Rabu, 05 September 2018

DABLU KE LUAR ANGKASA Cerpen Rian Ibayana HARIAN RAKYAT SULTRA 27 AGUSTUS 2018

Setiap karya punya nasib masing-masing.
Seperti cerpen ini nasibnya tayang di Kendari. Jauh di tenggara.





DABLU KE LUAR ANGKASA


Kesabaran mpih Engkus sudah terkuras habis oleh tindakan Dablu. Bagaimana tidak, sore itu Dablu berhasil membawa lari nyai Ida, anaknya. Ini untuk ketiga kalinya Dablu melakukan tindakan itu, kejadian pertama dan kedua terjadi berturut-turut sebulan yang lalu, meski hanya untuk jalan-jalan, cara Dablu membawa pergi nyai Ida tanpa tata kesopanan membuat mpih Engkus geram. Sejak awal mpih Engkus tidak suka jika anaknya menjalin hubungan dengan Dablu. Sore itu juga mpih Engkus berniat  pergi ke kantor polisi , untuk melaporkan Dablu dengan tuduhan penculikan.
            Dablu adalah seorang pemuda paling pintar di kampung Tambak, namun karena terlalu pintar, waktu kelas dua SMA Dablu dikeluarkan dari sekolahnya dengan alasan sering membantah pendapat guru, terlalu kritis, mencemarkan nama sekolah dengan tingkahnya dan sederet alasan lain. Sejak itu Dablu tidak melanjutkan sekolah, dia merasa muak dengan orang-orang di sekolah, Dablu memilih bekerja.
 Dablu yatim piatu sejak bayi, dia dibesarkan oleh bi Raspi dan mang Paman. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, sebenarnya bi Raspi dan mang Paman bukanlah keluarga asli dari orang tua Dablu. Tetapi, ah tak perlu diceritakan, terlalu ngeri membayangkan sosok bayi yang dibuang di pinggir sebuah parit, bi Raspi dan mang Paman menyelamatannya. Namun hingga dewasa, Dablu tidak pernah mengetahui asal-usulnya, rahasia itu disimpan baik-baik oleh bi Raspi dan mang Paman.
Mpih Engkus segera menghidupkan motor yang diparkir di depan rumahnya.  Matanya memerah, kemarahannya benar-benar meluap. Ini sudah di luar batas kesabaran, pikirnya.
“ Ambu, ambilkan jaket kulit ! Mpih mau berangkat ke kantor polisi sekarang juga” mpih Engkus sedikit berteriak kepada Ambu Casmi di dalam rumah.
“ Tunggu dulu  mpih, jangan dulu berangkat, ini ada hal penting,  anak kita meninggalkan surat di atas ranjang”  suara ambu Casmi dari dalam kamar nyai Ida.
            Mpih Engkus terkejut, tak biasanya nyai Ida meninggalkan surat seperti itu.  Dia kemudian turun kembali dari motornya dan beranjak ke kamar anaknya itu. Kamar nyai Ida terletak di bagian depan rumah, dengan jendela yang bisa dibuka. Inilah yang menyebabkan  Dablu dengan mudah membawa pergi nyai Ida, membawa lari jauh.
“ Surat apa ambu? “ tanya Mpih Eengkus.
“ Ini mpih, surat dari anak kita, mpih buka saja sendiri, ambu tidak berani membukanya” sambil gemetaran ambu menyerahkan surat itu kepada suaminya.
            Muka mpih Engkus mendadak merah kehitam-hitaman, darahnya mendidih naik ke kepala, jantungnya seperti berlari, tangan kirinya mengepal kemudian diarahkan ke atas, seperti hendak meninju langit. Ternyata surat itu dari Dablu, bukan dari anaknya.
            “Mpih dan Ambu yang saya hormati, rasa hormat yang tulus dari palung hati. Rasa hormat yang nilainya sama dengan rasa hormat kepada Bibi dan Paman. Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada Mpih dan Ambu, dengan lancang telah membawa lari putri semata wayang, putri kebanggaan yang diharapkan akan mengharumkan nama keluarga kelak. Jujur, saya telah mempertimbangkan jalan ini dengan matang, dipikirkan bolak-balik, direnungkan hingga meminta jalan lewat Salat Istiharah. Dan hari ini saya membulatkan tekad membawa lari jauh anak Mpih dan Ambu. Saya tidak akan menyesal menempuh cara ini.
             Di puncak Pasir Kemir, berbulan-bulan saya merangkai sebuah pesawat berbentuk bulat, yang bisa melesat ke langit, menembus atmosfer bumi, menerobos segala kemustahilan, dan saya tidak tau dimana kelak akan mendarat. Dengan pesawat itu saya akan pergi jauh bersama nyai Ida, kekasih hati saya. Hal ini terpaksa saya lakukan, sebab restu tak jua terucap. Mpih dan ambu jangan cemas, segala peralatan dalam pesawat itu sudah terjamin, cadangan makanan cukup untuk waktu yang lama. Namun jika lebih dari satu bulan kami tidak kembali, mpih dan ambu saya harap bisa menerima takdir dengan lapang dada, mungkin ini jalan terbaik yang digariskan Gusti kepada mpih dan ambu, nasib yang harus diterima oleh saya juga putri kesayangan mpih dan ambu ini.
            Jikalau mpih berniat melaporkan saya ke polisi, silahkan. Nanti setelah kembali mendarat di bumi, saya siap untuk dibui. Sebab saya sudah bahagia bisa membawa nyai Ida berkeliling di luar angkasa, mendarat di bulan, mendarat di planet merah, mendarat galaksi lain di luar bima sakti, menyenggol satelit palapa dan benda langit lainnya. Dan saya yakin nyai Ida  tidak akan rela kekasihnya dibui, Nyai Ida bisa saja bunuh diri atau ikut bermukim di balik jeruji besi. Jadi mpih dan ambu tinggal memilih saja, mana yang terbaik
            Surat ini saya akhiri sampai di sini, semoga Mpih dan ambu bisa merelakan kepergian kami”
            Ini sungguh di luar dugaannya, jantung mpih Engkus seakan copot saat membaca isi surat , dadanya naik turun, kakiknya tiba-tiba  gemetar. Melihat reaksi suaminya seperti itu, ambu Casmi kemudian memegang punggung suaminya, menyuruh duduk di atas ranjang, kemudian dia mengambil air dingin dari dapur. Setelah meminum air dingin, emosi mpih Engkus mulai terkendali.
            “ Nyaan kabina-bina pisan si Dablu teh, ambu” ungkap mpih Engkus kepada istrinya.
            “ Coba Ambu pikir, Dablu akan membawa anak kita ke luar angkasa, dia menyuruh kita sabar menunggu selama satu bulan, jika tidak pulang selama satu bulan, kita harus menerima takdir, itu isi suratnya Ambu”  mpih Engkus mencoba memaparkan isi surat kepada istrinya.
            Ambu Casmi menarik napas panjang, merasa tidak percaya sedikitpun isi surat itu. Apakah betul Dablu akan melakukan hal tersebut. Ambu Casmi mengetahui betul siapa sosok yang membawa lari anaknya itu. Pemuda yang terkenal pintar di kampungnya, ambu Casmi juga mengetahui jikalau dulu  Dablu dikeluarkan dari sekolahnya karena kepintarannya melebihi siswa kebanyakan. Dablu adalah pemuda paling kritis di kampungnya, bahkan ambu Casmi pernah mendengar berita Dablu ditampar pak kades saat rapat di balai desa. Dablu terlalu vocal dan tajam mengkritik  kebijakan pemerintah desa yang mengizinkan berdirinya pabrik pengolahan air mineral di kampungnya yang terkenal subur. Namun apalah daya Dablu seorang diri yang kritis, pabrik air mineral itu tetap berdiri.
            Mata ambu Casmi diarahkan ke langit-langit kamar, membayangkan jikalau pada akhirnya nyai Ida harus berdampingan dengan Dablu di pelaminan. Sebenarnya ambu tidak terlalu mempersoalkan latar belakang keluarga Dablu. Dablu juga bisa dibilang pemuda paling tampan di kampungnya,  banyak gadis yang mengharapkan jadi kekasihnya. Meski Dablu belum mempunyai pekerjaan tetap, tapi Ambu Casmi yakin, jika Dablu bisa jadi penerus usaha suaminya, dengan kepintarannya bukan tidak mungkin bisa membuat strategi meningkatkan hasil kebun yang dikelola suaminya.
            “ Ambu...! Ambu...! kalakah ngalamun... !“ bentak mpih Engkus membuyarkan lamunan ambu Casmi.
            Ambu terkejut oleh bentakan suaminya,  lamunannya terhenti, pikiran soal Dablu menguap jauh, jauh sejauh-jauhnya dan tidak kembali. Ambu kemudian ikut duduk di samping  Mpih Engkus.
            “ Pergilah mpih ke kantor polisi, segera laporkan apa yang terjadi. Bawa juga surat di tangan mpih itu. Sebagai barang bukti, siapa tahu polisi bisa segera mengejar Dablu”
            “Baiklah ambu, mpih akan segera berangkat, semoga anak kita akan segera ditemukan, si Dablu harus segera  membayar apa  yang diperbuatnya”

***
Di puncak Pasir Kemir, ada sebuah tanah datar yang hanya ditumbuhi ilalang-ilalang, dahulu tempat ini merupakan tempat paling asyik dan banyak dikunjungi muda-mudi untuk pacaran atau untuk keluarga menikmati indahnya kampung dari ketinggian. Namun setelah terjadi peristiwa pembunuhan seorang gadis oleh kekasihnya, tempat ini tak ada yang berani mengunjungi, puncak Pasir Kemir menjadi angker, apalagi setelah beredar kabar arwah gadis yang dibunuh itu, gentayangan di sekitar puncak pasir.
            Beberapa petugas kepolisian ditemani mpih Engkus, ketua RW Pasir Kemir juga beberapa tokoh masyarakat di sana bergegas menuju puncak, untuk menindaklanjuti laporan mpih Engkus kemarin sore. Menulusuri kebenaran isi surat si Dablu. Perjalanan dari pusat kampung hingga ke puncak ditempuh sekitar 20 Menit, melewati jalan setapak tanah merah.
            Rombongan yang telah sampai di puncak, luar biasa kagetnya melihat keadaan sekitar puncak. Di atas lahan yang biasanya ditumbuhi ilalang terdapat lekukan besar, cekungan yang dalamnya sekitar 2 meter hasil dari tekanan benda berat berbentuk lingkaran. Di ujung timur puncak terdapat sisa-sisa sebuah pengelasan bahan logam, besi-besi serta kaca berantakan. Bau bahan bakar masih menyengat di area puncak, sementara ilalang yang tumbuh di sana habis terbakar.
            Rombongan yang naik ke puncak saling pandang satu sama lain, seolah tidak percaya dengan apa yang ada dihadapan mereka. Komandan polisi yang ikut serta pada penyelidikan itu kemudian menyuruh anak buahnya untuk memberikan garis polisi diseluruh sisi puncak Pasir Kemir, guna kepentingan investigasi dan tidak dijamah orang-orang.
            “ Benarkah ini yang dimaksud dalam isi surat si Dablu itu?” pikir komandan polisi di dalam hati.
           
***
Dua minggu berjalan, kasus penculikan yang dilakukan Dablu masih menjadi berita paling ditunggu di media, mewarnai surat kabar. Isi surat yang menjadi barang bukti tersebar media sosial. Dablu masih menjadi buah bibir, diperbincangkan baik di suasana serius maupun obrolan santai di warung kopi. Soal jejak pesawat yang dibuat Dablu, banyak pertanyaan yang mengemuka, benarkah itu jejak pesawat luar angkasa yang dibuat Dablu untuk pergi jauh bersama kekasihnya, yaitu Nyai Ida. Atau hanya akal-akalan Dablu untuk membuat sensasi sehingga membuyarkan perhatian khalayak, menutupi perbuatannya menculik anak seorang juragan.
            Polisi belum bisa menyimpulkan apakah itu jejak pesawat sungguhan, atau hanya jejak buatan manusia. Para ahli pesawat luang angkasa didatangkan dari ibu kota juga dari berbagai perguruan tinggi, bahkan diberitakan para ahli antariksa dari luar negeri juga sudah memantau kasus ini dengan khidmat. Bukan tidak mungkin akan ikut membantu memecahkan jejak pesawat itu.
            Sementara itu Bi Raspi dan Mang Paman benar-benar kewalahan menghadapi serbuan wartawan juga warga sekitar yang penasaran tentang Dablu, terutama tentang kepintarannya yang konon berhasil membuat pesawat yang bisa terbang jauh ke luar angkasa. Mereka lebih dari sepuluh kali dipanggil ke kantor polisi guna memberikan keterangan tentang si Dablu. Dan pada akhirnya bi Raspi pun tumbang karena tidak kuat menghadapi situasi seperti itu dan dirawat di rumah sakit.
***

            Polisi dan tim investigasi yang terdiri dari para ahli pesawat juga ahli antariksa mulai mendapatkan titik terang, mereka yakin dan bisa menyimpulkan bahwa jejak pesawat di puncak Pasir Kemir itu, murni buatan manusia bukan sisa-sisa pesawat yang lepas landas.  Mereka mengagumi kepintaran Si Dablu yang berhasil membuyarkan konsentrasi khalayak, mengaburkan berita penculikan menjadi isu pesawat luar angkasa yang dibuatnya. Media yang lebih menyoroti jejak pesawat mulai mengalihkan kembali kepada kasus penculikan sebenarnya. Nihil, lebih dari sebulan Dablu belum juga ditemukan, belum ada informasi kemana Dablu pergi membawa Nyai Ida. Namun meski begitu polisi tetap bekerja keras memburu Dablu, menjadi tantangan tersendiri bagi pihak berwajib.
***

Di ruang tamu, Mpih Engkus dan Ambu Casmi sama-sama terdiam. Pikiran mereka masing-masing melayang jauh. Cemas luar biasa menghinggapi ambu Casmi, naluri seorang ibu yang mengkhawatirkan keadaan anaknya. Ambu Casmi membayangkan jikalau dari dulu suaminya menerima  Dablu, mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Sebulan telah berlalu namun dablu tak juga pulang membawa anaknya. Sempat terlintas oleh ambu Casmi, haruskah menyerah pada takdir seperti yang dituliskan Dablu dalam suratnya. Lapang menerima nasib. Ah...
            Sementara itu, pikiran mpih Engkus seperti benang kusut, terbayang wajah-wajah pemuda yang hendak melamar putrinya. Ada wajah Gandi, anak dari temannya, seorang kepala bidang di sebuah perusahan garment di ibu kota. Kemudian muncul wajah Sutisna, seorang guru yang sudah menjadi PNS mengajar di sekolah menengah pertama. Juga tersirat wajah jang Febri, anak dari pemilik pabrik air mineral yang berdiri di kampung Tambak. Mpih Engkus tak habis pikir kenapa anaknya menolak semua lamaran itu dan memilih lari dengan Dablu.
            Sebenarnya dalam hati mpih Engkus mengakui kepintaran Dablu, juga mengakui bahwa Dablu adalah pasangan yang ideal bagi putrinya. Namun ada alasan lain dibalik penolakan Mpih Engkus terhadap sosok Dablu. Isi kepala Mpih engkus melayang, melesat jauh ke jendela masa lalu, mengingat kisah kelam 28 tahun yang silam. Beberapa tahun sebelum bertemu dengan Ambu Casmi dan memustuskan menikahinya.
            Di sebuah malam yang berbalut hujan, mpih Engkus berjalan bersama seorang wanita menyusuri sebuah parit yang jauh dari pemukiman.  Kala itu dingin begitu mencekam, wanita yang berjalan bersma Mpih engkus menggendong bayi mungil yang dibalut samping batik. Suara bayi itu memekik meninju langit, membelah angkasa. Mpih Engkus dan wanita itu memberikan sebuah kecupan hangat di kening bayi mungil itu, kemudian meletakannya di pinggir parit. Kisah kelam itu dia tutup rapat-rapat tanpa ada seorangpun yang tahu.
            Mpih Engkus berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia beranjak ke pintu rumah melemparkan pandang, jauh ke ujung jalan. Dadanya sesak, bayang-bayang masa lalu silih berganti dengan bayang-bayang putrinya kemudian dengan bayang-bayang wajah Dablu,  saling berebut tempat di kepala. Nafasnya seperti tersenggal, kepalanya terasa hampir pecah, mpih Engkus tahu betul bayi yang dibuangnya 28 tahun silam itu adalah Dablu, anaknya sendiri. Pemuda yang membawa lari putrinya ke luar angkasa.

CIWIDEY  OKTOBER 2016

SEKIAN





PUISI DI TRIBUN BALI 03 JUNI 2018

Terima kasih bli Angga Wijaya atas infonya.
Terima kasih buat Ni Wayan Nina Asrini sedia mengirimkan koran tersebut ke Bandung


Senin, 22 Januari 2018

PERKENALAN DENGAN MAJELIS SASTRA BANDUNG (MSB)


    Entah bagaimana persisnya, perkenalan saya dengan MSB tidak lama setelah saya membuat akun FB. Seuatu hal baru yang begitu banyak manfaatnya, dari yang tidak tau menjadi tau, dari sendiri menjadi banyak, dari tidak kenal jadi saling kenal. Saya tertarik pada dunia sastra khususnya pada puisi, sejak sekolah menengah pertama. Namun sejak lulus tahun 2003 hingga 2007 saya hanya belajar sendiri, membaca dan menulis sendiri tanpa ada teman diskusi, puisi-puisi saya tulis pada sebuah buku catatan kemudian menyimpannya. Hingga pada tahun 2007 saya bertemu kawan seperjuangan yang bernama Ferry Fauzi Hermawan, rupanya dia kuliah jurusan bahasa dan sastra Indonesia di UPI. Dari dialah saya mulai tau banyak hal, tentang perkembangan sastra Indonesia, tentang buku-buku baru, info lomba dll.
            Saya pertama kali membuat akun FB sekitar tahun 2009, dari sinilah semua bermula, saya sangat bersyukur dengan kecanggihan teknologi ini, hasrat saya dalam dunia sastra bisa tersalurkan. Saya buka-buka koleksi koran yang memuat karya sastra tiap minggu, saya lihiat nama-nama penyairnya, kemudian saya cari di FB, rupanya hampir semua penyair mempunyai akun FB, sebut saja Yopi Setia Umbara, Heri Maja Kelana ataupun Esa Tegar Putra. Saya hanya tahu namanya saja di koran, melalui fb saya bisa bersilaturahmi dengan mereka.
            Bagaimana persisnya, saya lupa  kenapa saya bisa tahu ada group MSB di FB. Intinya saya bergabung pada group yang digawangi Oleh KYAI MATDON tersebut, namanya tidak asing karena saya adalah pendengar radio Cosmo, kebetulan Matdon pembaca berita 7 di radio itu. Ketika saya masuk Group MSB di FB, kegiatan MSB sudah berjalan satu tahun, kegiatan unggulan MSB yang berjalan setiap bulan sekali bertitel Pengajian Sastra. Diskusi yang membedah karya-karya para anggota MSB oleh para penyair atupun Cerpenis senior. Sistemnya simple yaitu para anggota disuruh mengirimkan karya terbaiknya ke email MSB, dan pada saatnya akan dapat giliran dibedah. Dan diujung tahun, seluruh karya yang masuk dijadikan antologi bersama, saya ingat buku antologi pertama MSB berjudul Ziarah Kata.
            Dari Ciwidey, Bandung selatan, saya memberanikan diri untuk turun gunung mengikuti kegiatan pengajian sastra. Kebetulan pada waktu itu agenda pengajian sastra membahas puisi karya Dave Sky, Riza Fahlevi dan Dony P Herwanto (berhalangan hadir) dengan dipandu oleh moderator Arry syakir Gifary. Saya belajar banyak dari pengajian sastra perdana itu, pun saya dapat berkenalan dengan banyak rekan baru. Diantaranya bisa berkenalan langsung dengan Kyai Matdon,  Yunita Indriani (Dwinita), Arry Syakir Gifari, kang Oppet, Iwan M Ridwan dan banyak lagi.
            Sampai pula akhirnya di tahun kedua Kyai Matdon mengundang anggota baru maupun anggota lama di group MSB untuk mengirimkan 10 karya terbaiknya. Saya tidak membuang kesempatan itu, saya ikut mengirimkan 10 puisi. Namun pada tahun kedua ini, pengajian sastra tidak lagi membahas dan membedah karya anggotanya satu persatu, tetapi formatnya mengundang sastrawan senior untuk menjadi narasumber setiap bulannya. Sementara diskusi karya diadakan seminggu sekali di kebun seni. Di penghujung tahun kedua lahirlah antologi kedua MSB yang berjudul BERSAMA GERIMIS yang diambil dari salah satu judul puisi John Heryanto. Dan alhamdulillah silaturahmi bersma gerimis tetap terjaga hingga sekarang. Beberapa penyair yang masuk antologi ini adalah Zein Arfiarahman, Den Bagoes, Yunita Indriani, Miko Alonso, Kang Agus Nasihin beserta istrinya ibu Yanti Sri Budiarti, teh Elis tating Bardiah, Jhon Heryanto, Wong agung Utomo dan rekan lainnya.


            Untuk antologi bersama gerimis ini, MSB mengadakan road show ke beberapa  tempat diantaranya bedah buku di Braga, di kedailalang Jakarta waktu itu bertemu Endah Sulwesi dan Mas Kurnia Effendy, kemudian berkunjung ke WAPRES BULUNGAN di acara Reboan yang diadakan oleh Zay Lawang langit, Budi Setiawan dll. Buku ini juga dibahas di Beranda 28 Tasikmalaya yang digawangi oleh Kang Bode Riswandi, di sini saya bertemu banyak teman yang sebelumnya hanya kenal di dunia maya, ketemu Arrief Reff, Ria arista Budiarti (RAB), Kang Opik Nerro Taopik Abdilah ( yang sekarang lebih terkenal sebagai penggiat literasi nasional), kang Bunbun, Arinda Risa Kamal dan penggiat sastra lainnya di Tasikmalaya.

            Tahun ketiga MSB menerbitkan kumpulan puisi yang berjudul wirid angin, beberapa penyair yang masuk antologi ini diantaranya Rezki Darojattus Sholihin, Trisna Iryansyah juga Deri Hudaya. Waktu berjalan pada porosnya, pengajian sastra tetap digelar setiap bulan,berbagai kegiatan digelar seperti lomba baca puisi, lomba menulis puisi ramadhan hingga yang paling hangat adalah lomba menulis Esai.
Dan tidak terasa tahun 2018 ini, MSB sudah berusia 9 tahun, usia yang tidak muda lagi. Selamat ulang tahun MSB, semoga tetap eksis dan jaya selamanya.


CIWIDEY 22 JANUARI 2018

Senin, 04 Desember 2017

2 PUISI DI PIKIRAN RAKYAT MINGGU 3 DESEMBER 2017

GERAM

Siapa yang tak geram, ketika negara dikoyak dari dalam
Rakyat dipaksa  membuat riwayat baru, riwayat melarat dari waktu ke waktu
Tak bisa dipahami, selalu saja ada cara menghujamkan tangan
Kemudian menyembunyikannya dengan apik
Tak bisa dimengerti. begitu mudah otak meracik taktik
Menyulap yang ada menjadi tiada, juga sebaliknya
Mengidupkan yang tiada menjadi tampak di depan mata.
Sementara rakyat semakin tercekik, tanpa ada yang melirik
Semacam hikayat baru telah terlahir.

Siapa yang tak geram, ketika negara dikoyak dari dalam
Kursi demi kursi yang tercipta dari rahim ambisi, hanya mampu melemparkan getir
Hilang pegangan, musnah faedahnya.
Kepala demi kepala seperti menciptakan kepala baru, kepala batu.
Kepala yang penuh reka perdaya,
Menyulap yang ada menjadi tiada, juga sebaliknya
Menghidupkan yang tiada menjadi tampak di depan mata.
Sementara rakyat semakin terhimpit, di ruang yang penuh jerit
Sandiwara baru tercipta kembali.


2017


Basa-basi rindu

Demi rindu, berbagai cara kau tempuh,
meski jalanmu dipenuhi serpihan kaca, sisa kekacauan kemarin.
Tampaknya isi dadamu lebih menggebu dari berkobarnya api.

Rindumu berlapis-lapis, lebih tebal dari deretan kawat berduri
Saat terjadi kekacauan kemarin

Ya rindu jualah yang memaksamu memasak lebih dini
bangun lebih janari dan  mencuci lebih pagi
Agar segera bersua, mematangkan isi kepala.

Ah,  jangan terlalu serius, ini hanya basa-basi rindu


Desember 2016




Rabu, 15 November 2017

HASIL KURASI PUPUTAN MELAWAN KORUPSI


 ALHAMDULILLAH satu puisi saya masuk Antologi PUPUTAN MELAWAN KORUPSI


Pengumuman Hasil Kurasi/Seleksi Puisi Bertema “Puputan Melawan Korupsi”
Undangan menulis puisi bertema “Puputan Melawan Korupsi” yang digagas oleh Jatijagat Kampung Puisi bekerjasama dengan Yayasan Manikaya Kauci dan KPK dibuka dari tanggal 3 November dan ditutup 13 November 2017. Di luar dugaan, sambutan berdatangan dari berbagai penjuru Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke. Ada 270-an peserta yang mengirim puisi-puisinya ke email saya. Tidak hanya penyair, puisi juga dikirim oleh pegawai negeri, pegawai swasta, advokat, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, seniman, wartawan, fotografer, pedagang, ibu rumah tangga, pengangguran, dan sebagainya. Sebagian besar peserta mengirim tiga puisi, namun ada juga yang mengirim lebih dari tiga. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih kepada semua peserta yang telah mengirimkan puisinya untuk kegiatan ini.
Ada sekitar 800-an puisi yang harus saya baca secara seksama dan kemudian saya kurasi/seleksi untuk keperluan buku yang akan diterbitkan. Untuk menghindari penumpukan naskah, sejak seminggu lalu saya bekerja siang-malam menyeleksi setiap puisi yang masuk ke email saya.
Metode kerja yang saya terapkan adalah pertama mengunduh setiap puisi dan mengumpulkannya dalam satu folder. Kemudian setiap puisi saya baca dengan teliti, bahkan banyak puisi yang harus saya baca berulang-ulang. Setelah itu, saya melakukan seleksi tahap pertama. Puisi yang lolos kurasi saya kumpulkan dalam folder “Lolos Tahap 1”, sedangkan puisi yang tidak lolos saya taruh dalam folder “Tidak Lolos”. Kemudian puisi-puisi yang lolos tahap pertama saya baca lagi dengan lebih hati-hati dan saya seleksi lagi dengan lebih ketat untuk mendapatkan puisi-puisi yang menarik dan layak dibukukan.
Demi mengupayakan objektivitas, dalam kerja kurasi ini saya menutup mata hati terhadap nama-nama yang saya kenal akrab. Sebab dalam proses kurasi pertaruhannya adalah puisi, bukan nama atau biodata apalagi foto. Setiap puisi bersaing dengan puisi lainnya untuk memperebutkan posisi dalam buku. Maka, banyak puisi yang ditulis oleh nama-nama yang saya kenal akrab terpaksa saya eleminasi karena puisi yang dikirimkannya masih mentah dan berantakan. Namun, sebaliknya, banyak puisi yang ditulis oleh nama-nama baru yang tidak saya kenal berhasil lolos dalam proses kurasi ini. Bagaimana pun juga sebagai kurator tunggal, saya mempertaruhkan kredibilitas dan integritas sebagai penyair dalam kerja kurasi ini.
Kriteria yang saya pakai untuk proses kurasi ini secara umum adalah tema/konten dan bentuk/teknik puisi. Sebagian besar puisi yang dikirim peserta tampak masih mentah, masih berupa muntahan unek-unek, diperparah lagi dengan kurangnya editing, logika, dan penguasaan bahasa. Tema juga tidak tergarap dengan baik atau kurangnya pendalaman tematik sehingga sebagian besar puisi masih berupa rangkaian statmen yang kering dan klise dibumbui petuah-petuah basi.
Secara isi/konten, masih banyak peserta yang terjebak narasi besar, lupa pada narasi kecil di sekelilingnya. Sebagian besar puisi hanya menampilkan riak-riak permukaan, kurang memunculkan kedalaman permenungan dari tema yang digarap. Dalam konteks ini, semestinya penyair mampu menawarkan cara pandang baru ketika menggarap tema yang disodorkan. Selain itu, sebagian besar puisi masih berantakan secara teknik/bentuk, misalnya pemilihan diksi, metafora, membangun suasana, nada, gaya ucap, dan sebagainya. Hal itu menyebabkan puisi kehilangan fokus dan keutuhan tidak terjaga.
Memang tidak mudah menulis puisi dengan tema-tema tertentu, apalagi tema tersebut kurang menyentuh kalbu. Apakah karena kasus korupsi dianggap sangat lumrah sehingga tidak mengejutkan atau tidak menyentuh lagi untuk dituliskan ke dalam puisi. Entahlah.
Kegiatan ini tidak bersifat lomba, maka tidak ada kalah-menang. Sebab seni (puisi) sangat dekat dengan subjektivitas, maka lomba seringkali melahirkan kontroversi dan kasak kusuk. Dalam konteks ini, saya berupaya menyusun buku kumpulan puisi ini agar menarik dan variatif, maka untuk itu diperlukan proses kurasi. Bila banyak puisi tidak lolos untuk buku ini, semoga bisa lolos untuk buku yang lain.
Berikut adalah 100 puisi yang lolos kurasi untuk buku bertema “Puputan Melawan Korupsi”. Untuk memudahkan urutan, saya susun berdasarkan abjad nama penulisnya. Semoga hasil kurasi ini bisa diterima dengan jiwa besar.


                                        (Foto milik I Putu Sugih Arta dari halaman Facebooknya)


Aditya Putra Pidada
- Sajak Sederhana
Ahmad Irfan Fauzan
- Doa Rakyat
Achmad Obe Marzuki
- Lembaga Amplop
Ahmad Zaini
- Siapa Versus KPK
Ahmada Khoirul Umam
- Beruang-beruang Ber”uang”
Alamsari
- Istri Tameng Korupsi
Aldy Istanzia Wiguna
- Doa Orang Miskin
Alexander Robert Nainggolan
- Tubuh Lintah
Alfa Anisa
- Kepada Masa Depan, Surat Tertulis Harapan
Alfian Dippahatang
- Tiga Rangkaian Puputan
Angga Wijaya
- Kucing Di Rumahku
Asril Koto
- Bagi Kolusi
Astrajingga Asmasubrata
- Rajah Merah
Atanasius Rony Fernandez
- Buku Tabungan Akhir Tahun
Ayu Chumani Pranatthi
- Koruptor Tanpa Rupa
Azis Wisanggeni
- Negeri Hantu
Badaruddin Amir
- Tentang Apa
Bambang Kariyawan
- Mengunyah Geram
Bambang Widiatmoko
- Anak Panah
Bangkit Prayoga
- Air Mata Seorang Bapak Kepada Anaknya
Beni Setia
- PS-Menu Harian Neraka
Berthold Sinaulan
- Puisi Negeri
Biolen Fernando Sinaga
- Jika Kursi Menyebabkan Korupsi
Bonk Ava
- Renungan Subuh
Bresman Marpaung
- Panglima Talam
Budhi Setyawan
- Uang Kembalian
Budi Hatees
- Odi Ergo Sum
Cangkir Seduh
- Malin Kundangnya Negara
Daviatul Umam
- Dalam Pelukan Rakusmu
Dede Rostiana
- Busuk
Detty Daryanti
- Korupsi Di Televisi
Dewa Jayendra
- Jalan Karma
Dewa Putu Sahadewa
- Saatnya Melawan
DG Kumarsana
- Dengarkan Saja
Eddy Pranata PNP
- Ia Tulis Sajak Kecil Dengan Pensil Tumpul Yang Sudah Sangat Pendek
Gustu Sasih
- Untung Ada KPK
Harkoni Madura
- Tilawah Tanah Air
Herdoni Syafriansyah
- Nyanyian Angin Potret Buram
Heru Mugiarso
- Robohkan Pohon Tua Itu
I Kadek Surya Kencana
- Tuhan Sedang Tamasya
I Made Kridalaksana
- Andai Kau Hidup Kini
I Putu Sugih Arta
- Puputan Kala Maya
Ika Permata Hati
- Sebuah Episode Novel
Isbedy Stiawan ZS
- Seorang Anak Di Depan Gerbang Rumah Mewah Sebuah Kota yang Ramai
Itov Sakha
- Demorasis (60)
Joshua Igho
- Panggung Teater Kami
Kadek Wini Arthini
- Kami Hanya Satu Mimpi
Kardanis Mudawi Jaya
- Dalam Bayang Perjalanan
Khodyani Achmad
- Kepada Hoegeng Imam Santosa
Kiki Sulistyo
- Kayu Meja Tak Bergetah
Kim Al Ghozali AM
- Melawan Korupsi
Kristoforus Maylovius
- Negeri Antah Berantah
Kunni Masrohanti
- Pembawa Selembayung Di Bawah Langit Kertagosa
Larasati Sahara
- Mengusir Setan
Liana Safitri
- Surat Untuk Para Korup-TOR!
Luh Putu Udayati
- Sedikit Saja
Made Edy Arudi
- Ke Jalan Hening
Martin da Silva
- Teruslah Berlayar
Maulidan Rahman Siregar
- Khianat
Muhisom Setiaki
- Bapakku Koruptor
Muhamad Aroka Fadli
- Petani Miskin
Muhammad Iqbal Baraas
- Korupsi
Muhammad Nailur Rohman
- Tragedi Hujan Darah
Muhammad Ridlo
- Berhala
Muhammad Habibur Rohman
- Maling
Muhammad Lutfi
- Sorot
Musa Ismail
- Negeri Berkabut Azab
Nunung Noor El Niel
- Uang Memang Bukan Perkara
Nuriman N. Bayan
- Ketika Tangan Menjadi Hening
Nurholis
- Pungli Dan Si Jomblo
Nyoman Wirata
- Di Manakah Engkau Tuan
Porman Wilson Manalu
- Surat Dari Putri
Raden Prakiyul Wahono Noto Susanto
- Tumini dan Tumila
Rahmat Akbar
- Pesan Pada Wakil
Rai Sri Artini
- Negeri Penuh Lintah
Ratu Ayu Neni Saputra
- Jika
Rian Ibayana
- Geram

Rini Asmoro
- Para Pelakon Korupsi
Roso Titi Sarkoro
- Biarlah Peluru Bersajak
Safitri Saraswati
- Apabila Tuhan Kita
Salsabila Firdaus
- Sabda Nabi
Santiasa Putu Putra
- Jika Kau, Maka Aku
Semara Yanti
- (Mungkin) Karena Saya Lapar
Sigit Rais
- Ketika
Sio Marris Juliana Hutasoit
- Emas Yang Haram
Soni Farid Maulana
- Soal Tikus
Sosiawan Leak
- Kami Ingin Merdeka
Syarif Hidayatullah
- Sebelah Mata, Sebelah Puisi
T.M. Sum
- Cermin
T.D. Ginting
- Sebuah Sajak Yang Baik
Tri Astoto Kodarie
- Membaca Kata Dinasti
Tudekamatra
- Melawan Korupsi
Ulinnuha Madyananda
- Nasib Negeriku
Waty Sumiati Halim
- Baktimu Telah Dinanti
Winar Ramelan
- Zaman Kali Yuga
Windu Setyaningsih
- Aku Hanya Ingin Sebuah Tangan
Yana Risdiana
- Entah Keyakinan Apa Yang Dimiliki Koruptor
Yuanda Isha
- Kita Di Negeri Kura-kura
Zamhir Arifin
- Tak Ada Ruang Bagimu Di Negari Ini
Diputuskan dan Ditetapkan di Batubulan, Bali, 15 November 2017.
Wayan Jengki Sunarta
Kurator Buku

Selasa, 18 Juli 2017

CERPEN RIAN IBAYANA. HARIAN WAKTU CIANJUR 14 JULI 2017






MARTIL KEMBAR

Gerhana Bulan Merah
Malam itu, malam gerhana bulan merah. Beberapa stasiun televisi memberitakan secara langsung detik-detik perubahan warna bulan di langit.  Peristiwa langka yang terjadi 18 Tahun sekali. Bulan berubah merah, seperti darah. Gema takbir merambat lewat udara dari pengeras suara masjid tepi kampung, menjelang salat Gerhana. Ketika sebagian besar masyarakat di sekitar rumahku berduyun-duyun pergi ke masjid, aku terbaring sendiri dia atas kasur kenangan  peninggalan emak. Tubuh terasa lebih ringkih dari biasanya, kepala terasa lebih berat, pandangan mata berkunang-kunang. Memang benar bekerja sebagai kuli pemecah batu menguras banyak tenaga, terkadang menguras perasaan juga.
Tiba-tiba ada suara menghentak telinga, ada seseorang memecahkan jendela kamar. Gerakannya sangat cepat sehingga serpihan kaca beterbangan ke arahku. Kemudian dia masuk ke dalam kamar lewat pintu samping, dengan cara mendobraknya. Tampak jelas kedua tangannya menggenggam sebuah martil, berjalan dengan cepat mendekatiku. Kejadian malam itu benar-benar di luar dugaan, seperti mimpi. Dia dengan beringas, mengayunkan martil di tangannya ke arahku, ya dia ingin memecahkan kepalaku, sosok asing itu ingin membunuhku.
Namun sebelum kepala martil menghantam kepalaku. Si Buntung, kucing  peliharaanku tiba-tiba meloncat dan mencakar wajah sosok asing itu, merobek bagian kening, mata hingga pipi sebelah kiri, kejadiannya begitu cepat seperti kilat. Martil di tangannya jatuh di samping ranjang. Antara sadar dan tidak sadar, aku loncat dari tempat tidur, melesat keluar rumah meninggalkan sosok misterius yang ingin membunuhku, lari dan pergi.

Kuli Pabrik
            Menjadi kuli pabrik pengolahan teh, lebih ringan daripada menjadi kuli pemecah batu. Kerja yang hanya mengandalkan tenaga dan teknik menghantam.  Di sini kulitku lebih terawat karena bekerja di bawah atap pabrik yang bisa menahan bengisnya musim, baik kemarau maupun hujan. Aku bekerja di bagian pelayuan yaitu proses yang bertujuan untuk mengurangi kadar air pada daun teh sampai tingkat layu, juga melemaskan daun sehingga dalam proses penggilingan tidak pecah.
            Lewat jalan yang panjang akhirnya aku sampai di sini,  di kaki gunung tertua, gunung yang senantiasa memberikan napas kesejukan meski usianya sudah senja. Aku tinggal di sebuah rumah kontrak, rumah khusus pegawai pabrik. Rumah yang memiliki bentuk, luas  juga warna yang sama, putih dan biru. Rumah beratapkan asbes, berdinding triplek, satu kamar, ruang tengah, dapur dan kamar mandi di belakang rumah. Meski begitu aku sangat nyaman tinggal di sini. Di bagian lain komplek pabrik, ada rumah-rumah megah dengan arsitektur yang sama, di atap rumahnya tampak ada cerobong asap, di dalam rumahnya ada perapian tempat menghangatkan badan. Rumah-rumah seperti itu biasa ditempati oleh para mandor serta staf khusus pabrik. Di komplek megah itu juga terdapat lapangan tenis tempat para mandor mengisi waktu dengan berolahraga.

Ratih
Ratih, di sini aku merintih sendiri, mengulik kenangan yang semakin hari terasa semakin perih. Tuhan menciptakanmu terlalu sempurna, engkau terlalu baik. Tuturmu yang halus mampu melunakan tangan-tangan kasar para pemecah batu. Bahkan sampai melunakkan hatinya. Sikapmu yang anggun membuat semua mata tertarik, meneduhkan kepala-kepala yang setiap hari dibakar terik.
            Aku di sini karena dunia cemburu  Ratih, dunia marah akan sikapmu padaku yang berlebihan, sikapmu padaku yang begitu berbeda, sikapmu padaku yang begitu menyejukan namun setiap tetes kesejukannya mampu membakar jerami yang kita pijak. Yang pada akhirnya akan membakar kita berdua. Dunia seperti mengutuk sikapmu yang berlaku tidak adil, menebar cinta pada lelaki biasa yang tidak berdaya. Seorang kuli pemecah batu, seorang lelaki bertangan kasar, lelaki yang bekerja setiap hari untuk melunasi utang keluarga. Ratih kau anak menak pemilik perusahaan, sementara aku pekerja di perusahaan orang tuamu.
            Ratih, di sini aku merintih sendiri, mengulik kenangan yang semakin hari terasa  semakin perih. Gelang manik-manik yang kau sisipkan ke kantong bajuku tempo hari, gelang yang membuat dunia semakin cemburu padaku, pada kita Ratih. Maaf gelang itu tertinggal di ranjang, saat aku lari dari ancaman. Aku mencintaimu, namun dunia seperti mata-mata , kemanapun aku pergi seluruh kepala seperti malaikat maut, mengintai hidupku.
            Jangan cemas Ratih,  di sini aku lebih aman, di tempat yang selalu kau idamkan, perkebunan teh. Kampung yang setiap sore selalu diselimuti kabut. Jangan khawatir, aku nyaman di sini, setiap pagi aku bisa menghirup oksigen dengan tenang, menyeduh kopi dengan khidmat sebelum berangkat ke pabrik. Di sini aku jauh dari ancaman meski pedih harus jauh darimu. 

Martil Kembar
Aku dilahirkan dari rahim suci seorang wanita perkasa, rahim hangat seorang ibu yang berjuang keras masa kehamilannya. Aku dilahirkan dari rahim yang diselimuti ucapan zikir serta doa-doa, bermantelkan ayat-ayat suci. Seorang ibu yang tak pernah lepas dari tahajud, menghabiskan sepertiga malam dengan kekhusyuan. Aku dilahirkan dari rahim suci seorang wanita yang setiap hari berjihad membantu suaminya bekerja, ya menemani bapakku.
            Meskipun sedang mengandung, konon ibu tetap sabar bekerja menjadi penjual kopi serta gorengan  di area tempat bapak bekerja memecah batu. Konon Bapak membuat tenda kecil menggunakan terpal biru sebagai tempat ibu berdagang, saat istirahat bapak sering merebahkan badan di tenda tersebut. Dagangan ibu lumayan laris, para kuli pemecah batu teman bapak menjadi langanan utama, meski terkadang ngutang, maklum upah sebagai kuli pemecah batu sangat rendah, jika tak pandai mengelolanya,  penghasilan akan habis di tempat.
            Menurut cerita bapak, aku dilahirkan saat bulan purnama tengah sya’ban. Malam itu, bapak begitu khawatir saat ibu mau melahirkanku, tenaganya hampir habis, napasnya seperti tersengal berjuang habis-habisan. Bapak sampai menangis melihat keadaan kala itu apalagi saat aku lahir dengan selamat dan sempurna, disusul beberapa menit kemudian oleh adikku. Ibuku melahirkan anak kembar, bayi yang sama-sama gagah dan tampan.
            Menjelang usia ke 15, paru-paru ibu bocor dan tidak bisa diselamatkan. Aku dan saudara kembarku memutuskan untuk berhenti sekolah dan mengikuti jejak bapak menjadi kuli pemecah batu. Sebenarnya bapak melarang, tetapi kami berdua sudah membulatkan tekad untuk membantu bapak saja, menjadi kuli. Hingga pada sebuah senja yang tembaga, senja yang merah, bapak memberikan masing-masing sebuah martil kepada kami berdua. Bapak bilang, itu adalah martil kembar, ya martil kembar.
Gelang manik-manik
            “Pakailah gelang manik-manik ini, jumlahnya ada 33 butir, bisa kau jadikan alat untuk berzikir” ucap seorang gadis jelita. Gadis bermata coklat, gadis yang senang memakai baju toska. Dengan pelan gadis itu menyisipkan gelang manik-manik itu ke kantong bajuku.  Senyumnya mampu menghentikan putaran bumi bahkan mampu melemahkan batu-batu. Aku hampir tidak percaya, seorang gadis keturunan menak, menaruh perhatian lebih terhadapku. Padahal selama dua belas tahun menjadi seorang kuli pemecah batu di situ aku bersikap biasa saja kepada anak majikanku itu.
            Beberapa serpihan batu yang baru saja kupecahkan menjadi saksi saat gadis jelita itu menyisipkan gelang manik-manik ke kantong bajuku.  Namun rupanya bukan hanya serpihan batu yang menjadi saksi kejadian itu, tapi mata-mata di sekitarku, mata-mata yang tiba-tiba berubah merah, berubah marah. Mata-mata yang menaruh dendam dan cemburu. Mata-mata yang menebar ancaman.

Gerhana Matahari Total
            Aku masih ingat, dan mungkin ini adalah ingatanku yang terakhir. Pagi itu warga perkebunan berbondong-bondong ke masjid untuk menjalankan salat Gerhana. Konon gerhana yang terjadi 33 tahun sekali, dan kebetulan Indonesia menjadi daerah yang terlintasi gerhana tersebut. Gerhana matahari total. Peristiwa alam yang sudah bisa diramalkan oleh para ahli astronomi sehingga beritanya sangat luar biasa. Hampir seluruh stasiun televisi menyiarkan secara langsung fenomena langka tersebut.
            Aku masih ingat, pagi itu tubuhku mengigil. Sebab semalam kebagian kerja lembur karena khusus pada hari terjadinya gerhana semua pegawai diliburkan. Suara takbir terbawa angin dari pengeras suara masjid perkebunan.  Suara takbir terdengar semakin keras, semakin keras hingga kaca jendela kamar pecah. Ah bukan karena takbir kaca itu pecah.
            Sebuah kepala martil memecahkan jendela kamar, disusul suara dobrakan pintu rumah. Ah sosok tubuh yang memakai penutup kepala sudah ada di depanku, membawa sebuah martil. Tak lama kemudian sosok itu mengayunkan martil di tangannya ke arah kepalaku, dia ingin membunuhku. Aku tak berdaya, cerita dan peristiwa berlalu beku*.

Pesan terakhir
            Ratih, di pembaringan ini aku merintih sendiri, mengulik kenangan yang semakin hari terasa semakin perih. Tuhan menciptakanmu terlalu sempurna sehingga banyak mata yang mengharap dan mendamba. Namun kau menaruh cinta pada lelaki yang tak berdaya. Membuat dunia cemburu dan menebar ancaman. Ratih, aku dilahirkan sebagai anak kembar dan diwariskan masing-masing sebuah martil. Dan yang memecahkan kepalaku, salah satu dari martil kembar itu.

2016

*Petikan puisi Chairil Anwar. Yang terhempas dan terputus

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...