sangka waktu seterjal tebing bisu

keras dan kaku

berkepinglah tubuh

ketika pikiran meloncat jauh

menerjangnya.

Aku ingin lebih renta dari waktu

dari musim

dari cuaca

dari daun kerontang yang gugur tadi pagi

aku ingin lebih renta dari Sumbi.

Siapa sangka waktu selicin angin

mustahil kembali

ingin aku bersemayam di lain rahim

di lain perut

biar kupinang kau, tanpa takut.

Siapa sangka

aku hilang daya

remuk

kaku

nihil dipecundangi waktu.

8 Juni 2009


SUARA PEMBARUAN 18 DESEMBER 2011


SUBUH DI GAMBIR


Puluhan kuli panggul terjaga dalam pikirannya sendiri, mengejar gerbong bisu yang baru menggeliat

Angin menukik pada bangku-bangku perak, mencipta gejolak di subuh dengan dingin menyayat.

Ah, lelah jua di sini

kutambatkan cemas pada puncak monas.


Stasion Gambir 2011




SMS BUAT CHAIRIL ANWAR

Bung, negeri ini gawat darurat, jalan juang seperti diperalat, hampir sekarat.
Setiap orang bermata merah, bahkan lebih merah dari matamu bung, lebih basah,
Predikat jalangmu bukan apa-apa karena banyak yang lebih jalang darimu bung
lebih lantang, lebih berani, lebih binatang.
Budaya rakus yang kakus mendarah daging sehingga menggerogoti negerinya sendiri.

Bung, negeri ini wajib selamat
namun segala peluang dan obat telah disuntik taktik-taktik
Bermacam starategi seperti gerigi yang memotong habis cahaya pagi.
Yang lebih liar darimu tak terbilang lagi
segala jalur ditempuh demi sulur ambisi.
Bung, negeri ini hilang wajah
semangat Dipenogoro serta Karawang-Bekasimu seperti terbakar habis
tinggal asap yang mengendap membangkitkan sesak.
Jalan juangmu terlindas terus-menerus
oleh gerbong-gerbong kekuasaan.

Bung, negeri ini wajib diselamatkan, meskipun semangat seperti hendak tamat.
Otakmu terang cemerlang, adakah kisi-kisi misi membangun kembali?
semacam akar yang keluar biar kelar segala kelakar.
Bung, bagaimana jika kita pancung saja semua pengerat itu?
Jika setuju, tolong balas sms ini.


2011




TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR

akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan
mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik
apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.
sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari
memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda
asing.

kemudian segenap kenangan yang sempat membukit
perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan
ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.
seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.
langkah dan peristiwa tak terukir di batu.


2011



SANGKURIANG DIPECUNDANGI WAKTU

- Ferry Fauzi Hermawan

Siapa sangka waktu seterjal tebing bisu
keras dan kaku
berkepinglah tubuh
ketika pikiran meloncat jauh
menerjangnya.

Aku ingin lebih renta dari waktu
dari musim
dari cuaca
dari daun kerontang yang gugur tadi pagi
aku ingin lebih renta dari Sumbi.

Siapa sangka waktu selicin angin
mustahil kembali
ingin aku bersemayam di lain rahim
di lain perut
biar kupinang kau, tanpa takut.

Siapa sangka
aku hilang daya
remuk
kaku
nihil dipecundangi waktu.

8 Juni 2009



KOI

Minggu, 27 November 2011

BULETIN JEJAK EDISI 6 SEPTEMBER 2011

MEMURNIKAN JELAGA


Seakut inikah sunyi menyelinap di kantung malam.

Aku seperti berjalan sendiri pada lintasan purba, tak terkira jaraknya

Saujana, hamparan langit tak bertiang, tanpa penyangga.

Seakut inikah sepi mengarak di samudera hidup

aku hilang haluan, limbung bahtera, terang redup.

Kekasih, jejakmu benar pasti, memurnikan jelaga.



2011

BULAN


Sebelum kita menjadi asing kembali.

Saling tanya nama satu sama lain.

Peluklah aku sebagaimana engkau memeluk malam.

Peluklah aku sampai berkeringat

dan langit menurunkan airmata.


Juni 2010

JEMBATAN BIRU



Masih banyak yang perlu dilengkapi

sebelum moncong lokomotif mengoyak perjalanan.

Dan melarungkanmu ke jauh ruang.

Di atas jembatan biru berkarat, engkau membaca raut keriput seorang pengemis

seperti membaca waktu yang semakin dekat ke hilir takdir.

Matamu menerawang ke jauh batas, ke ujung rel yang hilang disekap asap.

Seperti berdoa.


Banyak petualangan yang terlewati dari sejuk langkah hingga nyeri

melayari langit kusam hingga pijar pelangi,

masih banyak yang perlu dilengkapi

sebelum bengis roda kereta melindas kita.

Masih banyak yang perlu dibangun, pilar serta tiang penyangga

sebelum tamat

sebagaimana jembatan biru yang habis oleh karat.


2011

Minggu, 13 November 2011

TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR

TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR

akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan
mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik
apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.
sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari
memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda
asing.

kemudian segenap kenangan yang sempat membukit
perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan
ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.
seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.
langkah dan peristiwa tak terukir di batu.


2011

Minggu, 30 Oktober 2011

CATATAN PERJALANAN SEBELUM KE RESEPSI PERNIKAHAN SIGIT IBRAHIM DAN ROSE PUTRI

"DEMI KEBERSAMAAN

bagi rekan-rekan yang mau menghadiri resepsi SIGIT DAN ROSEU

Harap Kumpul si SMANSADEY setengah satu

Terima kasih"

Demikianlah isi sms yang saya luncurkan kepada hampir 60 rekan khususnya pada rekan alumni 2006 dan umumnya kedapa semua yang kenal pada kedua mempelai.

Beberapa menit berselang, balesan sms dari teman-teman membabi buta masuk ke hp saya yang hanya mempunyai kapasitas 500 sms. Inbox penuh, sehingga dengan terpaksa saya mesti menghapus satu persatu sms. Isinya hampir sama,yaitu menyatakan kesiapan dan kesanggupan. Meski ada beberapa yang berkomentar tentang Hujan. Yaitu Reni Mulyani dan Bocah Ireng Ngalalakon. Bahkan kepada bocah ireng saya menyuruh moe kolor na suhunan sebagai penghalang hujan. Sepertinya dia tidak melakukannya sehingga apa yang ditakutkan benar-benar terjadi.

Tepat jam dua belas, usia kandungan mendung sudah mencapai puncaknya, hujanpun turun ketika saya sedang berbincang-bincang dengan Soni Indra dan Yadi Karbit di beranda rumah.

Jam satu kurang lima belas menit, sms demi sms seperti peluru NATO yang menggempur TRIPOLI. Masuk bertubi-tubi. Temanya hampir sama, semua bertanya" geus karumpul acan?" dengan mantap dan bijaksana. Saya jawab, langsung ke lokasi saja, saya masih di rumah. (ngajanjian setengah satu, jam satu kurang masih di imah ). Setelah mantap menggunakan Batik Cirebon, saya langsung berangkat ke SMA bersama Soni sambil membawa titipan KADO dari Imelda yang pada saat itu tidak bisa menghadiri karen ada kepentingan keluarga. Di SMANSADEY tercinta sudah menunggu Reni, Ape, Riana, Dwi, Rina, dan Yondra. Tak lama kemudian, satu persatu teman hadir dengan stelah paling WAAAAAH. Munculah ideu untuk mengabadikan setiap moment kala itu, saya menyuruh rekan-reekan buat berfhoto dulu, dengan senyum riang mereka setuju.

UJIAN DI PERJALANAN

Sebenarnya saat menunggu di SMA, hujan sudah reda. Kami pun siap berangkat, setelah memastikan tak ada lagi rekan yang mesti ditunggu (Karena EKI GINGIN masih di Panyocokan, kapaksa dittinggalkeun). Cigah nu seserahan kamipun ngabring. Rupanya cuaca benar-benar tak mendukung perjalanan, hujan tiba-tiba mengguyur deras. Saya dengan Kankan terpaksa berteduh di Bank BJB, sementara yang lain ada yang ngiuhan di bawah pohon, di bengkel dan ada juga yang pura-pura mau pesan kamar di sindang reret.

Ketika berteduh, saya melihat DECIS dengan YEU DINI melintas, padahal masih hujan "Uhmm romantis abis". Disusul oleh KARBIT.

Hujan sedikit reda, saya dan Kankan melanjutkan perjalanan. SIAL BERIBU SIAL hujan deras kembali sehingga memaksa kami berteduh untuk kedua kali di GARASI BUS PUTERA SETIA. Hampir setengah jam kami berdua berteduh di sna, ada ideu bagus dari kankan untuk membeli Cuanki, kamipun melahap dulu semangkuk Cuanki di saat dingin.MAKNYOOOS. Sambil berkomunikasi dengan rekan-rekan yang masih di belakang. Rupa-rupanya, entah siapa yang mencetuskan ideu buat naik TAXI KUNING. Rekan-rekan yang dibelakang menyewa sebuah angkot dan menitipkan motor mereka di bengkel dan rumah makan padang. (PADAHAL HUJAN GEUS RAAT) aya aya wae.

Perjalananpun dilanjutkan sampai ke tempat tujuan. Proses sasalaman berjalan dengan lancar, doa dan doa bertaburaan buat kedua mempelai. Senyum ceria tersungging ikhlas baik dari tamu maupun Sigit dan Roseu. Rupanya, di lokasi acara, ada beberapa teman yang sudah datang seperti Ana Suryana, Devi Ballack, Wulan, Herly termasuk tukang angkut piring dan sound sistem, mereka sudah mangkal dari pagi.

Inilah inti yang sebenarnya dari RESEPSI pernikahan MANTAN KETUA DAN WAKIL KETUA OSIS SMANSADEY tahun 2005 ini selain proses mendoakan kedua mempelai "Barokallohula ...." doa yang diajarkan Pa Dudung waktu sekolah. Yaitu MEREKATKAN SILATURAHMI. Saya mendengar celetukan-celetukan dari teman yang hadir. "Ieu mah Cigah Reunian" Ya memang, ini seperti reuni bahkan lebih. Banyak hal yang dapat diambil hikmahnya selain temu rindu semata.

Semua proses berjalan lancar diakhiri dengan POPOTOAN sautahna.

Ada beberapa hal yang saya catat dan patut diapresiasi

1. Rekan-rekan sudah tidak malu lagi memakai BATIK. Ya, mayoritas rekan2 yang hadir memakai batik. SAYA SUKA GAYA KALIAN

2. Resepsi ini menumbuhkan kesadaran rekan2 yang jarang bergabung sehingga menjadi candu untuk selalu hadir dalam acara yang digelar. (bukan nikahan saja) termasuk KAKAREN LEBARAN, ULTAH PURBA dan lain-lain.

3. Menumbuhkan semangat kebersamaan... termasuk menumbuhkan budaya narsis di depan kamera.

4. DEVI BALLACK mengajak membuat acara di MT HIDHLAND. kenapa tidak? mari kita manfaatkan kesempatan ini.

5. Menjadi faktor penyemangat buat rekan2 supaya segera menikah.

6. beuki ngacaprak ieu catetan

7. Melihat sedemikian banyaknya rekan yang hadir, ada celetukan "Mahi saBEUSeun" keur ka Peserta Pangandaran

PANGANDARAN YUUU

PANGANDARAN YUUU

ah cape, tulisan ini tak lain sebagai curahan rasa bahagia atas menikahnya sahabat perjuangan saya SIGIT IBRAHIM DAN ROSE PUTRI sungguh saya ingat betul perjalanan cinta pertama kali antara kalian.

SEMOGA Rose dan Sigit menjadi keluarga yang tidak menakutkan "Mengutik kata2 SANDI na panggung" keluarga barokah, dan mengahasilkan keturunan yang barokah juga.

AKHIR KATA

saya ucapkan

SELAMAT BELAH DUREN.......

Selasa, 25 Oktober 2011

SINAR HARAPAN 31 JULI 2011

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/sajak-sajak-rian-iayana/

SEPI

Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau

lebih mengetahui titik waktu yang buntu.

Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.

Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,

saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.

Sepi menyelinap saat bulan bercadar

dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.

2011

MALAM DI TERMINAL LAMA

Kita serupa anak kembar dalam rahim kota

menikmati belasan bintang di pinggiran terminal lama.

Sementara kunang-kunang putih berbaris memagari kesunyian

Deru kompor pedagang gorengan melampaui gemuruh langit.

Kemudian kita melangkah pelan sambil menata perasaan

" Lengkap sudah perjalanan ini, saatnya kita akhiri "

ungkapmu sambil menaruh jejak di atas trotoar tua

yang kini berlapis ubin abu-abu.

Kiita menjadi lumpuh ketika harus mengekalkan kembali

kisah yang sempat tertunda

peristiwa cinta di warung kaki lima.

Kita serupa dua ulat yang akan terpisah di cabang pohon.

Persimpangan jalan sungguh menganga dan siap melahap kita.

Beberapa kios rokok, tukang roti bakar maupun bangku taman hanya kekal dalam ingatan.

Di terminal lama, esok hari, kita sendiri-sendiri.

2011

CIWIDEY II

Jika waktu meruncing ke ulu jantung

dan habis daya, paru menimba udara.

Benamkan jasadku di bukit itu,

hempaskan juga kenanganku

bersama silir dingin serta tipis kabut.

Sehingga damai,

setenang batu-batu beku

di dasar tanahnya.

2011

Rindu

Dalam dekatmu aku rindu

apalagi jauh.

Dalam adamu aku rindu

apalagi tiada.

2011

DI KAWALI

Sunyi menyelinap di atas tanah basah,

langit bercadar dedaunan melindapkan rona sejarah.

Sesunyi inikah jalan silam ketika abu itu ditanam

dan prasasti ditancapkan?

Sungguh, tak terbayang banjir airmata dan perih yang menggenang

ketika kidung-kidung duka dilantunkan.

Di sini kupijak kembali

kuhayati kembali.

ASTANA GEDE KAWALI

13 MARET 2011

Saat Lampu Padam

Barangkali akan banyak kata yang lahir saat lampu dipadamkan.

Kata demi kata berhamburan dari dinding dingin

berloncatan dari kusen jendela dan keluar dari kolong tempat tidur.

Barangkali kantuk akan musnah

dikuatkan kalimat yang mengikat kepala

menyangga pelupuk mata.

Barangkali akan banyak kata yang lahir saat lampu dipadamkan.

Karena kenangan tetap terang.

2011

SUARA PEMBARUAN 19 JUNI 2011

http://www.suarapembaruan.com/pages/e-paper/2011/06/19/

MENCURI KELAM

Mencuri kelam dari tubuhmu ayang udzur,

lebih menegangkan dibanding memanjat tebing.

Di pintu gerbangmu,

gelap gulita menyambut dengan sayap-sayap tua,

angin sepi merambat pada genting-genting berlumut.

Mencuri kelam dari tubuhmu yang renta,

memacu kesunyian yang telah lama terkubur di pemakaman.

Bangkit kembali seperti detik-detik hitam yang bergulir pada deras jam.

Nafasmu tiba-tiba berkibar memeluk jasadku.

Heningpun membatu.

2009

KERBAU TUA MEMBAJAK WAKTU

ini dingin kau tepis dengan seksama

kaki-kaki tua dibawa melangkah,

menjajah tanah,

kerbau-kerbau perkasa,

memutar balikan keadaan,

membajak waktu.

melewati tanah garapan

menyusuri dengan perlahan,

pada akhirnya,

kebenaran pula kau balikan.

kepada petani hening kau mengangguk,

menerpa bumi yang semakin bungkuk.

2009

KE KOTA LUKA

- tragedi Mumbay

Ke kota luka jarum kompas di tanganku

menembus jauh

mencatat peristiwa.

Tolong diam sejenak

biarkan hening berdenting

dan sesaat dunia menghentikan cumbu rayu.

Ke kota luka seluruh mata di giring.

Tolong catat dengan seksama

lukis dengan jelas, keabstrakan ini

tolong perjelas pula sisa-sisa semu di kanvasku.

Memang hidup dibawah ancaman

dan telah nyata pertumpahan.

Ke kota luka, kuperjelas langkah.

Ke kota luka jarum kompas mengarah

menunjuk rasa takut dan amis darah.

Tolong diam sejenak

biarkan hening berdenting

dan biarkan angin mengiring.

04 Desember 08

MEMBELAH MALAM

- Zidny Arfiarahman

Tak banyak kata yang kutemukan

saat roda mengantarkan kita membelah malam.

Tak ada kalimat yang lahir dari lampu-lampu pucat

yang disangga tiang berkarat.

Ada orang-orang malam, setia berbenah diri di trotoar jalan.

Sungguh aku tak menemukan kalimat apaapa dari mereka

hanya kelu, serupa mengecap karat kehidupan.

Muncul rasa iri

ketika melihat seorang pemulung dengan mudah menemukan

sampah maupun barang bekas.

Aku hanya gigil, melawan laju angin

tak kutemukan apa-apa dari jalan lenggang ini.

Bersama kita membelah malam.

Sampai sunyi benar-benar sunyi.

2011

KASIDAH WAKTU

- Rendra

Sejauh ini, hanya waktu

yang dapat kueja dari sayap-sayap si burungmerak

selebihnya masih abu-abu

baik lilin maupun obor belum aku nyalakan

jalan ini masih asing

aku tak tahu, kemana silir angin

membawanya pergi

aku tak paham, kemana keranda itu bertepi.

Sejauh ini, hanya waktu

yang dapat kupahami

dari jejak-jejak yang membekas di dada

yang menghujam dari tanggal-tanggal

dalam kalender purba

selebihnya masih samar

aku miskin pengalaman

aku tak tahu kemana arah cuaca

maupun kemana kangen ini menghiba.

2009

Sabtu, 22 Oktober 2011

SUARA MERDEKA 16 OKTOBER 2011

http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2011/10/16/index.shtml



JEMBATAN BIRU


Masih banyak yang perlu dilengkapi

sebelum moncong lokomotif mengoyak perjalanan.

Dan melarungkanmu ke jauh ruang.

Di atas jembatan biru berkarat, engkau membaca raut keriput seorang pengemis

seperti membaca waktu yang semakin dekat ke hilir takdir.

Matamu menerawang ke jauh batas, ke ujung rel yang hilang disekap asap.

Seperti berdoa.

Banyak petualangan yang terlewati dari sejuk langkah hingga nyeri

melayari langit kusam hingga pijar pelangi,

masih banyak yang perlu dilengkapi

sebelum bengis roda kereta melindas kita.

Masih banyak yang perlu dibangun, pilar serta tiang penyangga

sebelum tamat

sebagaimana jembatan biru yang habis oleh karat.

2011




ABAYAGHIRI VIHARA


Meneguk sejuk di istana batu, ajal sungguh terasa jauh

kalaupun dekat, jiwa telah siap untuk didekap.

Damai tiada terlukiskan, kisi-kisi bumi memadu dengan legit langit

berbuah tentram.

Ketenangan demi ketenangan tertata rapi

seperti batu-batu dingin yang dihimpun lantas dibentuk.

Sungguh, sepoi kedamaian menyelinap ke dalam dada

memanjakan tajam pandangan, membasuh lusuh-lusuh jiwa.

Tak ada lagi yang perlu dicemaskan.

Dunia adalah fatamorgana.

2011



INGATAN


Tentang kalang-kalang di tanah lapang

hanya sebuah kenang.

Hidup serupa kelereng yang dihempas jari-jari takdir

melesat ke jauh

menuju titik peraduan.

Hanya dalam ingatan kisah-kisah debu

putaran-putaran kecil yang diiringi gelak tawa.

Waktu semakin menggelinding,

hidup serupa kelereng yang dihempas jari-jari takdir

menuju ujung untuk bertarung

hingga tercapai ruang kemenangan.

Dan, usia pun menggelincir ke gigir ruang

hari ini lengang tualang

esok lusa akan dikenang.

2010



RENGGANIS


Bahasa-bahasa telaga

kalimat airmata

ujung pencarian

rindu pecah di batu.

Patenggang 2011



KERAH BAJU


Keseimbangan,

dari ujung ke ujung

jarak dan garis tengah.

Menyisir perlahan

jejak yang telah dipola.

Keseimbangan,

hingga kancing dan lobang

erat mengikat.

2011



4 MENIT SEBELUM TENGAH MALAM


sepi masih menyarung

sementara cinta telah habis di warung

2011



PERTEMUAN KEDUA


Kita terbata-bata mengeja kata syurga

Mendalami bahasa angin yang berangsur-angsur lebih lurus

Peristiwa demi peristiwa dengan tekun meliris peristiwa baru

Kita tak tepetakkan lagi seperti debu disapu cuaca

Tentang nafas-nafas yang menghiba dari jauh

Atau kerling tajam yang siap menghujam

Hanya colekan kecil yang tak mampu menggetarkan menara peraduan.

Ini waktu menyatukan dua detak

Meski pada akhirnya kita terbata-bata mengeja kata surga.


28 SEPTEMBER 2011

Kamis, 29 September 2011

PATUNG NENEK MOYANG DARI CIWIDEY

Selain sebagai kota kuliner serta fashion. Bandung juga bisa disebut kota museum karena Bandung memiliki beberapa museum yang sangat menarik untuk dikunjungi. Terutama bagi para pengunjung yang berwisata sejarah. Salah satu museum terkenal di Bandung adalah Museum Sri Baduga. Letaknya tepat di seberang monument Bandung lautan api, Tegalega. Museum yang diresmikan pada tanggal 5 Juni 1980 ini menyimpan berbagai koleksi benda sejarah, mulai dari jaman prasejarah hingga masa sekarang. Tercatat ada 6503 buah benda yang tersimpan di museum yang menggunakan nama Raja Padjajaran dulu ini. Adapun benda-benda tersebut dibagi menjadi beberapa jenis sesuai ilmunya yaitu Geologi, biologi, etnografi, arkeologi, historika, numismatika, filolofika, keramologika dan seni rupa.

Jika kita berkunjung ke Museum Sri Baduga, di halaman depan kita langsung disuguhi beberapa buah reflika Prasasti, salah satunya prasasti peninggalan Raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara. Prasasti Ciaruteun dan prasasti kaki gajah. Saat masuk ke ruang utama, kita langsung disuguhi benda-benda dari masa prasejarah, tulang belulang, miniatur gua pawon. Dari sebelah kanan ruangan kita bisa mengamati berbagai arca diantaranya Gagajahan, Yantra, Votive Tablet, Kepala Budha, Ganesha, Padmaphani, Parwati, Genta Kamandatu, Siwa, Agastya, Siwa Mahadewa. Di tengah kita bisa melihat tengkorak manusia purba. Sementara di sebelah kiri ruangan kita bisa melihat Patung nenek Moyang yang berasal dari Ciwidey (sebagai warga Ciwidey, saya cukup terkejut dengan koleksi Sri Baduga yang satu ini), kemudian patung yang ditemukan di Cikapundung, Argasurya yang ditemukan di Cirebon serta patung yang ditemukan di Citatah.

Lebih ke dalam lagi, kita langsung disuguhi berbagai reflika hewan khas Jawabarat salahsatuhnya Harimau, fosil-fosil binatang seperti babi hutan, rusa dan binatang lainnya. Yang tak kalah menarik adalah Miniatur Cekungan Bandung (ada kecamatan Ciwidey juga pada Miniatur ini). Dari ruangan ini, kita melangkah sedikit ke ruangan lainnya yang menyuguhkan Reflika Kereta Kencana PAKSINAGALIMAN dari kesultanan Cirebon.

Sementara di lantai dua kita bisa melihat patung serta fhoto tentang keberagaman agama di Indonesia, ada fhoto gereja kuno yang ada di Bandung, patung seotrang ibu yang sedang mengaji serta fhoto vihara. Di ruangan ini juga tersimpan naskah-naskah kuno yang sangat cocok untuk diteliti oleh pengunjung yang suka akan filologi. Ada koleksi alat-alat pertanian, alat menangkap ikan, busana-busana tradisional Jawa Barat dari dulu hingga sekarang. Ada koleksi uang kuno, alat pengukur , timbangan, gamelan serta angklung yang sangat besar, Di lantai dua juga kita bisa melihat patung-patung proses pembuatan kerajinan tangan, seperti membuat perkakas, membatik dan membuat kerajinan tanah liat. Di lantai ini juga ada miniatur bentuk-bentuk rumah tradisional Jawa Barat seperti Julang ngpak dan Badak Heuay.

Jadi tak ada salahnya kita mnyempatkan waktu untuk menimba ilmu ke museum ini. Biayanya murah, untuk dewasa hanya 2500, semenatar untuk anak sekolah cukup 1500.
Museum Sri Baduga buka setiap hari senin sampai jumat dari jam 08.00 sampai 15.30 sementara pada hari sabtu-minggu dari jam 8.00 sampai 14.00.

Yu ah kita ke Museum



RIAN IBAYANA
28 SEPTEMBER 2011

Rabu, 14 September 2011

Pusat Konservasi Primata Jawa

http://sains.kompas.com/read/2011/09/13/15135978/Jadi.Relawan.Pusat.Konservasi.Mau


BANDUNG, KOMPAS.com- Pusat Konservasi Primata Jawa yang diresmikan Selasa (13//20119), bakal menjadi salah satu sumber referensi maupun studi mengenai primata endemis pulau Jawa. Namun, kita tidak cuma hanya bisa datang dan belajar melainkan bergabung menjadi relawan.

Kesempatan itu diungkapkan salah satu staf pengelola pusat konservasi, Sigit Ibrahim. Pihaknya membuka kesempatan seluasnya bagi lulusan SMA atau universitas yang ingin mendapat pengalaman dengan bergabung sebagai relawan.

"Jadwalnya bisa diatur secara bergantian. Setiap kelompok terdiri dari empat orang," kata Sigit.

Saat ini terdapat 20 relawan yang bergabung dengan Pusat Konservasi Primata Jawa yang bekerja tanpa imbalan. Tugas mereka mulai dari membantu memberi makan hingga pengamatan harian untuk 10 primata yang ada di sana.

Salah satu relawan bernama Ryan Ibayana mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya merupakan warga sekitar di Kecamatan Rancabali maupun Ciwidey. Ada yang sudah lulus sekolah dan berharap mendapat pengalaman dengan bekerja di sana.

"Ada juga yang masih sekolah dan sengaja meminta izin tidak masuk untuk menjadi panitia dalam acara pembukaan," kata Ryan.

Relawan lain bernama Yadi Supriyadi menjelaskan, bukan uang yang mereka cari dengan bergabung sebagai relawan. Salah satu harapan memang nantinya bisa dilibatkan dalam proyek konservasi tapi yang paling utama adalah menimba ilmu agar nantinya bisa dimanfaatkan di daerah asal.

Sabtu, 30 Juli 2011

SEPI

SEPI

Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau
lebih mengetahui titik waktu yang buntu.
Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.
Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,
saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.
Sepi menyelinap saat bulan bercadar
dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.

2011

Jumat, 17 Juni 2011

MENJAHIT TANGAN SENDIRI

Aku sedang menjahit ketika udara kelabu itu
menggumpal berputar-putar melebihi deras jarum jam.
Aku masih menjahit ketika dadaku bertabuh keras
melebihi bedug di malam lebaran
ketika udara kelabu itu, jatuh pada catatanmu yang tajam.
Tentang ikatan.

Lantas lampu padam, listrik terputus

Listrik masih padam, ketika kukentalkan musyawarah
kulugaskan harapan.
Tentang catatanmu.

Listrik masih padam
ketika dada bertabuh lebih keras lagi
darah melaju lebih deras
ketika rindu mesti kukandaskan.

Listrik mengalir kembali.
Dan aku menjahit tangan sendiri.



MEI 2011

Sabtu, 04 Juni 2011

APA YANG MESTI DIHADAPKAN

Apa yang mesti dihadapkan dari sungai kering kepada muara?
Selain bebatuan tua atau sisa sampah yang mulai kerontang.
Semacam degup jantung telah berdegup berulang-ulang.
Saat kalender alam berbicara, mengisyaratkan abad yan telah jauh menggeliat.
Menuju pusat, ujung dari harap seikat niat.

Apa yang mesti dihadapkan dari sungai kering kepada muara?
Selain desir udara yang sama keringnya.
Ini terlalu pagi, jalan hujan belumlah tampak.
Sementara laju darah semakian panas,
dari dada menuju kepala.

Apa yang mesti dihadapkan
apa yang mesti disembahkan?


2011

Rabu, 27 April 2011

YOANA KARANADES (CERPEN)

Cahaya senja pecah di kening aspal hitam, juga pecah di wajah dedaunan yang kering kerontang karena di bakar kemarau panjang. Cahaya keemasan merambat halus di angin dan mengalir di gaung sunyi. Untuk kesekian kalinya gadis kecil berambut pirang berjalan melintasi jembatan ini, jembatan tua di tengah kota yang penuh sejarah. Cahaya senja jatuh pula pada rambutnya, menghasilkan pantulan warna yang menyilaukan, namun indah dipandang.

Seorang ibu dengan rambut sedikit pirang setia menemani kemana gadis itu melangkah, dia menggenggam tangannya dengan erat. Semula tak ada yang istimewa dari kehadirannya, aku memanggapnya tak lebih dari sebuah kesunyian, sebuah bayangan kosong. Namun paradigmaku berubah secara tiba-tiba, manakala aku menemukan sebuah gudang sejarah dari sorot matanya.

Senja itu, seperti biasanya aku menikmati sunyi di pinggir jembatan tua ini. Sebelumnya, gadis pirang itu, hanya berjalan sebagaimana para pejalan kaki lainnya. Namun berbeda dengan senja itu, dia menatapku tajam. Binar matanya memancarkan cahaya biru tua, cahaya yang sangat kukenali. Namun aku sulit menyimpulkan kapan dan dimana aku kenal dengan cahaya tersebut. Sorot matanya menyisakan ribuan rahasia. Dia menatapku sambil berjalan hingga ke ujung jembatan dan kemudian lenyap di persimpangan.

Sorot matanya aku rekam dalam benak terdalam, lantas aku berusaha sebisa mungkin untuk menyelami rahasia yang tersimpan disana. Ada misteri yang mesti depecahkan. Kalau tidak segera terungkap, misteri ini akan menggunung, akibatnya paling tidak aku akan sulit tidur. Hampir setiap senja tiba semenjak senja itu, aku berusaha mencuri sinar matanya. Kebetulan sepertinya dia tak merasa keberatan jika sinar matanya aku curi. Buktinya dia menatapku dengan tajam pula.

Berhari-hari aku merenung di pinggir jembatan ini, jalanan ramai terasa sunyi, derasnya aliran sungai menjadi aliran sepi, deru angin yang berkibar di sekitarku menambah hening. Perlahan-lahan rahasia itu mulai terungkap. Dari binar matanya kau menemukan hamparan laut biru yang bersipandang dengan langit yang berwarna biru juga. Angin sepoi-sepoi, ombak berdebur perlahan-lahan memecah karang. Ada harmoni alam yang merdu, aku meyakini bahwa lautan itu adalah hamparan laut Agean di Yunani. Untuk semntara hanya sampai laut Agean rahasia itu terbuka.

Aktivitas merekam binar matanya menjadi sebuah rutinitas yang wajib dilaksanakan setiap hari. Lantas aku menyelam di dalam biru lautnya, mencari pecahan-pecahan sejarah dan misteri yang mungkin karam disana. Hingga aku berhenti di sebuah kota kecil di pinggiran laut Agean yaitu Ionia. Di kota Ionia aku menemukan Homerus sedang merenung panjang, disana Homerus seperti dilanda kebingungan, seperti kehabisan inspirasi untuk menulis. Illiad dan Odisey telah menguras habis pikirannya. Homerus hanya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia tak mampu menulis lagi.

Gadis kecil berambut pirang dan bermata biru Agean senantiasa melewati jembatan ini. Namun aku tak sempat memikirkan darimana dan hendak kemana dia pergi. Seperti biasa pula dia ditemani ibunya yang semakin hari semakin senja dimakan usia. Begitupun dengan gadis pirang itu, semakin hari semakin dewasa dan binar matanya semakin indah, memancarkan cahaya biru yang menggairahkan. Cahaya senja senantiasa jatuh pada rambutnya, menghasilkan cahaya keemasan yang berkilau.

Setelah kuselami lebih dalam lagi sorot matanya, aku menemukan seorang kakek yang sedang menikmati desiran sunyi di atap sebuah gedung perguruan tinggi di jantung Yunani, Athena. Aku meyakini bahwa kakek itu adalah Plato sang pemikir. Sebagaimana Homerus, Plato juga merenung tanpa henti, memikirkan hal-hal baru yang bermanfaat bagi orang banyak. Namun dia tidak menemukan hal-hal baru tersebut. Hasil pemikirannya sudah terlalu banyak dan diikuti oleh murid-muridnya. Aku meyimpulkan bahwa Plato sedang kebingungan juga.

Gadis pirang bermata biru tak berhenti menatap tajam mataku, menyajikan sebuah misteri yang wajib diungkap, aku harus kerja keras mencerna biru matanya, seperti para pemikir-pemikir terdahulu. Aku harus menyimpulkan materi-materi terbaru dari matanya. Gadis berambut pirang itu, menjadi medan magnet yang menarik hal-hal di sekitarnya. Binar matanya mengandung gaya gravitasi yang kuat sehingga aku jatuh kedalamnya. Meskipun kita saling menatap, aku tak pernah mendengar dia berbicara walau hanya sepatah kata.

Berturut-turut dari matanya aku menemukan Aristoteles yang bingung kehabisan ide-ide baru. Aku menemukan Alexander The Great yang sedang kebingungan pula, dia merenungkan negara mana lagi yang mesti dia taklukan. Aku menemukan Euclides, Archimedes, Socrates dan Ilmuan-ilmuan lainnya yang sedang merenung menelan rasa bingung. Pikiran mereka semua berhenti di jalan buntu.

Dari binar matanya, aku bisa menarik garis lurus sebagai kesimpulan. Bahwa gadis berambut pirang itu berasal dari Yunani, bersayap Athena, bernafas sepoi angin Agean, berhati para Filosof, dan berdarah para Ilmuan. Namun ada hal yang belum terungkapkan dari matanya, aku menemukan sebuah peti tua yang sama sekali belum terbuka. Masih terkunci dan masih dililit oleh rantai besi. Aku berusaha menyelami kembali biru matanya, menyelami laut Agean, meminjam pikiran para filsuf dan para ilmuan. Aku menuangkan seluruh tenaga guna membuka peti tua tersebut. Akhirnya dengan segala kesungguhan, peti tua itu dapat kubuka pula. Semula aku tak percaya pada apa yang ada dalam peti tersebut. Aku menemukan sebuah layar kecil yang sedang menayangkan sebuah adegan. Seperti adegan dalam drama.

Dadaku sesak, mataku terasa perih melihat adegan-adegan itu. Ada sesosok gadis manis, rambutnya panjang, mempunyai lesung pipi yang indah. Gadis itu menjadi tokoh dalam tayangan itu, sosok yang sangat kukenali bahkan sangat dekat sekali. Dalam tayangannya, gadis manis itu sedang mengamuk di dalam kamar. Semua menjadi berantakan, cermin-cermin pecah di lempari asbak, kaca jendela pecah dipukul kayu, beling-beling berserakan. Gadis manis itu menangis penuh sesal. Tayangan itu diakhiri dengan adegan memecahkan sebuah bingkai Fhoto seorang lelaki. Yang tak lain itu dalah fhotoku sendiri. Gadis manis dalam tayangan tersebut adalah kekasihku yang pernah aku tinggalkan beberapa tahun kebelakang.

Dari tayang dalam binar matanya, aku baru menyadari bahwa gadis pirang yang selama ini menatapku tajam, adalah adik dari kekasihku yang pernah aku sia-siakan. Dadaku sesak, nafasku tersegal, darahku berhenti mengalir, teringat betapa bodohnya masa laluku. Kekasihku pernah menceritakan bahwa dia punya seorang adik dari bapak yang berbeda. Dari bapak yang berkebangsaan Yunani. Dan adiknya itu adalah Gadis Pirang Bermata biru yang selama ini kuselami sorot matanya. Sungguh aku tak percaya.

Setelah itu, aku sering hanyut dalam perenungan, dalam semedi panjang. Rasa bingung hinggap dalam benak terdalam, lebih bingung dari Homerus, Plato, Aristoteles, Archimedes, Alexander, Euclides, lebih bingung dari para pemikir dan para ilmuan. Dari hari ke hari aku lupa mengurus diri, hidup seadanya menjadi penghuni sunyi yang menetap di jembatan tua ini. Sementara itu gadis pirang bermata biru yang selama ini menatap tajam, menjadi berubah, dia hanya tertunduk jika melintasi jembatan yang aku huni.

" Sudahlah nak, jangan kau taruh dendam kepadanya jangan lagi kau tatap matanya, semua tak berarti. Dia sudah menerima kutukan Tuhan sehingga dia menjadi gila. Sebagai balasan karena telah menyia-nyiakan kakakmu sehingga kakakmu menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa yang baru saja kita datangi. Sudahlah nak, dia sudah Gila, dia sudah Gila...... " tutur ibunya dengan sorot mata yang lebih tajam.

Rian Ibayana

Agustus 2009

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...