Rindu yang berkali-kali singgah
kemudian berbenah
menjelma pintu-pintu bisu.
Perjalanan tertata rapi di lemari buku
bersama kenangan yang kian usang dan berbdebu.
jalan pikiran pecah di ubin kecoklatan
terbentur pada dinding yang dipenuhi gambar hewan
slogan serta propaganda
ah rumah singgah yang dulu ramah
melahirkan bayi-bayi yang mengerikan
sepi mengintai dari celah pentilasi
bertamu
berbenah diri.
2010
DI GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT, AKU MENGENALMU SEPERTI MENGENAL PUISI BARU
Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan
lewat perkenalan dan jabat tangan.
Aku melihat puisi di kantung matamu
juga dari rambutmu kutemukan kalimat bersalju.
Ketika angin selatan berpapasan dengan angin utara.
Kita beranjak ke dalam ruang berdinding lukisan
dengan lampu besar yang menyala.
kita intim dalam kata, tenggelam dalam mantra.
Udara mencekam, hujan menggedor jendela kayu ruang itu
segalnya diam
namun kata kembali menderas seperti getar pesawat yang melintas
ataupun gemuruh topan yang ditunggangi seribu puisi.
Kita mabuk dalam pusaran yang sama, pusaran kata.
Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan
lewat perkenalan dan jabat tangan.
Sejenak kita lupa pada laju kereta maupun lalu-lalang kendaraan
kita hanyut dalam bingar kata,
dalam bingar kata.
GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT
MENUJU LUHUR YANG TERANG
Mendalami bahasa angin yang berangsur-angsur lurus
menghayati peristiwa yang tekun meliris peristiwa baru
adakalanya mesti kuistirahatkan sajak demi sajak yang bergejolak memahat jejak
atau menyimpan larik-larik yang biasa memulas langit dengan beraneka kelir.
Di Cikahuripan
Adalah isyarat kesucian.
Sudah saatnya kubasuh topeng resah di wajah ini
membenamkan batin dalam bening mata air,
percikan demi percikan sejuk dari sumur berdinding lumut
Di Lawang Saketeng,
kemudian beranjak pada seikat niat
untuk menentukan kiri dan kanan, memilih musim yang kelak melenggangkan jalan
antara getir terang atau anggunnya kegelapan.
Di Palawangan Ibu,
segalanya bermula dari gang sempit ini
episode kalahiran yang melangitkan nyeri dan derap perjuangan.
Adalah tafakur tak terukur, ketika merenungkan detik pertama si mungil menghirup udara.
Di Pupur Ibu,
kasih sayang tak terhingga melimpah ruah
tak terselami, lebih dalam dari palung tersunyi.
Dekapan hangat, timang nasihat
belaian yang menyejukan prahara, mendiamkan badai.
Di Kokoncoran,
adalah tangga pengujian
memanah mendung, mengarungi jeram
membaca lembut kabut ataupun memahat batu menjadi tugu.
Di Keraton, adalah sebuah kedudukan
kewibawaan yang fana
Di Puncak Manik, segalanya kembali pada kepasrahan.
Memusnahkan cadas kesombongan
Tunduk di bawah Ke-Maha Luasan-Nya
Luhur yang Terang
Dan pada akhirnya sampailah jua satu persatu pandangan mata
meraba cerita serta tanggal-tangal di tubuh batu purba
memalingkan muka dari arus jaman yang kadang menghanyutkan langkah dan pandang.
dapat jua kita saksikan ketabahan-ketabahan silam
isyarat kerja keras ketegaran mengukir takdir serta mengokohkan laju usia.
Dan pada akhirnya sampailah jua petuah-petuah itu meluruskan deru waktu
CIWIDEY 2012