http://www.sinarharapan.co.id/content/read/sajak-sajak-rian-iayana/
SEPI
Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau
lebih mengetahui titik waktu yang buntu.
Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.
Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,
saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.
Sepi menyelinap saat bulan bercadar
dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.
2011
MALAM DI TERMINAL LAMA
Kita serupa anak kembar dalam rahim kota
menikmati belasan bintang di pinggiran terminal lama.
Sementara kunang-kunang putih berbaris memagari kesunyian
Deru kompor pedagang gorengan melampaui gemuruh langit.
Kemudian kita melangkah pelan sambil menata perasaan
" Lengkap sudah perjalanan ini, saatnya kita akhiri "
ungkapmu sambil menaruh jejak di atas trotoar tua
yang kini berlapis ubin abu-abu.
Kiita menjadi lumpuh ketika harus mengekalkan kembali
kisah yang sempat tertunda
peristiwa cinta di warung kaki lima.
Kita serupa dua ulat yang akan terpisah di cabang pohon.
Persimpangan jalan sungguh menganga dan siap melahap kita.
Beberapa kios rokok, tukang roti bakar maupun bangku taman hanya kekal dalam ingatan.
Di terminal lama, esok hari, kita sendiri-sendiri.
2011
CIWIDEY II
Jika waktu meruncing ke ulu jantung
dan habis daya, paru menimba udara.
Benamkan jasadku di bukit itu,
hempaskan juga kenanganku
bersama silir dingin serta tipis kabut.
Sehingga damai,
setenang batu-batu beku
di dasar tanahnya.
2011
Rindu
Dalam dekatmu aku rindu
apalagi jauh.
Dalam adamu aku rindu
apalagi tiada.
2011
DI KAWALI
Sunyi menyelinap di atas tanah basah,
langit bercadar dedaunan melindapkan rona sejarah.
Sesunyi inikah jalan silam ketika abu itu ditanam
dan prasasti ditancapkan?
Sungguh, tak terbayang banjir airmata dan perih yang menggenang
ketika kidung-kidung duka dilantunkan.
Di sini kupijak kembali
kuhayati kembali.
ASTANA GEDE KAWALI
13 MARET 2011
Saat Lampu Padam
Barangkali akan banyak kata yang lahir saat lampu dipadamkan.
Kata demi kata berhamburan dari dinding dingin
berloncatan dari kusen jendela dan keluar dari kolong tempat tidur.
Barangkali kantuk akan musnah
dikuatkan kalimat yang mengikat kepala
menyangga pelupuk mata.
Barangkali akan banyak kata yang lahir saat lampu dipadamkan.
Karena kenangan tetap terang.
2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar