Rabu, 27 April 2011

YOANA KARANADES (CERPEN)

Cahaya senja pecah di kening aspal hitam, juga pecah di wajah dedaunan yang kering kerontang karena di bakar kemarau panjang. Cahaya keemasan merambat halus di angin dan mengalir di gaung sunyi. Untuk kesekian kalinya gadis kecil berambut pirang berjalan melintasi jembatan ini, jembatan tua di tengah kota yang penuh sejarah. Cahaya senja jatuh pula pada rambutnya, menghasilkan pantulan warna yang menyilaukan, namun indah dipandang.

Seorang ibu dengan rambut sedikit pirang setia menemani kemana gadis itu melangkah, dia menggenggam tangannya dengan erat. Semula tak ada yang istimewa dari kehadirannya, aku memanggapnya tak lebih dari sebuah kesunyian, sebuah bayangan kosong. Namun paradigmaku berubah secara tiba-tiba, manakala aku menemukan sebuah gudang sejarah dari sorot matanya.

Senja itu, seperti biasanya aku menikmati sunyi di pinggir jembatan tua ini. Sebelumnya, gadis pirang itu, hanya berjalan sebagaimana para pejalan kaki lainnya. Namun berbeda dengan senja itu, dia menatapku tajam. Binar matanya memancarkan cahaya biru tua, cahaya yang sangat kukenali. Namun aku sulit menyimpulkan kapan dan dimana aku kenal dengan cahaya tersebut. Sorot matanya menyisakan ribuan rahasia. Dia menatapku sambil berjalan hingga ke ujung jembatan dan kemudian lenyap di persimpangan.

Sorot matanya aku rekam dalam benak terdalam, lantas aku berusaha sebisa mungkin untuk menyelami rahasia yang tersimpan disana. Ada misteri yang mesti depecahkan. Kalau tidak segera terungkap, misteri ini akan menggunung, akibatnya paling tidak aku akan sulit tidur. Hampir setiap senja tiba semenjak senja itu, aku berusaha mencuri sinar matanya. Kebetulan sepertinya dia tak merasa keberatan jika sinar matanya aku curi. Buktinya dia menatapku dengan tajam pula.

Berhari-hari aku merenung di pinggir jembatan ini, jalanan ramai terasa sunyi, derasnya aliran sungai menjadi aliran sepi, deru angin yang berkibar di sekitarku menambah hening. Perlahan-lahan rahasia itu mulai terungkap. Dari binar matanya kau menemukan hamparan laut biru yang bersipandang dengan langit yang berwarna biru juga. Angin sepoi-sepoi, ombak berdebur perlahan-lahan memecah karang. Ada harmoni alam yang merdu, aku meyakini bahwa lautan itu adalah hamparan laut Agean di Yunani. Untuk semntara hanya sampai laut Agean rahasia itu terbuka.

Aktivitas merekam binar matanya menjadi sebuah rutinitas yang wajib dilaksanakan setiap hari. Lantas aku menyelam di dalam biru lautnya, mencari pecahan-pecahan sejarah dan misteri yang mungkin karam disana. Hingga aku berhenti di sebuah kota kecil di pinggiran laut Agean yaitu Ionia. Di kota Ionia aku menemukan Homerus sedang merenung panjang, disana Homerus seperti dilanda kebingungan, seperti kehabisan inspirasi untuk menulis. Illiad dan Odisey telah menguras habis pikirannya. Homerus hanya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia tak mampu menulis lagi.

Gadis kecil berambut pirang dan bermata biru Agean senantiasa melewati jembatan ini. Namun aku tak sempat memikirkan darimana dan hendak kemana dia pergi. Seperti biasa pula dia ditemani ibunya yang semakin hari semakin senja dimakan usia. Begitupun dengan gadis pirang itu, semakin hari semakin dewasa dan binar matanya semakin indah, memancarkan cahaya biru yang menggairahkan. Cahaya senja senantiasa jatuh pada rambutnya, menghasilkan cahaya keemasan yang berkilau.

Setelah kuselami lebih dalam lagi sorot matanya, aku menemukan seorang kakek yang sedang menikmati desiran sunyi di atap sebuah gedung perguruan tinggi di jantung Yunani, Athena. Aku meyakini bahwa kakek itu adalah Plato sang pemikir. Sebagaimana Homerus, Plato juga merenung tanpa henti, memikirkan hal-hal baru yang bermanfaat bagi orang banyak. Namun dia tidak menemukan hal-hal baru tersebut. Hasil pemikirannya sudah terlalu banyak dan diikuti oleh murid-muridnya. Aku meyimpulkan bahwa Plato sedang kebingungan juga.

Gadis pirang bermata biru tak berhenti menatap tajam mataku, menyajikan sebuah misteri yang wajib diungkap, aku harus kerja keras mencerna biru matanya, seperti para pemikir-pemikir terdahulu. Aku harus menyimpulkan materi-materi terbaru dari matanya. Gadis berambut pirang itu, menjadi medan magnet yang menarik hal-hal di sekitarnya. Binar matanya mengandung gaya gravitasi yang kuat sehingga aku jatuh kedalamnya. Meskipun kita saling menatap, aku tak pernah mendengar dia berbicara walau hanya sepatah kata.

Berturut-turut dari matanya aku menemukan Aristoteles yang bingung kehabisan ide-ide baru. Aku menemukan Alexander The Great yang sedang kebingungan pula, dia merenungkan negara mana lagi yang mesti dia taklukan. Aku menemukan Euclides, Archimedes, Socrates dan Ilmuan-ilmuan lainnya yang sedang merenung menelan rasa bingung. Pikiran mereka semua berhenti di jalan buntu.

Dari binar matanya, aku bisa menarik garis lurus sebagai kesimpulan. Bahwa gadis berambut pirang itu berasal dari Yunani, bersayap Athena, bernafas sepoi angin Agean, berhati para Filosof, dan berdarah para Ilmuan. Namun ada hal yang belum terungkapkan dari matanya, aku menemukan sebuah peti tua yang sama sekali belum terbuka. Masih terkunci dan masih dililit oleh rantai besi. Aku berusaha menyelami kembali biru matanya, menyelami laut Agean, meminjam pikiran para filsuf dan para ilmuan. Aku menuangkan seluruh tenaga guna membuka peti tua tersebut. Akhirnya dengan segala kesungguhan, peti tua itu dapat kubuka pula. Semula aku tak percaya pada apa yang ada dalam peti tersebut. Aku menemukan sebuah layar kecil yang sedang menayangkan sebuah adegan. Seperti adegan dalam drama.

Dadaku sesak, mataku terasa perih melihat adegan-adegan itu. Ada sesosok gadis manis, rambutnya panjang, mempunyai lesung pipi yang indah. Gadis itu menjadi tokoh dalam tayangan itu, sosok yang sangat kukenali bahkan sangat dekat sekali. Dalam tayangannya, gadis manis itu sedang mengamuk di dalam kamar. Semua menjadi berantakan, cermin-cermin pecah di lempari asbak, kaca jendela pecah dipukul kayu, beling-beling berserakan. Gadis manis itu menangis penuh sesal. Tayangan itu diakhiri dengan adegan memecahkan sebuah bingkai Fhoto seorang lelaki. Yang tak lain itu dalah fhotoku sendiri. Gadis manis dalam tayangan tersebut adalah kekasihku yang pernah aku tinggalkan beberapa tahun kebelakang.

Dari tayang dalam binar matanya, aku baru menyadari bahwa gadis pirang yang selama ini menatapku tajam, adalah adik dari kekasihku yang pernah aku sia-siakan. Dadaku sesak, nafasku tersegal, darahku berhenti mengalir, teringat betapa bodohnya masa laluku. Kekasihku pernah menceritakan bahwa dia punya seorang adik dari bapak yang berbeda. Dari bapak yang berkebangsaan Yunani. Dan adiknya itu adalah Gadis Pirang Bermata biru yang selama ini kuselami sorot matanya. Sungguh aku tak percaya.

Setelah itu, aku sering hanyut dalam perenungan, dalam semedi panjang. Rasa bingung hinggap dalam benak terdalam, lebih bingung dari Homerus, Plato, Aristoteles, Archimedes, Alexander, Euclides, lebih bingung dari para pemikir dan para ilmuan. Dari hari ke hari aku lupa mengurus diri, hidup seadanya menjadi penghuni sunyi yang menetap di jembatan tua ini. Sementara itu gadis pirang bermata biru yang selama ini menatap tajam, menjadi berubah, dia hanya tertunduk jika melintasi jembatan yang aku huni.

" Sudahlah nak, jangan kau taruh dendam kepadanya jangan lagi kau tatap matanya, semua tak berarti. Dia sudah menerima kutukan Tuhan sehingga dia menjadi gila. Sebagai balasan karena telah menyia-nyiakan kakakmu sehingga kakakmu menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa yang baru saja kita datangi. Sudahlah nak, dia sudah Gila, dia sudah Gila...... " tutur ibunya dengan sorot mata yang lebih tajam.

Rian Ibayana

Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...