Kamis, 29 September 2011

PATUNG NENEK MOYANG DARI CIWIDEY

Selain sebagai kota kuliner serta fashion. Bandung juga bisa disebut kota museum karena Bandung memiliki beberapa museum yang sangat menarik untuk dikunjungi. Terutama bagi para pengunjung yang berwisata sejarah. Salah satu museum terkenal di Bandung adalah Museum Sri Baduga. Letaknya tepat di seberang monument Bandung lautan api, Tegalega. Museum yang diresmikan pada tanggal 5 Juni 1980 ini menyimpan berbagai koleksi benda sejarah, mulai dari jaman prasejarah hingga masa sekarang. Tercatat ada 6503 buah benda yang tersimpan di museum yang menggunakan nama Raja Padjajaran dulu ini. Adapun benda-benda tersebut dibagi menjadi beberapa jenis sesuai ilmunya yaitu Geologi, biologi, etnografi, arkeologi, historika, numismatika, filolofika, keramologika dan seni rupa.

Jika kita berkunjung ke Museum Sri Baduga, di halaman depan kita langsung disuguhi beberapa buah reflika Prasasti, salah satunya prasasti peninggalan Raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara. Prasasti Ciaruteun dan prasasti kaki gajah. Saat masuk ke ruang utama, kita langsung disuguhi benda-benda dari masa prasejarah, tulang belulang, miniatur gua pawon. Dari sebelah kanan ruangan kita bisa mengamati berbagai arca diantaranya Gagajahan, Yantra, Votive Tablet, Kepala Budha, Ganesha, Padmaphani, Parwati, Genta Kamandatu, Siwa, Agastya, Siwa Mahadewa. Di tengah kita bisa melihat tengkorak manusia purba. Sementara di sebelah kiri ruangan kita bisa melihat Patung nenek Moyang yang berasal dari Ciwidey (sebagai warga Ciwidey, saya cukup terkejut dengan koleksi Sri Baduga yang satu ini), kemudian patung yang ditemukan di Cikapundung, Argasurya yang ditemukan di Cirebon serta patung yang ditemukan di Citatah.

Lebih ke dalam lagi, kita langsung disuguhi berbagai reflika hewan khas Jawabarat salahsatuhnya Harimau, fosil-fosil binatang seperti babi hutan, rusa dan binatang lainnya. Yang tak kalah menarik adalah Miniatur Cekungan Bandung (ada kecamatan Ciwidey juga pada Miniatur ini). Dari ruangan ini, kita melangkah sedikit ke ruangan lainnya yang menyuguhkan Reflika Kereta Kencana PAKSINAGALIMAN dari kesultanan Cirebon.

Sementara di lantai dua kita bisa melihat patung serta fhoto tentang keberagaman agama di Indonesia, ada fhoto gereja kuno yang ada di Bandung, patung seotrang ibu yang sedang mengaji serta fhoto vihara. Di ruangan ini juga tersimpan naskah-naskah kuno yang sangat cocok untuk diteliti oleh pengunjung yang suka akan filologi. Ada koleksi alat-alat pertanian, alat menangkap ikan, busana-busana tradisional Jawa Barat dari dulu hingga sekarang. Ada koleksi uang kuno, alat pengukur , timbangan, gamelan serta angklung yang sangat besar, Di lantai dua juga kita bisa melihat patung-patung proses pembuatan kerajinan tangan, seperti membuat perkakas, membatik dan membuat kerajinan tanah liat. Di lantai ini juga ada miniatur bentuk-bentuk rumah tradisional Jawa Barat seperti Julang ngpak dan Badak Heuay.

Jadi tak ada salahnya kita mnyempatkan waktu untuk menimba ilmu ke museum ini. Biayanya murah, untuk dewasa hanya 2500, semenatar untuk anak sekolah cukup 1500.
Museum Sri Baduga buka setiap hari senin sampai jumat dari jam 08.00 sampai 15.30 sementara pada hari sabtu-minggu dari jam 8.00 sampai 14.00.

Yu ah kita ke Museum



RIAN IBAYANA
28 SEPTEMBER 2011

Rabu, 14 September 2011

Pusat Konservasi Primata Jawa

http://sains.kompas.com/read/2011/09/13/15135978/Jadi.Relawan.Pusat.Konservasi.Mau


BANDUNG, KOMPAS.com- Pusat Konservasi Primata Jawa yang diresmikan Selasa (13//20119), bakal menjadi salah satu sumber referensi maupun studi mengenai primata endemis pulau Jawa. Namun, kita tidak cuma hanya bisa datang dan belajar melainkan bergabung menjadi relawan.

Kesempatan itu diungkapkan salah satu staf pengelola pusat konservasi, Sigit Ibrahim. Pihaknya membuka kesempatan seluasnya bagi lulusan SMA atau universitas yang ingin mendapat pengalaman dengan bergabung sebagai relawan.

"Jadwalnya bisa diatur secara bergantian. Setiap kelompok terdiri dari empat orang," kata Sigit.

Saat ini terdapat 20 relawan yang bergabung dengan Pusat Konservasi Primata Jawa yang bekerja tanpa imbalan. Tugas mereka mulai dari membantu memberi makan hingga pengamatan harian untuk 10 primata yang ada di sana.

Salah satu relawan bernama Ryan Ibayana mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya merupakan warga sekitar di Kecamatan Rancabali maupun Ciwidey. Ada yang sudah lulus sekolah dan berharap mendapat pengalaman dengan bekerja di sana.

"Ada juga yang masih sekolah dan sengaja meminta izin tidak masuk untuk menjadi panitia dalam acara pembukaan," kata Ryan.

Relawan lain bernama Yadi Supriyadi menjelaskan, bukan uang yang mereka cari dengan bergabung sebagai relawan. Salah satu harapan memang nantinya bisa dilibatkan dalam proyek konservasi tapi yang paling utama adalah menimba ilmu agar nantinya bisa dimanfaatkan di daerah asal.

Sabtu, 30 Juli 2011

SEPI

SEPI

Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau
lebih mengetahui titik waktu yang buntu.
Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.
Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,
saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.
Sepi menyelinap saat bulan bercadar
dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.

2011

Jumat, 17 Juni 2011

MENJAHIT TANGAN SENDIRI

Aku sedang menjahit ketika udara kelabu itu
menggumpal berputar-putar melebihi deras jarum jam.
Aku masih menjahit ketika dadaku bertabuh keras
melebihi bedug di malam lebaran
ketika udara kelabu itu, jatuh pada catatanmu yang tajam.
Tentang ikatan.

Lantas lampu padam, listrik terputus

Listrik masih padam, ketika kukentalkan musyawarah
kulugaskan harapan.
Tentang catatanmu.

Listrik masih padam
ketika dada bertabuh lebih keras lagi
darah melaju lebih deras
ketika rindu mesti kukandaskan.

Listrik mengalir kembali.
Dan aku menjahit tangan sendiri.



MEI 2011

Sabtu, 04 Juni 2011

APA YANG MESTI DIHADAPKAN

Apa yang mesti dihadapkan dari sungai kering kepada muara?
Selain bebatuan tua atau sisa sampah yang mulai kerontang.
Semacam degup jantung telah berdegup berulang-ulang.
Saat kalender alam berbicara, mengisyaratkan abad yan telah jauh menggeliat.
Menuju pusat, ujung dari harap seikat niat.

Apa yang mesti dihadapkan dari sungai kering kepada muara?
Selain desir udara yang sama keringnya.
Ini terlalu pagi, jalan hujan belumlah tampak.
Sementara laju darah semakian panas,
dari dada menuju kepala.

Apa yang mesti dihadapkan
apa yang mesti disembahkan?


2011

Rabu, 27 April 2011

YOANA KARANADES (CERPEN)

Cahaya senja pecah di kening aspal hitam, juga pecah di wajah dedaunan yang kering kerontang karena di bakar kemarau panjang. Cahaya keemasan merambat halus di angin dan mengalir di gaung sunyi. Untuk kesekian kalinya gadis kecil berambut pirang berjalan melintasi jembatan ini, jembatan tua di tengah kota yang penuh sejarah. Cahaya senja jatuh pula pada rambutnya, menghasilkan pantulan warna yang menyilaukan, namun indah dipandang.

Seorang ibu dengan rambut sedikit pirang setia menemani kemana gadis itu melangkah, dia menggenggam tangannya dengan erat. Semula tak ada yang istimewa dari kehadirannya, aku memanggapnya tak lebih dari sebuah kesunyian, sebuah bayangan kosong. Namun paradigmaku berubah secara tiba-tiba, manakala aku menemukan sebuah gudang sejarah dari sorot matanya.

Senja itu, seperti biasanya aku menikmati sunyi di pinggir jembatan tua ini. Sebelumnya, gadis pirang itu, hanya berjalan sebagaimana para pejalan kaki lainnya. Namun berbeda dengan senja itu, dia menatapku tajam. Binar matanya memancarkan cahaya biru tua, cahaya yang sangat kukenali. Namun aku sulit menyimpulkan kapan dan dimana aku kenal dengan cahaya tersebut. Sorot matanya menyisakan ribuan rahasia. Dia menatapku sambil berjalan hingga ke ujung jembatan dan kemudian lenyap di persimpangan.

Sorot matanya aku rekam dalam benak terdalam, lantas aku berusaha sebisa mungkin untuk menyelami rahasia yang tersimpan disana. Ada misteri yang mesti depecahkan. Kalau tidak segera terungkap, misteri ini akan menggunung, akibatnya paling tidak aku akan sulit tidur. Hampir setiap senja tiba semenjak senja itu, aku berusaha mencuri sinar matanya. Kebetulan sepertinya dia tak merasa keberatan jika sinar matanya aku curi. Buktinya dia menatapku dengan tajam pula.

Berhari-hari aku merenung di pinggir jembatan ini, jalanan ramai terasa sunyi, derasnya aliran sungai menjadi aliran sepi, deru angin yang berkibar di sekitarku menambah hening. Perlahan-lahan rahasia itu mulai terungkap. Dari binar matanya kau menemukan hamparan laut biru yang bersipandang dengan langit yang berwarna biru juga. Angin sepoi-sepoi, ombak berdebur perlahan-lahan memecah karang. Ada harmoni alam yang merdu, aku meyakini bahwa lautan itu adalah hamparan laut Agean di Yunani. Untuk semntara hanya sampai laut Agean rahasia itu terbuka.

Aktivitas merekam binar matanya menjadi sebuah rutinitas yang wajib dilaksanakan setiap hari. Lantas aku menyelam di dalam biru lautnya, mencari pecahan-pecahan sejarah dan misteri yang mungkin karam disana. Hingga aku berhenti di sebuah kota kecil di pinggiran laut Agean yaitu Ionia. Di kota Ionia aku menemukan Homerus sedang merenung panjang, disana Homerus seperti dilanda kebingungan, seperti kehabisan inspirasi untuk menulis. Illiad dan Odisey telah menguras habis pikirannya. Homerus hanya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia tak mampu menulis lagi.

Gadis kecil berambut pirang dan bermata biru Agean senantiasa melewati jembatan ini. Namun aku tak sempat memikirkan darimana dan hendak kemana dia pergi. Seperti biasa pula dia ditemani ibunya yang semakin hari semakin senja dimakan usia. Begitupun dengan gadis pirang itu, semakin hari semakin dewasa dan binar matanya semakin indah, memancarkan cahaya biru yang menggairahkan. Cahaya senja senantiasa jatuh pada rambutnya, menghasilkan cahaya keemasan yang berkilau.

Setelah kuselami lebih dalam lagi sorot matanya, aku menemukan seorang kakek yang sedang menikmati desiran sunyi di atap sebuah gedung perguruan tinggi di jantung Yunani, Athena. Aku meyakini bahwa kakek itu adalah Plato sang pemikir. Sebagaimana Homerus, Plato juga merenung tanpa henti, memikirkan hal-hal baru yang bermanfaat bagi orang banyak. Namun dia tidak menemukan hal-hal baru tersebut. Hasil pemikirannya sudah terlalu banyak dan diikuti oleh murid-muridnya. Aku meyimpulkan bahwa Plato sedang kebingungan juga.

Gadis pirang bermata biru tak berhenti menatap tajam mataku, menyajikan sebuah misteri yang wajib diungkap, aku harus kerja keras mencerna biru matanya, seperti para pemikir-pemikir terdahulu. Aku harus menyimpulkan materi-materi terbaru dari matanya. Gadis berambut pirang itu, menjadi medan magnet yang menarik hal-hal di sekitarnya. Binar matanya mengandung gaya gravitasi yang kuat sehingga aku jatuh kedalamnya. Meskipun kita saling menatap, aku tak pernah mendengar dia berbicara walau hanya sepatah kata.

Berturut-turut dari matanya aku menemukan Aristoteles yang bingung kehabisan ide-ide baru. Aku menemukan Alexander The Great yang sedang kebingungan pula, dia merenungkan negara mana lagi yang mesti dia taklukan. Aku menemukan Euclides, Archimedes, Socrates dan Ilmuan-ilmuan lainnya yang sedang merenung menelan rasa bingung. Pikiran mereka semua berhenti di jalan buntu.

Dari binar matanya, aku bisa menarik garis lurus sebagai kesimpulan. Bahwa gadis berambut pirang itu berasal dari Yunani, bersayap Athena, bernafas sepoi angin Agean, berhati para Filosof, dan berdarah para Ilmuan. Namun ada hal yang belum terungkapkan dari matanya, aku menemukan sebuah peti tua yang sama sekali belum terbuka. Masih terkunci dan masih dililit oleh rantai besi. Aku berusaha menyelami kembali biru matanya, menyelami laut Agean, meminjam pikiran para filsuf dan para ilmuan. Aku menuangkan seluruh tenaga guna membuka peti tua tersebut. Akhirnya dengan segala kesungguhan, peti tua itu dapat kubuka pula. Semula aku tak percaya pada apa yang ada dalam peti tersebut. Aku menemukan sebuah layar kecil yang sedang menayangkan sebuah adegan. Seperti adegan dalam drama.

Dadaku sesak, mataku terasa perih melihat adegan-adegan itu. Ada sesosok gadis manis, rambutnya panjang, mempunyai lesung pipi yang indah. Gadis itu menjadi tokoh dalam tayangan itu, sosok yang sangat kukenali bahkan sangat dekat sekali. Dalam tayangannya, gadis manis itu sedang mengamuk di dalam kamar. Semua menjadi berantakan, cermin-cermin pecah di lempari asbak, kaca jendela pecah dipukul kayu, beling-beling berserakan. Gadis manis itu menangis penuh sesal. Tayangan itu diakhiri dengan adegan memecahkan sebuah bingkai Fhoto seorang lelaki. Yang tak lain itu dalah fhotoku sendiri. Gadis manis dalam tayangan tersebut adalah kekasihku yang pernah aku tinggalkan beberapa tahun kebelakang.

Dari tayang dalam binar matanya, aku baru menyadari bahwa gadis pirang yang selama ini menatapku tajam, adalah adik dari kekasihku yang pernah aku sia-siakan. Dadaku sesak, nafasku tersegal, darahku berhenti mengalir, teringat betapa bodohnya masa laluku. Kekasihku pernah menceritakan bahwa dia punya seorang adik dari bapak yang berbeda. Dari bapak yang berkebangsaan Yunani. Dan adiknya itu adalah Gadis Pirang Bermata biru yang selama ini kuselami sorot matanya. Sungguh aku tak percaya.

Setelah itu, aku sering hanyut dalam perenungan, dalam semedi panjang. Rasa bingung hinggap dalam benak terdalam, lebih bingung dari Homerus, Plato, Aristoteles, Archimedes, Alexander, Euclides, lebih bingung dari para pemikir dan para ilmuan. Dari hari ke hari aku lupa mengurus diri, hidup seadanya menjadi penghuni sunyi yang menetap di jembatan tua ini. Sementara itu gadis pirang bermata biru yang selama ini menatap tajam, menjadi berubah, dia hanya tertunduk jika melintasi jembatan yang aku huni.

" Sudahlah nak, jangan kau taruh dendam kepadanya jangan lagi kau tatap matanya, semua tak berarti. Dia sudah menerima kutukan Tuhan sehingga dia menjadi gila. Sebagai balasan karena telah menyia-nyiakan kakakmu sehingga kakakmu menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa yang baru saja kita datangi. Sudahlah nak, dia sudah Gila, dia sudah Gila...... " tutur ibunya dengan sorot mata yang lebih tajam.

Rian Ibayana

Agustus 2009

LEBIH DEKAT DENGAN GUNUNG PADANG CIWIDEY

GUNUNG PADANG, SITUS WISATA YANG TERSEMBUNYI.

Mendengar kata Ciwidey, yang terlintas dalam pikiran kita tidak akan jauh dari wisata. Terletak di bagian selatan Kabupaten Bandung, termasuk dataran tinggi yang sejuk dan menyajikan panorama yang indah. Terdapatan banyak objek wisata yang bisa dikunjungi, diantaranya Kawah Putih, Situ Patenggang, Rancawalini, Pemandian air panas Cimanggu serta panorama perkebunan teh Rancabali yang sangat eksotik. Setiap akhir pekan Ciwidey ramai dikunjungi para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Kadang kala kemacetan tidak dapat dihindarkan.

Sebenanrnya ada satu lagi objek wisata di Ciwidey yang tidak kalah indahnya. Namun karena letaknya tidak sejalur dengan objek wisata yang biasa dikunjungi di atas. Objek wisata ini seolah tersembunyi dan jarang dikunjungi. Objek wisata tersebut adalah Gunung Padang, sebuah situs budaya Sunda yang patut dilestarikan. Gunung Padang terletak di bagian selatan pusat kota Ciwidey. Jika ditempuh menggunakan kendaraan bermotor bisa ditempuh selama 45 menit sampai kaki Gunung dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 1 jam.

Menurut Pak Undang (52) yang merupakan juru kunci Gunung Padang generasi ke-6. Gunung Padang berasal dari dua kata yaitu Gunung yang mempunyai arti luhur. Serta Padang yang berarti terang. Jika disambungkan menjadi Luhur yang terang, yang menunjukan simbol keluhuran Tuhan. Penduduk sekitar juga biasa menyembutnya sebagai Nagara Padangataupun Gunung Panarangan.

Jalur menuju puncak Gunung Padang sudah umum sehingga mudah dilalui. Jarak antara kaki Gunung sampai ke Puncak kurang lebih 3 KM. Kita berjalan dimulai dari Desa Ciparigi, Kecamatan Ciwidey. Pada KM pertama kita akan disuguhi pohon-pohon pinus yang berjajar, penduduk sekitar biasanya mengambil getah pinus untuk dijual. Pada KM kedua sampai ke puncak kita akan disuguhi pemandangan langka yaitu, banyaknya bongkahan batu besar yang merupakan situs purbakala.

Menurut pak Undang juga, di Gunung Padang terdapat 42 kumpulan batu besar. Namun yang banyak dikunjungi ada 17 tempat. Ke 17 tempat tersebut bisa dijadikan simbol tahap kehidupan Manusia.
Dimulai dari Cikahuripan yang merupakan sumber air yang berasal dari perut bumi. Cikahuripan menjadi simbol pensucian diri sebelum kita melakukan sesuatu dalam kehidupan. Setelah melewati Cikahuripan, kita akan menemukan sebuah batu besar yang disebut Batu Lawang yang berarti penunjuk pintu masuk.

Kita berjalan kembali lebih tinggi, kita akan menemukan sebuah batu besar yang disebut Lawang Saketeng atau Kaca-kaca. Tempat ini menjadi simbol penentuan langkah dalam menjalani hidup. Aapakah kita akan melewati jalur kanan yang berarti ke arah kebaikan atau mau melangkah ke jalur kiri yang berarti keburukan. Lawang Saketeng menjadi simbolnya.

Setelah melewati Lawang Saketeng dan sudah memantapkan langkah, kita akan menemukan sebuah batu yang menumpuk dan membentuk sebuah gerbang sempit. Di tengahnya terdapat beberapa anak tangga. Batu tersebut bernama Palawangan Ibu yang menjadi simbol bahwa awal mula kita lahir adalah berasal dari Palawangan Ibu ( Vagina). Dari sinilah awal mula perjalanan hidup.

Tidak jauh dari Palwangan Ibu, kita akan menemui tumpukan batu besar kembali. Namun yang paling unik dari tempat ini adalah terdapat sebuah batu kecil yang memiliki bedak di atasnya. Tempat ini disebut Pupur Ibu atau Paibuan.Tempat ini sebagai simbol kasih sayang seorang ibu yang ikhlas merawat setelah kita lahir.

Dari Pupur Ibu, kemudian kita akan melewati Panyipuhan serta Kokoncoran (Pengujian). Kedua tempat ini merupakan simbol Pendidikan serta Ujian. Setelah kita dirawat, Ibu akan menyekolahkan kita dan dalam tahapannya, di sekolah kita akan menghadapi Ujian. Apakah kita akan lulus atau tidak.

Setelah mendapatkan ilmu serta lulus dalalm proses ujian. Kita harus bisa mempertanggung-jawabkan ilmu yang kita dapat. Apakah untuk kebaikan atau sebaliknya. Ini disimbolkan dengan Kaca Saadeg Yang berarti cermin tempat kita menentukan arah. Dari Kaca Saadeg kita berjalan menuju Gedong Peteng yang merupakan Ruang kegelapan yang merupakan tempat tafakur bagi kita untuk menghilangkan kegelapan dalam diri sehingga siap dalam menghadapi samudera kehidupan.

Selanjutnya kita berjalan ke Karaton. Sesuai namanya, Karaton merupakan simbol kedudukan, kewibawaan, keunggulan, kebijaksanaan yang merupakan hasil dari pencarian ilmu di dunia pendidikan.Dari karaton kita berjalan ke Kuta Runggu yang menjadi simbol keteguhan hati setelah mendapat kedudukan. Kuat dari godaan maupun bisikan-bisikan ke telinga kita.

Dari Kuta Rungu, barulah kita sampai ke Puncak Gunung Padang. Di sini terdapat banyak tempat di antaranya Masjid Agung, Korsi Gading, Tugu Prabu Siliwangi. Semuanya sebagai simbol keagungan Tuhan, tempat kita berserah diri dan menyemai kasih sayang kepada sesama. Apapun yang kita capai, keududukan, keunggulan maupun kewibawaan akan musnah seketika ketika kita melihat panorama alam dari puncak. Kita akan sadar bahwa kedudukan kita sangat kecil jika dibandingkan dengan Ciptaan-Nya.Di puncak Gunung Padang kita menjadi kerdil tiada daya.

Dari puncak Gunung Padang ini, kita bisa melihat jelas hamparan Waduk Saguling yang terletak di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat meskipun kadang tertutup kabut. Jika kita melihat ke Kanan dan ke kiri kita akan merasa kecil karena kita tak punya keunggulan apa-apa dibandingkan dengan ciptaan Tuhan.

Tempat terakhir adalah Puncak Manik.Puncak berarti luhur sedangkan Manik berarti intan atau Satu. Puncak manik menjadi simbol kembali kepada Yang Satu atau meninggal dunia. Demikianlah perjalanan menuju puncak Gunung Padang yang menajdi simbol tahapan kehidupan manusia.
***


Gunung Padang terletak pada ketinggian 1224 meter dari permuakaan laut. Gunung Padang berada di antara Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung dengan Kecamatan Cililin yang masuk ke Wilayah Bandung Barat. Namun kawasan hutannya berada di kawasan KPH Bandung Selatan, Perum Perhutani III Jawa Barat.

Menurut Pak Undang, selain menyajikan keindahan alam serta situs-situs purbakala. Khususnya penduduk Desa Parigi dan sekitarnya menyajikan wisata budaya berupa ritual yang biasa dilaksanakan satu tahun dua kali. Ini menjadi daya tarik lain sehingga para wisatwan mau berkunjung ke Gunung Padang. Kesenian yang Biasa ditampilkan adalah angklung, calung, karinding, reog, debus, bangkong reang, serta kesenian khas sunda lainnya. Pak Undang juga mengatakan bahwa memerlukan sebuah aula besar, sebagai tempat istirahat para wisatawan dan tempat pertunjukan seni.

Demikianlah Gunung Padang, sebuah situs wisata yang tersembunyi yang bisa dijadikan tempat alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke Ciwidey.




2010

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...