HAMPIR 2 TAHUN TIDAK NGEBLOG.
Tiba-tiba, aku ingin menulis surat padamu, Chairil Anwar, sosok
legendaris dalam dunia puisi Indonesia. Entah kenapa, ini hanya
keinginan yang sekejap saja muncul. Seperti sebuah puisi, terkadang ia
pun muncul seketika. Tanpa mesti direncanakan atau dirumuskan dengan
teori-teori kesusastraan. Mungkin pula, engkau tak akan membaca surat
ini. Toh, engkau sudah berdamai di “alam sana” bersama sejumlah puisimu
yang sebentar lagi —akan hidup seribu tahun lagi.
Puisi-puisi
yang muncul akhir-akhir ini, menghadapi banyak sekali godaan. Meskipun
sejumlah penyair telah berusaha untuk mencapai kedalaman kata,
sebagaimana yang pernah kauucapkan dalam surat kepada H. B. Jassin itu,
mengorek kata-kata dalam puisi sampai ke akarnya. Sebagian besar puisi
yang ditulis sekarang mesti melawan kefanaan kata-kata itu. Bersaing
dengan sejumlah jargon atau kalimat-kalimat puitis —yang muncul di
televisi, surat kabar atau majalah. Pun di sejumlah ruas jalan dengan
banyaknya spanduk atau baliho iklan yang ditebar.
Sebagian
kata-kata itupun telah mengeras, diucapkan oleh para penguasa —yang
terasa begitu semu. Kata-kata telah lama diperas, Anwar. Kau mungkin
akan bilang, justru itulah beratnya menjadi penyair. Ia mesti
menciptakan bahasanya sendiri —untuk menemukan lagi makna kata yang
murni. Kau, sebagaimana keteguhan yang kau yakini —akan mencari sejumput
kata selama berhari-hari, berbulan bahkan tahunan.
Namun
dunia yang sekarang aku tinggali terkadang berbeda. Kata-kata mendadak
begitu instant, yang maunya hanya sekali seduh lalu menyepuh.
Orang-orang begitu sibuk mempermainkan kata. Berkata dengan seenaknya
saja, bahkan dalam sebuah pidato. Kata-kata menjelma jadi sebuah
sandiwara yang terselubung. Di mana segalanya menjadi bias di setiap
maknanya.
Padahal,
seorang penyair lainnya pernah mengingatkan bahwa menulis puisi itu
adalah sebuah kerja keras yang panjang. Kata-kata mesti senantiasa
digosok, bagaikan batu akik, agar senantiasa menyala dan mengilap
—sebagaimana filosofi yang pernah diucapkan Acep Zamzam Noor.
Puisi-puisi memang menghendaki sejumlah kedalaman makna. Tapi aku
senantiasa dihadapkan pada bilangan kata yang mendadak jadi berita
misterius —yang diculik di sejumlah gedung parlemen atau pemerintahan.
Kata-kata mendadak jadi absurd, membangkai dan hangus tanpa sisa.
Anwar
yang senantiasa menggali kata, aku paham jika puisi-puisi yang kau
tulis mengisyaratkan sebuah bentuk dunia yang lain. Setiap jelmaan kata
yang kau toreh, menyisakan ruang yang panjang. Engkau melompat dan
memperkaya setiap khazanah pembendaharaan kata-kata kita. Meskipun dulu
belum ada mesin pencari kata di internet, namun kau telah meninggalkan
guratan tanpa tepi. Puisimu seperti sebuah upaya penghematan yang tak
berhenti. Di mana tak lagi menyisa berbagai ruang di sana. Begitu rapat,
sehingga tak ada lagi kekosongan di sana.
Maka puisimu
pun terus saja dibaca. Walaupun yang kau tulis mungkin hanya sedikit
dari puluhan usia yang kau miliki. Dan setiap kali membaca puisimu, aku
mendapati sebuah ruangan yang baru kembali. Ingin membacanya
berulang-ulang. Semacam sebuah jeda dari kehidupan yang bising. Kau
mungkin bisa berteriak lantang dalam sejumlah puisimu, tapi di lain
puisi engkau melengkapkan nuansa pribadi manusia. Bercakap tentang
keputus-asaan, menggapai dalam hidup yang lirih, ataupun menghidupkan
segala ihwal soliter dalam tubuh manusia.
Anwar, apakah
puisi mampu mengatasi segalanya? Membujuk setiap pangkal kesedihan agar
manusia bisa riang menerimanya? Atau seperti Iswadi Pratama bilang,
bisa merebut segala hal yang remeh dan tak berarti? Aku tak tahu. Aku
hanya penikmat puisimu. Anehnya setiap kali membacanya ada yang
berkecambah di dadaku. Sebuah getar yang terus berdenyar, bahkan setelah
puisi itu berpuluh tahun engkau tinggalkan. Puisimu masih terus saja
berjalan, tertanam di dalam kepala —hendak melawan lupa.
Kekuatan
melawan lupa itu pun nampak dalam puisi yang ditulis baru-baru ini.
Tentunya dengan mengarifi, dalam bentuk satir, sekaligus mengakomodasi
puisimu sebelumnya. Dengan citraan teknologi mutakhir, pula tabiat yang
pernah engkau perbuat dulu (gaya hidupmu). Semacam yang ditulis penyair
Rian Ibayana “SMS Buat Chairil Anwar”:
bung, negeri ini gawat darurat, jalan juang seperti diperalat, hampir sekarat.
setiap orang bermata merah, bahkan lebih merah dari matamu bung, lebih basah,
predikat jalangmu bukan apa-apa karena banyak yang lebih jalang darimu bung.
lebih lantang, lebih berani, lebih binatang.
budaya rakus yang kakus mendarah daging sehingga menggerogoti negerinya sendiri.
bung, negeri ini wajib selamat.
namun segala peluang dan obat telah disuntik taktik-taktik.
bermacam strategi seperti gerigi yang memotong habis cahaya pagi.
yang lebih liar darimu tak terbilang lagi,
segala jalur ditempuh demi sulur ambisi.
bung, negeri ini hilang wajah.
semangat “diponegoro” serta “karawang-bekasi”-mu seperti terbakar habis.
jalan juangmu terlindas terus-menerus,
oleh gerbong-gerbong kekuasaan.
bung, negeri ini wajib diselamatkan,
meskipun semangat seperti hendak tamat.
otakmu terang cemerlang, adakah kisi-kisi misi membangun kembali?
semacam akar yang keluar biar kelar segala kelakar.
bung, bagaimana jika kita pancung saja semua pengerat itu?
jika setuju, tolong balas sms ini.
(Negeri Abal-Abal, Komunitas Radja Ketjil: Jakarta, hal. 522)
Memang
betapa puisimu menyisakan guratan yang abadi. Seperti letak ingatan
yang tak sudah-sudah tentangnya. Mungkin puisimu, tak selesai bercakap
ihwal zamanmu sendiri. Puisi-puisi itu melebar, melangkahi roda tahun.
Tak heran juga selalu setiap tahun, banyak orang-orang yang kembali
mengingatnya. Menguliti lagi puisimu selapis demi selapis. Menerka atau
sekadar menebak setiap pergulatan ataupun kesedihan yang tak kunjung
rampung.
Sebagaimana puisi Rian di atas, ia seperti
ingin menghentak kita dengan kondisi terkini yang terjadi. Sepertinya ia
ingin sekali mengadu padamu —tentang lanskap negeri ini. Namun apa
daya, puisi adalah sebuah persinggahan mata batin, yang menelusup pada
relung dada manusia. Ia menyentak kesadaran dari ruang bawah sadar,
seperti orang yang sekejap terbangun tidur setelah dihinggapi mimpi
buruk.
Buruknya pula, jika puisi ternyata hanya menjelma sekadar
de-ja-vu.
Yang hanya berkisah tentang imajinasi awang-awang. Ah, betapa puisi
kembali di menara gading. Kesepian, sendiri, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Mengunyah rasa sepi, kecewa, sakit hati ataupun segenap elegi yang
melingkupinya. Tapi tetap saja di sana, terbungkus dalam kesendiriannya
masing-masing.
Anwar, maafkanlah jika negeri ini tak
pernah sempurna untuk menampung sebuah puisi. Ingatan kolektif negeri
ini yang menyisa sekarang cuma berkisar soal kekerasan, korupsi,
kenaikan harga, ataupun mencari tokoh yang layak memimpin. Sementara
puisi —di negeri ini— mungkin cuma artefak yang (untungnya) masih
dibicarakan oleh segelintir orang. Untungnya pula, masih terdapat dalam
sebuah bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.
Meskipun nyatanya, begitu minim para penelaah yang benar-benar serius
menekuninya.
Puisi-puisi
saat ini menjelma jadi banjir kata-kata. Bertarung di antara wilayah
gelap dan terang. Kehilangan dan memanjat maknanya masing-masing. Lalu
terasa kedodoran. Begitu banyak puisi yang sudah ditulis oleh para
penyair kita, Anwar. Beberapanya redup dengan sendirinya —beberapanya
ada yang tetap bergema. Demikianlah. Setidaknya kita merasa masih
beruntung, memunyai banyak penyair di negeri ini —yang masih tetap
setia— menikmati kata-kata dalam puisinya. Sehingga tidak perlu
dihinggapi cemas berlebihan akan kemuraman yang memayungi negeri ini.
Ah, Anwar, apakah penguasa negeri ini masih sempat dan sanggup membaca
serta memaknai sebuah puisi?
Anwar yang tak lelah
mencari, di kedalaman mata merahmu, barangkali engkau telah berdamai
dengan puisimu di sana —meskipun sebagian orang tak letih, acapkali
gandrung untuk tetap membaca atau sekadar menyibaknya. Setiap kata.
Diksi demi diksi. Ah, betapa selalu aku ingin mencari urat dan zat dalam
puisimu. Seperti bait puisimu
“Catetan Th. 1946”:
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering,
sedikit mau basah!
Semoga
saja surat ini sampai dengan selamat, dan di sana engkau masih sempat
membacanya. Kubayangkan pula, bila di sana engkau tetap merawat kata
menjadi pohon yang rimbun. Agar negeri ini selalu teduh.
Bung ayo, Bung!
Alex R. Nainggolan,
Penikmat puisi, menetap di Poris Plawad, Tangerang
Lampung Post, Minggu, 14 April 2013