http://www.suarapembaruan.com/pages/e-paper/2011/06/19/
MENCURI KELAM
Mencuri kelam dari tubuhmu ayang udzur,
lebih menegangkan dibanding memanjat tebing.
Di pintu gerbangmu,
gelap gulita menyambut dengan sayap-sayap tua,
angin sepi merambat pada genting-genting berlumut.
Mencuri kelam dari tubuhmu yang renta,
memacu kesunyian yang telah lama terkubur di pemakaman.
Bangkit kembali seperti detik-detik hitam yang bergulir pada deras jam.
Nafasmu tiba-tiba berkibar memeluk jasadku.
Heningpun membatu.
2009
KERBAU TUA MEMBAJAK WAKTU
ini dingin kau tepis dengan seksama
kaki-kaki tua dibawa melangkah,
menjajah tanah,
kerbau-kerbau perkasa,
memutar balikan keadaan,
membajak waktu.
melewati tanah garapan
menyusuri dengan perlahan,
pada akhirnya,
kebenaran pula kau balikan.
kepada petani hening kau mengangguk,
menerpa bumi yang semakin bungkuk.
2009
KE KOTA LUKA
- tragedi Mumbay
Ke kota luka jarum kompas di tanganku
menembus jauh
mencatat peristiwa.
Tolong diam sejenak
biarkan hening berdenting
dan sesaat dunia menghentikan cumbu rayu.
Ke kota luka seluruh mata di giring.
Tolong catat dengan seksama
lukis dengan jelas, keabstrakan ini
tolong perjelas pula sisa-sisa semu di kanvasku.
Memang hidup dibawah ancaman
dan telah nyata pertumpahan.
Ke kota luka, kuperjelas langkah.
Ke kota luka jarum kompas mengarah
menunjuk rasa takut dan amis darah.
Tolong diam sejenak
biarkan hening berdenting
dan biarkan angin mengiring.
04 Desember 08
MEMBELAH MALAM
- Zidny Arfiarahman
Tak banyak kata yang kutemukan
saat roda mengantarkan kita membelah malam.
Tak ada kalimat yang lahir dari lampu-lampu pucat
yang disangga tiang berkarat.
Ada orang-orang malam, setia berbenah diri di trotoar jalan.
Sungguh aku tak menemukan kalimat apaapa dari mereka
hanya kelu, serupa mengecap karat kehidupan.
Muncul rasa iri
ketika melihat seorang pemulung dengan mudah menemukan
sampah maupun barang bekas.
Aku hanya gigil, melawan laju angin
tak kutemukan apa-apa dari jalan lenggang ini.
Bersama kita membelah malam.
Sampai sunyi benar-benar sunyi.
2011
KASIDAH WAKTU
- Rendra
Sejauh ini, hanya waktu
yang dapat kueja dari sayap-sayap si burungmerak
selebihnya masih abu-abu
baik lilin maupun obor belum aku nyalakan
jalan ini masih asing
aku tak tahu, kemana silir angin
membawanya pergi
aku tak paham, kemana keranda itu bertepi.
Sejauh ini, hanya waktu
yang dapat kupahami
dari jejak-jejak yang membekas di dada
yang menghujam dari tanggal-tanggal
dalam kalender purba
selebihnya masih samar
aku miskin pengalaman
aku tak tahu kemana arah cuaca
maupun kemana kangen ini menghiba.
2009