Sabtu, 02 Mei 2020

GADIS PADA PAPAN REKLAME ( CERPEN MEDAN POS 03 MEI 2010)




        Pada awalnya tidak ada yang aneh dengan papan reklame yang menutupi muka sebuah jembatan penyebrangan itu, semua baik-baik saja seperti papan reklame pada umumnya. Lebarnya hampir sama dengan lebar jalan yang berada di bawahnya, sementara tingginya kurang lebih  3 meter, dari jauh papan reklame itu bisa terlihat jelas. Secara berkala gambar yang terpasang pada  papan tersebut diganti sama pihak terkait, tergantung berapa lama pihak yang berkepentingan menyewa papan tersebut. Ada yang menyewa sebagai tempat iklan, ada juga yang memanfaatkannya sebagai sarana kampanye ketika musim pilkada tiba.  Sementara pemerintah menggunakan papan reklame tersebut sebagai sarana menyampaikan informasi penting bagi warganya.
            Pada papan reklame tersebut tampak gambar seorang gadis sedang memegang sebuah apel merah dan seperti hendak menggigitnya. Bibirnya yang bergincu merah muda sedikit terbuka, sehingga giginya yang putih bersih terlihat indah. Matanya yang kebiru-biruan menebarkan jala kesejukan kepada setiap pengguna jalan yang kebetulan melihat papan reklame tersebut. Sosok manis itu merupakan model dari sebuah iklan lemari pendingin, dengan maksud menyampaikan bahwa makanan yang disimpan dalam lemari pendingin itu, akan tetap segar seperti buah apel yang dipegangnya.
            Gambar gadis dalam papan reklame tersebut menjadi penawar lelah para pedagang kaki lima di sekitar jembatan penyebrangan. Pedagang yang selalu diliputi serba salah sebab mereka berjualan tepat di atas trotoar. Di satu sisi mereka sadar telah merampas hak para pejalan kaki, di sisi lain kebutuhan hidup tak bisa ditawar, dapur mesti ngebul. Di sebelah kanan jalan berderet para penjualan pakaian. Sementara di sisi kiri para pedagang makanan dan buah-buahan menjajakan dagangannya.
            Tidak seperti iklan-iklan atau baligo kampanye pilkada yang pernah terpasang sebelumnya. Iklan lemari pendingin dengan sosok gadis manis bermata kebiruan itu, dipajang lebih dari 100 hari, padahal biasanya paling lama bertahan tiga minggu. Seiring berjalannya waktu, pedagang di sekitar jembatan penyebrangan itu merasa akrab dengan sosok gadis pada pada papan reklame tersebut. Rozali, seorang pedagang buah-buahan, setiap pagi senantiasa melemparkan senyum kepada  gadis di papan reklame tersebut. Sementara itu, Ikram seorang pedagang pakaian dalam, kerap melakukan hal yang lebih parah, sebelum menggelar dagangannya dia selalu melakukan sikap hormat kepada gadis itu, seperti pada saat upacara bendera. Gadis pada papan reklame tersebut sudah menjadi keluarga sendiri, jika sehari tidak menyapanya, rasanya ada yang kurang.
Gendis seorang pedagang aksesoris pernah berkata, setelah papan reklame itu dipasang, barang daganganya lebih laris dari biasanya. Gadis tersebut seolah memberikan keberuntungan. Hal tersebut membuat Pak Gandi gemes dan selalu mengingatkan bahwa hal tersebut adalah syirik kecil, meski di dalam hatinya sempat terbersit hal yang sama bahwa dagangannya juga ikut laris setelah papan reklame itu terpasang, namun dia tidak mau mengungkapkannya dan lebih bersikap rasional.
Sempat beberapa kali pihak terkait hendak mencopot gambar pada papan reklame tersebut dengan alasan waktu sewa telah habis. Namun layaknya seseorang yang sedang dihipnotis, mereka urung melakukannya dan kembali turun dari papan tersebut. Gadis pada papan reklame itu mengandung daya sihir yang luar biasa. Semakin hari bibirnya yang bergincu merah muda tampak lebih manis, giginya yang putih tampak makin berkilau, demikian juga dengan matanya yang kebiru-biruan memberi kesejukan bagi siapa saja yang melihatnya.  Para tukang ojeg online, senang menepikan motornya di pinggir jalan tidak jauh dari papan reklame tersebut, sambil menunggu orderan yang masuk lewat gawainya, mereka kerap melakukan swafoto dengan latar gadis yang sedang memegang buah apel itu.
***
Waktu berjalan teratur, bulan berganti bulan, gadis manis pada papan reklame masih terlihat manis, sejuk dan menyejukan. Namun para pedagang, para pengguna jalan maupun tukang ojeg online mulai acuh tidak mempedulikannya lagi, mereka menjalani hidup seperti biasa. Hingga pada suatu pagi, Rozali dikagetkan dengan hal yang aneh dari papan reklame tersebut. Gadis pada papan reklame itu mengeluarkan airmata, awalnya hanya beberapa tetes namun makin siang semakin menderas, mengucur ke tengah jalan. Pengendara yang melintas terpaksa berjalan ke pinggir demi menghindari kucuran airmata sang gadis. Para pedagang bergerombol di bawah papan reklame, demikian dengan para pejalan kaki maupun tukang ojeg online, mereka terheran-heran melihat peristiwa ajaib tersebut.
Akibat kecanggihan media sosial, berita tentang airmata dari papan reklame menyebar dengan cepat. Masyarakat yang penasaran silih berganti berdatangan, memastikan kebenaran berita yang beredar. Ada juga yang memanfaatkannya untuk swafoto dengan latar papan reklame yang mengeluarkan airmata. Guna melancarkan arus lalu-lintas, pihak terkait dibantu para pedagang membuat saluran pipa guna mengalirkan airmata agar tidak mengucur ke tengah jalan, mengalirkannya lewat samping reklame.
“Asin, airnya asin mirip airmata sungguhan.” ungkap Ikram yang ikut membantu memasang pipa.
“Ya, betul ini mirip airmata sungguhan, aneh tapi nyata” sahut Rozali sambil menadah airmata ke dalam botol plastik yang rencananya mau dibawa ke rumah.
Setelah dialirkan melalui pipa, arus lalu lintas kembali lancar, kegiatan jual beli di sekitar jembatan penyebrangan kembali normal. Namun orang-orang yang penasaran dari hari ke hari makin membludak, bahkan ada yang sengaja datang dari luar kota dengan membawa beberapa jerigen kosong. Mereka percaya bahwa airmata dari papan reklame tersebut mengandung keberkahan. Hampir tiap hari media dalam negeri silih berganti meliput kejadian luar biasa tersebut, hingga viral ke luar negeri. Sebenarnya pihak terkait berniat membongkarnya demi mengendalikan situasi, namun tiap kali hendak mencopot gambar tersebut , para pekerja kembali  seperti dihipnotis dan urung menurunkannya.
“ Percaya tak percaya, setelah berita gadis pada papan reklame itu viral, daganganku tiap hari laris manis” ungkap Rozali
“ Ya, pakaian dalam yang aku jual juga, tiap hari laku keras, tuh lihat, siang ini tinggal beberapa potong lagi” sahut Irkam
“ Apa kata saya juga,  Gadis pada papan itu membawa keberuntungan. Sungguh luar biasa, dagangan saya juga selalu sold out ungkap Gendis dengan nada sedikit centil.  
Sementara Pak Gandi, lelaki paruh baya yang sudah sepuluh tahun berjualan mie ayam di sekitar jembatan penyebrangan itu, hanya duduk termanggu, menatap gadis pada papan reklame tersebut, sambil mengamati keluarnya air dari sudut mata sang gadis. Dia masih tidak percaya, tapi dia juga merasakan hal yang sama, setelah papan reklame itu dipasang, dagangannya senantiasa laris. Apalagi telah beritanya viral dan mengundang banyak orang datang ke sana, dia bisa untung dua kali lipat. Namun pak Gandi masih bisa menahan diri, tiap kali terbersit pikiran itu, dia langsung istigfar memohon ampun, dan kembali memantapkan hati bahwa semua yang terjadi adalah rejeki dari yang Maha Kuasa.
***
            Tiga bulan berlalu, berita seorang gadis pada papan reklame yang mengeluarkan airmata menjadi basi. Suasana di sekitar jembatan penyebrangan kembali seperti semula. Tak ada lagi hiruk-pikuk warga yang ingin melihat peristiwa ajaib itu, tukang ojeg online jarang mangkal lagi  di area bawah jembatan. Pedagang mengeluhkan penurunan omset, biasanya tiap hari bisa soldout , sekarang untuk menjual beberapa potongpun, susahnya luar biasa.
            “Makanya jangan percaya tahayul, jangan percaya bahwa papan reklame itu memberikan keberuntungan, buang jauh-jauh pikiran itu. Rejeki diatur sama Yang Maha Kuasa.” Ungkap Pak Gandi kepada rekan-rekan pedagang di bawah jembatan penyebrangan yang kebetulan pada siang itu sedang berkumpul.
            Rojali, Ikram serta Gendis mengangguk pelan, seolah mengerti dan membenarkan apa yang Pak Gandi ungkapkan.
            “Lihat-lihat, lihat gadis pada papan reklame itu....” kata Udad seorang pedagang gorengan membuyarkan suasana.
            Semua pedagang berhamburan untuk melihat gadis pada papan reklame itu. Airmata gadis itu berubah merah, ya, gadis itu mengeluarkan airmata darah. Semua pedagang tertegun. Beberapa pejalan kaki menghentikan langkahnya, para pengendara menepikan kendaraanya, semua terpaku menatap peristiwa aneh yang kembali terulang.
            Rojali, Ikram dan Gendis saling tatap satu sama lain. Mereka tersenyum ceria. Besok lusa dagangannya pasti soldout  kembali.


2019





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...