Minggu, 10 April 2016

CIWIDEY KOTA PENUTUP ROADSHOW NOVEL MANEKEN


Mengisi hari libur, Minggu 10 April kemarin, Kawah Sastra Ciwidey (KSC) menggelar bedah buku Maneken, karya Sangaji Mungkian. Seorang penulis muda asli kelahiran Ciwidey. Bedah buku yang diselenggarakan di Cs Me Cafe dan Resto yang beralamat di Jalan Ciwidey - Rancabali KM 4 itu, dihadiri puluhan peserta terutama para remaja yang hobi menulis  juga ingin menimba ilmu dan pengalaman secara langsung dari penulis.
Novel Maneken merupakan novel fiksi yang menceritakan dua Maneken, boneka kayu yang selalu dipajang di toko busana. Kedua Maneken dibuat hidup oleh Sangaji Mungkian, masing-masing bernama Claudia dan Ferelly. Selayaknya manusia, kedua Maneken tersebut saling mencintai dan dituntut untuk memperjuangkan cinta mereka. Dengan berbagai konflik serta kerikil dalam memperjuangkan cinta, akhirnya kdua maneken tersebut berakhir bahagia dalam dunianya.

Sangaji Mungkian penulis Novel Maneken mengatakan bahwasanya gelaran bedah buku serta diskusi itu merupakan penutup dari Roadshow buku Maneken yang diselenggaran di lima kota di Indonesia. Sebelumnya dilaksanakan di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Sumedang serta Magelang.  Aji (nama panggilan penulis) juga mengatakan bahwa roadshow tersebut terselenggara  atas jalinan apik dengan berbagai komunitas serta club pecinta buku di kota-kota tadi. Aji sengaja ingin menutup roadshow buku Maneken  di tempat kelahirannya yaitu Ciwidey. KSC sebagai wadah para pecinta sastra di Ciwidey menyambut baik keinginan Sangaji Mungkian untuk menggelar Bedah Buku tersebut.
Aya Sofi seorang pembaca buku yang hadir pada  acara tersebut mengatakan bahwa Novel Maneken membisikan bahwa imajinasi mampu menghidupkan benda mati dan cintalah yang membuat manusiawi. Diskusi diisi dengan tanya jawab serta sesi berbagi pengalaman menulis, termasuk suka duka ketika menulis novel tersebut yang rampung selama 4 Bulan. Mengirimkannya ke berbagai penerbit namun ditolak, hingga suatu hari penerbit Republika menerima Karya penulis muda Ciwidey itu.
   Lupita Lestari, panitia dari KSC yang merangkap juga sebagai MC. Mengatakan bahwasanya diskusi Maneken karya Sangaji tersebut merupakan agenda bulanan yang selalu  diselenggarakan oleh KSC. Lupita juga memaparkan bahwa dua bulan sebelumnya telah diadakan kajian jurnalistik dengan pemateri Yogira Yogaswara dan diskusi santai membahas tema Budaya Populer oleh Ferry Fauzi Hermawan M.Hum.


Diskusi berlangsung selama dua jam dan berjalan secara hangat. Untuk memecah kejenuhan penulis memberikan beberapa hadiah bagi para peserta yang bisa menjawab pertanyaan perihal novel Maneken. Diskusi ditutup oleh penampilan dari beberapa anggota KSC yaitu Pembacaan Puisi serta Stand Up Comedy. (Rian Ibayana)

CIWIDEY, 2016

Kamis, 04 Desember 2014

Dari Mendongeng hingga Kawah Sastra (KYAI MATDON)

APRESIASI BUAT KAWAH SASTRA CIWIDEY

Geliat kehidupan sastra di Jawa Barat tak pernah berhenti. Tiap generasi selalu melahirkan para penggiat sastra untuk tetap menghidupkan sastra dengan cara apa pun. Sebut saja Kota Tasikmalaya, di kota ini kegiatan sastra tak pernah berhenti di satu generasi.

Sebagai “mekahnya” sastra Jawa Barat, Tasik memang unik. Keberadaan banyak pesantren membuat tradisi sastra begitu kental. Kegiatan sastra di sini masuk ke sekolah-sekolah, kampus, taman bacaan, dan panti asuhan. Diprakarsai banyak komunitas sastra, seperti Sanggar Sastra Tasik, yang banyak melahirkan penyair.

Salah satu kegiatan sastra yang sudah berlangsung bertahun-tahun ialah mendongeng untuk anak-anak. Ini dilakukan selama Ramadan. Tradisi mendongeng di lingkungan keluarga dan sekolah pada era teknologi modern saat ini kian menyusut. Padahal, mendongeng sangat penting untuk membentuk karakter anak.

“Minimnya kegiatan mendongeng di keluarga dan sekolah, akan menjauhkan masyarakat dari pengetahuan dan karya sastra,” ujar Bode Riswandi, penyair dan penggiat sastra mendongeng.

Kegiatan mendongeng sebenarnya bukan hanya dalam bulan Ramadan, melainkan rutin dilaksanakan tiap bulan. Hanya pada Ramadan intensitasnya lebih ditingkatkan. Hal ini diakui pengurus Sanggar Sastra Tasik (SST), Saeful Badar. Ini untuk memotivasi anak-anak yang berminat dalam dunia dongeng, karena dalam dongeng banyak sekali nilai edukasi yang bisa diambil.

“Kepribadian anak-anak masih bisa dibentuk dan mudah dibubuhi hal-hal positif, salah satunya dengan mendongengkan mereka cerita yang baik,” ujar penyair yang hobi memancing ini.

Lain lagi di Garut, kota yang berada di antara Bandung-Tasikmalaya. Meski tidak rutin ada kegiatan sastra, di sini banyak melahirkan sastrawan, penulis, dan penyair. Selain H Usep Romli yang sudah 46 tahun berkarya, ada ke generasi Lilis Nenden, Darpan, hingga lahir generasi Ratna Ayu Budhiarti, Pungkit Wihaya, Liman, Cecep Nurbani, dan seterusnya.

Lahirnya generasi baru kepenyairan di Garut membuat geliat sastra di sini mulai tampak, beberapa sanggar pun berdiri. Pada Ramadan lalu, sejumlah kegiatan sastra digelar dalam acara “Salam Ramadhan”, selain pembancaan puisi, juga ada musik dan teater, digelar selama seminggu.

Kawah Sastra Ciwidey
Beralih ke Kabupaten Bandung, penyair muda Rian Ibayana mendirikan Kawah Sastra Ciwidey (KSC). Mesikupun belum lama didirikan, KSC merupakan wadah para penikmat sastra yang ada di daerah di Ciwidey dan sekitarnya, khususnya Kabupaten Bandung Selatan.

Awal Agustus ini, KSC menggebrak acara lewat diskusi sastra nasional yang akan digelar pada 9-10 Agustus. Acara ini mengusung tema “Gerakan Puisi Menolak Korupsi” dengan pembicara Sosiawan Leak dari Semarang. Sebelum diskusi, digelar juga acara Kakaren Lebaran dan Lomba Baca Puisi Tingkat SMA.

“Saya ingin anak-anak muda Ciwidey bisa berkarya juga lewat sastra,” ujar Rian Ibayana, penyair yang juga aktif di komunitas sastra Majelis Sastra Bandung.

Di Kawasan Bandung Utara ada Saung Sastra yang dikelola penyair sunda Hadi AKS, kegiatannya tidak hanya diksusi puisi, tetapi juga musik dan teater. Bahkan, prestasi teater sudah tingkat nasional dalam ajang kompetisi atau festival. Di sini antusiasme pelajar lebih terpelihara.

Di Cianjur tentu kegiatan sastra selalu penuh, tidak hanya bulan Ramadhan. Lahirnya penyair asal Cianjur, Faisal Syahreza, juga adanya wadah Dewan Kesenian Cianjur, menambah geliat sastra jadi makin beragam, mulai diskusi hingga lomba baca puisi dan workshop sastra.

Juga di Purwakarta, aktor teater Ayi Kurnia mulai memikirkan kehidupan sastra di kota kelahirannya. Ayi mendirikan Sanggar Sukmararakan. Ia berharap sanggar ini penuh kegiatan seni.

Kehidupan kota-kota di Jawa Barat memang dikepung berbagai komunitas dan kegiatan sastra yang keberadaannya mandiri, tidak berharap uluran tangan pemerintah. Ini sangat baik untuk makin banyaknya kegelisahan positif yang indah. Nantinya, makin tinggi nilai keindahan, makin tinggi pula kemanfaatannya bagi orang lain. Yakinlah, tak ada kegiatan sastra yang tak bermanfaat bagi kemanusiaan.

*Penulis adalah pengamat seni dan aktif sebagai Rois ‘Am di Majelis Sastra Bandung.

Sumber : Sinar Harapan

SURAT BUAT ANWAR. Karya bang Alex R Naenggolan

HAMPIR 2 TAHUN TIDAK NGEBLOG.


Tiba-tiba, aku ingin menulis surat padamu, Chairil Anwar, sosok legendaris dalam dunia puisi Indonesia. Entah kenapa, ini hanya keinginan yang sekejap saja muncul. Seperti sebuah puisi, terkadang ia pun muncul seketika. Tanpa mesti direncanakan atau dirumuskan dengan teori-teori kesusastraan. Mungkin pula, engkau tak akan membaca surat ini. Toh, engkau sudah berdamai di “alam sana” bersama sejumlah puisimu yang sebentar lagi —akan hidup seribu tahun lagi.

Puisi-puisi yang muncul akhir-akhir ini, menghadapi  banyak sekali godaan. Meskipun sejumlah penyair telah berusaha untuk mencapai kedalaman kata, sebagaimana yang pernah kauucapkan dalam surat  kepada H. B. Jassin itu, mengorek kata-kata dalam puisi sampai ke akarnya. Sebagian besar puisi yang ditulis sekarang mesti melawan kefanaan kata-kata itu. Bersaing dengan sejumlah jargon atau kalimat-kalimat puitis —yang muncul di televisi, surat kabar atau majalah. Pun di sejumlah ruas jalan dengan banyaknya spanduk atau baliho iklan yang ditebar.

Sebagian kata-kata itupun telah mengeras, diucapkan oleh para penguasa —yang terasa begitu semu.  Kata-kata telah lama diperas, Anwar. Kau mungkin akan bilang, justru itulah beratnya menjadi penyair. Ia mesti menciptakan bahasanya sendiri —untuk menemukan lagi makna kata yang murni. Kau, sebagaimana keteguhan yang kau yakini —akan mencari sejumput kata selama berhari-hari, berbulan bahkan tahunan.

Namun dunia yang sekarang aku tinggali terkadang berbeda. Kata-kata mendadak begitu instant, yang maunya hanya sekali seduh lalu menyepuh. Orang-orang begitu sibuk mempermainkan kata. Berkata dengan seenaknya saja, bahkan dalam sebuah pidato. Kata-kata menjelma jadi sebuah sandiwara yang terselubung. Di mana segalanya menjadi bias di setiap maknanya.


Padahal, seorang penyair lainnya pernah mengingatkan bahwa menulis puisi itu adalah sebuah kerja keras yang panjang. Kata-kata mesti senantiasa digosok, bagaikan batu akik, agar senantiasa menyala dan mengilap —sebagaimana filosofi yang pernah diucapkan Acep Zamzam Noor. Puisi-puisi memang menghendaki sejumlah kedalaman makna. Tapi aku senantiasa dihadapkan pada bilangan kata yang mendadak jadi berita misterius —yang diculik di sejumlah gedung parlemen atau pemerintahan. Kata-kata mendadak jadi absurd, membangkai dan hangus tanpa sisa.

Anwar yang senantiasa menggali kata, aku paham jika puisi-puisi yang kau tulis mengisyaratkan sebuah bentuk dunia yang lain. Setiap jelmaan kata yang kau toreh, menyisakan ruang yang panjang. Engkau melompat dan memperkaya setiap khazanah pembendaharaan kata-kata kita. Meskipun dulu belum ada mesin pencari kata di internet, namun kau telah meninggalkan guratan tanpa tepi. Puisimu seperti sebuah upaya penghematan yang tak berhenti. Di mana tak lagi menyisa berbagai ruang di sana. Begitu rapat, sehingga tak ada lagi kekosongan di sana.

Maka puisimu pun terus saja dibaca. Walaupun yang kau tulis mungkin hanya sedikit dari puluhan usia yang kau miliki. Dan setiap kali membaca puisimu, aku mendapati sebuah ruangan yang baru kembali. Ingin membacanya berulang-ulang. Semacam sebuah jeda dari kehidupan yang bising. Kau mungkin bisa berteriak lantang dalam sejumlah puisimu, tapi di lain puisi engkau melengkapkan nuansa pribadi manusia. Bercakap tentang keputus-asaan, menggapai dalam hidup yang lirih, ataupun menghidupkan segala ihwal soliter dalam tubuh manusia.

Anwar, apakah puisi mampu mengatasi segalanya? Membujuk setiap pangkal kesedihan agar manusia bisa riang menerimanya? Atau seperti Iswadi Pratama bilang, bisa merebut segala hal yang remeh dan tak berarti? Aku tak tahu. Aku hanya penikmat puisimu. Anehnya setiap kali membacanya ada yang berkecambah di dadaku. Sebuah getar yang terus berdenyar, bahkan setelah puisi itu berpuluh tahun engkau tinggalkan. Puisimu masih terus saja berjalan, tertanam di dalam kepala —hendak melawan lupa.


Kekuatan melawan lupa itu pun nampak dalam  puisi yang ditulis baru-baru ini. Tentunya dengan mengarifi, dalam bentuk satir, sekaligus mengakomodasi puisimu sebelumnya. Dengan citraan teknologi mutakhir, pula tabiat yang pernah engkau perbuat dulu (gaya hidupmu). Semacam yang ditulis penyair Rian Ibayana “SMS Buat Chairil Anwar”:

bung, negeri ini gawat darurat, jalan juang seperti diperalat, hampir sekarat.
setiap orang bermata merah, bahkan lebih merah dari matamu bung, lebih basah,
predikat jalangmu bukan apa-apa karena banyak yang lebih jalang darimu bung.
lebih lantang, lebih berani, lebih binatang.
budaya rakus yang kakus mendarah daging sehingga menggerogoti negerinya sendiri.

bung, negeri ini wajib selamat.
namun segala peluang dan obat telah disuntik taktik-taktik.
bermacam strategi seperti gerigi yang memotong habis cahaya pagi.
yang lebih liar darimu tak terbilang lagi,
segala jalur ditempuh demi sulur ambisi.

bung, negeri ini hilang wajah.
semangat “diponegoro” serta “karawang-bekasi”-mu seperti terbakar habis.
jalan juangmu terlindas terus-menerus,
oleh gerbong-gerbong kekuasaan.

bung, negeri ini wajib diselamatkan,
meskipun semangat seperti hendak tamat.
otakmu terang cemerlang, adakah kisi-kisi misi membangun kembali?
semacam akar yang keluar biar kelar segala kelakar.
bung, bagaimana jika kita pancung saja semua pengerat itu?

jika setuju, tolong balas sms ini.
(Negeri Abal-Abal, Komunitas Radja Ketjil: Jakarta, hal. 522)


Memang betapa puisimu menyisakan guratan yang abadi. Seperti letak ingatan yang tak sudah-sudah tentangnya. Mungkin puisimu, tak selesai bercakap ihwal zamanmu sendiri. Puisi-puisi itu melebar, melangkahi roda tahun. Tak heran juga selalu setiap tahun, banyak orang-orang yang kembali mengingatnya. Menguliti lagi puisimu selapis demi selapis. Menerka atau sekadar menebak setiap pergulatan ataupun kesedihan yang tak kunjung rampung.

Sebagaimana puisi Rian di atas, ia seperti ingin menghentak kita dengan kondisi terkini yang terjadi. Sepertinya ia ingin sekali mengadu padamu —tentang lanskap negeri ini. Namun apa daya, puisi adalah sebuah persinggahan mata batin, yang menelusup pada relung dada manusia. Ia menyentak kesadaran dari ruang bawah sadar, seperti orang yang sekejap terbangun tidur setelah dihinggapi mimpi buruk.

Buruknya pula, jika puisi ternyata hanya menjelma sekadar de-ja-vu. Yang hanya berkisah tentang imajinasi awang-awang. Ah, betapa puisi kembali di menara gading. Kesepian, sendiri, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mengunyah rasa sepi, kecewa, sakit hati ataupun segenap elegi yang melingkupinya. Tapi tetap saja di sana, terbungkus dalam kesendiriannya masing-masing.

Anwar, maafkanlah jika negeri ini tak pernah sempurna untuk menampung sebuah puisi. Ingatan kolektif negeri ini yang menyisa sekarang cuma berkisar soal kekerasan, korupsi, kenaikan harga, ataupun mencari tokoh yang layak memimpin. Sementara puisi —di negeri ini— mungkin cuma artefak yang (untungnya) masih dibicarakan oleh segelintir orang. Untungnya pula, masih terdapat dalam sebuah bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Meskipun nyatanya, begitu minim para penelaah yang benar-benar serius menekuninya.


Puisi-puisi saat ini menjelma jadi banjir kata-kata. Bertarung di antara wilayah gelap dan terang. Kehilangan dan memanjat maknanya masing-masing. Lalu terasa kedodoran. Begitu banyak puisi yang sudah ditulis oleh para penyair kita, Anwar. Beberapanya redup dengan sendirinya —beberapanya ada yang tetap bergema. Demikianlah. Setidaknya kita merasa masih beruntung, memunyai banyak penyair di negeri ini —yang masih tetap setia— menikmati kata-kata dalam puisinya. Sehingga tidak perlu dihinggapi cemas berlebihan akan kemuraman yang memayungi negeri ini. Ah, Anwar, apakah penguasa negeri ini masih sempat dan sanggup membaca serta memaknai sebuah puisi?

Anwar yang tak lelah mencari, di kedalaman mata merahmu, barangkali engkau telah berdamai dengan puisimu di sana —meskipun sebagian orang tak letih, acapkali gandrung untuk tetap membaca atau sekadar menyibaknya. Setiap kata. Diksi demi diksi. Ah, betapa selalu aku ingin mencari urat dan zat dalam puisimu. Seperti bait puisimu “Catetan Th. 1946”:

Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering,
sedikit mau basah!

Semoga saja surat ini sampai dengan selamat, dan di sana engkau masih sempat membacanya. Kubayangkan pula, bila di sana engkau tetap merawat kata menjadi pohon yang rimbun. Agar negeri ini selalu teduh.

Bung ayo, Bung!

Alex R. Nainggolan,
Penikmat puisi, menetap di Poris Plawad, Tangerang
Lampung Post, Minggu, 14 April 2013



 



Kamis, 02 Mei 2013

RADAR BANTEN ONLINE 9 MARET 2013

http://www.radarbanten.com/read/berita/140/9277/Sajak-sajak-Rian-Ibayana.html

TENTANG JARAK

jika jarak terlalu dekat
punah sudah nikmat rindu

2012


MELELEH

Matahari
     Amarah
           Api Ungun

ada kamu
aku meleleh

2012


FLORENCE TAN

tinggal rindu yang berhasil kukemas dari episode-episode yang menjulur jauh,
bengis musim kerap  melahirkan prahara berkulit drama
tinggal rindu juga yang berhasil ku layarkan menuju langitmu
yang kerap berubah warna di musim salju.

2012


CIWIDEY II

Jika waktu meruncing ke ulu jantung
dan habis daya, paru menimba udara.
Benamkan jasadku di bukit itu,
hempaskan juga kenanganku
bersama silir dingin serta tipis kabut.
Sehingga damai,
setenang batu-batu beku
di dasar tanahnya.

2011


DI BAWAH SELIMUT 


yang rindu dan tua
menikmati bulan-bulan tak berwajah.
Gelap,
siapa menuntun jalan
ke titik yang tepat
berbenah dengan nyaman.
Kini angin tak bisa lagi dipercaya
sebab melahirkan dingin di wujud kemarau, bahkan badai.
Yang rindu, yang menggigil
di bawah selimut
menunggu
dengan wajah lucu

2012


KENANGAN
-Sharon Den Adel

aku mematung di sini, pada beku kota
aliran nafas mengental bersama suara pedagang nasi goreng di lamirin malam
lampu taman yang perkasa tak mampu membuka apa-apa
dari kelam yang melekatkan beberapa riwayat.
hampa, kenangan melesat ke lain langit
menembus cahaya lampu pengendara malam
mendobrak baliho yang baru dipasang.
suram, suaramu hilang ditelan gerimis yang menukik ke atas atap seng kios malam.

2012

Kamis, 14 Maret 2013

DUA PENYAIR CIWIDEY MASUK "ANTOLOGI DARI NEGERI POCI 4 "

Antologi Penyair Indonesia dari Negeri Poci 4

Dua penyair asal Ciwidey, Bandung selatan. Lolos seleksi dan puisinya masuk dalam antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci 4.

 Rian Ibayana dan Yogira Yogaswara



NEGERI ABAL-ABAL, Antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci 4
ISBN: 978-602-8966-44-3
Tebal:  722 hal.
Edisi Hard Cover
DAFTAR PENYAIR:
  1. Abah Yoyok
  2. Abdul  Salam H.S.
  3. Adri  Darmadji Woko
  4. Alex Robert Nainggolan
  5. Alya Salaisha-Sinta
  6. Antho M. Massardi
  7. Arther  Phanter Olii
  8. Aspar Paturusi
  9. Astry Anjani
  10. A’yat Khalili
  11. B.  Irawan Massie
  12. B.  Priyono  Soediono
  13. Boedi Ismanto S. A.
  14. Cunong Nunuk Suraja
  15. Dahta Gautama
  16. Dalasari Pera
  17. Daru Maheldaswara
  18. Dedet Setiadi
  19. DG Kumarsana
  20. Dharmadi
  21. Dharnoto
  22. Dianing Widya
  23. Dimas  Indianto S.
  24. Donny P. Herwanto
  25. Dwi Rahariyoso
  26. Eka Budianta
  27. Eko Budihardjo
  28. Elis Tating Bardiah
  29. Endang Werdiningsih
  30. Es Wibowo
  31. Evi Idawati
  32. Fakhrunnas M.A. Jabbar
  33. Farra Yanuar
  34. Frans Ekodhanto Purba
  35. Gunoto Saparie
  36. Hamzah Muhammad
  37. Handrawan Nadesul
  38. Handry T.M.
  39. Hanna Yohana
  40. Hardho Sayoko S.P.B.
  41. Hendro Siswanggono
  42. Hendry  Ch. Bangun
  43. Heni Hendrayani Sudarsana
  44. Herman Syahara
  45. Husnul Khuluqi
  46. Imelda Hasibuan
  47. Isbedy Stiawan Z.S.
  48. J. Btara Kawi
  49. Joshua Igho
  50. Jusuf A.N.
  51. Kurnia Effendi
  52. Kurniawan Junaedhie
  53. Lailatul Kiptiyah
  54. Landung Simatupang
  55. Latief S.  Nugraha
  56. M. Enthieh Mudakir
  57. M.  Djupri
  58. Mardi Luhung
  59.  Mariati Atkah
  60. Memed Gunawan
  61. Moh. Ghufron Cholid
  62. Muhammad Asqalani eNeSTe
  63. Naning Pranoto
  64. Nella S. Wulan
  65. Nia Samsihono
  66. Nissa Rengganis
  67. Oei Sien Tjwan
  68. Prijono Tjiptoherijanto
  69. R.  Valentina Sagala
  70. Rahadi Zakaria
  71. Rahmat Ali
  72. Rahmat Heldi H.S.
  73. Rama Firdaus
  74. Rama Prabu
  75. Ratu Ayu
  76. Rika Istianingrum
  77. Rini Fardiah
  78. Rismudji Rahardjo
  79. Rukmi Wisnu Wardhani
  80. Rian Ibayana
  81. S.P. Budisantosa
  82. Setiyo Bardono
  83. Sides  Sudyarto D.S.
  84. Sjafrial  Arifin
  85. Slamet Riyadi Sabrawi
  86. Soni Farid Maulana
  87. Sus Setyowati Hardjono
  88. Susy Ayu
  89. Sutirman Eka Ardhana
  90. Syaifuddin Gani
  91. Syarifuddin  Arifin
  92. Udin Sape Bima
  93. Wahyu Wibowo
  94. Wayan Sunarta
  95. Windu Mandela
  96. Yadi Riyadi
  97. Yogira Yogaswara
  98. Yvonne de Fretes
  99. Elvynn G. Masassya( Penyair Tamu:)

Kamis, 24 Januari 2013

KABAR PRIANGAN 23 JANUARI 3013

CIWIDEY TENGAH MALAM II

satu baliho
sosok berkopyah hitam
dipasang lagi
meramaikan malam


2012





PADA TITIK INI SEGALANYA MENGENTAL


pada titik ini segalanya mengental
riwayat beringin tua, suara kereta serta kerlip lampu kota
menyatu menjadi riwayat baru
Bandung beku malam ini seperti sayu matamu yang sulit ditafsirkan
kerling yang tak jua dipahami

gerimis merintis jejak kepergian
kau menjauh dengan secarik rindu di tangan

puisi hampir lahir di sini
dan aku membidaninya sendiri...


2012


JAKET

masuklah ke dalam saku jaketku
hangatkan sulur-sulur hatimu yang diliputi gelisah
seperti puisi berbenahlah dengan nyaman
percayalah meski hujan melahirkan badai
dan cuaca melesatkan dingin
kau dijamin aman.
bersemayamlah dengan mesra
sebab jalan berontak adalah diam
merenung sambil meninju waktu.
masuklah ke dalam saku jaketku
hangat yang kekal
episode baru kelak menghampirimu

2012


KAOS

menyablon kisah di atas kaos putih
garis demi garis
arsiran cerita
merah gelisah
hitam kelam
biru haru
hijau galau

lalu cinta ?

2012


SEPERTI WAKTU YANG BERJALAN TERATUR

Seperti waktu yang berjalan teratur
menekuni petak-petak dimana rakaat demi rakaat didirikan
terjal ini mesti ditaklukan, undakan demi undakan
meskipun angin telah dinikahkan dengan hujan kemudian melahirkan topan.
Dunia tahu sakral sabdamu, tegak lurus membelah cadas jahiliyah
juga menikung menghantam sejarah kekeliruan.
Seperti waktu yang berjalan teratur
membina sengkedan-sengkedan dimana sholawat demi sholawat dilantunkan
runcing kerikil dan tajam bebatuan bukan penghambat niat yang terpahat
Sebab rindu padamu Tuan, meneguhkan kekuatan
menuju puncak kepasrahan.

2012



http://www.epaper.kabar-priangan.com/

Jumat, 04 Januari 2013

HARIAN MIMBAR UMUM MEDAN 5 JANUARI 2013

SEPI

Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau
lebih mengetahui titik waktu yang buntu.
Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.
Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,
saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.
Sepi menyelinap saat bulan bercadar
dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.

2011



DI GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT, AKU MENGENALMU SEPERTI MENGENAL PUISI BARU


Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan

lewat perkenalan dan jabat tangan.

Aku melihat puisi di kantung matamu

juga dari rambutmu kutemukan kalimat bersalju.



Ketika angin selatan berpapasan dengan angin utara.

Kita beranjak ke dalam ruang berdinding lukisan

dengan lampu besar yang menyala.

kita intim dalam kata, tenggelam dalam mantra.



Udara mencekam, hujan menggedor jendela kayu ruang itu

segalnya diam

namun kata kembali menderas seperti getar pesawat yang melintas

ataupun gemuruh topan yang ditunggangi seribu puisi.

Kita mabuk dalam pusaran yang sama, pusaran kata.



Angin menuntaskan berpuluh-kilometer perjalanan

lewat perkenalan dan jabat tangan.

Sejenak kita lupa pada laju kereta maupun lalu-lalang kendaraan

kita hanyut dalam bingar kata,

dalam bingar kata.









GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT

14 FEBRUARI 2010


TELAGA TANDATANYA

Yang tehampar luas di mata sunyi adalah genangan tinta tak terhingga
cekungan pekat tak beujung.
Aku yang tak pernah beruntung
menangkap cahaya di langit-langit kamar, kerap sendiri dalam memar
Bagaimana mungkin aku berjalan tegar?
langkahku hanyut pada kantuk,  terlelap dalam keterjagaan
Yang terperangkap dalam angin ribut, pada senja yang hitam
adalah pesan yang tak tersampaikan
kandas di pertengahan musim, jalan cuaca senantiasa sunyi, untuk ini.
Hatimu telaga tanda tanya
tak terselami
dan hatiku genangan tinta
untuk pesan cerita yang tak pernah terbaca.
Maret 2008

 

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...