Pada awalnya
tidak ada yang aneh dengan papan reklame yang menutupi muka sebuah jembatan
penyebrangan itu, semua baik-baik saja seperti papan reklame pada umumnya.
Lebarnya hampir sama dengan lebar jalan yang berada di bawahnya, sementara tingginya
kurang lebih 3 meter, dari jauh papan reklame
itu bisa terlihat jelas. Secara berkala gambar yang terpasang pada papan tersebut diganti sama pihak terkait,
tergantung berapa lama pihak yang berkepentingan menyewa papan tersebut. Ada
yang menyewa sebagai tempat iklan, ada juga yang memanfaatkannya sebagai sarana
kampanye ketika musim pilkada tiba. Sementara pemerintah menggunakan papan reklame
tersebut sebagai sarana menyampaikan informasi penting bagi warganya.
Pada
papan reklame tersebut tampak gambar seorang gadis sedang memegang sebuah apel
merah dan seperti hendak menggigitnya. Bibirnya yang bergincu merah muda
sedikit terbuka, sehingga giginya yang putih bersih terlihat indah. Matanya
yang kebiru-biruan menebarkan jala kesejukan kepada setiap pengguna jalan yang
kebetulan melihat papan reklame tersebut. Sosok manis itu merupakan model dari sebuah
iklan lemari pendingin, dengan maksud menyampaikan bahwa makanan yang disimpan
dalam lemari pendingin itu, akan tetap segar seperti buah apel yang
dipegangnya.
Gambar
gadis dalam papan reklame tersebut menjadi penawar lelah para pedagang kaki
lima di sekitar jembatan penyebrangan. Pedagang yang selalu diliputi serba
salah sebab mereka berjualan tepat di atas trotoar. Di satu sisi mereka sadar
telah merampas hak para pejalan kaki, di sisi lain kebutuhan hidup tak bisa
ditawar, dapur mesti ngebul. Di sebelah kanan jalan berderet para
penjualan pakaian. Sementara di sisi kiri para pedagang makanan dan buah-buahan
menjajakan dagangannya.
Tidak
seperti iklan-iklan atau baligo kampanye pilkada yang pernah terpasang sebelumnya.
Iklan lemari pendingin dengan sosok gadis manis bermata kebiruan itu, dipajang
lebih dari 100 hari, padahal biasanya paling lama bertahan tiga minggu. Seiring
berjalannya waktu, pedagang di sekitar jembatan penyebrangan itu merasa akrab
dengan sosok gadis pada pada papan reklame tersebut. Rozali, seorang pedagang
buah-buahan, setiap pagi senantiasa melemparkan senyum kepada gadis di papan reklame tersebut. Sementara
itu, Ikram seorang pedagang pakaian dalam, kerap melakukan hal yang lebih parah,
sebelum menggelar dagangannya dia selalu melakukan sikap hormat kepada gadis
itu, seperti pada saat upacara bendera. Gadis pada papan reklame tersebut sudah
menjadi keluarga sendiri, jika sehari tidak menyapanya, rasanya ada yang
kurang.
Gendis seorang
pedagang aksesoris pernah berkata, setelah papan reklame itu dipasang, barang
daganganya lebih laris dari biasanya. Gadis tersebut seolah memberikan
keberuntungan. Hal tersebut membuat Pak Gandi gemes dan selalu mengingatkan bahwa
hal tersebut adalah syirik kecil, meski di dalam hatinya sempat
terbersit hal yang sama bahwa dagangannya juga ikut laris setelah papan reklame
itu terpasang, namun dia tidak mau mengungkapkannya dan lebih bersikap
rasional.
Sempat beberapa
kali pihak terkait hendak mencopot gambar pada papan reklame tersebut dengan
alasan waktu sewa telah habis. Namun layaknya seseorang yang sedang dihipnotis,
mereka urung melakukannya dan kembali turun dari papan tersebut. Gadis pada
papan reklame itu mengandung daya sihir yang luar biasa. Semakin hari bibirnya
yang bergincu merah muda tampak lebih manis, giginya yang putih tampak makin
berkilau, demikian juga dengan matanya yang kebiru-biruan memberi kesejukan
bagi siapa saja yang melihatnya. Para
tukang ojeg online, senang menepikan motornya di pinggir jalan tidak
jauh dari papan reklame tersebut, sambil menunggu orderan yang masuk lewat
gawainya, mereka kerap melakukan swafoto dengan latar gadis yang sedang
memegang buah apel itu.
***
Waktu berjalan
teratur, bulan berganti bulan, gadis manis pada papan reklame masih terlihat
manis, sejuk dan menyejukan. Namun para pedagang, para pengguna jalan maupun
tukang ojeg online mulai acuh tidak mempedulikannya lagi, mereka
menjalani hidup seperti biasa. Hingga pada suatu pagi, Rozali dikagetkan dengan
hal yang aneh dari papan reklame tersebut. Gadis pada papan reklame itu
mengeluarkan airmata, awalnya hanya beberapa tetes namun makin siang semakin
menderas, mengucur ke tengah jalan. Pengendara yang melintas terpaksa berjalan
ke pinggir demi menghindari kucuran airmata sang gadis. Para pedagang
bergerombol di bawah papan reklame, demikian dengan para pejalan kaki maupun
tukang ojeg online, mereka terheran-heran melihat peristiwa ajaib
tersebut.
Akibat
kecanggihan media sosial, berita tentang airmata dari papan reklame menyebar
dengan cepat. Masyarakat yang penasaran silih berganti berdatangan, memastikan
kebenaran berita yang beredar. Ada juga yang memanfaatkannya untuk swafoto
dengan latar papan reklame yang mengeluarkan airmata. Guna melancarkan arus
lalu-lintas, pihak terkait dibantu para pedagang membuat saluran pipa guna mengalirkan
airmata agar tidak mengucur ke tengah jalan, mengalirkannya lewat samping
reklame.
“Asin, airnya
asin mirip airmata sungguhan.” ungkap Ikram yang ikut membantu memasang pipa.
“Ya, betul ini
mirip airmata sungguhan, aneh tapi nyata” sahut Rozali sambil menadah airmata
ke dalam botol plastik yang rencananya mau dibawa ke rumah.
Setelah
dialirkan melalui pipa, arus lalu lintas kembali lancar, kegiatan jual beli di sekitar
jembatan penyebrangan kembali normal. Namun orang-orang yang penasaran dari
hari ke hari makin membludak, bahkan ada yang sengaja datang dari luar kota
dengan membawa beberapa jerigen kosong. Mereka percaya bahwa airmata dari papan
reklame tersebut mengandung keberkahan. Hampir tiap hari media dalam negeri
silih berganti meliput kejadian luar biasa tersebut, hingga viral ke luar
negeri. Sebenarnya pihak terkait berniat membongkarnya demi mengendalikan
situasi, namun tiap kali hendak mencopot gambar tersebut , para pekerja
kembali seperti dihipnotis dan urung
menurunkannya.
“ Percaya tak
percaya, setelah berita gadis pada papan reklame itu viral, daganganku tiap
hari laris manis” ungkap Rozali
“ Ya, pakaian
dalam yang aku jual juga, tiap hari laku keras, tuh lihat, siang ini tinggal
beberapa potong lagi” sahut Irkam
“ Apa kata saya
juga, Gadis pada papan itu membawa
keberuntungan. Sungguh luar biasa, dagangan saya juga selalu sold out” ungkap Gendis dengan nada sedikit centil.
Sementara Pak
Gandi, lelaki paruh baya yang sudah sepuluh tahun berjualan mie ayam di sekitar
jembatan penyebrangan itu, hanya duduk termanggu, menatap gadis pada papan
reklame tersebut, sambil mengamati keluarnya air dari sudut mata sang gadis.
Dia masih tidak percaya, tapi dia juga merasakan hal yang sama, setelah papan
reklame itu dipasang, dagangannya senantiasa laris. Apalagi telah beritanya
viral dan mengundang banyak orang datang ke sana, dia bisa untung dua kali
lipat. Namun pak Gandi masih bisa menahan diri, tiap kali terbersit pikiran
itu, dia langsung istigfar memohon ampun, dan kembali memantapkan hati
bahwa semua yang terjadi adalah rejeki dari yang Maha Kuasa.
***
Tiga
bulan berlalu, berita seorang gadis pada papan reklame yang mengeluarkan
airmata menjadi basi. Suasana di sekitar jembatan penyebrangan kembali seperti
semula. Tak ada lagi hiruk-pikuk warga yang ingin melihat peristiwa ajaib itu,
tukang ojeg online jarang mangkal lagi di area bawah jembatan. Pedagang mengeluhkan
penurunan omset, biasanya tiap hari bisa soldout , sekarang untuk
menjual beberapa potongpun, susahnya luar biasa.
“Makanya
jangan percaya tahayul, jangan percaya bahwa papan reklame itu memberikan
keberuntungan, buang jauh-jauh pikiran itu. Rejeki diatur sama Yang Maha
Kuasa.” Ungkap Pak Gandi kepada rekan-rekan pedagang di bawah jembatan
penyebrangan yang kebetulan pada siang itu sedang berkumpul.
Rojali,
Ikram serta Gendis mengangguk pelan, seolah mengerti dan membenarkan apa yang
Pak Gandi ungkapkan.
“Lihat-lihat,
lihat gadis pada papan reklame itu....” kata Udad seorang pedagang gorengan
membuyarkan suasana.
Semua
pedagang berhamburan untuk melihat gadis pada papan reklame itu. Airmata gadis
itu berubah merah, ya, gadis itu mengeluarkan airmata darah. Semua pedagang
tertegun. Beberapa pejalan kaki menghentikan langkahnya, para pengendara
menepikan kendaraanya, semua terpaku menatap peristiwa aneh yang kembali
terulang.
Rojali,
Ikram dan Gendis saling tatap satu sama lain. Mereka tersenyum ceria. Besok
lusa dagangannya pasti soldout kembali.
2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar