Senin, 03 Juni 2019

CERPEN RIAN IBAYANA DI DENPASAR POST MINGGU 02 JUNI 2019


MARTIL PAMUNGKAS

Martil Terakhir
Matamu tampak memancarkan rona amarah tiap kali mengusap benda itu. Sebuah martil tua yang kau pajang di ruang tengah rumahmu. Martil yang berwajah dingin, legam seperti menyimpan dendam. Napasmu terlihat tidak beraturan lebih cepat dari biasanya ketika menurunkan benda itu ke atas meja, kau amati dengan seksama mulai dari kayu pegangan yang terbuat dari kayu rasamala  hingga bagian kepala martil tersebut. Kau memandangi benda itu dengan khusyu, seperti menyelami masa lalu.
            Setiap malam ke empat belas, ketika bulan bulat sempurna, kau senantiasa membersihkan martil itu, bahkan sifatnya menjadi wajib. Kau rajin melingkari tanggal-tanggal pada kalender yang bertepatan dengan bulan purnama dan kau haramkan orang-orang untuk bertamu jika malam sakral itu telah tiba. Sebenarnya tak ada yang menarik dengan martil yang kau manjakan itu, bentuknya sama dengan martil biasa dipakai oleh para pemecah batu. Namun caramu merawat benda itu membuatku tidak paham, kau seperti merawat amarah dan dendam yang ada pada benda itu.
            “Ini martil terakhir di keluarga kita” ungkapmu di sebuah malam purnama. Umurku baru tujuh tahun kala itu, belum mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Namun aku bisa melihat di sudut matammu tampak basah, seperti habis menangis. Kau menyuruhku memegang martil yang beratnya kira-kira 10 kilogram itu. “Peganglah, namun sampai akhir hidupmu jangan sekali-kali memegangnya lagi” suaramu lirih. Tanganmu yang sedikit kasar, mengarahkan tanganku ke arah benda dingin itu. “Martil ini warisan dari kakekmu, warisan paling berharga milik kita, setelah ini kamu jangan sekali-kali menyentuhnya lagi, berjanjilah, kita sudah hidup layak saat ini, sudah saatnya mengubur kerasnya masa lalu” .
            Selepas malam purnama itu, aku tidak pernah melihat airmatamu lagi. Matamu lebih sering memancarkan cahaya merah, seperti api. Sejak itu aku tidak berani mendekatimu ketika kamu melakukan ritual pembersihan martil, kau telah berubah.
Potret Usang
        Senja merah tembaga, kamu duduk di teras rumah, di hadapanmu ada sebuah koper hitam, sedikit berdebu. Kau menyuruhku duduk lebih dekat, kemudian tanganmu mengelus rambutku dengan manja, hal yang jarang kamu lakukan. Sebuah album foto berwarna merah hati kau keluarkan dari dalam koper tua itu kemudian menyuruhku membuka album itu lembar perlembar.
            “ Itu kakekmu” katamu sambil menunjuk sebuah potret lelaki tua menggunakan baju safari berdiri di depan sebuah helikopter. Potret hitam putih dengan sudut gambar yang sudah memudar. “Kata kakekmu, foto ini diambil ketika pemerintah mengadakan program pameran alusista di lapangan kecamatan, masyarakat kecil seperti kakek merasa senang sebab menjadi hiburan tersendiri, makanya kakekmu sengaja memakai baju paling bagus. Dan ikut berfoto di depan helikopter yang dipamerkan.” Kau tampak bersemangat menceritakan sosok di foto itu.
            Pada halaman kedua album tersebut , aku tak berani bertanya apa-apa, aku hanya diam melihat foto dua anak yang wajahnya tampak mirip, sepertinya anak kembar, atau kakak beradik yang usianya tidak berjauhan. Kedua anak itu duduk di tepi kolam, tampak habis berenang. Yang satu sedang tersenyum sambil mengangkat tangannya, sementara anak yang satu lagi tampak dingin dengan sorot mata kosong.
            “Ini bapak” katamu sambil menunjuk ke arah anak yang bermata kosong. Aku mengangguk pelan, tanpa memberikan tanggapan lebih. Kemudian tanganmu mengelus wajah anak yang sedang tersenyum pada potret usang itu. “Ini saudara kembar bapak” ungkapmu dengan bibir gemetar. Semenjak itu, aku tahu bahwa bapak mempunyai saudara kembar.

KEPERGIAN IBU
          Pernah suatu ketika aku bertanya soal ibu kepadamu, namun tamparanmu kala itu seakan mengunci mulutku hingga saat ini. Semenjak itu, pikiran tentang ibu seolah-olah lenyap, aku seakan tak peduli tentang ibu. Matamu yang memerah ketika pertanyaan itu aku lontarkan, seakan menyiratkan pesan amarah yang sangat dalam.
            Beberapa hari sebelum aku melemparkan pertanyaan tentang ibu, tanpa sengaja aku menemukan berkas-berkas tua di dalam laci lemari gudang. Entah berkas apa, namun di sana tedapat nama ibu, nama kamu, serta nama yang hampir mirip denganmu, mungkin itu saudara kembarmu. Nama kakek serta nama nenek yang menurut cerita dari suadara meninggal karena bocor jantung.
            “Jangan tanya-tanya lagi soal ibumu, dia sudah mati bersama kekasihnya yang lebih dulu mati.” Entah apa yang kau ungkapkan, pada saat itu aku belum mengerti dan sampai sekarang sama sekali tidak ingin mengerti. Sejak saat itu ketika ada teman atau tetangga yang bertanya soal ibu, aku selalu bilang bahwa ibuku adalah sebuah martil yang selalu disayangi bapak. Ibuku adalah sebuah benda tumpul yang selalu dimandikan setiap malam bulan purnama.

Rahasia
            Memasuki kamar rahasia itu adalah tindakan yang paling diharamkan, tak ada seorangpun yang boleh memasukinya termasuk aku, anakmu. Aku paham betul apa yang akan terjadi jika peraturan itu dilanggar. Entah apa yang ada di dalam kamar rahasia  itu, aku sama sekali tidak bisa menerka-nerka. Setiap hari kamar itu terkunci rapat hanya kamu yang mampu membuka kunci tersebut, bahkan apabila kamu keluar kota untuk urusan pekerjaan, kamar rahasia itu sampai dikunci ganda.
            Namun berbeda dengan malam itu, kamu tiba-tiba meninggalkan kamar dengan tergesa, pintunya dibiarkan terbuka. Tampak isi kamar sangat berantakan, lampu kamar berwarna hijau menambah angker suasana di dalamnya, wewangian aneh menyeruak ke luar kamar. Beberapa koran tampak tercecer di lantai bersama bunga-bungan yang sudah mengering kecoklatan. Entah apa yang biasa kamu lakukan di dalam kamar rahasia tersebut.
            Aku beranjak memasuki kamar rahasia tersebut, pada dinding kamar tampak terpasang foto-foto usang, ada foto seorang kakek yang sedang memecah batu, ada foto seorang ibu tua yang sedang duduk di dalam tenda, ada juga foto sepasang anak kembar yang berpose di antara batu-batu. Pada dinding bagian lain  ada foto pernikahan kamu dengan ibu, foto aku ketika masih bayi dan foto lain yang tidak kukenali.
            Namun yang paling menggetarkan dada adalah ketika aku membaca headline koran-koran yang tercecer di lantai, tampak dari titi mangsanya adalah koran lama yang terbit jauh sebelum aku dilahirkan.  Ada yang berjudul “Seorang Pemuda Dibunuh Saat Gerhana Matahari”. Kemudian di halaman koran yang lain ada berita utama dengan jjudul “Sadis, Pelaku Menggunakan Martil Untuk Membunuh”.

            Namun yang membuat hati ini lebih ngilu adalah ketika membaca Headline surat kabar yang bertitimangsa jauh dengan koran sebelumnya namun masih berkaitan. “Terungkap, Pelaku Pembunuhan Menggunakan Martil adalah Saudara Kembar Korban. Motif Pembunuhan adalah Karena Cemburu”. Hati menolak untuk percaya namun berita pada surat kabar tersebut sudah menjadi bukti lembaran kelam hidupmu. Kau telah membunuh  saudara kembarmu sendiri.
            “Dirga...! berani-beraninya kamu melanggar peraturan yang sudah bapak tentukan, kamar ini haram buat siapapun untuk memasukinya.” Tubuhku bergetar manakala melihatmu berdiri di pintu kamar. Wajahmu memerah, tanganmu memegang sebuah martil, ya martil itu tampak berdarah.

2019





Senin, 07 Januari 2019

3 PUISI RIAN IBAYANA DI TRIBUN BALI edisi MINGGU 06 JANUARI 2019


LONSUM KERTASARI

Tiba-tiba aku menjadi asing di sini, seperti terlambat mengenalmu.
Pada kelokan terakhir, kurasakan jantungmu tetap berdenyut
meski waktu terus menggerus di setiap putarannya.
Tiba-tiba aku menjadi asing di sini, seperti lupa ketika mula nafas menghiba
Kau tampak tegar, menjulang ke gigir ruang cakrawala
meski senja membuntutimu lebih tajam dari biasanya.

2016




KASIDAH WAKTU II

Waktu berbahasa lebih senyap dari biasanya, tubuh melepuh di ujung tempuh.
Masih luas terbentang halaman lain , dari ribuan halaman yang ditakdirkan
Catatan demi catatan lalu, sejenak aku tinggalkan bersama jejak-jejak
Yang lebih dulu tersapu angin.
Harapan demi harapan saling pandang di muka cermin
Melahirkan semangat baru
Waktu berkasidah menghangatkan ruang kamar,
kamar batin
kamar hidup

Waktu berbahasa lewat udara, membawa langkah pada tangga 
yang lebih tinggi
Satu tahapan
Menuju puncak yang sebenarnya
Mercusuar keabadian.
Memandang jauh Ke-Mahaluasan-Nya

2017

YANG TERTINGGAL DI PASAR BARANG BEKAS ASTANA ANYAR


Memandang jauh ke ujung
Kisah-kisah tua terhampar di atas trotoar
Puluhan kepala menunduk, seperti mencari rindu
Yang tertinggal
Diantara besi-besi berkarat, kunci kuno
Kipas angin serta berbagai dinamo
Yang entah masih berfungsi
Atau memiliki nasibnya sendiri
Mati.

Di sebrang jalan, kios-kios kecil berdiri tegak
Menjajakan keping-keping kuningan
Tempat lilin, serta patung perunggu.
Yang dari matanya terpancar kenangan tempo dulu.


2018





Rabu, 05 September 2018

DABLU KE LUAR ANGKASA Cerpen Rian Ibayana HARIAN RAKYAT SULTRA 27 AGUSTUS 2018

Setiap karya punya nasib masing-masing.
Seperti cerpen ini nasibnya tayang di Kendari. Jauh di tenggara.





DABLU KE LUAR ANGKASA


Kesabaran mpih Engkus sudah terkuras habis oleh tindakan Dablu. Bagaimana tidak, sore itu Dablu berhasil membawa lari nyai Ida, anaknya. Ini untuk ketiga kalinya Dablu melakukan tindakan itu, kejadian pertama dan kedua terjadi berturut-turut sebulan yang lalu, meski hanya untuk jalan-jalan, cara Dablu membawa pergi nyai Ida tanpa tata kesopanan membuat mpih Engkus geram. Sejak awal mpih Engkus tidak suka jika anaknya menjalin hubungan dengan Dablu. Sore itu juga mpih Engkus berniat  pergi ke kantor polisi , untuk melaporkan Dablu dengan tuduhan penculikan.
            Dablu adalah seorang pemuda paling pintar di kampung Tambak, namun karena terlalu pintar, waktu kelas dua SMA Dablu dikeluarkan dari sekolahnya dengan alasan sering membantah pendapat guru, terlalu kritis, mencemarkan nama sekolah dengan tingkahnya dan sederet alasan lain. Sejak itu Dablu tidak melanjutkan sekolah, dia merasa muak dengan orang-orang di sekolah, Dablu memilih bekerja.
 Dablu yatim piatu sejak bayi, dia dibesarkan oleh bi Raspi dan mang Paman. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, sebenarnya bi Raspi dan mang Paman bukanlah keluarga asli dari orang tua Dablu. Tetapi, ah tak perlu diceritakan, terlalu ngeri membayangkan sosok bayi yang dibuang di pinggir sebuah parit, bi Raspi dan mang Paman menyelamatannya. Namun hingga dewasa, Dablu tidak pernah mengetahui asal-usulnya, rahasia itu disimpan baik-baik oleh bi Raspi dan mang Paman.
Mpih Engkus segera menghidupkan motor yang diparkir di depan rumahnya.  Matanya memerah, kemarahannya benar-benar meluap. Ini sudah di luar batas kesabaran, pikirnya.
“ Ambu, ambilkan jaket kulit ! Mpih mau berangkat ke kantor polisi sekarang juga” mpih Engkus sedikit berteriak kepada Ambu Casmi di dalam rumah.
“ Tunggu dulu  mpih, jangan dulu berangkat, ini ada hal penting,  anak kita meninggalkan surat di atas ranjang”  suara ambu Casmi dari dalam kamar nyai Ida.
            Mpih Engkus terkejut, tak biasanya nyai Ida meninggalkan surat seperti itu.  Dia kemudian turun kembali dari motornya dan beranjak ke kamar anaknya itu. Kamar nyai Ida terletak di bagian depan rumah, dengan jendela yang bisa dibuka. Inilah yang menyebabkan  Dablu dengan mudah membawa pergi nyai Ida, membawa lari jauh.
“ Surat apa ambu? “ tanya Mpih Eengkus.
“ Ini mpih, surat dari anak kita, mpih buka saja sendiri, ambu tidak berani membukanya” sambil gemetaran ambu menyerahkan surat itu kepada suaminya.
            Muka mpih Engkus mendadak merah kehitam-hitaman, darahnya mendidih naik ke kepala, jantungnya seperti berlari, tangan kirinya mengepal kemudian diarahkan ke atas, seperti hendak meninju langit. Ternyata surat itu dari Dablu, bukan dari anaknya.
            “Mpih dan Ambu yang saya hormati, rasa hormat yang tulus dari palung hati. Rasa hormat yang nilainya sama dengan rasa hormat kepada Bibi dan Paman. Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada Mpih dan Ambu, dengan lancang telah membawa lari putri semata wayang, putri kebanggaan yang diharapkan akan mengharumkan nama keluarga kelak. Jujur, saya telah mempertimbangkan jalan ini dengan matang, dipikirkan bolak-balik, direnungkan hingga meminta jalan lewat Salat Istiharah. Dan hari ini saya membulatkan tekad membawa lari jauh anak Mpih dan Ambu. Saya tidak akan menyesal menempuh cara ini.
             Di puncak Pasir Kemir, berbulan-bulan saya merangkai sebuah pesawat berbentuk bulat, yang bisa melesat ke langit, menembus atmosfer bumi, menerobos segala kemustahilan, dan saya tidak tau dimana kelak akan mendarat. Dengan pesawat itu saya akan pergi jauh bersama nyai Ida, kekasih hati saya. Hal ini terpaksa saya lakukan, sebab restu tak jua terucap. Mpih dan ambu jangan cemas, segala peralatan dalam pesawat itu sudah terjamin, cadangan makanan cukup untuk waktu yang lama. Namun jika lebih dari satu bulan kami tidak kembali, mpih dan ambu saya harap bisa menerima takdir dengan lapang dada, mungkin ini jalan terbaik yang digariskan Gusti kepada mpih dan ambu, nasib yang harus diterima oleh saya juga putri kesayangan mpih dan ambu ini.
            Jikalau mpih berniat melaporkan saya ke polisi, silahkan. Nanti setelah kembali mendarat di bumi, saya siap untuk dibui. Sebab saya sudah bahagia bisa membawa nyai Ida berkeliling di luar angkasa, mendarat di bulan, mendarat di planet merah, mendarat galaksi lain di luar bima sakti, menyenggol satelit palapa dan benda langit lainnya. Dan saya yakin nyai Ida  tidak akan rela kekasihnya dibui, Nyai Ida bisa saja bunuh diri atau ikut bermukim di balik jeruji besi. Jadi mpih dan ambu tinggal memilih saja, mana yang terbaik
            Surat ini saya akhiri sampai di sini, semoga Mpih dan ambu bisa merelakan kepergian kami”
            Ini sungguh di luar dugaannya, jantung mpih Engkus seakan copot saat membaca isi surat , dadanya naik turun, kakiknya tiba-tiba  gemetar. Melihat reaksi suaminya seperti itu, ambu Casmi kemudian memegang punggung suaminya, menyuruh duduk di atas ranjang, kemudian dia mengambil air dingin dari dapur. Setelah meminum air dingin, emosi mpih Engkus mulai terkendali.
            “ Nyaan kabina-bina pisan si Dablu teh, ambu” ungkap mpih Engkus kepada istrinya.
            “ Coba Ambu pikir, Dablu akan membawa anak kita ke luar angkasa, dia menyuruh kita sabar menunggu selama satu bulan, jika tidak pulang selama satu bulan, kita harus menerima takdir, itu isi suratnya Ambu”  mpih Engkus mencoba memaparkan isi surat kepada istrinya.
            Ambu Casmi menarik napas panjang, merasa tidak percaya sedikitpun isi surat itu. Apakah betul Dablu akan melakukan hal tersebut. Ambu Casmi mengetahui betul siapa sosok yang membawa lari anaknya itu. Pemuda yang terkenal pintar di kampungnya, ambu Casmi juga mengetahui jikalau dulu  Dablu dikeluarkan dari sekolahnya karena kepintarannya melebihi siswa kebanyakan. Dablu adalah pemuda paling kritis di kampungnya, bahkan ambu Casmi pernah mendengar berita Dablu ditampar pak kades saat rapat di balai desa. Dablu terlalu vocal dan tajam mengkritik  kebijakan pemerintah desa yang mengizinkan berdirinya pabrik pengolahan air mineral di kampungnya yang terkenal subur. Namun apalah daya Dablu seorang diri yang kritis, pabrik air mineral itu tetap berdiri.
            Mata ambu Casmi diarahkan ke langit-langit kamar, membayangkan jikalau pada akhirnya nyai Ida harus berdampingan dengan Dablu di pelaminan. Sebenarnya ambu tidak terlalu mempersoalkan latar belakang keluarga Dablu. Dablu juga bisa dibilang pemuda paling tampan di kampungnya,  banyak gadis yang mengharapkan jadi kekasihnya. Meski Dablu belum mempunyai pekerjaan tetap, tapi Ambu Casmi yakin, jika Dablu bisa jadi penerus usaha suaminya, dengan kepintarannya bukan tidak mungkin bisa membuat strategi meningkatkan hasil kebun yang dikelola suaminya.
            “ Ambu...! Ambu...! kalakah ngalamun... !“ bentak mpih Engkus membuyarkan lamunan ambu Casmi.
            Ambu terkejut oleh bentakan suaminya,  lamunannya terhenti, pikiran soal Dablu menguap jauh, jauh sejauh-jauhnya dan tidak kembali. Ambu kemudian ikut duduk di samping  Mpih Engkus.
            “ Pergilah mpih ke kantor polisi, segera laporkan apa yang terjadi. Bawa juga surat di tangan mpih itu. Sebagai barang bukti, siapa tahu polisi bisa segera mengejar Dablu”
            “Baiklah ambu, mpih akan segera berangkat, semoga anak kita akan segera ditemukan, si Dablu harus segera  membayar apa  yang diperbuatnya”

***
Di puncak Pasir Kemir, ada sebuah tanah datar yang hanya ditumbuhi ilalang-ilalang, dahulu tempat ini merupakan tempat paling asyik dan banyak dikunjungi muda-mudi untuk pacaran atau untuk keluarga menikmati indahnya kampung dari ketinggian. Namun setelah terjadi peristiwa pembunuhan seorang gadis oleh kekasihnya, tempat ini tak ada yang berani mengunjungi, puncak Pasir Kemir menjadi angker, apalagi setelah beredar kabar arwah gadis yang dibunuh itu, gentayangan di sekitar puncak pasir.
            Beberapa petugas kepolisian ditemani mpih Engkus, ketua RW Pasir Kemir juga beberapa tokoh masyarakat di sana bergegas menuju puncak, untuk menindaklanjuti laporan mpih Engkus kemarin sore. Menulusuri kebenaran isi surat si Dablu. Perjalanan dari pusat kampung hingga ke puncak ditempuh sekitar 20 Menit, melewati jalan setapak tanah merah.
            Rombongan yang telah sampai di puncak, luar biasa kagetnya melihat keadaan sekitar puncak. Di atas lahan yang biasanya ditumbuhi ilalang terdapat lekukan besar, cekungan yang dalamnya sekitar 2 meter hasil dari tekanan benda berat berbentuk lingkaran. Di ujung timur puncak terdapat sisa-sisa sebuah pengelasan bahan logam, besi-besi serta kaca berantakan. Bau bahan bakar masih menyengat di area puncak, sementara ilalang yang tumbuh di sana habis terbakar.
            Rombongan yang naik ke puncak saling pandang satu sama lain, seolah tidak percaya dengan apa yang ada dihadapan mereka. Komandan polisi yang ikut serta pada penyelidikan itu kemudian menyuruh anak buahnya untuk memberikan garis polisi diseluruh sisi puncak Pasir Kemir, guna kepentingan investigasi dan tidak dijamah orang-orang.
            “ Benarkah ini yang dimaksud dalam isi surat si Dablu itu?” pikir komandan polisi di dalam hati.
           
***
Dua minggu berjalan, kasus penculikan yang dilakukan Dablu masih menjadi berita paling ditunggu di media, mewarnai surat kabar. Isi surat yang menjadi barang bukti tersebar media sosial. Dablu masih menjadi buah bibir, diperbincangkan baik di suasana serius maupun obrolan santai di warung kopi. Soal jejak pesawat yang dibuat Dablu, banyak pertanyaan yang mengemuka, benarkah itu jejak pesawat luar angkasa yang dibuat Dablu untuk pergi jauh bersama kekasihnya, yaitu Nyai Ida. Atau hanya akal-akalan Dablu untuk membuat sensasi sehingga membuyarkan perhatian khalayak, menutupi perbuatannya menculik anak seorang juragan.
            Polisi belum bisa menyimpulkan apakah itu jejak pesawat sungguhan, atau hanya jejak buatan manusia. Para ahli pesawat luang angkasa didatangkan dari ibu kota juga dari berbagai perguruan tinggi, bahkan diberitakan para ahli antariksa dari luar negeri juga sudah memantau kasus ini dengan khidmat. Bukan tidak mungkin akan ikut membantu memecahkan jejak pesawat itu.
            Sementara itu Bi Raspi dan Mang Paman benar-benar kewalahan menghadapi serbuan wartawan juga warga sekitar yang penasaran tentang Dablu, terutama tentang kepintarannya yang konon berhasil membuat pesawat yang bisa terbang jauh ke luar angkasa. Mereka lebih dari sepuluh kali dipanggil ke kantor polisi guna memberikan keterangan tentang si Dablu. Dan pada akhirnya bi Raspi pun tumbang karena tidak kuat menghadapi situasi seperti itu dan dirawat di rumah sakit.
***

            Polisi dan tim investigasi yang terdiri dari para ahli pesawat juga ahli antariksa mulai mendapatkan titik terang, mereka yakin dan bisa menyimpulkan bahwa jejak pesawat di puncak Pasir Kemir itu, murni buatan manusia bukan sisa-sisa pesawat yang lepas landas.  Mereka mengagumi kepintaran Si Dablu yang berhasil membuyarkan konsentrasi khalayak, mengaburkan berita penculikan menjadi isu pesawat luar angkasa yang dibuatnya. Media yang lebih menyoroti jejak pesawat mulai mengalihkan kembali kepada kasus penculikan sebenarnya. Nihil, lebih dari sebulan Dablu belum juga ditemukan, belum ada informasi kemana Dablu pergi membawa Nyai Ida. Namun meski begitu polisi tetap bekerja keras memburu Dablu, menjadi tantangan tersendiri bagi pihak berwajib.
***

Di ruang tamu, Mpih Engkus dan Ambu Casmi sama-sama terdiam. Pikiran mereka masing-masing melayang jauh. Cemas luar biasa menghinggapi ambu Casmi, naluri seorang ibu yang mengkhawatirkan keadaan anaknya. Ambu Casmi membayangkan jikalau dari dulu suaminya menerima  Dablu, mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Sebulan telah berlalu namun dablu tak juga pulang membawa anaknya. Sempat terlintas oleh ambu Casmi, haruskah menyerah pada takdir seperti yang dituliskan Dablu dalam suratnya. Lapang menerima nasib. Ah...
            Sementara itu, pikiran mpih Engkus seperti benang kusut, terbayang wajah-wajah pemuda yang hendak melamar putrinya. Ada wajah Gandi, anak dari temannya, seorang kepala bidang di sebuah perusahan garment di ibu kota. Kemudian muncul wajah Sutisna, seorang guru yang sudah menjadi PNS mengajar di sekolah menengah pertama. Juga tersirat wajah jang Febri, anak dari pemilik pabrik air mineral yang berdiri di kampung Tambak. Mpih Engkus tak habis pikir kenapa anaknya menolak semua lamaran itu dan memilih lari dengan Dablu.
            Sebenarnya dalam hati mpih Engkus mengakui kepintaran Dablu, juga mengakui bahwa Dablu adalah pasangan yang ideal bagi putrinya. Namun ada alasan lain dibalik penolakan Mpih Engkus terhadap sosok Dablu. Isi kepala Mpih engkus melayang, melesat jauh ke jendela masa lalu, mengingat kisah kelam 28 tahun yang silam. Beberapa tahun sebelum bertemu dengan Ambu Casmi dan memustuskan menikahinya.
            Di sebuah malam yang berbalut hujan, mpih Engkus berjalan bersama seorang wanita menyusuri sebuah parit yang jauh dari pemukiman.  Kala itu dingin begitu mencekam, wanita yang berjalan bersma Mpih engkus menggendong bayi mungil yang dibalut samping batik. Suara bayi itu memekik meninju langit, membelah angkasa. Mpih Engkus dan wanita itu memberikan sebuah kecupan hangat di kening bayi mungil itu, kemudian meletakannya di pinggir parit. Kisah kelam itu dia tutup rapat-rapat tanpa ada seorangpun yang tahu.
            Mpih Engkus berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia beranjak ke pintu rumah melemparkan pandang, jauh ke ujung jalan. Dadanya sesak, bayang-bayang masa lalu silih berganti dengan bayang-bayang putrinya kemudian dengan bayang-bayang wajah Dablu,  saling berebut tempat di kepala. Nafasnya seperti tersenggal, kepalanya terasa hampir pecah, mpih Engkus tahu betul bayi yang dibuangnya 28 tahun silam itu adalah Dablu, anaknya sendiri. Pemuda yang membawa lari putrinya ke luar angkasa.

CIWIDEY  OKTOBER 2016

SEKIAN





PUISI DI TRIBUN BALI 03 JUNI 2018

Terima kasih bli Angga Wijaya atas infonya.
Terima kasih buat Ni Wayan Nina Asrini sedia mengirimkan koran tersebut ke Bandung


Senin, 22 Januari 2018

PERKENALAN DENGAN MAJELIS SASTRA BANDUNG (MSB)


    Entah bagaimana persisnya, perkenalan saya dengan MSB tidak lama setelah saya membuat akun FB. Seuatu hal baru yang begitu banyak manfaatnya, dari yang tidak tau menjadi tau, dari sendiri menjadi banyak, dari tidak kenal jadi saling kenal. Saya tertarik pada dunia sastra khususnya pada puisi, sejak sekolah menengah pertama. Namun sejak lulus tahun 2003 hingga 2007 saya hanya belajar sendiri, membaca dan menulis sendiri tanpa ada teman diskusi, puisi-puisi saya tulis pada sebuah buku catatan kemudian menyimpannya. Hingga pada tahun 2007 saya bertemu kawan seperjuangan yang bernama Ferry Fauzi Hermawan, rupanya dia kuliah jurusan bahasa dan sastra Indonesia di UPI. Dari dialah saya mulai tau banyak hal, tentang perkembangan sastra Indonesia, tentang buku-buku baru, info lomba dll.
            Saya pertama kali membuat akun FB sekitar tahun 2009, dari sinilah semua bermula, saya sangat bersyukur dengan kecanggihan teknologi ini, hasrat saya dalam dunia sastra bisa tersalurkan. Saya buka-buka koleksi koran yang memuat karya sastra tiap minggu, saya lihiat nama-nama penyairnya, kemudian saya cari di FB, rupanya hampir semua penyair mempunyai akun FB, sebut saja Yopi Setia Umbara, Heri Maja Kelana ataupun Esa Tegar Putra. Saya hanya tahu namanya saja di koran, melalui fb saya bisa bersilaturahmi dengan mereka.
            Bagaimana persisnya, saya lupa  kenapa saya bisa tahu ada group MSB di FB. Intinya saya bergabung pada group yang digawangi Oleh KYAI MATDON tersebut, namanya tidak asing karena saya adalah pendengar radio Cosmo, kebetulan Matdon pembaca berita 7 di radio itu. Ketika saya masuk Group MSB di FB, kegiatan MSB sudah berjalan satu tahun, kegiatan unggulan MSB yang berjalan setiap bulan sekali bertitel Pengajian Sastra. Diskusi yang membedah karya-karya para anggota MSB oleh para penyair atupun Cerpenis senior. Sistemnya simple yaitu para anggota disuruh mengirimkan karya terbaiknya ke email MSB, dan pada saatnya akan dapat giliran dibedah. Dan diujung tahun, seluruh karya yang masuk dijadikan antologi bersama, saya ingat buku antologi pertama MSB berjudul Ziarah Kata.
            Dari Ciwidey, Bandung selatan, saya memberanikan diri untuk turun gunung mengikuti kegiatan pengajian sastra. Kebetulan pada waktu itu agenda pengajian sastra membahas puisi karya Dave Sky, Riza Fahlevi dan Dony P Herwanto (berhalangan hadir) dengan dipandu oleh moderator Arry syakir Gifary. Saya belajar banyak dari pengajian sastra perdana itu, pun saya dapat berkenalan dengan banyak rekan baru. Diantaranya bisa berkenalan langsung dengan Kyai Matdon,  Yunita Indriani (Dwinita), Arry Syakir Gifari, kang Oppet, Iwan M Ridwan dan banyak lagi.
            Sampai pula akhirnya di tahun kedua Kyai Matdon mengundang anggota baru maupun anggota lama di group MSB untuk mengirimkan 10 karya terbaiknya. Saya tidak membuang kesempatan itu, saya ikut mengirimkan 10 puisi. Namun pada tahun kedua ini, pengajian sastra tidak lagi membahas dan membedah karya anggotanya satu persatu, tetapi formatnya mengundang sastrawan senior untuk menjadi narasumber setiap bulannya. Sementara diskusi karya diadakan seminggu sekali di kebun seni. Di penghujung tahun kedua lahirlah antologi kedua MSB yang berjudul BERSAMA GERIMIS yang diambil dari salah satu judul puisi John Heryanto. Dan alhamdulillah silaturahmi bersma gerimis tetap terjaga hingga sekarang. Beberapa penyair yang masuk antologi ini adalah Zein Arfiarahman, Den Bagoes, Yunita Indriani, Miko Alonso, Kang Agus Nasihin beserta istrinya ibu Yanti Sri Budiarti, teh Elis tating Bardiah, Jhon Heryanto, Wong agung Utomo dan rekan lainnya.


            Untuk antologi bersama gerimis ini, MSB mengadakan road show ke beberapa  tempat diantaranya bedah buku di Braga, di kedailalang Jakarta waktu itu bertemu Endah Sulwesi dan Mas Kurnia Effendy, kemudian berkunjung ke WAPRES BULUNGAN di acara Reboan yang diadakan oleh Zay Lawang langit, Budi Setiawan dll. Buku ini juga dibahas di Beranda 28 Tasikmalaya yang digawangi oleh Kang Bode Riswandi, di sini saya bertemu banyak teman yang sebelumnya hanya kenal di dunia maya, ketemu Arrief Reff, Ria arista Budiarti (RAB), Kang Opik Nerro Taopik Abdilah ( yang sekarang lebih terkenal sebagai penggiat literasi nasional), kang Bunbun, Arinda Risa Kamal dan penggiat sastra lainnya di Tasikmalaya.

            Tahun ketiga MSB menerbitkan kumpulan puisi yang berjudul wirid angin, beberapa penyair yang masuk antologi ini diantaranya Rezki Darojattus Sholihin, Trisna Iryansyah juga Deri Hudaya. Waktu berjalan pada porosnya, pengajian sastra tetap digelar setiap bulan,berbagai kegiatan digelar seperti lomba baca puisi, lomba menulis puisi ramadhan hingga yang paling hangat adalah lomba menulis Esai.
Dan tidak terasa tahun 2018 ini, MSB sudah berusia 9 tahun, usia yang tidak muda lagi. Selamat ulang tahun MSB, semoga tetap eksis dan jaya selamanya.


CIWIDEY 22 JANUARI 2018

Senin, 04 Desember 2017

2 PUISI DI PIKIRAN RAKYAT MINGGU 3 DESEMBER 2017

GERAM

Siapa yang tak geram, ketika negara dikoyak dari dalam
Rakyat dipaksa  membuat riwayat baru, riwayat melarat dari waktu ke waktu
Tak bisa dipahami, selalu saja ada cara menghujamkan tangan
Kemudian menyembunyikannya dengan apik
Tak bisa dimengerti. begitu mudah otak meracik taktik
Menyulap yang ada menjadi tiada, juga sebaliknya
Mengidupkan yang tiada menjadi tampak di depan mata.
Sementara rakyat semakin tercekik, tanpa ada yang melirik
Semacam hikayat baru telah terlahir.

Siapa yang tak geram, ketika negara dikoyak dari dalam
Kursi demi kursi yang tercipta dari rahim ambisi, hanya mampu melemparkan getir
Hilang pegangan, musnah faedahnya.
Kepala demi kepala seperti menciptakan kepala baru, kepala batu.
Kepala yang penuh reka perdaya,
Menyulap yang ada menjadi tiada, juga sebaliknya
Menghidupkan yang tiada menjadi tampak di depan mata.
Sementara rakyat semakin terhimpit, di ruang yang penuh jerit
Sandiwara baru tercipta kembali.


2017


Basa-basi rindu

Demi rindu, berbagai cara kau tempuh,
meski jalanmu dipenuhi serpihan kaca, sisa kekacauan kemarin.
Tampaknya isi dadamu lebih menggebu dari berkobarnya api.

Rindumu berlapis-lapis, lebih tebal dari deretan kawat berduri
Saat terjadi kekacauan kemarin

Ya rindu jualah yang memaksamu memasak lebih dini
bangun lebih janari dan  mencuci lebih pagi
Agar segera bersua, mematangkan isi kepala.

Ah,  jangan terlalu serius, ini hanya basa-basi rindu


Desember 2016




Rabu, 15 November 2017

HASIL KURASI PUPUTAN MELAWAN KORUPSI


 ALHAMDULILLAH satu puisi saya masuk Antologi PUPUTAN MELAWAN KORUPSI


Pengumuman Hasil Kurasi/Seleksi Puisi Bertema “Puputan Melawan Korupsi”
Undangan menulis puisi bertema “Puputan Melawan Korupsi” yang digagas oleh Jatijagat Kampung Puisi bekerjasama dengan Yayasan Manikaya Kauci dan KPK dibuka dari tanggal 3 November dan ditutup 13 November 2017. Di luar dugaan, sambutan berdatangan dari berbagai penjuru Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke. Ada 270-an peserta yang mengirim puisi-puisinya ke email saya. Tidak hanya penyair, puisi juga dikirim oleh pegawai negeri, pegawai swasta, advokat, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, seniman, wartawan, fotografer, pedagang, ibu rumah tangga, pengangguran, dan sebagainya. Sebagian besar peserta mengirim tiga puisi, namun ada juga yang mengirim lebih dari tiga. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih kepada semua peserta yang telah mengirimkan puisinya untuk kegiatan ini.
Ada sekitar 800-an puisi yang harus saya baca secara seksama dan kemudian saya kurasi/seleksi untuk keperluan buku yang akan diterbitkan. Untuk menghindari penumpukan naskah, sejak seminggu lalu saya bekerja siang-malam menyeleksi setiap puisi yang masuk ke email saya.
Metode kerja yang saya terapkan adalah pertama mengunduh setiap puisi dan mengumpulkannya dalam satu folder. Kemudian setiap puisi saya baca dengan teliti, bahkan banyak puisi yang harus saya baca berulang-ulang. Setelah itu, saya melakukan seleksi tahap pertama. Puisi yang lolos kurasi saya kumpulkan dalam folder “Lolos Tahap 1”, sedangkan puisi yang tidak lolos saya taruh dalam folder “Tidak Lolos”. Kemudian puisi-puisi yang lolos tahap pertama saya baca lagi dengan lebih hati-hati dan saya seleksi lagi dengan lebih ketat untuk mendapatkan puisi-puisi yang menarik dan layak dibukukan.
Demi mengupayakan objektivitas, dalam kerja kurasi ini saya menutup mata hati terhadap nama-nama yang saya kenal akrab. Sebab dalam proses kurasi pertaruhannya adalah puisi, bukan nama atau biodata apalagi foto. Setiap puisi bersaing dengan puisi lainnya untuk memperebutkan posisi dalam buku. Maka, banyak puisi yang ditulis oleh nama-nama yang saya kenal akrab terpaksa saya eleminasi karena puisi yang dikirimkannya masih mentah dan berantakan. Namun, sebaliknya, banyak puisi yang ditulis oleh nama-nama baru yang tidak saya kenal berhasil lolos dalam proses kurasi ini. Bagaimana pun juga sebagai kurator tunggal, saya mempertaruhkan kredibilitas dan integritas sebagai penyair dalam kerja kurasi ini.
Kriteria yang saya pakai untuk proses kurasi ini secara umum adalah tema/konten dan bentuk/teknik puisi. Sebagian besar puisi yang dikirim peserta tampak masih mentah, masih berupa muntahan unek-unek, diperparah lagi dengan kurangnya editing, logika, dan penguasaan bahasa. Tema juga tidak tergarap dengan baik atau kurangnya pendalaman tematik sehingga sebagian besar puisi masih berupa rangkaian statmen yang kering dan klise dibumbui petuah-petuah basi.
Secara isi/konten, masih banyak peserta yang terjebak narasi besar, lupa pada narasi kecil di sekelilingnya. Sebagian besar puisi hanya menampilkan riak-riak permukaan, kurang memunculkan kedalaman permenungan dari tema yang digarap. Dalam konteks ini, semestinya penyair mampu menawarkan cara pandang baru ketika menggarap tema yang disodorkan. Selain itu, sebagian besar puisi masih berantakan secara teknik/bentuk, misalnya pemilihan diksi, metafora, membangun suasana, nada, gaya ucap, dan sebagainya. Hal itu menyebabkan puisi kehilangan fokus dan keutuhan tidak terjaga.
Memang tidak mudah menulis puisi dengan tema-tema tertentu, apalagi tema tersebut kurang menyentuh kalbu. Apakah karena kasus korupsi dianggap sangat lumrah sehingga tidak mengejutkan atau tidak menyentuh lagi untuk dituliskan ke dalam puisi. Entahlah.
Kegiatan ini tidak bersifat lomba, maka tidak ada kalah-menang. Sebab seni (puisi) sangat dekat dengan subjektivitas, maka lomba seringkali melahirkan kontroversi dan kasak kusuk. Dalam konteks ini, saya berupaya menyusun buku kumpulan puisi ini agar menarik dan variatif, maka untuk itu diperlukan proses kurasi. Bila banyak puisi tidak lolos untuk buku ini, semoga bisa lolos untuk buku yang lain.
Berikut adalah 100 puisi yang lolos kurasi untuk buku bertema “Puputan Melawan Korupsi”. Untuk memudahkan urutan, saya susun berdasarkan abjad nama penulisnya. Semoga hasil kurasi ini bisa diterima dengan jiwa besar.


                                        (Foto milik I Putu Sugih Arta dari halaman Facebooknya)


Aditya Putra Pidada
- Sajak Sederhana
Ahmad Irfan Fauzan
- Doa Rakyat
Achmad Obe Marzuki
- Lembaga Amplop
Ahmad Zaini
- Siapa Versus KPK
Ahmada Khoirul Umam
- Beruang-beruang Ber”uang”
Alamsari
- Istri Tameng Korupsi
Aldy Istanzia Wiguna
- Doa Orang Miskin
Alexander Robert Nainggolan
- Tubuh Lintah
Alfa Anisa
- Kepada Masa Depan, Surat Tertulis Harapan
Alfian Dippahatang
- Tiga Rangkaian Puputan
Angga Wijaya
- Kucing Di Rumahku
Asril Koto
- Bagi Kolusi
Astrajingga Asmasubrata
- Rajah Merah
Atanasius Rony Fernandez
- Buku Tabungan Akhir Tahun
Ayu Chumani Pranatthi
- Koruptor Tanpa Rupa
Azis Wisanggeni
- Negeri Hantu
Badaruddin Amir
- Tentang Apa
Bambang Kariyawan
- Mengunyah Geram
Bambang Widiatmoko
- Anak Panah
Bangkit Prayoga
- Air Mata Seorang Bapak Kepada Anaknya
Beni Setia
- PS-Menu Harian Neraka
Berthold Sinaulan
- Puisi Negeri
Biolen Fernando Sinaga
- Jika Kursi Menyebabkan Korupsi
Bonk Ava
- Renungan Subuh
Bresman Marpaung
- Panglima Talam
Budhi Setyawan
- Uang Kembalian
Budi Hatees
- Odi Ergo Sum
Cangkir Seduh
- Malin Kundangnya Negara
Daviatul Umam
- Dalam Pelukan Rakusmu
Dede Rostiana
- Busuk
Detty Daryanti
- Korupsi Di Televisi
Dewa Jayendra
- Jalan Karma
Dewa Putu Sahadewa
- Saatnya Melawan
DG Kumarsana
- Dengarkan Saja
Eddy Pranata PNP
- Ia Tulis Sajak Kecil Dengan Pensil Tumpul Yang Sudah Sangat Pendek
Gustu Sasih
- Untung Ada KPK
Harkoni Madura
- Tilawah Tanah Air
Herdoni Syafriansyah
- Nyanyian Angin Potret Buram
Heru Mugiarso
- Robohkan Pohon Tua Itu
I Kadek Surya Kencana
- Tuhan Sedang Tamasya
I Made Kridalaksana
- Andai Kau Hidup Kini
I Putu Sugih Arta
- Puputan Kala Maya
Ika Permata Hati
- Sebuah Episode Novel
Isbedy Stiawan ZS
- Seorang Anak Di Depan Gerbang Rumah Mewah Sebuah Kota yang Ramai
Itov Sakha
- Demorasis (60)
Joshua Igho
- Panggung Teater Kami
Kadek Wini Arthini
- Kami Hanya Satu Mimpi
Kardanis Mudawi Jaya
- Dalam Bayang Perjalanan
Khodyani Achmad
- Kepada Hoegeng Imam Santosa
Kiki Sulistyo
- Kayu Meja Tak Bergetah
Kim Al Ghozali AM
- Melawan Korupsi
Kristoforus Maylovius
- Negeri Antah Berantah
Kunni Masrohanti
- Pembawa Selembayung Di Bawah Langit Kertagosa
Larasati Sahara
- Mengusir Setan
Liana Safitri
- Surat Untuk Para Korup-TOR!
Luh Putu Udayati
- Sedikit Saja
Made Edy Arudi
- Ke Jalan Hening
Martin da Silva
- Teruslah Berlayar
Maulidan Rahman Siregar
- Khianat
Muhisom Setiaki
- Bapakku Koruptor
Muhamad Aroka Fadli
- Petani Miskin
Muhammad Iqbal Baraas
- Korupsi
Muhammad Nailur Rohman
- Tragedi Hujan Darah
Muhammad Ridlo
- Berhala
Muhammad Habibur Rohman
- Maling
Muhammad Lutfi
- Sorot
Musa Ismail
- Negeri Berkabut Azab
Nunung Noor El Niel
- Uang Memang Bukan Perkara
Nuriman N. Bayan
- Ketika Tangan Menjadi Hening
Nurholis
- Pungli Dan Si Jomblo
Nyoman Wirata
- Di Manakah Engkau Tuan
Porman Wilson Manalu
- Surat Dari Putri
Raden Prakiyul Wahono Noto Susanto
- Tumini dan Tumila
Rahmat Akbar
- Pesan Pada Wakil
Rai Sri Artini
- Negeri Penuh Lintah
Ratu Ayu Neni Saputra
- Jika
Rian Ibayana
- Geram

Rini Asmoro
- Para Pelakon Korupsi
Roso Titi Sarkoro
- Biarlah Peluru Bersajak
Safitri Saraswati
- Apabila Tuhan Kita
Salsabila Firdaus
- Sabda Nabi
Santiasa Putu Putra
- Jika Kau, Maka Aku
Semara Yanti
- (Mungkin) Karena Saya Lapar
Sigit Rais
- Ketika
Sio Marris Juliana Hutasoit
- Emas Yang Haram
Soni Farid Maulana
- Soal Tikus
Sosiawan Leak
- Kami Ingin Merdeka
Syarif Hidayatullah
- Sebelah Mata, Sebelah Puisi
T.M. Sum
- Cermin
T.D. Ginting
- Sebuah Sajak Yang Baik
Tri Astoto Kodarie
- Membaca Kata Dinasti
Tudekamatra
- Melawan Korupsi
Ulinnuha Madyananda
- Nasib Negeriku
Waty Sumiati Halim
- Baktimu Telah Dinanti
Winar Ramelan
- Zaman Kali Yuga
Windu Setyaningsih
- Aku Hanya Ingin Sebuah Tangan
Yana Risdiana
- Entah Keyakinan Apa Yang Dimiliki Koruptor
Yuanda Isha
- Kita Di Negeri Kura-kura
Zamhir Arifin
- Tak Ada Ruang Bagimu Di Negari Ini
Diputuskan dan Ditetapkan di Batubulan, Bali, 15 November 2017.
Wayan Jengki Sunarta
Kurator Buku

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...