Sabtu, 22 Oktober 2011

SUARA MERDEKA 16 OKTOBER 2011

http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2011/10/16/index.shtml



JEMBATAN BIRU


Masih banyak yang perlu dilengkapi

sebelum moncong lokomotif mengoyak perjalanan.

Dan melarungkanmu ke jauh ruang.

Di atas jembatan biru berkarat, engkau membaca raut keriput seorang pengemis

seperti membaca waktu yang semakin dekat ke hilir takdir.

Matamu menerawang ke jauh batas, ke ujung rel yang hilang disekap asap.

Seperti berdoa.

Banyak petualangan yang terlewati dari sejuk langkah hingga nyeri

melayari langit kusam hingga pijar pelangi,

masih banyak yang perlu dilengkapi

sebelum bengis roda kereta melindas kita.

Masih banyak yang perlu dibangun, pilar serta tiang penyangga

sebelum tamat

sebagaimana jembatan biru yang habis oleh karat.

2011




ABAYAGHIRI VIHARA


Meneguk sejuk di istana batu, ajal sungguh terasa jauh

kalaupun dekat, jiwa telah siap untuk didekap.

Damai tiada terlukiskan, kisi-kisi bumi memadu dengan legit langit

berbuah tentram.

Ketenangan demi ketenangan tertata rapi

seperti batu-batu dingin yang dihimpun lantas dibentuk.

Sungguh, sepoi kedamaian menyelinap ke dalam dada

memanjakan tajam pandangan, membasuh lusuh-lusuh jiwa.

Tak ada lagi yang perlu dicemaskan.

Dunia adalah fatamorgana.

2011



INGATAN


Tentang kalang-kalang di tanah lapang

hanya sebuah kenang.

Hidup serupa kelereng yang dihempas jari-jari takdir

melesat ke jauh

menuju titik peraduan.

Hanya dalam ingatan kisah-kisah debu

putaran-putaran kecil yang diiringi gelak tawa.

Waktu semakin menggelinding,

hidup serupa kelereng yang dihempas jari-jari takdir

menuju ujung untuk bertarung

hingga tercapai ruang kemenangan.

Dan, usia pun menggelincir ke gigir ruang

hari ini lengang tualang

esok lusa akan dikenang.

2010



RENGGANIS


Bahasa-bahasa telaga

kalimat airmata

ujung pencarian

rindu pecah di batu.

Patenggang 2011



KERAH BAJU


Keseimbangan,

dari ujung ke ujung

jarak dan garis tengah.

Menyisir perlahan

jejak yang telah dipola.

Keseimbangan,

hingga kancing dan lobang

erat mengikat.

2011



4 MENIT SEBELUM TENGAH MALAM


sepi masih menyarung

sementara cinta telah habis di warung

2011



PERTEMUAN KEDUA


Kita terbata-bata mengeja kata syurga

Mendalami bahasa angin yang berangsur-angsur lebih lurus

Peristiwa demi peristiwa dengan tekun meliris peristiwa baru

Kita tak tepetakkan lagi seperti debu disapu cuaca

Tentang nafas-nafas yang menghiba dari jauh

Atau kerling tajam yang siap menghujam

Hanya colekan kecil yang tak mampu menggetarkan menara peraduan.

Ini waktu menyatukan dua detak

Meski pada akhirnya kita terbata-bata mengeja kata surga.


28 SEPTEMBER 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...