Sabtu, 17 Desember 2011

RADAR TASIKMALAYA 18 DESEMBER 2011

KOI

apa yang hendak dipilin selain mengamini angin

yang menggiringmu ke gigir dingin

sebab puasa rindu telah dikhatamkan waktu

perkenalan yang menjelujur arah tak daya meluruskan langkah

apalagi kisah

ah

apa yang hendak dihimpun dari detak yang berserak

dari debar yang raib di ubin.

saat irama-irama alam memanjakan debur umur

saat itulah kenangan memadat di dada.

apa yang hendak dirajut selain benang-benang ragu yang makin kusut

jarak yang melenggangkan gairah memupuskan deru temu

perkenalan yang melahirkan gejolak tak mampu memahat batu

apalagi hikayat baru

2011

SENJA TELAH SELESAI II

- Mengenang Almarhum Wan Anwar

Senja telah selesai, kelebat waktu telah mengantarkanmu

pada Nopember yang dingin dan lebih asing dari geladak kapal yang ditinggal nelayan.

Sampai pula pada malam-malam yang lebih pucat dari gugur gemintang.

Senja telah selesai. gelombang masa telah melayarkanmu ke Jauh

melewati pulau demi pulau, ketabahan karang serta palung-palung sunyi.

Tak ada lagi rintihan yang menggambarkan asam kenyataan

serta melukiskan jarak antara kerlip kota dan tambak-tambak.

Senja telah selesai

perjalanan dan pencarian

berakhir di Utara

ya, di Utara.

2009-2011

TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR

akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan

mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik

apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.

sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari

memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda

asing.

kemudian segenap kenangan yang sempat membukit

perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan

ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.

seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu

akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.

langkah dan peristiwa tak terukir di batu.

2011

SANGKURIANG DIPECUNDANGI WAKTU

-

Ferry Fauzi Hermawan

Siapa sangka waktu seterjal tebing bisu

keras dan kaku

berkepinglah tubuh

ketika pikiran meloncat jauh

menerjangnya.

Aku ingin lebih renta dari waktu

dari musim

dari cuaca

dari daun kerontang yang gugur tadi pagi

aku ingin lebih renta dari Sumbi.

Siapa sangka waktu selicin angin

mustahil kembali

ingin aku bersemayam di lain rahim

di lain perut

biar kupinang kau, tanpa takut.

Siapa sangka

aku hilang daya

remuk

kaku

nihil dipecundangi waktu.

8 Juni 2009


SUARA PEMBARUAN 18 DESEMBER 2011


SUBUH DI GAMBIR


Puluhan kuli panggul terjaga dalam pikirannya sendiri, mengejar gerbong bisu yang baru menggeliat

Angin menukik pada bangku-bangku perak, mencipta gejolak di subuh dengan dingin menyayat.

Ah, lelah jua di sini

kutambatkan cemas pada puncak monas.


Stasion Gambir 2011




SMS BUAT CHAIRIL ANWAR

Bung, negeri ini gawat darurat, jalan juang seperti diperalat, hampir sekarat.
Setiap orang bermata merah, bahkan lebih merah dari matamu bung, lebih basah,
Predikat jalangmu bukan apa-apa karena banyak yang lebih jalang darimu bung
lebih lantang, lebih berani, lebih binatang.
Budaya rakus yang kakus mendarah daging sehingga menggerogoti negerinya sendiri.

Bung, negeri ini wajib selamat
namun segala peluang dan obat telah disuntik taktik-taktik
Bermacam starategi seperti gerigi yang memotong habis cahaya pagi.
Yang lebih liar darimu tak terbilang lagi
segala jalur ditempuh demi sulur ambisi.
Bung, negeri ini hilang wajah
semangat Dipenogoro serta Karawang-Bekasimu seperti terbakar habis
tinggal asap yang mengendap membangkitkan sesak.
Jalan juangmu terlindas terus-menerus
oleh gerbong-gerbong kekuasaan.

Bung, negeri ini wajib diselamatkan, meskipun semangat seperti hendak tamat.
Otakmu terang cemerlang, adakah kisi-kisi misi membangun kembali?
semacam akar yang keluar biar kelar segala kelakar.
Bung, bagaimana jika kita pancung saja semua pengerat itu?
Jika setuju, tolong balas sms ini.


2011




TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR

akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan
mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik
apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.
sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari
memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda
asing.

kemudian segenap kenangan yang sempat membukit
perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan
ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.
seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.
langkah dan peristiwa tak terukir di batu.


2011



SANGKURIANG DIPECUNDANGI WAKTU

- Ferry Fauzi Hermawan

Siapa sangka waktu seterjal tebing bisu
keras dan kaku
berkepinglah tubuh
ketika pikiran meloncat jauh
menerjangnya.

Aku ingin lebih renta dari waktu
dari musim
dari cuaca
dari daun kerontang yang gugur tadi pagi
aku ingin lebih renta dari Sumbi.

Siapa sangka waktu selicin angin
mustahil kembali
ingin aku bersemayam di lain rahim
di lain perut
biar kupinang kau, tanpa takut.

Siapa sangka
aku hilang daya
remuk
kaku
nihil dipecundangi waktu.

8 Juni 2009



KOI

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...