Seperti cerpen ini nasibnya tayang di Kendari. Jauh di tenggara.
DABLU KE LUAR ANGKASA
Kesabaran mpih
Engkus sudah terkuras habis oleh tindakan Dablu. Bagaimana tidak, sore itu
Dablu berhasil membawa lari nyai Ida, anaknya. Ini untuk ketiga kalinya Dablu
melakukan tindakan itu, kejadian pertama dan kedua terjadi berturut-turut
sebulan yang lalu, meski hanya untuk jalan-jalan, cara Dablu membawa pergi nyai
Ida tanpa tata kesopanan membuat mpih Engkus geram. Sejak awal mpih Engkus
tidak suka jika anaknya menjalin hubungan dengan Dablu. Sore itu juga mpih
Engkus berniat pergi ke kantor polisi ,
untuk melaporkan Dablu dengan tuduhan penculikan.
Dablu
adalah seorang pemuda paling pintar di kampung Tambak, namun karena terlalu
pintar, waktu kelas dua SMA Dablu dikeluarkan dari sekolahnya dengan alasan
sering membantah pendapat guru, terlalu kritis, mencemarkan nama sekolah dengan
tingkahnya dan sederet alasan lain. Sejak itu Dablu tidak melanjutkan sekolah,
dia merasa muak dengan orang-orang di sekolah, Dablu memilih bekerja.
Dablu yatim piatu sejak bayi, dia dibesarkan
oleh bi Raspi dan mang Paman. Menurut cerita yang beredar di masyarakat,
sebenarnya bi Raspi dan mang Paman bukanlah keluarga asli dari orang tua Dablu.
Tetapi, ah tak perlu diceritakan, terlalu ngeri membayangkan sosok bayi yang
dibuang di pinggir sebuah parit, bi Raspi dan mang Paman menyelamatannya. Namun
hingga dewasa, Dablu tidak pernah mengetahui asal-usulnya, rahasia itu disimpan
baik-baik oleh bi Raspi dan mang Paman.
Mpih Engkus
segera menghidupkan motor yang diparkir di depan rumahnya. Matanya memerah, kemarahannya benar-benar meluap.
Ini sudah di luar batas kesabaran, pikirnya.
“ Ambu, ambilkan jaket kulit ! Mpih
mau berangkat ke kantor polisi sekarang juga” mpih Engkus sedikit berteriak
kepada Ambu Casmi di dalam rumah.
“ Tunggu dulu mpih, jangan dulu berangkat, ini ada hal
penting, anak kita meninggalkan surat di
atas ranjang” suara ambu Casmi dari
dalam kamar nyai Ida.
Mpih
Engkus terkejut, tak biasanya nyai Ida meninggalkan surat seperti itu. Dia kemudian turun kembali dari motornya dan
beranjak ke kamar anaknya itu. Kamar nyai Ida terletak di bagian depan rumah,
dengan jendela yang bisa dibuka. Inilah yang menyebabkan Dablu dengan mudah membawa pergi nyai Ida,
membawa lari jauh.
“ Surat apa ambu? “ tanya Mpih
Eengkus.
“ Ini mpih, surat dari anak kita,
mpih buka saja sendiri, ambu tidak berani membukanya” sambil gemetaran ambu
menyerahkan surat itu kepada suaminya.
Muka
mpih Engkus mendadak merah kehitam-hitaman, darahnya mendidih naik ke kepala,
jantungnya seperti berlari, tangan kirinya mengepal kemudian diarahkan ke atas,
seperti hendak meninju langit. Ternyata surat itu dari Dablu, bukan dari
anaknya.
“Mpih
dan Ambu yang saya hormati, rasa hormat yang tulus dari palung hati. Rasa
hormat yang nilainya sama dengan rasa hormat kepada Bibi dan Paman. Saya
memohon maaf sebesar-besarnya kepada Mpih dan Ambu, dengan lancang telah
membawa lari putri semata wayang, putri kebanggaan yang diharapkan akan
mengharumkan nama keluarga kelak. Jujur, saya telah mempertimbangkan jalan ini
dengan matang, dipikirkan bolak-balik, direnungkan hingga meminta jalan lewat
Salat Istiharah. Dan hari ini saya membulatkan tekad membawa lari jauh anak
Mpih dan Ambu. Saya tidak akan menyesal menempuh cara ini.
Di puncak Pasir Kemir, berbulan-bulan saya
merangkai sebuah pesawat berbentuk bulat, yang bisa melesat ke langit, menembus
atmosfer bumi, menerobos segala kemustahilan, dan saya tidak tau dimana kelak
akan mendarat. Dengan pesawat itu saya akan pergi jauh bersama nyai Ida,
kekasih hati saya. Hal ini terpaksa saya lakukan, sebab restu tak jua terucap.
Mpih dan ambu jangan cemas, segala peralatan dalam pesawat itu sudah terjamin,
cadangan makanan cukup untuk waktu yang lama. Namun jika lebih dari satu bulan
kami tidak kembali, mpih dan ambu saya harap bisa menerima takdir dengan lapang
dada, mungkin ini jalan terbaik yang digariskan Gusti kepada mpih dan ambu,
nasib yang harus diterima oleh saya juga putri kesayangan mpih dan ambu ini.
Jikalau
mpih berniat melaporkan saya ke polisi, silahkan. Nanti setelah kembali
mendarat di bumi, saya siap untuk dibui. Sebab saya sudah bahagia bisa membawa
nyai Ida berkeliling di luar angkasa, mendarat di bulan, mendarat di planet
merah, mendarat galaksi lain di luar bima sakti, menyenggol satelit palapa dan
benda langit lainnya. Dan saya yakin nyai Ida tidak akan rela kekasihnya dibui, Nyai Ida
bisa saja bunuh diri atau ikut bermukim di balik jeruji besi. Jadi mpih dan ambu
tinggal memilih saja, mana yang terbaik
Surat
ini saya akhiri sampai di sini, semoga Mpih dan ambu bisa merelakan kepergian
kami”
Ini
sungguh di luar dugaannya, jantung mpih Engkus seakan copot saat membaca isi
surat , dadanya naik turun, kakiknya tiba-tiba
gemetar. Melihat reaksi suaminya seperti itu, ambu Casmi kemudian memegang
punggung suaminya, menyuruh duduk di atas ranjang, kemudian dia mengambil air
dingin dari dapur. Setelah meminum air dingin, emosi mpih Engkus mulai
terkendali.
“
Nyaan kabina-bina pisan si Dablu teh, ambu” ungkap mpih Engkus kepada
istrinya.
“
Coba Ambu pikir, Dablu akan membawa anak kita ke luar angkasa, dia menyuruh
kita sabar menunggu selama satu bulan, jika tidak pulang selama satu bulan,
kita harus menerima takdir, itu isi suratnya Ambu” mpih Engkus mencoba memaparkan isi surat
kepada istrinya.
Ambu
Casmi menarik napas panjang, merasa tidak percaya sedikitpun isi surat itu. Apakah
betul Dablu akan melakukan hal tersebut. Ambu Casmi mengetahui betul siapa
sosok yang membawa lari anaknya itu. Pemuda yang terkenal pintar di kampungnya,
ambu Casmi juga mengetahui jikalau dulu Dablu dikeluarkan dari sekolahnya karena
kepintarannya melebihi siswa kebanyakan. Dablu adalah pemuda paling kritis di
kampungnya, bahkan ambu Casmi pernah mendengar berita Dablu ditampar pak kades
saat rapat di balai desa. Dablu terlalu vocal dan tajam mengkritik kebijakan pemerintah desa yang mengizinkan berdirinya
pabrik pengolahan air mineral di kampungnya yang terkenal subur. Namun apalah
daya Dablu seorang diri yang kritis, pabrik air mineral itu tetap berdiri.
Mata
ambu Casmi diarahkan ke langit-langit kamar, membayangkan jikalau pada akhirnya
nyai Ida harus berdampingan dengan Dablu di pelaminan. Sebenarnya ambu tidak
terlalu mempersoalkan latar belakang keluarga Dablu. Dablu juga bisa dibilang
pemuda paling tampan di kampungnya,
banyak gadis yang mengharapkan jadi kekasihnya. Meski Dablu belum
mempunyai pekerjaan tetap, tapi Ambu Casmi yakin, jika Dablu bisa jadi penerus
usaha suaminya, dengan kepintarannya bukan tidak mungkin bisa membuat strategi
meningkatkan hasil kebun yang dikelola suaminya.
“
Ambu...! Ambu...! kalakah ngalamun... !“ bentak mpih Engkus membuyarkan
lamunan ambu Casmi.
Ambu
terkejut oleh bentakan suaminya, lamunannya
terhenti, pikiran soal Dablu menguap jauh, jauh sejauh-jauhnya dan tidak
kembali. Ambu kemudian ikut duduk di samping
Mpih Engkus.
“
Pergilah mpih ke kantor polisi, segera laporkan apa yang terjadi. Bawa juga
surat di tangan mpih itu. Sebagai barang bukti, siapa tahu polisi bisa segera
mengejar Dablu”
“Baiklah
ambu, mpih akan segera berangkat, semoga anak kita akan segera ditemukan, si
Dablu harus segera membayar apa yang diperbuatnya”
***
Di puncak Pasir
Kemir, ada sebuah tanah datar yang hanya ditumbuhi ilalang-ilalang, dahulu tempat
ini merupakan tempat paling asyik dan banyak dikunjungi muda-mudi untuk pacaran
atau untuk keluarga menikmati indahnya kampung dari ketinggian. Namun setelah
terjadi peristiwa pembunuhan seorang gadis oleh kekasihnya, tempat ini tak ada
yang berani mengunjungi, puncak Pasir Kemir menjadi angker, apalagi setelah
beredar kabar arwah gadis yang dibunuh itu, gentayangan di sekitar puncak
pasir.
Beberapa
petugas kepolisian ditemani mpih Engkus, ketua RW Pasir Kemir juga beberapa
tokoh masyarakat di sana bergegas menuju puncak, untuk menindaklanjuti laporan
mpih Engkus kemarin sore. Menulusuri kebenaran isi surat si Dablu. Perjalanan dari
pusat kampung hingga ke puncak ditempuh sekitar 20 Menit, melewati jalan
setapak tanah merah.
Rombongan
yang telah sampai di puncak, luar biasa kagetnya melihat keadaan sekitar
puncak. Di atas lahan yang biasanya ditumbuhi ilalang terdapat lekukan besar,
cekungan yang dalamnya sekitar 2 meter hasil dari tekanan benda berat berbentuk
lingkaran. Di ujung timur puncak terdapat sisa-sisa sebuah pengelasan bahan
logam, besi-besi serta kaca berantakan. Bau bahan bakar masih menyengat di area
puncak, sementara ilalang yang tumbuh di sana habis terbakar.
Rombongan
yang naik ke puncak saling pandang satu sama lain, seolah tidak percaya dengan
apa yang ada dihadapan mereka. Komandan polisi yang ikut serta pada
penyelidikan itu kemudian menyuruh anak buahnya untuk memberikan garis polisi
diseluruh sisi puncak Pasir Kemir, guna kepentingan investigasi dan tidak
dijamah orang-orang.
“
Benarkah ini yang dimaksud dalam isi surat si Dablu itu?” pikir komandan polisi
di dalam hati.
***
Dua minggu
berjalan, kasus penculikan yang dilakukan Dablu masih menjadi berita paling
ditunggu di media, mewarnai surat kabar. Isi surat yang menjadi barang bukti
tersebar media sosial. Dablu masih menjadi buah bibir, diperbincangkan baik di
suasana serius maupun obrolan santai di warung kopi. Soal jejak pesawat yang
dibuat Dablu, banyak pertanyaan yang mengemuka, benarkah itu jejak pesawat luar
angkasa yang dibuat Dablu untuk pergi jauh bersama kekasihnya, yaitu Nyai Ida.
Atau hanya akal-akalan Dablu untuk membuat sensasi sehingga membuyarkan
perhatian khalayak, menutupi perbuatannya menculik anak seorang juragan.
Polisi
belum bisa menyimpulkan apakah itu jejak pesawat sungguhan, atau hanya jejak
buatan manusia. Para ahli pesawat luang angkasa didatangkan dari ibu kota juga
dari berbagai perguruan tinggi, bahkan diberitakan para ahli antariksa dari
luar negeri juga sudah memantau kasus ini dengan khidmat. Bukan tidak mungkin
akan ikut membantu memecahkan jejak pesawat itu.
Sementara
itu Bi Raspi dan Mang Paman benar-benar kewalahan menghadapi serbuan wartawan
juga warga sekitar yang penasaran tentang Dablu, terutama tentang kepintarannya
yang konon berhasil membuat pesawat yang bisa terbang jauh ke luar angkasa.
Mereka lebih dari sepuluh kali dipanggil ke kantor polisi guna memberikan
keterangan tentang si Dablu. Dan pada akhirnya bi Raspi pun tumbang karena
tidak kuat menghadapi situasi seperti itu dan dirawat di rumah sakit.
***
Polisi
dan tim investigasi yang terdiri dari para ahli pesawat juga ahli antariksa
mulai mendapatkan titik terang, mereka yakin dan bisa menyimpulkan bahwa jejak
pesawat di puncak Pasir Kemir itu, murni buatan manusia bukan sisa-sisa pesawat
yang lepas landas. Mereka mengagumi
kepintaran Si Dablu yang berhasil membuyarkan konsentrasi khalayak, mengaburkan
berita penculikan menjadi isu pesawat luar angkasa yang dibuatnya. Media yang
lebih menyoroti jejak pesawat mulai mengalihkan kembali kepada kasus penculikan
sebenarnya. Nihil, lebih dari sebulan Dablu belum juga ditemukan, belum ada
informasi kemana Dablu pergi membawa Nyai Ida. Namun meski begitu polisi tetap
bekerja keras memburu Dablu, menjadi tantangan tersendiri bagi pihak berwajib.
***
Di ruang tamu,
Mpih Engkus dan Ambu Casmi sama-sama terdiam. Pikiran mereka masing-masing
melayang jauh. Cemas luar biasa menghinggapi ambu Casmi, naluri seorang ibu
yang mengkhawatirkan keadaan anaknya. Ambu Casmi membayangkan jikalau dari dulu
suaminya menerima Dablu, mungkin
kejadian ini tak akan terjadi. Sebulan telah berlalu namun dablu tak juga
pulang membawa anaknya. Sempat terlintas oleh ambu Casmi, haruskah menyerah
pada takdir seperti yang dituliskan Dablu dalam suratnya. Lapang menerima nasib.
Ah...
Sementara
itu, pikiran mpih Engkus seperti benang kusut, terbayang wajah-wajah pemuda
yang hendak melamar putrinya. Ada wajah Gandi, anak dari temannya, seorang
kepala bidang di sebuah perusahan garment di ibu kota. Kemudian muncul wajah
Sutisna, seorang guru yang sudah menjadi PNS mengajar di sekolah menengah
pertama. Juga tersirat wajah jang Febri, anak dari pemilik pabrik air mineral
yang berdiri di kampung Tambak. Mpih Engkus tak habis pikir kenapa anaknya
menolak semua lamaran itu dan memilih lari dengan Dablu.
Sebenarnya
dalam hati mpih Engkus mengakui kepintaran Dablu, juga mengakui bahwa Dablu
adalah pasangan yang ideal bagi putrinya. Namun ada alasan lain dibalik
penolakan Mpih Engkus terhadap sosok Dablu. Isi kepala Mpih engkus melayang,
melesat jauh ke jendela masa lalu, mengingat kisah kelam 28 tahun yang silam.
Beberapa tahun sebelum bertemu dengan Ambu Casmi dan memustuskan menikahinya.
Di
sebuah malam yang berbalut hujan, mpih Engkus berjalan bersama seorang wanita
menyusuri sebuah parit yang jauh dari pemukiman. Kala itu dingin begitu mencekam, wanita yang
berjalan bersma Mpih engkus menggendong bayi mungil yang dibalut samping
batik. Suara bayi itu memekik meninju langit, membelah angkasa. Mpih Engkus dan
wanita itu memberikan sebuah kecupan hangat di kening bayi mungil itu, kemudian
meletakannya di pinggir parit. Kisah kelam itu dia tutup rapat-rapat tanpa ada
seorangpun yang tahu.
Mpih
Engkus berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia beranjak ke pintu rumah
melemparkan pandang, jauh ke ujung jalan. Dadanya sesak, bayang-bayang masa
lalu silih berganti dengan bayang-bayang putrinya kemudian dengan bayang-bayang
wajah Dablu, saling berebut tempat di
kepala. Nafasnya seperti tersenggal, kepalanya terasa hampir pecah, mpih Engkus
tahu betul bayi yang dibuangnya 28 tahun silam itu adalah Dablu, anaknya
sendiri. Pemuda yang membawa lari putrinya ke luar angkasa.
CIWIDEY OKTOBER 2016
SEKIAN





