CIWIDEY TENGAH MALAM III
Memahami kembali getar trotoar yang pernah kita pijak
ada sunyi yang lebih dingin
dari malam-malam gugur gemintang.
Bau pesing dan tumpukan sampah di sudut taman,
menyeruak memecah kenangan demi kenangan.
Ada yang berubah,
sebuah wajah telah musnah,
cahaya neon pedagang kaki lima, melahirkan bayang-bayang asing
bengis beton dan rangka yang melingkar
Sementara di sudut lain, menara masjid tampak bisu,
Ada pilu yang lebih kental dari nyeri-nyeri yang pernah kita kenal
CIWIDEY 2016
KEPADA ANNA CHAPMAN
kita berbahasa lewat rahasia
lewat matamu, seluk-beluk lubuk terlihat
lika-liku langkah yang kerap membangunkan bahaya
dalam terjaga
raga waspada
dalam lelap
kerlingmu terjaga
lewat matamu, berlembar-lembar kabar tergambar
sisi-sisi informasi
kalu lesatkan ke jauh
ke timur.
rahasia di balik rahasia
terbuka di meja rahasia
2016
ELEGI DI SEBUAH PASAR
Apa artinya teriakan ini, jika kelir getir tak juga dipahami
bertahun-tahun gelisah beranak-pinak,
di antara batu-batu yang tersembul di jalanan pasar.
Sementara debu-debu masa lalu masih menusuk mata, menampar wajah-wajah gusar.
Angin yang diboncengi bau sampah, seperti mengabarkan ngeri yang tak kunjung henti.
Dada-dada tersenggal oleh penggalan episode lama
ketika hijrah menjadi cara.
Di sini harapan demi harapan menjelma kepalan tangan.
Ciwidey November 2016
ANJANI PIJAR KENCANA
ANJANI
Tangis permata
Menyapa jagat raya
Sepi pun musnah
PIJAR
Jantung bergetar
Dialiri cahaya
Pijar di nadi
KENCANA
Harap melangit
Budi pekerti emas
Anggun mulia
MEI 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar