Kamis, 24 Januari 2013

KABAR PRIANGAN 23 JANUARI 3013

CIWIDEY TENGAH MALAM II

satu baliho
sosok berkopyah hitam
dipasang lagi
meramaikan malam


2012





PADA TITIK INI SEGALANYA MENGENTAL


pada titik ini segalanya mengental
riwayat beringin tua, suara kereta serta kerlip lampu kota
menyatu menjadi riwayat baru
Bandung beku malam ini seperti sayu matamu yang sulit ditafsirkan
kerling yang tak jua dipahami

gerimis merintis jejak kepergian
kau menjauh dengan secarik rindu di tangan

puisi hampir lahir di sini
dan aku membidaninya sendiri...


2012


JAKET

masuklah ke dalam saku jaketku
hangatkan sulur-sulur hatimu yang diliputi gelisah
seperti puisi berbenahlah dengan nyaman
percayalah meski hujan melahirkan badai
dan cuaca melesatkan dingin
kau dijamin aman.
bersemayamlah dengan mesra
sebab jalan berontak adalah diam
merenung sambil meninju waktu.
masuklah ke dalam saku jaketku
hangat yang kekal
episode baru kelak menghampirimu

2012


KAOS

menyablon kisah di atas kaos putih
garis demi garis
arsiran cerita
merah gelisah
hitam kelam
biru haru
hijau galau

lalu cinta ?

2012


SEPERTI WAKTU YANG BERJALAN TERATUR

Seperti waktu yang berjalan teratur
menekuni petak-petak dimana rakaat demi rakaat didirikan
terjal ini mesti ditaklukan, undakan demi undakan
meskipun angin telah dinikahkan dengan hujan kemudian melahirkan topan.
Dunia tahu sakral sabdamu, tegak lurus membelah cadas jahiliyah
juga menikung menghantam sejarah kekeliruan.
Seperti waktu yang berjalan teratur
membina sengkedan-sengkedan dimana sholawat demi sholawat dilantunkan
runcing kerikil dan tajam bebatuan bukan penghambat niat yang terpahat
Sebab rindu padamu Tuan, meneguhkan kekuatan
menuju puncak kepasrahan.

2012



http://www.epaper.kabar-priangan.com/

Jumat, 04 Januari 2013

HARIAN MIMBAR UMUM MEDAN 5 JANUARI 2013

SEPI

Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau
lebih mengetahui titik waktu yang buntu.
Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.
Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,
saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.
Sepi menyelinap saat bulan bercadar
dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.

2011



DI GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT, AKU MENGENALMU SEPERTI MENGENAL PUISI BARU


Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan

lewat perkenalan dan jabat tangan.

Aku melihat puisi di kantung matamu

juga dari rambutmu kutemukan kalimat bersalju.



Ketika angin selatan berpapasan dengan angin utara.

Kita beranjak ke dalam ruang berdinding lukisan

dengan lampu besar yang menyala.

kita intim dalam kata, tenggelam dalam mantra.



Udara mencekam, hujan menggedor jendela kayu ruang itu

segalnya diam

namun kata kembali menderas seperti getar pesawat yang melintas

ataupun gemuruh topan yang ditunggangi seribu puisi.

Kita mabuk dalam pusaran yang sama, pusaran kata.



Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan

lewat perkenalan dan jabat tangan.

Sejenak kita lupa pada laju kereta maupun lalu-lalang kendaraan

kita hanyut dalam bingar kata,

dalam bingar kata.









GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT

14 FEBRUARI 2010


TELAGA TANDATANYA

Yang tehampar luas di mata sunyi adalah genangan tinta tak terhingga
cekungan pekat tak beujung.
Aku yang tak pernah beruntung
menangkap cahaya di langit-langit kamar, kerap sendiri dalam memar
Bagaimana mungkin aku berjalan tegar?
langkahku hanyut pada kantuk,  terlelap dalam keterjagaan
Yang terperangkap dalam angin ribut, pada senja yang hitam
adalah pesan yang tak tersampaikan
kandas di pertengahan musim, jalan cuaca senantiasa sunyi, untuk ini.
Hatimu telaga tanda tanya
tak terselami
dan hatiku genangan tinta
untuk pesan cerita yang tak pernah terbaca.
Maret 2008

 

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...