Selasa, 25 Oktober 2011

SINAR HARAPAN 31 JULI 2011

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/sajak-sajak-rian-iayana/

SEPI

Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau

lebih mengetahui titik waktu yang buntu.

Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.

Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,

saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.

Sepi menyelinap saat bulan bercadar

dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.

2011

MALAM DI TERMINAL LAMA

Kita serupa anak kembar dalam rahim kota

menikmati belasan bintang di pinggiran terminal lama.

Sementara kunang-kunang putih berbaris memagari kesunyian

Deru kompor pedagang gorengan melampaui gemuruh langit.

Kemudian kita melangkah pelan sambil menata perasaan

" Lengkap sudah perjalanan ini, saatnya kita akhiri "

ungkapmu sambil menaruh jejak di atas trotoar tua

yang kini berlapis ubin abu-abu.

Kiita menjadi lumpuh ketika harus mengekalkan kembali

kisah yang sempat tertunda

peristiwa cinta di warung kaki lima.

Kita serupa dua ulat yang akan terpisah di cabang pohon.

Persimpangan jalan sungguh menganga dan siap melahap kita.

Beberapa kios rokok, tukang roti bakar maupun bangku taman hanya kekal dalam ingatan.

Di terminal lama, esok hari, kita sendiri-sendiri.

2011

CIWIDEY II

Jika waktu meruncing ke ulu jantung

dan habis daya, paru menimba udara.

Benamkan jasadku di bukit itu,

hempaskan juga kenanganku

bersama silir dingin serta tipis kabut.

Sehingga damai,

setenang batu-batu beku

di dasar tanahnya.

2011

Rindu

Dalam dekatmu aku rindu

apalagi jauh.

Dalam adamu aku rindu

apalagi tiada.

2011

DI KAWALI

Sunyi menyelinap di atas tanah basah,

langit bercadar dedaunan melindapkan rona sejarah.

Sesunyi inikah jalan silam ketika abu itu ditanam

dan prasasti ditancapkan?

Sungguh, tak terbayang banjir airmata dan perih yang menggenang

ketika kidung-kidung duka dilantunkan.

Di sini kupijak kembali

kuhayati kembali.

ASTANA GEDE KAWALI

13 MARET 2011

Saat Lampu Padam

Barangkali akan banyak kata yang lahir saat lampu dipadamkan.

Kata demi kata berhamburan dari dinding dingin

berloncatan dari kusen jendela dan keluar dari kolong tempat tidur.

Barangkali kantuk akan musnah

dikuatkan kalimat yang mengikat kepala

menyangga pelupuk mata.

Barangkali akan banyak kata yang lahir saat lampu dipadamkan.

Karena kenangan tetap terang.

2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...