Variasi Malam
Malampun berjantung,
dentumannya lebih kencang dari deru jantungmu.
Getarannya lebih terasa, bahkan
cenderung tergesa.
Sementara kita masih menggauli
puing-puing ragu dalam raga
Yang seharusnya kita tinggalkan ketika
ikatan mula menghiba.
Malampun berjantung, bahkan detaknya
lebih kacau tak beraturan.
Dingin mencekam, cahaya temaram
seperti membunuh dirinya sendiri.
Sementara kita masih bergulat tak
tentu, mencoba mengukur nasib
Menikam waktu.
2020
DI HALAMAN ASING
Akhir-akhir ini, kita semakin
tersesat serta lupa jalan pulang
Rumah, yang berabad-abad kita huni
dengan mudah kita tinggalkan,
Dalam keadaan jendela terbuka dan pintu tidak terkunci
Akhir-akhir ini, kita kerap
mengira-ngira
halaman lain lebih terang dari
matahari
Padahal bukan tidak mungkin kita
dihadapkan dengan hujan
Maupun badai
Akhir-akhir ini kita terlalu larut
dalam batin kata, yang tak mampu kita cerna
Sementara tiang-tiang rumah, kita
biarkan keropos begitu saja
Dinding-dinding mengelupas,
noda-noda dibiarkan mengeras pada kaca dan teras.
Bukankah kenangan kita ada di sana?
Bukan di jalan ini, bukan di halaman
asing ini?
2019
Selamat siang
Izinkan aku mengetuk pintu purbamu
Menyelami musim sunyi yang mustahil
tersentuh
Berilah restu untuk menyatu dengan
udara masa silammu
Dimana sajak demi sajak, serta
mantra kematian
Saling melengkapi
Menaruh jejak di batu, jembatan
menuju nirwana
OKTOBER 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar