Sabtu, 13 Februari 2021

MEMBUNUH NOVIA DI BULAN DESEMBER. CERPEN RIAN IBAYANA DI MEDAN POS 7 FEBRUARI 2021

 





MEMBUNUH NOVIA DI BULAN DESEMBER

 

            Kamu tampak cemas dan gugup ketika kuungkapkan semua, bagaimana cara aku membunuh gadis bernama Novia di Desember setahun yang lalu. Gadis yang gemar memainkan lensa-lensa, mengabadikan peristiwa demi peristiwa lewat mata kamera. Gadis manis yang pernah melakukan pameran tunggal, memamerkan hasil bidikannya yang rata-rata bertemakan kemanusiaan. Jika melihat sorot mata gadis itu, aku senantiasa ingat pada lagu Iwan Fals, mata indah bola pingpong.

            “ Tak perlu kamu pikirkan dan tak perlu kamu cemaskan kawan, polisi tak mungkin bisa menemukan siapa pembunuh Novia.  Sampai saat  ini aku bisa menghirup udara dengan merdeka, tanpa ada sangkaan sedikitpun.”

            “ Tapi, “ ungkapmu.

            “ Sudah aku bilang kamu tak perlu takut kawan, buang jauh-jauh perasaan itu. Anggap saja aku tidak pernah bercerita apapun, anggap saja perbincangan ini tak pernah terjadi. Tenang kawan, peristiwa itu sudah berlalu jauh,  polisi pasti malas untuk menyelidikinya”

            “ Tapi bukan begitu,” ungkapmu tegas meski getar bibirmu tampak cemas.

            “ Iya aku paham, aku mengerti apa yang kulakukan menanggung banyak resiko. Bahkan jikalau polisi berhasil mengungkap peristiwa itu, bukan tidak mungkin nyawaku jadi taruhannya. Aku sadar ancaman apa yang akan aku terima jikalau kasus itu terungkap.”

            Kamu bangkit dari kursi sambil melemparkan sebungkus rokok serta korek api ke atas meja.  Kamu melangkah ke arah televisi kemudian menghidupkannya dan mencari stasiun kerap menyiarkan acara berita. Asap mengepul di ruang segi empat ruang tengah rumahmu. Rumah yang penuh sejarah bagimu, rumah yang menjadi tanda kesuksesanmu. Aku tahu betul perjuanganmu hingga bisa mapan seperti sekarang.

            Kamu beranjak menuju kamar dan kembali dengan membawa beberapa buah koran, kamu melemparnya ke hadapanku, tampak jelas itu koran lama, koran yang  beredar tahun lalu. Bagian depan koran terpampang berita pembunuhan seorang  gadis yang  diketahui  bernama Novia. Tampak foto sesosok perempuan itu terlentang  di dekat stasiun kota. Tak ada memar maupun luka, namun dari mulutnya keluar busa.  Mungkin diracun. Polisi dengan sigap melakukan penyelidikan.

            Sementara koran kedua adalah koran yang terbit hari berikutnya, yang menjadi headline masih tentang pembunuhan Novia, seorang fotografer wanita yang pernah membuat sebuah pameran. Polisi sudah bisa memastikan bahwa  gadis itu diracun, sementara siapa pembunuhnya masih menjadi teka-teki. Aku membaca koran tersebut satu persatu, pikiranku tiba-tiba melesat  pada peristiwa tahun lalu itu. Sementara kamu hanya diam, matamu memerah, asap rokok menari-nari di seluruh ruangan.

            “Sudahlah, tak perlu kamu pikirkan, bunuh perasaan cemas di kepalamu. Aku yang bertindak sebagai pelaku, bisa santai seperti ini. Tanpa takut sedikitpun. Kenapa kamu yang cemas kawan ? Coba lihat berita yang ada di televisi itu,  semua tentang pendemi, .tentang usaha pemerintah memutus mata rantai penyebaran virus berbahaya yang disebut corona. Tentang pembagian sembako bagi keluarga yang terdampak dari pandemi serta informasi jumlah warga yang terpapar virus tersebut. Juga tentang berita kontroversi undang-undang  cipta kerja, yang melahirkan gelombang demo dimana-mana. Kasus tahun lalu sudah terkubur kawan, mustahil bisa terungkap. “

            “ Sekarang coba kamu buka media sosialmu, apakah ada berita tentang pembunuhan Novia di bulan Desember tahun lalu?  Aku yakin tidak ada. Semua fokus pada perkembangan penanganan wabah di berbagai negara. Ada negara yang melakukan lockdown total ada juga yang memberlakukannya hanya di kota-kota tertentu yang masuk zona merah.  Segala upaya dilakukan agar pandemi ini segera berlalu. Coba kami teliti satu persatu status teman-temanmu di facebook, teliti dengan betul, adakah yang masih membahas peristiwa tahun lalu yang sempat menggetarkan seantero negeri ini? aku yakin tidak ada. Jadi kamu tidak perlu takut kawan soal kasus itu.”

            “Aku tidak cemas apalagi takut,” ungkapmu dengan nada tinggi.

            Kamu membuang rokok yang masih menyala ke lantai, lalu menginjaknya dengan geram dan entah bagaimana caranya tanganmu sudah ada di leherku, mencekik dengan kuat. Napasmu mendengus berapi-api,  sehingga wajahku seperti terbakar.

            “ Dengarkan ini ! Aku tidak takut, aku tidak takut dengan kasus yang menjeratmu. Tapi dengar, aku sutradaranya, aku dalangnya. Mengapa kamu bertindak sendiri, mengapa kamu bekerja seenaknya. Siapa yang kamu bunuh? Siapa? Bukan Novia yang kuminta kau bunuh, dan jangan di bulan Desember waktunya, bangsat... !”  Ungkamu dengan tegas sambil mendorongku ke atas kursi.

 

***

 

            Aku lemas dan tak paham dengan apa yang kamu katakan, pikiranku melambung pada malam kelam tahun lalu. Aku mengajak Novia bertemu di sebuah cafe dekat stasiun kota. Aku datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan, serta memesankan jus lemon. minuman kesukaannya. Sementara dia telat beberapa menit, datang dengan tergesa dan meminta maaf atas keterlambatannya. Sebenarnya tak perlu meminta maaf, dengan melihat senyumannya , aku sudah bisa memaafkan. 

            Novia membawa beberapa hasil bidikannya, potret peristiwa yang sangat mengerikan tentang derita penduduk yang tanahnya tergusur sebuah perusahaan. Dan aku tahu betul perusahaan itu milik siapa. Novia kembali memberikan senyum, manakala melihat jus lemon kesukaannya sudah ada di atas meja cafe. Sorot matanya seperti telaga, begitu menyejukan. Namun hatiku tiba-tiba bergetar kala melihat bibirnya menyentuh ujung sedotan, tampak dengan jelas jus lemon masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Aku memejamkan mata sejenak, ingin rasanya melarang dia untuk meneruskan meminum jus tersebut, tapi lidahku kaku.

***

 

            Kamu kembali bergegas ke arah kamar dengan langkah yang tak beraturan, nafasmu menggebu seperti ingin meluapkan amarah. Aku hanya bisa tertunduk tak mengerti dengan apa yang kamu katakan, bukan Novia yang ingin kamu bunuh dan bukan di bulan Desember waktunya.

            “ Duaaaarr...”

            Tiba-tiba,  darah hangat mengalir dari belakang kepalaku.

2020

            





























Minggu, 06 Desember 2020

SAJAK SUNDA RIAN IBAYANA, RUBRIK LAWUNG 5 DESEMBER 2020


 

Sajak Tina Ajalna Sang Bentang Pilem*

 

Di hiji bisokop

Aya rusiah di sajeroning rusiah,

Kabuka tina lambaran sandiwara

Lalakon getih, lalakon raheut gudawang.

 

Aya lalakon dina sajeroning lalakon

Nu jadi marga lantaran lahirna lalakon anyar

Nu kaambeu tina seungit parfum

Seungit nu moal bisa leungit

Bukti kalayan nyata, telengesna hiji manusa.

 

Di hiji bisokop

Aya rusiah nu muka rusiah anyar

Patekadan goréng ngajirim balati,

Nu nembrag kana dada

Mungkas rénghap jeung harepan.

 

*Judul Carpon Almarhum Pak Duduh Durahman

Januari 2020

 

 

 

 

 

 


Mangsa

 

Kiceup

Geus teu kaitung deui lobana kiceup nu ngandung kecap

Mangsa nyakséni ciptaan Anjeun, neuleuman kaéndahan, boh lahirna, boh batinna.

Rénghap

Geus teu kabilang lobana rénghap, mangsa lalayaran dina sagara kahirupan

Geus teu kabilang, lobana jarum érloji ngwiridkeun asma Salira

Ah, boa-boa  moal lila lalakon bakal lekasan.

Léngkah

Geus teu kaitung deui lobana léngkah, napak di bumi Salira

Tapi geuning jajauheun tina  kahadéan mah

Mangsa wanci salin jinis, sok inggis panto patobatan

nutup salalawasna.

 

 

 

Desember 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hujan Cigondéwah

 

Disidik-sidik mah, hujan téh  lir jamparing,

Ting belesat murudul tina gondéwa langit

Ngajirim tiis, ngagebrét ngaguyur lemah.

Harita, naha anjeun bet teu ngiuhan, cigah nu sadrah narima cai patobatan

boa haté anjeun geus gudawang, sésa nancebna jamparing kahirupan.

 

Disidik-disidik mah, hujan téh lir jamparing

Ting belesat murudul  tina gondéwa langit, ngajirim cikahuripan

Harita, naha anjeun ngahaja babaseuhan

Awak laas, cigah nu miceun kakotor mangsa lawas.

Poé-poé katukang.

 

 November 2020

 


 Keur Nyai Duesseldorf*

 

Kitu geuning Nyai, kelir nasib nu tumiba

Kateger na dada anjeun, mungkus raga nu dirogahala

Ratusan kilometer geuning Nyai,  anggangna harepan tina kanyataan

Ukur peurah jeung raheut, mulas eumeurna jalan hirup

“ Jungjunan iraha datang ,megatkeun ieu kanyeri ? “

Sanajan dipungkas ku pat,

Anjeun Sadrah tumarima

 

*novel karya Zeventina

 

2016

 

SURAT  KEUR ALLEPO

 

Aya nu neumbrag kana dada, ngajeletit kana ati

Mangsa angin ngibarkeun kelir getir, ngabeberkeun warta peurih

Alan, budak leutik  nangkuban di sisi laut

Jeung Omran, budak leutik lamokot ku getih

Korban seukeutna jangjang mangsa

umpalan jaman nu leungiteun rasa

kamanusaan.

 

2016

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 08 Oktober 2020

RUBRUK SENYUM (CERPEN DI MEDAN POS 04 OKTOBER 2020 )

 

RUBRIK SENYUM

 

            Aroma kopi hitam asli Cikajang Garut, menyeruak ke sudut kamar Noerlistanto. Belakangan ini bapaknya kembali menjadi pecandu kopi, padahal lebih dari sepuluh tahun dia berhenti minum seduhan yang mengandung cafeeine tersebut karena masalah lambung. Suara benturan sendok ke sisi cangkir ketika bapaknya mengaduk kopi, terdengar jelas ke kamar Noerlistanto, sehari dia bisa mendengarkan tiga kali suara benturan sendok ke sisi cangkir tersebut. 

            Noerlistanto mengambil topi pet kotak-kotak andalannya, kemudian mengemas berbagai perlengkapan fotografi untuk melakukan perburuan. Dia berencana pergi ke kota kecamatan di selatan Bandung. Menurut informasi yang beredar, aktifitas masyarakat di sana masih berjalan normal, suasana tetap ramai seperti sedia kala.  Dia berharap bisa mendapatkan hasil maksimal dalam perburuannya hari itu. Dia juga berencana mau membeli kopi asli daerah tersebut yang terkenal lebih manis dari kopi dari daerah lain.

            Sejak tamat sekolah menengah atas, Noerlistanto yang lebih akrab disebut Noer memang lebih menekuni hobinya daripada bekerja. Berbekal sebuah kamera hadiah dari pamannya ketika ulang tahun ke 17, Noer kerap mengisi waktunya dengan memotret bebas. Awalnya Noer senang memotret pemandangan, namun karena jenuh, dia beralih memotret binatang-binatang kecil, seperti kupu-kupu, capung, dan serangga. Dan sekarang dia lebih suka memotret keadaan sosial masyarakat.

            Berkat ketekunannya dalam mengolah mata lensa dan berburu objek-objek menarik. Dia berhasil menjadi juara ketiga lomba fotografi  tingkat nasional yang diadakan oleh kementrian pariwisata. Prestasi tersebut membuat seorang pemilik majalah nasional meminta Noer untuk bergabung di dalam perusahaannya. Sebagai fotografer khusus untuk rubrik senyum,  rubrik andalan majalah tersebut, sebuah halaman yang selalu menyajikan foto-foto insan yang sedang tersenyum. Tanpa berpikir panjang, Noer langsung menerima, karena pekerjaan tersebut sejalan dengan hobinya. Dia bekerja dengan senang hati dan mempunyai kode nama samaran yaitu Lancah Maung.

            “ Semoga perburuanmu hari ini, mendapatkan hasil memuaskan” ungkap bapak Noer sambil menepuk pundak anaknya.

            Noer menganggukan kepala, kemudian memasukan secarik kertas ke dalam saku jaketnya. Kertas yang bertuliskan alamat kedai kopi di selatan Bandung yang akan dia kunjungi. Dia kemudian melesat mantap menggunakan motor astrea tahun 90an yang biasa dia panggil Kyai Garden. Entah apa alasannya dia memberikan nama itu pada kuda besinya.

 

***

 

           Berburu senyum, adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah. Begitu banyak jenis senyuman di dunia ini. Noer dituntut bisa mendapatkan foto senyum  dalam situasi apapun. Inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Noer dalam menjalankan tugasnya. Pertama kali bekerja, Noer ditugaskan untuk berburu senyum anak-anak. Dia berburu ke taman-taman kota yang banyak dikunjungi anak-anak, sesekali dia pergi ke sekolah-sekolah, kadang-kadang dia pergi ke arena hiburan anak, baik yang ada di mall maupun yang di luar ruangan. Atasannya sangat puas dengan hasil bidikan Noer, lebih dari 10 foto karya Noer selalu tayang setiap majalahnya terbit. Tampak senyum keceriaan yang disuguhkan dari hasil bidikannya.

            Kemudian Noer ditugaskan untuk berburu senyum lapisan bawah masyarakat yang berada diperkotaan. Di sini hati Noer mulai meringis, menyaksikan potret kehidupan masyarakat bawah yang sangat menyedihkan. Noer berburu ke pemukiman-pemukiman kumuh di tepi kali, gubuk-gubuk kardus di dekat rel kereta api, ataupun emperan toko yang banyak dipakai tidur para gelandangan. Batinnya mulai diuji, bagaimana mungkin bisa menemukan senyum diantara kepedihan hidup. Dari pemulung, pengemis, gelandangan, pengamen, kuli panggul di stasiun, Noer jarang menemukan senyum terbaik. Seandainya ada, senyuman getir yang tersuguh. Namun Noer tidak patah semangat, dia terus berburu hingga dia menemukan senyum penuh syukur dari bibir seorang nenek yang baru mendapatkan rejeki, senyum seorang lelaki paruh baya yang baru mendapatkan upah kuli panggul, senyum anak-anak jalanan yang mendapat beberapa keping uang hasil mengamen. Noer berhasil mengabadikannya.

            Ketika musim pilkada atau pemilihan legislatif tiba, Noer mendapatkan stok senyum yang melimpah. Senyum penuh janji para calon kepala daerah, senyum penuh harapan dari calon anggota legislatif, ataupun senyum penuh kepalsuan dari para relawannya. Senyum bahagia para simpatisan partai yang telah mendapatkan jatah uang makan, senyum pengusaha-pengusaha yang diuntungkan dengan adanya pilkada. Senyum lapisan bawah masyarakat yang bahagia karena diiming-imingi janji dan harapan. Ketika musim pemilu berakhir, stok senyum sinis makin melimpah, stok senyum penuh kebencian dari pihak yang kalah betebaran. Demikian juga dengan senyum jumawa dari para pemenang maupun relawan-relawan yang bangga dengan kemenangan jagoannya. Noer dengan mudah mengirimkan hasil kerja kepada atasannya.

            Adapun yang paling pelik bagi Noer adalah ketika ditugaskan ke sebuah provinsi yang dilanda bencana gempa bumi, sebuah pulau di bagian tenggara. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan senyum di daerah yang terkena bencana alam. Noer berburu senyum hingga tenda-tenda pengungsian, menelusuri puing-puing reruntuhan, menyusuri lorong-lorong di rumah sakit tempat para korban dirawat. Batin Noer berkecamuk. Namun di sela bencana tersebut akhirnya Noer menemukan senyum penuh ketabahan, senyum penuh keikhlasan para korban. Serta senyum optimis untuk bangkit dari keterpurukan.

            Noer juga pernah ditugaskan untuk beburu senyum ke daerah konflik, ditugaskan ke daerah yang sedang terjadi kerusuhan maupun berburu senyum di sela demonstrasi masa. Dalam situasi seperti itu, Noer selalu pasrah karena nyawa bisa menjadi taruhannya. Namun meskipun begitu Noer tetap semangat karena pekerjaanya tersebut selaras dengan hobi yang dia tekuni sejak dulu.

 

***

 

            Noerlistanto mengendarai Kyai Garden dengan santai. Dia tahu, tempat yang dituju kali ini adalah daerah wisata yang kerap dikunjungi para turis. Dia menikmati setiap kelokan jalan, menikmati tanjakan-tanjakan yang sedikit berliku, juga menikmati pemandangan-pemandangan indah sepanjang jalan. Noer merasakan perubahan suhu udara dalam perjalanannya, semakin atas terasa semakin dingin. Setelah satu jam setengah menempuh perjalanan, akhirnya dia sampai di pusat kota kecamatan, Bandung selatan.

 

             

            Akhir tahun lalu, dunia digemparkan dengan menyebarnya sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus yang sangat ganas. Virus itu menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, WHO badan kesehatan dunia menetapkan sebagai pandemi. Lima bulan berlalu, para ilmuan dari seluruh negara berusaha membuat vaksin dan obat yang tepat buat menangani wabah tersebut, namun ikhtiar itu belum membuahkan hasil. Masyarakat dunia hanya bisa mencegah dengan melakukan sosial distancing, rajin cuci tangan, menghindari kerumunan  dan memakai masker jika terpaksa bepergian. Bahkan beberapa negara melakukan strategi lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut.

            Setelah memarkirkan Kyai Garden miliknya, Noer bergegas masuk ke taman kota, suasananya tampak ramai. Noer berpikir akan mudah mendapatkan banyak senyum jika melihat kondisi dan situasi yang ramai seperti itu. Noer duduk di sebuah bangku kayu, sambil mempersiapkan alat fotonya. Sesekali dia mencermati keadaan taman kota tersebut. Tampak ada beberapa kelompok anak muda duduk-duduk santai di atas rumput sintetis. Ada juga beberapa keluarga yang berbincang hangat bangku taman. Yang menarik perhatiannya adalah ada satu keluarga yang tampak ceria, terdiri dari suami istri dan dua orang anak, yang satu anak perempuan kurang lebih 12 tahun, yang satu lagi anak laki-laki kurang lebih 6 tahun. Terdengar gelak tawa dari mereka. Namun gelak tawa itu terbungkus kain masker, Noer kesulitan untuk mengabadikannya. Noer mencoba mencari buruan lain, namun sisa-sia, semua pengunjung taman tersebut memakai masker.

            Lancah Maung, apakah sudah mendapatkan hasil perburuan, ingat besok harus udah ada foto yang masuk ke meja redaksi?” sebuah pesan masuk dari atasanya.

            Noer belum bisa menjawab pesan dari atasannya tersebut, dia masih berusaha mendapatkan potret senyum terbaik.. Namun nihil. Semua orang yang berada di taman kota  menggunakan masker. Sempat ada ide untuk membujuk dengan mengiming-imingi uang kepada beberapa pengunjung agar membuka masker dan pura-pura tersenyum. Namun nuraninya tidak membenarkan cara curang tersebut. Noer paham betul situasi di kala pandemi seperti sekarang membuat masyarakat wajib memakai masker sebagai protokol kesehatan dari badan kesehatan dunia. Yang berimbas kepada perkerjaannya, sangatlah sulit bisa menemukan senyum terbaik dalam situasi seperti itu. Noer berpikir, kalaupun mereka membuka masker, niscaya yang tersaji adalah senyum penuh kegetiran, senyum yang dibalut  rasa takut ataupun senyum kepura-puraan.

Noer putus asa, dia duduk termenung di sebuah bangku kosong, di sudut taman kota. Pikirannya melesat jauh ke sebuah masa dimana senyum telah terenggut dari kehidupannya. Masih terbayang di matanya, kenangan pahit ketika seorang ibu yang dia sayangi mencampakan dirinya. Pergi jauh bersama seorang lelaki yang bukan pasangan halalnya. Meninggalkan Noer bersama bapaknya. Sejak kejadian pahit itu, Noer tidak pernah tersenyum sama sekali. Ini sangat bertolak belakang dengan pekerjaanya sebagai pemburu senyum. Ya sangat bertolak belakang.

            Noer merogoh sebuah kertas di dalam saku jaketnya, kemudian mencermati alamat sebuah kedai kopi yang terkenal di selatan Bandung itu. Setelah membereskan perlengkapan fotografinya, Noer bergegas untuk mengunjungi alamat kedai kopi tersebut. Tiba-tiba terlintas bayangan bapaknya sedang tersenyum bahagia, mendapat bingkisan kopi dari anaknya. Ya, itu lebih baik pikirnya.

 

2020





Sabtu, 29 Agustus 2020

PUISI RIAN IBAYANA. BMR FOX 27 AGUSTUS 2020

 LEWAT SIARAN RADIO

-          Kepada Moch Syarif Hidayat

 

Di udara, kalimat-kalimat isyarat  menentukan nasibnya.

Puisi mengembara, merambat lewat celah gelombang

Menuju  titik takdirnya masing-masing.

Di udara, kata demi kata  membentuk wasilahnya sendiri.

Entah untuk membunuh rindu ataupun mengabadikan kenangan.

Merawat baik-baik hingga sampai ke palung batin, pendengarnya.

 

2020

 

Menuju Duhur

Sekian jam kita mengolah cemas dengan kadar yang berbeda.
Tak terhitung detak jantung diburu, waktu yang setajam pisau.

Buka lemari kecil di dapurmu, masih adakah cadangan tabah yang kau simpan?
Masih luaskah loyang kesabaramu?

Sebelum tulang iga lelah menjaga rahasia

Sebelum lutut menjadi payah menopang perkara

Siapkan alat masak dan segenap bumbu
sudah saatnya kita mematangkan rindu

2020

 

 PENGANGKUT AIR



Mengarungi sungai peluh dari dahi menuju ujung kaki
dapat kuhayati betapa jauhnya jarak langit dan bumi.
Kegelisahan merambat lewat urat nadi

Ketika musim tiba-tiba berubah
semua mata kehilangan arah.

Mendaki pundak kanan yang semakin hari semakin berlubang
kutemukan makna perjuangan
tak sia-sia
langkah demi langkah makin berharga.

Mengarungi sungai peluh dari dahi menuju ujung kaki
dapat kuhayati betapa jauhnya jarak langit dan bumi.

Ketika tanah pecah kekeringan
Kehadiranmu adalah harapan.



2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SINAN*

Adalah untuk keagungan yang tak terbatas.
Pondasi kau tata
di atas tanah damai ini
Benteng-benteng panjang
serta megah kubah dan menjulangnya menara.
Tata kota gemilang
air mancur serta kolam sultan.


Bukan sekedar tumpukan batu
apa yang kau susun, apa yang kau bangun
Adalah ketegaran do'a,
serta keluasan rindu kepada-NYA


* Arsitek jaman raja Sulaiman, Turki othoman.


NOVEMBER 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ONOMATOPE HATI


Anjing menyalak di puncak bukit


Namun hati,
berteriak tanpa suara
menentang kekeliruan raga.


2020

 

 

OMRAN ALAN (KE KOTA LUKA 3)

 

lagi-lagi, ke kota luka, kepala demi kepala disetir getir

menyaksikan sebuah jam,  pecah di ubin darah

 

di sana masa depan seperti terhenti tertimpa puing-puing

 

tolong diam beberapa menit, tengoklah

seorang bocah telungkup di tepi laut

 

ke kota luka, mata kita digiring

memahami nurani yang semakin kering

 

tolong diam sejenak, seorang bocah dengan tatapan kosong

menyeka luka di dahinya, wajah penuh debu  dan darah

 

apa yang dapat diharapkan, dari deru peluru dan desing pesawat

yang memekakan telinga?

 

semua sia-sia

 

lagi-lagi, kepala demi kepala disetir getir

ke kota luka

ya, ke kota luka

 

2016


http://epaper.bfox.co.id/2020/08/27/mobile/index.html

 

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...