LONSUM KERTASARI
Tiba-tiba aku menjadi asing di sini, seperti
terlambat mengenalmu.
Pada kelokan terakhir, kurasakan jantungmu tetap
berdenyut
meski waktu terus menggerus di setiap putarannya.
Tiba-tiba aku menjadi asing di sini, seperti lupa
ketika mula nafas menghiba
Kau tampak tegar, menjulang ke gigir ruang cakrawala
meski senja membuntutimu lebih tajam dari biasanya.
2016
KASIDAH WAKTU II
Waktu berbahasa lebih senyap dari
biasanya, tubuh melepuh di ujung tempuh.
Masih luas terbentang halaman lain ,
dari ribuan halaman yang ditakdirkan
Catatan demi catatan lalu, sejenak
aku tinggalkan bersama jejak-jejak
Yang lebih dulu tersapu angin.
Harapan demi harapan saling pandang
di muka cermin
Melahirkan semangat baru
Waktu berkasidah menghangatkan ruang
kamar,
kamar batin
kamar hidup
Waktu berbahasa lewat udara, membawa
langkah pada tangga
yang lebih tinggi
Satu tahapan
Menuju puncak yang sebenarnya
Mercusuar keabadian.
Memandang jauh Ke-Mahaluasan-Nya
2017
YANG TERTINGGAL
DI PASAR BARANG BEKAS ASTANA ANYAR
Memandang jauh ke ujung
Kisah-kisah tua terhampar di atas
trotoar
Puluhan kepala menunduk, seperti
mencari rindu
Yang tertinggal
Diantara besi-besi berkarat, kunci
kuno
Kipas angin serta berbagai dinamo
Yang entah masih berfungsi
Atau memiliki nasibnya sendiri
Mati.
Di sebrang jalan, kios-kios kecil
berdiri tegak
Menjajakan keping-keping kuningan
Tempat lilin, serta patung perunggu.
Yang dari matanya terpancar kenangan
tempo dulu.
2018


Tidak ada komentar:
Posting Komentar