Kamu
tampak cemas dan gugup ketika kuungkapkan semua, bagaimana cara aku membunuh
gadis bernama Novia di Desember setahun yang lalu. Gadis yang gemar memainkan lensa-lensa,
mengabadikan peristiwa demi peristiwa lewat mata kamera. Gadis manis yang
pernah melakukan pameran tunggal, memamerkan hasil bidikannya yang rata-rata
bertemakan kemanusiaan. Jika melihat sorot mata gadis itu, aku senantiasa ingat
pada lagu Iwan Fals, mata indah bola pingpong.
“
Tak perlu kamu pikirkan dan tak perlu kamu cemaskan kawan, polisi tak mungkin
bisa menemukan siapa pembunuh Novia.
Sampai saat ini aku bisa
menghirup udara dengan merdeka, tanpa ada sangkaan sedikitpun.”
“
Tapi, “ ungkapmu.
“
Sudah aku bilang kamu tak perlu takut kawan, buang jauh-jauh perasaan itu.
Anggap saja aku tidak pernah bercerita apapun, anggap saja perbincangan ini tak
pernah terjadi. Tenang kawan, peristiwa itu sudah berlalu jauh, polisi pasti malas untuk menyelidikinya”
“
Tapi bukan begitu,” ungkapmu tegas meski getar bibirmu tampak cemas.
“
Iya aku paham, aku mengerti apa yang kulakukan menanggung banyak resiko. Bahkan
jikalau polisi berhasil mengungkap peristiwa itu, bukan tidak mungkin nyawaku
jadi taruhannya. Aku sadar ancaman apa yang akan aku terima jikalau kasus itu terungkap.”
Kamu
bangkit dari kursi sambil melemparkan sebungkus rokok serta korek api ke atas
meja. Kamu melangkah ke arah televisi
kemudian menghidupkannya dan mencari stasiun kerap menyiarkan acara berita. Asap
mengepul di ruang segi empat ruang tengah rumahmu. Rumah yang penuh sejarah
bagimu, rumah yang menjadi tanda kesuksesanmu. Aku tahu betul perjuanganmu
hingga bisa mapan seperti sekarang.
Kamu
beranjak menuju kamar dan kembali dengan membawa beberapa buah koran, kamu
melemparnya ke hadapanku, tampak jelas itu koran lama, koran yang beredar tahun lalu. Bagian depan koran
terpampang berita pembunuhan seorang gadis
yang diketahui bernama Novia. Tampak foto sesosok perempuan
itu terlentang di dekat stasiun kota.
Tak ada memar maupun luka, namun dari mulutnya keluar busa. Mungkin diracun. Polisi dengan sigap
melakukan penyelidikan.
Sementara
koran kedua adalah koran yang terbit hari berikutnya, yang menjadi headline
masih tentang pembunuhan Novia, seorang fotografer wanita yang pernah membuat
sebuah pameran. Polisi sudah bisa memastikan bahwa gadis itu diracun, sementara siapa
pembunuhnya masih menjadi teka-teki. Aku membaca koran tersebut satu persatu,
pikiranku tiba-tiba melesat pada
peristiwa tahun lalu itu. Sementara kamu hanya diam, matamu memerah, asap rokok
menari-nari di seluruh ruangan.
“Sudahlah,
tak perlu kamu pikirkan, bunuh perasaan cemas di kepalamu. Aku yang bertindak
sebagai pelaku, bisa santai seperti ini. Tanpa takut sedikitpun. Kenapa kamu
yang cemas kawan ? Coba lihat berita yang ada di televisi itu, semua tentang pendemi, .tentang usaha
pemerintah memutus mata rantai penyebaran virus berbahaya yang disebut corona.
Tentang pembagian sembako bagi keluarga yang terdampak dari pandemi serta informasi
jumlah warga yang terpapar virus tersebut. Juga tentang berita kontroversi
undang-undang cipta kerja, yang
melahirkan gelombang demo dimana-mana. Kasus tahun lalu sudah terkubur kawan,
mustahil bisa terungkap. “
“
Sekarang coba kamu buka media sosialmu, apakah ada berita tentang pembunuhan
Novia di bulan Desember tahun lalu? Aku
yakin tidak ada. Semua fokus pada perkembangan penanganan wabah di berbagai
negara. Ada negara yang melakukan lockdown total ada juga yang
memberlakukannya hanya di kota-kota tertentu yang masuk zona merah. Segala upaya dilakukan agar pandemi ini
segera berlalu. Coba kami teliti satu persatu status teman-temanmu di facebook,
teliti dengan betul, adakah yang masih membahas peristiwa tahun lalu yang
sempat menggetarkan seantero negeri ini? aku yakin tidak ada. Jadi kamu tidak
perlu takut kawan soal kasus itu.”
“Aku
tidak cemas apalagi takut,” ungkapmu dengan nada tinggi.
Kamu
membuang rokok yang masih menyala ke lantai, lalu menginjaknya dengan geram dan
entah bagaimana caranya tanganmu sudah ada di leherku, mencekik dengan kuat.
Napasmu mendengus berapi-api, sehingga
wajahku seperti terbakar.
“
Dengarkan ini ! Aku tidak takut, aku tidak takut dengan kasus yang menjeratmu.
Tapi dengar, aku sutradaranya, aku dalangnya. Mengapa kamu bertindak sendiri,
mengapa kamu bekerja seenaknya. Siapa yang kamu bunuh? Siapa? Bukan Novia yang
kuminta kau bunuh, dan jangan di bulan Desember waktunya, bangsat... !” Ungkamu dengan tegas sambil mendorongku ke
atas kursi.
***
Aku
lemas dan tak paham dengan apa yang kamu katakan, pikiranku melambung pada
malam kelam tahun lalu. Aku mengajak Novia bertemu di sebuah cafe dekat stasiun
kota. Aku datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan, serta memesankan jus
lemon. minuman kesukaannya. Sementara dia telat beberapa menit, datang dengan
tergesa dan meminta maaf atas keterlambatannya. Sebenarnya tak perlu meminta
maaf, dengan melihat senyumannya , aku sudah bisa memaafkan.
Novia
membawa beberapa hasil bidikannya, potret peristiwa yang sangat mengerikan
tentang derita penduduk yang tanahnya tergusur sebuah perusahaan. Dan aku tahu
betul perusahaan itu milik siapa. Novia kembali memberikan senyum, manakala
melihat jus lemon kesukaannya sudah ada di atas meja cafe. Sorot matanya
seperti telaga, begitu menyejukan. Namun hatiku tiba-tiba bergetar kala melihat
bibirnya menyentuh ujung sedotan, tampak dengan jelas jus lemon masuk ke dalam
mulutnya yang mungil. Aku memejamkan mata sejenak, ingin rasanya melarang dia
untuk meneruskan meminum jus tersebut, tapi lidahku kaku.
***
Kamu
kembali bergegas ke arah kamar dengan langkah yang tak beraturan, nafasmu
menggebu seperti ingin meluapkan amarah. Aku hanya bisa tertunduk tak mengerti
dengan apa yang kamu katakan, bukan Novia yang ingin kamu bunuh dan bukan di
bulan Desember waktunya.
“
Duaaaarr...”
Tiba-tiba,
darah hangat mengalir dari belakang
kepalaku.
2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar