Rabu, 05 September 2018

DABLU KE LUAR ANGKASA Cerpen Rian Ibayana HARIAN RAKYAT SULTRA 27 AGUSTUS 2018

Setiap karya punya nasib masing-masing.
Seperti cerpen ini nasibnya tayang di Kendari. Jauh di tenggara.





DABLU KE LUAR ANGKASA


Kesabaran mpih Engkus sudah terkuras habis oleh tindakan Dablu. Bagaimana tidak, sore itu Dablu berhasil membawa lari nyai Ida, anaknya. Ini untuk ketiga kalinya Dablu melakukan tindakan itu, kejadian pertama dan kedua terjadi berturut-turut sebulan yang lalu, meski hanya untuk jalan-jalan, cara Dablu membawa pergi nyai Ida tanpa tata kesopanan membuat mpih Engkus geram. Sejak awal mpih Engkus tidak suka jika anaknya menjalin hubungan dengan Dablu. Sore itu juga mpih Engkus berniat  pergi ke kantor polisi , untuk melaporkan Dablu dengan tuduhan penculikan.
            Dablu adalah seorang pemuda paling pintar di kampung Tambak, namun karena terlalu pintar, waktu kelas dua SMA Dablu dikeluarkan dari sekolahnya dengan alasan sering membantah pendapat guru, terlalu kritis, mencemarkan nama sekolah dengan tingkahnya dan sederet alasan lain. Sejak itu Dablu tidak melanjutkan sekolah, dia merasa muak dengan orang-orang di sekolah, Dablu memilih bekerja.
 Dablu yatim piatu sejak bayi, dia dibesarkan oleh bi Raspi dan mang Paman. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, sebenarnya bi Raspi dan mang Paman bukanlah keluarga asli dari orang tua Dablu. Tetapi, ah tak perlu diceritakan, terlalu ngeri membayangkan sosok bayi yang dibuang di pinggir sebuah parit, bi Raspi dan mang Paman menyelamatannya. Namun hingga dewasa, Dablu tidak pernah mengetahui asal-usulnya, rahasia itu disimpan baik-baik oleh bi Raspi dan mang Paman.
Mpih Engkus segera menghidupkan motor yang diparkir di depan rumahnya.  Matanya memerah, kemarahannya benar-benar meluap. Ini sudah di luar batas kesabaran, pikirnya.
“ Ambu, ambilkan jaket kulit ! Mpih mau berangkat ke kantor polisi sekarang juga” mpih Engkus sedikit berteriak kepada Ambu Casmi di dalam rumah.
“ Tunggu dulu  mpih, jangan dulu berangkat, ini ada hal penting,  anak kita meninggalkan surat di atas ranjang”  suara ambu Casmi dari dalam kamar nyai Ida.
            Mpih Engkus terkejut, tak biasanya nyai Ida meninggalkan surat seperti itu.  Dia kemudian turun kembali dari motornya dan beranjak ke kamar anaknya itu. Kamar nyai Ida terletak di bagian depan rumah, dengan jendela yang bisa dibuka. Inilah yang menyebabkan  Dablu dengan mudah membawa pergi nyai Ida, membawa lari jauh.
“ Surat apa ambu? “ tanya Mpih Eengkus.
“ Ini mpih, surat dari anak kita, mpih buka saja sendiri, ambu tidak berani membukanya” sambil gemetaran ambu menyerahkan surat itu kepada suaminya.
            Muka mpih Engkus mendadak merah kehitam-hitaman, darahnya mendidih naik ke kepala, jantungnya seperti berlari, tangan kirinya mengepal kemudian diarahkan ke atas, seperti hendak meninju langit. Ternyata surat itu dari Dablu, bukan dari anaknya.
            “Mpih dan Ambu yang saya hormati, rasa hormat yang tulus dari palung hati. Rasa hormat yang nilainya sama dengan rasa hormat kepada Bibi dan Paman. Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada Mpih dan Ambu, dengan lancang telah membawa lari putri semata wayang, putri kebanggaan yang diharapkan akan mengharumkan nama keluarga kelak. Jujur, saya telah mempertimbangkan jalan ini dengan matang, dipikirkan bolak-balik, direnungkan hingga meminta jalan lewat Salat Istiharah. Dan hari ini saya membulatkan tekad membawa lari jauh anak Mpih dan Ambu. Saya tidak akan menyesal menempuh cara ini.
             Di puncak Pasir Kemir, berbulan-bulan saya merangkai sebuah pesawat berbentuk bulat, yang bisa melesat ke langit, menembus atmosfer bumi, menerobos segala kemustahilan, dan saya tidak tau dimana kelak akan mendarat. Dengan pesawat itu saya akan pergi jauh bersama nyai Ida, kekasih hati saya. Hal ini terpaksa saya lakukan, sebab restu tak jua terucap. Mpih dan ambu jangan cemas, segala peralatan dalam pesawat itu sudah terjamin, cadangan makanan cukup untuk waktu yang lama. Namun jika lebih dari satu bulan kami tidak kembali, mpih dan ambu saya harap bisa menerima takdir dengan lapang dada, mungkin ini jalan terbaik yang digariskan Gusti kepada mpih dan ambu, nasib yang harus diterima oleh saya juga putri kesayangan mpih dan ambu ini.
            Jikalau mpih berniat melaporkan saya ke polisi, silahkan. Nanti setelah kembali mendarat di bumi, saya siap untuk dibui. Sebab saya sudah bahagia bisa membawa nyai Ida berkeliling di luar angkasa, mendarat di bulan, mendarat di planet merah, mendarat galaksi lain di luar bima sakti, menyenggol satelit palapa dan benda langit lainnya. Dan saya yakin nyai Ida  tidak akan rela kekasihnya dibui, Nyai Ida bisa saja bunuh diri atau ikut bermukim di balik jeruji besi. Jadi mpih dan ambu tinggal memilih saja, mana yang terbaik
            Surat ini saya akhiri sampai di sini, semoga Mpih dan ambu bisa merelakan kepergian kami”
            Ini sungguh di luar dugaannya, jantung mpih Engkus seakan copot saat membaca isi surat , dadanya naik turun, kakiknya tiba-tiba  gemetar. Melihat reaksi suaminya seperti itu, ambu Casmi kemudian memegang punggung suaminya, menyuruh duduk di atas ranjang, kemudian dia mengambil air dingin dari dapur. Setelah meminum air dingin, emosi mpih Engkus mulai terkendali.
            “ Nyaan kabina-bina pisan si Dablu teh, ambu” ungkap mpih Engkus kepada istrinya.
            “ Coba Ambu pikir, Dablu akan membawa anak kita ke luar angkasa, dia menyuruh kita sabar menunggu selama satu bulan, jika tidak pulang selama satu bulan, kita harus menerima takdir, itu isi suratnya Ambu”  mpih Engkus mencoba memaparkan isi surat kepada istrinya.
            Ambu Casmi menarik napas panjang, merasa tidak percaya sedikitpun isi surat itu. Apakah betul Dablu akan melakukan hal tersebut. Ambu Casmi mengetahui betul siapa sosok yang membawa lari anaknya itu. Pemuda yang terkenal pintar di kampungnya, ambu Casmi juga mengetahui jikalau dulu  Dablu dikeluarkan dari sekolahnya karena kepintarannya melebihi siswa kebanyakan. Dablu adalah pemuda paling kritis di kampungnya, bahkan ambu Casmi pernah mendengar berita Dablu ditampar pak kades saat rapat di balai desa. Dablu terlalu vocal dan tajam mengkritik  kebijakan pemerintah desa yang mengizinkan berdirinya pabrik pengolahan air mineral di kampungnya yang terkenal subur. Namun apalah daya Dablu seorang diri yang kritis, pabrik air mineral itu tetap berdiri.
            Mata ambu Casmi diarahkan ke langit-langit kamar, membayangkan jikalau pada akhirnya nyai Ida harus berdampingan dengan Dablu di pelaminan. Sebenarnya ambu tidak terlalu mempersoalkan latar belakang keluarga Dablu. Dablu juga bisa dibilang pemuda paling tampan di kampungnya,  banyak gadis yang mengharapkan jadi kekasihnya. Meski Dablu belum mempunyai pekerjaan tetap, tapi Ambu Casmi yakin, jika Dablu bisa jadi penerus usaha suaminya, dengan kepintarannya bukan tidak mungkin bisa membuat strategi meningkatkan hasil kebun yang dikelola suaminya.
            “ Ambu...! Ambu...! kalakah ngalamun... !“ bentak mpih Engkus membuyarkan lamunan ambu Casmi.
            Ambu terkejut oleh bentakan suaminya,  lamunannya terhenti, pikiran soal Dablu menguap jauh, jauh sejauh-jauhnya dan tidak kembali. Ambu kemudian ikut duduk di samping  Mpih Engkus.
            “ Pergilah mpih ke kantor polisi, segera laporkan apa yang terjadi. Bawa juga surat di tangan mpih itu. Sebagai barang bukti, siapa tahu polisi bisa segera mengejar Dablu”
            “Baiklah ambu, mpih akan segera berangkat, semoga anak kita akan segera ditemukan, si Dablu harus segera  membayar apa  yang diperbuatnya”

***
Di puncak Pasir Kemir, ada sebuah tanah datar yang hanya ditumbuhi ilalang-ilalang, dahulu tempat ini merupakan tempat paling asyik dan banyak dikunjungi muda-mudi untuk pacaran atau untuk keluarga menikmati indahnya kampung dari ketinggian. Namun setelah terjadi peristiwa pembunuhan seorang gadis oleh kekasihnya, tempat ini tak ada yang berani mengunjungi, puncak Pasir Kemir menjadi angker, apalagi setelah beredar kabar arwah gadis yang dibunuh itu, gentayangan di sekitar puncak pasir.
            Beberapa petugas kepolisian ditemani mpih Engkus, ketua RW Pasir Kemir juga beberapa tokoh masyarakat di sana bergegas menuju puncak, untuk menindaklanjuti laporan mpih Engkus kemarin sore. Menulusuri kebenaran isi surat si Dablu. Perjalanan dari pusat kampung hingga ke puncak ditempuh sekitar 20 Menit, melewati jalan setapak tanah merah.
            Rombongan yang telah sampai di puncak, luar biasa kagetnya melihat keadaan sekitar puncak. Di atas lahan yang biasanya ditumbuhi ilalang terdapat lekukan besar, cekungan yang dalamnya sekitar 2 meter hasil dari tekanan benda berat berbentuk lingkaran. Di ujung timur puncak terdapat sisa-sisa sebuah pengelasan bahan logam, besi-besi serta kaca berantakan. Bau bahan bakar masih menyengat di area puncak, sementara ilalang yang tumbuh di sana habis terbakar.
            Rombongan yang naik ke puncak saling pandang satu sama lain, seolah tidak percaya dengan apa yang ada dihadapan mereka. Komandan polisi yang ikut serta pada penyelidikan itu kemudian menyuruh anak buahnya untuk memberikan garis polisi diseluruh sisi puncak Pasir Kemir, guna kepentingan investigasi dan tidak dijamah orang-orang.
            “ Benarkah ini yang dimaksud dalam isi surat si Dablu itu?” pikir komandan polisi di dalam hati.
           
***
Dua minggu berjalan, kasus penculikan yang dilakukan Dablu masih menjadi berita paling ditunggu di media, mewarnai surat kabar. Isi surat yang menjadi barang bukti tersebar media sosial. Dablu masih menjadi buah bibir, diperbincangkan baik di suasana serius maupun obrolan santai di warung kopi. Soal jejak pesawat yang dibuat Dablu, banyak pertanyaan yang mengemuka, benarkah itu jejak pesawat luar angkasa yang dibuat Dablu untuk pergi jauh bersama kekasihnya, yaitu Nyai Ida. Atau hanya akal-akalan Dablu untuk membuat sensasi sehingga membuyarkan perhatian khalayak, menutupi perbuatannya menculik anak seorang juragan.
            Polisi belum bisa menyimpulkan apakah itu jejak pesawat sungguhan, atau hanya jejak buatan manusia. Para ahli pesawat luang angkasa didatangkan dari ibu kota juga dari berbagai perguruan tinggi, bahkan diberitakan para ahli antariksa dari luar negeri juga sudah memantau kasus ini dengan khidmat. Bukan tidak mungkin akan ikut membantu memecahkan jejak pesawat itu.
            Sementara itu Bi Raspi dan Mang Paman benar-benar kewalahan menghadapi serbuan wartawan juga warga sekitar yang penasaran tentang Dablu, terutama tentang kepintarannya yang konon berhasil membuat pesawat yang bisa terbang jauh ke luar angkasa. Mereka lebih dari sepuluh kali dipanggil ke kantor polisi guna memberikan keterangan tentang si Dablu. Dan pada akhirnya bi Raspi pun tumbang karena tidak kuat menghadapi situasi seperti itu dan dirawat di rumah sakit.
***

            Polisi dan tim investigasi yang terdiri dari para ahli pesawat juga ahli antariksa mulai mendapatkan titik terang, mereka yakin dan bisa menyimpulkan bahwa jejak pesawat di puncak Pasir Kemir itu, murni buatan manusia bukan sisa-sisa pesawat yang lepas landas.  Mereka mengagumi kepintaran Si Dablu yang berhasil membuyarkan konsentrasi khalayak, mengaburkan berita penculikan menjadi isu pesawat luar angkasa yang dibuatnya. Media yang lebih menyoroti jejak pesawat mulai mengalihkan kembali kepada kasus penculikan sebenarnya. Nihil, lebih dari sebulan Dablu belum juga ditemukan, belum ada informasi kemana Dablu pergi membawa Nyai Ida. Namun meski begitu polisi tetap bekerja keras memburu Dablu, menjadi tantangan tersendiri bagi pihak berwajib.
***

Di ruang tamu, Mpih Engkus dan Ambu Casmi sama-sama terdiam. Pikiran mereka masing-masing melayang jauh. Cemas luar biasa menghinggapi ambu Casmi, naluri seorang ibu yang mengkhawatirkan keadaan anaknya. Ambu Casmi membayangkan jikalau dari dulu suaminya menerima  Dablu, mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Sebulan telah berlalu namun dablu tak juga pulang membawa anaknya. Sempat terlintas oleh ambu Casmi, haruskah menyerah pada takdir seperti yang dituliskan Dablu dalam suratnya. Lapang menerima nasib. Ah...
            Sementara itu, pikiran mpih Engkus seperti benang kusut, terbayang wajah-wajah pemuda yang hendak melamar putrinya. Ada wajah Gandi, anak dari temannya, seorang kepala bidang di sebuah perusahan garment di ibu kota. Kemudian muncul wajah Sutisna, seorang guru yang sudah menjadi PNS mengajar di sekolah menengah pertama. Juga tersirat wajah jang Febri, anak dari pemilik pabrik air mineral yang berdiri di kampung Tambak. Mpih Engkus tak habis pikir kenapa anaknya menolak semua lamaran itu dan memilih lari dengan Dablu.
            Sebenarnya dalam hati mpih Engkus mengakui kepintaran Dablu, juga mengakui bahwa Dablu adalah pasangan yang ideal bagi putrinya. Namun ada alasan lain dibalik penolakan Mpih Engkus terhadap sosok Dablu. Isi kepala Mpih engkus melayang, melesat jauh ke jendela masa lalu, mengingat kisah kelam 28 tahun yang silam. Beberapa tahun sebelum bertemu dengan Ambu Casmi dan memustuskan menikahinya.
            Di sebuah malam yang berbalut hujan, mpih Engkus berjalan bersama seorang wanita menyusuri sebuah parit yang jauh dari pemukiman.  Kala itu dingin begitu mencekam, wanita yang berjalan bersma Mpih engkus menggendong bayi mungil yang dibalut samping batik. Suara bayi itu memekik meninju langit, membelah angkasa. Mpih Engkus dan wanita itu memberikan sebuah kecupan hangat di kening bayi mungil itu, kemudian meletakannya di pinggir parit. Kisah kelam itu dia tutup rapat-rapat tanpa ada seorangpun yang tahu.
            Mpih Engkus berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia beranjak ke pintu rumah melemparkan pandang, jauh ke ujung jalan. Dadanya sesak, bayang-bayang masa lalu silih berganti dengan bayang-bayang putrinya kemudian dengan bayang-bayang wajah Dablu,  saling berebut tempat di kepala. Nafasnya seperti tersenggal, kepalanya terasa hampir pecah, mpih Engkus tahu betul bayi yang dibuangnya 28 tahun silam itu adalah Dablu, anaknya sendiri. Pemuda yang membawa lari putrinya ke luar angkasa.

CIWIDEY  OKTOBER 2016

SEKIAN





PUISI DI TRIBUN BALI 03 JUNI 2018

Terima kasih bli Angga Wijaya atas infonya.
Terima kasih buat Ni Wayan Nina Asrini sedia mengirimkan koran tersebut ke Bandung


CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...