MARTIL PAMUNGKAS
Martil Terakhir
Matamu tampak
memancarkan rona amarah tiap kali mengusap benda itu. Sebuah martil tua yang
kau pajang di ruang tengah rumahmu. Martil yang berwajah dingin, legam seperti
menyimpan dendam. Napasmu terlihat tidak beraturan lebih cepat dari biasanya
ketika menurunkan benda itu ke atas meja, kau amati dengan seksama mulai dari
kayu pegangan yang terbuat dari kayu rasamala
hingga bagian kepala martil tersebut. Kau memandangi benda itu dengan
khusyu, seperti menyelami masa lalu.
Setiap
malam ke empat belas, ketika bulan bulat sempurna, kau senantiasa membersihkan
martil itu, bahkan sifatnya menjadi wajib. Kau rajin melingkari tanggal-tanggal
pada kalender yang bertepatan dengan bulan purnama dan kau haramkan orang-orang
untuk bertamu jika malam sakral itu telah tiba. Sebenarnya tak ada yang menarik
dengan martil yang kau manjakan itu, bentuknya sama dengan martil biasa dipakai
oleh para pemecah batu. Namun caramu merawat benda itu membuatku tidak paham,
kau seperti merawat amarah dan dendam yang ada pada benda itu.
“Ini
martil terakhir di keluarga kita” ungkapmu di sebuah malam purnama. Umurku baru
tujuh tahun kala itu, belum mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Namun aku
bisa melihat di sudut matammu tampak basah, seperti habis menangis. Kau
menyuruhku memegang martil yang beratnya kira-kira 10 kilogram itu. “Peganglah,
namun sampai akhir hidupmu jangan sekali-kali memegangnya lagi” suaramu lirih.
Tanganmu yang sedikit kasar, mengarahkan tanganku ke arah benda dingin itu. “Martil
ini warisan dari kakekmu, warisan paling berharga milik kita, setelah ini kamu
jangan sekali-kali menyentuhnya lagi, berjanjilah, kita sudah hidup layak saat
ini, sudah saatnya mengubur kerasnya masa lalu” .
Selepas
malam purnama itu, aku tidak pernah melihat airmatamu lagi. Matamu lebih sering
memancarkan cahaya merah, seperti api. Sejak itu aku tidak berani mendekatimu
ketika kamu melakukan ritual pembersihan martil, kau telah berubah.
Potret Usang
Senja merah tembaga, kamu duduk di teras rumah, di hadapanmu ada
sebuah koper hitam, sedikit berdebu. Kau menyuruhku duduk lebih dekat, kemudian
tanganmu mengelus rambutku dengan manja, hal yang jarang kamu lakukan. Sebuah
album foto berwarna merah hati kau keluarkan dari dalam koper tua itu kemudian
menyuruhku membuka album itu lembar perlembar.
“
Itu kakekmu” katamu sambil menunjuk sebuah potret lelaki tua menggunakan baju
safari berdiri di depan sebuah helikopter. Potret hitam putih dengan sudut
gambar yang sudah memudar. “Kata kakekmu, foto ini diambil ketika pemerintah
mengadakan program pameran alusista di lapangan kecamatan, masyarakat kecil
seperti kakek merasa senang sebab menjadi hiburan tersendiri, makanya kakekmu
sengaja memakai baju paling bagus. Dan ikut berfoto di depan helikopter yang
dipamerkan.” Kau tampak bersemangat menceritakan sosok di foto itu.
Pada
halaman kedua album tersebut , aku tak berani bertanya apa-apa, aku hanya diam
melihat foto dua anak yang wajahnya tampak mirip, sepertinya anak kembar, atau
kakak beradik yang usianya tidak berjauhan. Kedua anak itu duduk di tepi kolam,
tampak habis berenang. Yang satu sedang tersenyum sambil mengangkat tangannya,
sementara anak yang satu lagi tampak dingin dengan sorot mata kosong.
“Ini
bapak” katamu sambil menunjuk ke arah anak yang bermata kosong. Aku mengangguk
pelan, tanpa memberikan tanggapan lebih. Kemudian tanganmu mengelus wajah anak
yang sedang tersenyum pada potret usang itu. “Ini saudara kembar bapak” ungkapmu
dengan bibir gemetar. Semenjak itu, aku tahu bahwa bapak mempunyai saudara
kembar.
KEPERGIAN IBU
Pernah suatu ketika aku bertanya soal ibu kepadamu, namun
tamparanmu kala itu seakan mengunci mulutku hingga saat ini. Semenjak itu,
pikiran tentang ibu seolah-olah lenyap, aku seakan tak peduli tentang ibu.
Matamu yang memerah ketika pertanyaan itu aku lontarkan, seakan menyiratkan
pesan amarah yang sangat dalam.
Beberapa
hari sebelum aku melemparkan pertanyaan tentang ibu, tanpa sengaja aku
menemukan berkas-berkas tua di dalam laci lemari gudang. Entah berkas apa,
namun di sana tedapat nama ibu, nama kamu, serta nama yang hampir mirip denganmu,
mungkin itu saudara kembarmu. Nama kakek serta nama nenek yang menurut cerita dari
suadara meninggal karena bocor jantung.
“Jangan
tanya-tanya lagi soal ibumu, dia sudah mati bersama kekasihnya yang lebih dulu
mati.” Entah apa yang kau ungkapkan, pada saat itu aku belum mengerti dan
sampai sekarang sama sekali tidak ingin mengerti. Sejak saat itu ketika ada
teman atau tetangga yang bertanya soal ibu, aku selalu bilang bahwa ibuku
adalah sebuah martil yang selalu disayangi bapak. Ibuku adalah sebuah benda
tumpul yang selalu dimandikan setiap malam bulan purnama.
Rahasia
Memasuki kamar rahasia itu adalah tindakan yang paling diharamkan,
tak ada seorangpun yang boleh memasukinya termasuk aku, anakmu. Aku paham betul
apa yang akan terjadi jika peraturan itu dilanggar. Entah apa yang ada di dalam
kamar rahasia itu, aku sama sekali tidak
bisa menerka-nerka. Setiap hari kamar itu terkunci rapat hanya kamu yang mampu
membuka kunci tersebut, bahkan apabila kamu keluar kota untuk urusan pekerjaan,
kamar rahasia itu sampai dikunci ganda.
Namun
berbeda dengan malam itu, kamu tiba-tiba meninggalkan kamar dengan tergesa,
pintunya dibiarkan terbuka. Tampak isi kamar sangat berantakan, lampu kamar
berwarna hijau menambah angker suasana di dalamnya, wewangian aneh menyeruak ke
luar kamar. Beberapa koran tampak tercecer di lantai bersama bunga-bungan yang
sudah mengering kecoklatan. Entah apa yang biasa kamu lakukan di dalam kamar
rahasia tersebut.
Aku
beranjak memasuki kamar rahasia tersebut, pada dinding kamar tampak terpasang
foto-foto usang, ada foto seorang kakek yang sedang memecah batu, ada foto
seorang ibu tua yang sedang duduk di dalam tenda, ada juga foto sepasang anak
kembar yang berpose di antara batu-batu. Pada dinding bagian lain ada foto pernikahan kamu dengan ibu, foto aku
ketika masih bayi dan foto lain yang tidak kukenali.
Namun
yang paling menggetarkan dada adalah ketika aku membaca headline
koran-koran yang tercecer di lantai, tampak dari titi mangsanya adalah koran
lama yang terbit jauh sebelum aku dilahirkan. Ada yang berjudul “Seorang Pemuda Dibunuh
Saat Gerhana Matahari”. Kemudian di halaman koran yang lain ada berita
utama dengan jjudul “Sadis, Pelaku Menggunakan Martil Untuk Membunuh”.
Namun
yang membuat hati ini lebih ngilu adalah ketika membaca Headline surat
kabar yang bertitimangsa jauh dengan koran sebelumnya namun masih berkaitan. “Terungkap,
Pelaku Pembunuhan Menggunakan Martil adalah Saudara Kembar Korban. Motif
Pembunuhan adalah Karena Cemburu”. Hati menolak untuk percaya namun berita
pada surat kabar tersebut sudah menjadi bukti lembaran kelam hidupmu. Kau telah
membunuh saudara kembarmu sendiri.
“Dirga...!
berani-beraninya kamu melanggar peraturan yang sudah bapak tentukan, kamar ini
haram buat siapapun untuk memasukinya.” Tubuhku bergetar manakala melihatmu
berdiri di pintu kamar. Wajahmu memerah, tanganmu memegang sebuah martil, ya
martil itu tampak berdarah.
2019


