SAJAK
UJUNG TAHUN II
Perkara rindu yang kerap menyergap di
ujung musim
biarkan menyalak bersama lengking
klakson dan jerit terompet.
Pada titik ini, matikan sejenak getar
arloji
biarkan diri melatih sunyi, bertapa di
keramaian.
Sebab esok tiada yang berubah, setiap
mata berbicang hal yang sama
bicara cemas yang semakin mengancam.
2016
Kancing
Lobang Dua
Tentramlah di sana bersama
saudara-saudara kembarmu
Merekatkan hijau di bagian dada kanan
Dengan merah di bagian dada kiri
Juga tegarlah
mengunci rahasia
Yang tersimpan di dalam saku
2016
Di
Ruang ICCU
- Kiai
Matdon
Debar mengakar pada ubin dingin
Cemas pecah di kening labirin, lorong senyap
Di
balik kaca
Doa-doa menyatu dengan udara dalam
tabung oksigen
Dzikir mengalir lewat cairan infus
Oh, Mukjizat
Oh, Mukjizat
2016
- Toleng
Ahmad Insyafiah
Aku berkaca berkali-kali, memahami
gurat-gurat peristiwa
ketika yang nyata dibalut topeng.
Sementara di pinggir panggung, mata demi
mata terbuai lena
gemulai tubuh nan ayu.
Maka pahamilah gerak yang tersirat,
dari memar yang senantiasa aku tutupi.
Kenyataan yang sebenarnya.
2016
Kepada
Sumbi
Di luar, bibir-bibir maut seperti
mengancam
Agar waktu meloncat lebih cepat
Kau begitu cermat memainkan epiosde ini,
melempar peluang,
Sementara di tanganmu, segenggam cara
telah mencekik harapan.
Sungguh
tiada yang lebih mengerikan
Selain suara alu menikam lesung,
di ujung
senyummu begitu manis namun menyiksa,
seperti cahaya fajar yang berwajah
tajam.
2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar