Minggu, 13 November 2011
TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan
mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik
apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.
sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari
memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda
asing.
kemudian segenap kenangan yang sempat membukit
perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan
ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.
seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.
langkah dan peristiwa tak terukir di batu.
2011
Minggu, 30 Oktober 2011
CATATAN PERJALANAN SEBELUM KE RESEPSI PERNIKAHAN SIGIT IBRAHIM DAN ROSE PUTRI
"DEMI KEBERSAMAAN
bagi rekan-rekan yang mau menghadiri resepsi SIGIT DAN ROSEU
Harap Kumpul si SMANSADEY setengah satu
Terima kasih"
Demikianlah isi sms yang saya luncurkan kepada hampir 60 rekan khususnya pada rekan alumni 2006 dan umumnya kedapa semua yang kenal pada kedua mempelai.
Beberapa menit berselang, balesan sms dari teman-teman membabi buta masuk ke hp saya yang hanya mempunyai kapasitas 500 sms. Inbox penuh, sehingga dengan terpaksa saya mesti menghapus satu persatu sms. Isinya hampir sama,yaitu menyatakan kesiapan dan kesanggupan. Meski ada beberapa yang berkomentar tentang Hujan. Yaitu Reni Mulyani dan Bocah Ireng Ngalalakon. Bahkan kepada bocah ireng saya menyuruh moe kolor na suhunan sebagai penghalang hujan. Sepertinya dia tidak melakukannya sehingga apa yang ditakutkan benar-benar terjadi.
Tepat jam dua belas, usia kandungan mendung sudah mencapai puncaknya, hujanpun turun ketika saya sedang berbincang-bincang dengan Soni Indra dan Yadi Karbit di beranda rumah.
Jam satu kurang lima belas menit, sms demi sms seperti peluru NATO yang menggempur TRIPOLI. Masuk bertubi-tubi. Temanya hampir sama, semua bertanya" geus karumpul acan?" dengan mantap dan bijaksana. Saya jawab, langsung ke lokasi saja, saya masih di rumah. (ngajanjian setengah satu, jam satu kurang masih di imah ). Setelah mantap menggunakan Batik Cirebon, saya langsung berangkat ke SMA bersama Soni sambil membawa titipan KADO dari Imelda yang pada saat itu tidak bisa menghadiri karen ada kepentingan keluarga. Di SMANSADEY tercinta sudah menunggu Reni, Ape, Riana, Dwi, Rina, dan Yondra. Tak lama kemudian, satu persatu teman hadir dengan stelah paling WAAAAAH. Munculah ideu untuk mengabadikan setiap moment kala itu, saya menyuruh rekan-reekan buat berfhoto dulu, dengan senyum riang mereka setuju.
UJIAN DI PERJALANAN
Ketika berteduh, saya melihat DECIS dengan YEU DINI melintas, padahal masih hujan "Uhmm romantis abis". Disusul oleh KARBIT.
Hujan sedikit reda, saya dan Kankan melanjutkan perjalanan. SIAL BERIBU SIAL hujan deras kembali sehingga memaksa kami berteduh untuk kedua kali di GARASI BUS PUTERA SETIA. Hampir setengah jam kami berdua berteduh di sna, ada ideu bagus dari kankan untuk membeli Cuanki, kamipun melahap dulu semangkuk Cuanki di saat dingin.MAKNYOOOS. Sambil berkomunikasi dengan rekan-rekan yang masih di belakang. Rupa-rupanya, entah siapa yang mencetuskan ideu buat naik TAXI KUNING. Rekan-rekan yang dibelakang menyewa sebuah angkot dan menitipkan motor mereka di bengkel dan rumah makan padang. (PADAHAL HUJAN GEUS RAAT) aya aya wae.
Perjalananpun dilanjutkan sampai ke tempat tujuan. Proses sasalaman berjalan dengan lancar, doa dan doa bertaburaan buat kedua mempelai. Senyum ceria tersungging ikhlas baik dari tamu maupun Sigit dan Roseu. Rupanya, di lokasi acara, ada beberapa teman yang sudah datang seperti Ana Suryana, Devi Ballack, Wulan, Herly termasuk tukang angkut piring dan sound sistem, mereka sudah mangkal dari pagi.
Inilah inti yang sebenarnya dari RESEPSI pernikahan MANTAN KETUA DAN WAKIL KETUA OSIS SMANSADEY tahun 2005 ini selain proses mendoakan kedua mempelai "Barokallohula ...." doa yang diajarkan Pa Dudung waktu sekolah. Yaitu MEREKATKAN SILATURAHMI. Saya mendengar celetukan-celetukan dari teman yang hadir. "Ieu mah Cigah Reunian" Ya memang, ini seperti reuni bahkan lebih. Banyak hal yang dapat diambil hikmahnya selain temu rindu semata.
Semua proses berjalan lancar diakhiri dengan POPOTOAN sautahna.
Ada beberapa hal yang saya catat dan patut diapresiasi
1. Rekan-rekan sudah tidak malu lagi memakai BATIK. Ya, mayoritas rekan2 yang hadir memakai batik. SAYA SUKA GAYA KALIAN
2. Resepsi ini menumbuhkan kesadaran rekan2 yang jarang bergabung sehingga menjadi candu untuk selalu hadir dalam acara yang digelar. (bukan nikahan saja) termasuk KAKAREN LEBARAN, ULTAH PURBA dan lain-lain.
3. Menumbuhkan semangat kebersamaan... termasuk menumbuhkan budaya narsis di depan kamera.
4. DEVI BALLACK mengajak membuat acara di MT HIDHLAND. kenapa tidak? mari kita manfaatkan kesempatan ini.
5. Menjadi faktor penyemangat buat rekan2 supaya segera menikah.
6. beuki ngacaprak ieu catetan
7. Melihat sedemikian banyaknya rekan yang hadir, ada celetukan "Mahi saBEUSeun" keur ka Peserta Pangandaran
PANGANDARAN YUUU
PANGANDARAN YUUU
ah cape, tulisan ini tak lain sebagai curahan rasa bahagia atas menikahnya sahabat perjuangan saya SIGIT IBRAHIM DAN ROSE PUTRI sungguh saya ingat betul perjalanan cinta pertama kali antara kalian.
SEMOGA Rose dan Sigit menjadi keluarga yang tidak menakutkan "Mengutik kata2 SANDI na panggung" keluarga barokah, dan mengahasilkan keturunan yang barokah juga.
AKHIR KATA
saya ucapkan
SELAMAT BELAH DUREN.......
Selasa, 25 Oktober 2011
SINAR HARAPAN 31 JULI 2011
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/sajak-sajak-rian-iayana/
SEPI
Sepi menaksir tubuhku lebih cermat dari lidah kemarau
lebih mengetahui titik waktu yang buntu.
Perlahan menyisir jejak lalu menyalak saat lampu padam.
Kini sepi menukik lebih cepat dari kelebat kilat,
saat jarak rentan retak dan rindu menghambar.
Sepi menyelinap saat bulan bercadar
dan aku hilang daya dijepit tebing sandiwara.
2011
MALAM DI TERMINAL LAMA
Kita serupa anak kembar dalam rahim kota
menikmati belasan bintang di pinggiran terminal lama.
Sementara kunang-kunang putih berbaris memagari kesunyian
Deru kompor pedagang gorengan melampaui gemuruh langit.
Kemudian kita melangkah pelan sambil menata perasaan
" Lengkap sudah perjalanan ini, saatnya kita akhiri "
ungkapmu sambil menaruh jejak di atas trotoar tua
yang kini berlapis ubin abu-abu.
Kiita menjadi lumpuh ketika harus mengekalkan kembali
kisah yang sempat tertunda
peristiwa cinta di warung kaki lima.
Kita serupa dua ulat yang akan terpisah di cabang pohon.
Persimpangan jalan sungguh menganga dan siap melahap kita.
Beberapa kios rokok, tukang roti bakar maupun bangku taman hanya kekal dalam ingatan.
Di terminal lama, esok hari, kita sendiri-sendiri.
2011
CIWIDEY II
Jika waktu meruncing ke ulu jantung
dan habis daya, paru menimba udara.
Benamkan jasadku di bukit itu,
hempaskan juga kenanganku
bersama silir dingin serta tipis kabut.
Sehingga damai,
setenang batu-batu beku
di dasar tanahnya.
2011
Rindu
Dalam dekatmu aku rindu
apalagi jauh.
Dalam adamu aku rindu
apalagi tiada.
2011
DI KAWALI
Sunyi menyelinap di atas tanah basah,
langit bercadar dedaunan melindapkan rona sejarah.
Sesunyi inikah jalan silam ketika abu itu ditanam
dan prasasti ditancapkan?
Sungguh, tak terbayang banjir airmata dan perih yang menggenang
ketika kidung-kidung duka dilantunkan.
Di sini kupijak kembali
kuhayati kembali.
ASTANA GEDE KAWALI
13 MARET 2011
Saat Lampu Padam
Barangkali akan banyak kata yang lahir saat lampu dipadamkan.
Kata demi kata berhamburan dari dinding dingin
berloncatan dari kusen jendela dan keluar dari kolong tempat tidur.
Barangkali kantuk akan musnah
dikuatkan kalimat yang mengikat kepala
menyangga pelupuk mata.
Barangkali akan banyak kata yang lahir saat lampu dipadamkan.
Karena kenangan tetap terang.
2011
SUARA PEMBARUAN 19 JUNI 2011
http://www.suarapembaruan.com/pages/e-paper/2011/06/19/
MENCURI KELAM
Mencuri kelam dari tubuhmu ayang udzur,
lebih menegangkan dibanding memanjat tebing.
Di pintu gerbangmu,
gelap gulita menyambut dengan sayap-sayap tua,
angin sepi merambat pada genting-genting berlumut.
Mencuri kelam dari tubuhmu yang renta,
memacu kesunyian yang telah lama terkubur di pemakaman.
Bangkit kembali seperti detik-detik hitam yang bergulir pada deras jam.
Nafasmu tiba-tiba berkibar memeluk jasadku.
Heningpun membatu.
2009
KERBAU TUA MEMBAJAK WAKTU
ini dingin kau tepis dengan seksama
kaki-kaki tua dibawa melangkah,
menjajah tanah,
kerbau-kerbau perkasa,
memutar balikan keadaan,
membajak waktu.
melewati tanah garapan
menyusuri dengan perlahan,
pada akhirnya,
kebenaran pula kau balikan.
kepada petani hening kau mengangguk,
menerpa bumi yang semakin bungkuk.
2009
KE KOTA LUKA
- tragedi Mumbay
Ke kota luka jarum kompas di tanganku
menembus jauh
mencatat peristiwa.
Tolong diam sejenak
biarkan hening berdenting
dan sesaat dunia menghentikan cumbu rayu.
Ke kota luka seluruh mata di giring.
Tolong catat dengan seksama
lukis dengan jelas, keabstrakan ini
tolong perjelas pula sisa-sisa semu di kanvasku.
Memang hidup dibawah ancaman
dan telah nyata pertumpahan.
Ke kota luka, kuperjelas langkah.
Ke kota luka jarum kompas mengarah
menunjuk rasa takut dan amis darah.
Tolong diam sejenak
biarkan hening berdenting
dan biarkan angin mengiring.
04 Desember 08
MEMBELAH MALAM
- Zidny Arfiarahman
Tak banyak kata yang kutemukan
saat roda mengantarkan kita membelah malam.
Tak ada kalimat yang lahir dari lampu-lampu pucat
yang disangga tiang berkarat.
Ada orang-orang malam, setia berbenah diri di trotoar jalan.
Sungguh aku tak menemukan kalimat apaapa dari mereka
hanya kelu, serupa mengecap karat kehidupan.
Muncul rasa iri
ketika melihat seorang pemulung dengan mudah menemukan
sampah maupun barang bekas.
Aku hanya gigil, melawan laju angin
tak kutemukan apa-apa dari jalan lenggang ini.
Bersama kita membelah malam.
Sampai sunyi benar-benar sunyi.
2011
KASIDAH WAKTU
- Rendra
Sejauh ini, hanya waktu
yang dapat kueja dari sayap-sayap si burungmerak
selebihnya masih abu-abu
baik lilin maupun obor belum aku nyalakan
jalan ini masih asing
aku tak tahu, kemana silir angin
membawanya pergi
aku tak paham, kemana keranda itu bertepi.
Sejauh ini, hanya waktu
yang dapat kupahami
dari jejak-jejak yang membekas di dada
yang menghujam dari tanggal-tanggal
dalam kalender purba
selebihnya masih samar
aku miskin pengalaman
aku tak tahu kemana arah cuaca
maupun kemana kangen ini menghiba.
2009
Sabtu, 22 Oktober 2011
SUARA MERDEKA 16 OKTOBER 2011
http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2011/10/16/index.shtml
JEMBATAN BIRU
Masih banyak yang perlu dilengkapi
sebelum moncong lokomotif mengoyak perjalanan.
Dan melarungkanmu ke jauh ruang.
Di atas jembatan biru berkarat, engkau membaca raut keriput seorang pengemis
seperti membaca waktu yang semakin dekat ke hilir takdir.
Matamu menerawang ke jauh batas, ke ujung rel yang hilang disekap asap.
Seperti berdoa.
Banyak petualangan yang terlewati dari sejuk langkah hingga nyeri
melayari langit kusam hingga pijar pelangi,
masih banyak yang perlu dilengkapi
sebelum bengis roda kereta melindas kita.
Masih banyak yang perlu dibangun, pilar serta tiang penyangga
sebelum tamat
sebagaimana jembatan biru yang habis oleh karat.
2011
ABAYAGHIRI VIHARA
Meneguk sejuk di istana batu, ajal sungguh terasa jauh
kalaupun dekat, jiwa telah siap untuk didekap.
Damai tiada terlukiskan, kisi-kisi bumi memadu dengan legit langit
berbuah tentram.
Ketenangan demi ketenangan tertata rapi
seperti batu-batu dingin yang dihimpun lantas dibentuk.
Sungguh, sepoi kedamaian menyelinap ke dalam dada
memanjakan tajam pandangan, membasuh lusuh-lusuh jiwa.
Tak ada lagi yang perlu dicemaskan.
Dunia adalah fatamorgana.
2011
INGATAN
Tentang kalang-kalang di tanah lapang
hanya sebuah kenang.
Hidup serupa kelereng yang dihempas jari-jari takdir
melesat ke jauh
menuju titik peraduan.
Hanya dalam ingatan kisah-kisah debu
putaran-putaran kecil yang diiringi gelak tawa.
Waktu semakin menggelinding,
hidup serupa kelereng yang dihempas jari-jari takdir
menuju ujung untuk bertarung
hingga tercapai ruang kemenangan.
Dan, usia pun menggelincir ke gigir ruang
hari ini lengang tualang
esok lusa akan dikenang.
2010
RENGGANIS
Bahasa-bahasa telaga
kalimat airmata
ujung pencarian
rindu pecah di batu.
Patenggang 2011
KERAH BAJU
Keseimbangan,
dari ujung ke ujung
jarak dan garis tengah.
Menyisir perlahan
jejak yang telah dipola.
Keseimbangan,
hingga kancing dan lobang
erat mengikat.
2011
4 MENIT SEBELUM TENGAH MALAM
sepi masih menyarung
sementara cinta telah habis di warung
2011
PERTEMUAN KEDUA
Kita terbata-bata mengeja kata syurga
Mendalami bahasa angin yang berangsur-angsur lebih lurus
Peristiwa demi peristiwa dengan tekun meliris peristiwa baru
Kita tak tepetakkan lagi seperti debu disapu cuaca
Tentang nafas-nafas yang menghiba dari jauh
Atau kerling tajam yang siap menghujam
Hanya colekan kecil yang tak mampu menggetarkan menara peraduan.
Ini waktu menyatukan dua detak
Meski pada akhirnya kita terbata-bata mengeja kata surga.
28 SEPTEMBER 2011
Kamis, 29 September 2011
PATUNG NENEK MOYANG DARI CIWIDEY
Jika kita berkunjung ke Museum Sri Baduga, di halaman depan kita langsung disuguhi beberapa buah reflika Prasasti, salah satunya prasasti peninggalan Raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara. Prasasti Ciaruteun dan prasasti kaki gajah. Saat masuk ke ruang utama, kita langsung disuguhi benda-benda dari masa prasejarah, tulang belulang, miniatur gua pawon. Dari sebelah kanan ruangan kita bisa mengamati berbagai arca diantaranya Gagajahan, Yantra, Votive Tablet, Kepala Budha, Ganesha, Padmaphani, Parwati, Genta Kamandatu, Siwa, Agastya, Siwa Mahadewa. Di tengah kita bisa melihat tengkorak manusia purba. Sementara di sebelah kiri ruangan kita bisa melihat Patung nenek Moyang yang berasal dari Ciwidey (sebagai warga Ciwidey, saya cukup terkejut dengan koleksi Sri Baduga yang satu ini), kemudian patung yang ditemukan di Cikapundung, Argasurya yang ditemukan di Cirebon serta patung yang ditemukan di Citatah.
Lebih ke dalam lagi, kita langsung disuguhi berbagai reflika hewan khas Jawabarat salahsatuhnya Harimau, fosil-fosil binatang seperti babi hutan, rusa dan binatang lainnya. Yang tak kalah menarik adalah Miniatur Cekungan Bandung (ada kecamatan Ciwidey juga pada Miniatur ini). Dari ruangan ini, kita melangkah sedikit ke ruangan lainnya yang menyuguhkan Reflika Kereta Kencana PAKSINAGALIMAN dari kesultanan Cirebon.
Sementara di lantai dua kita bisa melihat patung serta fhoto tentang keberagaman agama di Indonesia, ada fhoto gereja kuno yang ada di Bandung, patung seotrang ibu yang sedang mengaji serta fhoto vihara. Di ruangan ini juga tersimpan naskah-naskah kuno yang sangat cocok untuk diteliti oleh pengunjung yang suka akan filologi. Ada koleksi alat-alat pertanian, alat menangkap ikan, busana-busana tradisional Jawa Barat dari dulu hingga sekarang. Ada koleksi uang kuno, alat pengukur , timbangan, gamelan serta angklung yang sangat besar, Di lantai dua juga kita bisa melihat patung-patung proses pembuatan kerajinan tangan, seperti membuat perkakas, membatik dan membuat kerajinan tanah liat. Di lantai ini juga ada miniatur bentuk-bentuk rumah tradisional Jawa Barat seperti Julang ngpak dan Badak Heuay.
Jadi tak ada salahnya kita mnyempatkan waktu untuk menimba ilmu ke museum ini. Biayanya murah, untuk dewasa hanya 2500, semenatar untuk anak sekolah cukup 1500.
Museum Sri Baduga buka setiap hari senin sampai jumat dari jam 08.00 sampai 15.30 sementara pada hari sabtu-minggu dari jam 8.00 sampai 14.00.
Yu ah kita ke Museum
RIAN IBAYANA
28 SEPTEMBER 2011
Rabu, 14 September 2011
Pusat Konservasi Primata Jawa
BANDUNG, KOMPAS.com- Pusat Konservasi Primata Jawa yang diresmikan Selasa (13//20119), bakal menjadi salah satu sumber referensi maupun studi mengenai primata endemis pulau Jawa. Namun, kita tidak cuma hanya bisa datang dan belajar melainkan bergabung menjadi relawan.
Kesempatan itu diungkapkan salah satu staf pengelola pusat konservasi, Sigit Ibrahim. Pihaknya membuka kesempatan seluasnya bagi lulusan SMA atau universitas yang ingin mendapat pengalaman dengan bergabung sebagai relawan.
"Jadwalnya bisa diatur secara bergantian. Setiap kelompok terdiri dari empat orang," kata Sigit.
Saat ini terdapat 20 relawan yang bergabung dengan Pusat Konservasi Primata Jawa yang bekerja tanpa imbalan. Tugas mereka mulai dari membantu memberi makan hingga pengamatan harian untuk 10 primata yang ada di sana.
Salah satu relawan bernama Ryan Ibayana mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya merupakan warga sekitar di Kecamatan Rancabali maupun Ciwidey. Ada yang sudah lulus sekolah dan berharap mendapat pengalaman dengan bekerja di sana.
"Ada juga yang masih sekolah dan sengaja meminta izin tidak masuk untuk menjadi panitia dalam acara pembukaan," kata Ryan.
Relawan lain bernama Yadi Supriyadi menjelaskan, bukan uang yang mereka cari dengan bergabung sebagai relawan. Salah satu harapan memang nantinya bisa dilibatkan dalam proyek konservasi tapi yang paling utama adalah menimba ilmu agar nantinya bisa dimanfaatkan di daerah asal.
CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)
Carita Tina Dua Carita “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“ ...
-
Selain sebagai kota kuliner serta fashion. Bandung juga bisa disebut kota museum karena Bandung memiliki beberapa museum yang sangat menarik...
-
GUNUNG PADANG, SITUS WISATA YANG TERSEMBUNYI. Mendengar kata Ciwidey, yang terlintas dalam pikiran kita tidak akan jauh dari wisata. Terle...
-
http://www.suarapembaruan.com/pages/e-paper/2011/06/19/ MENCURI KELAM Mencuri kelam dari tubuhmu ayang udzur, lebih menegangkan dibandin...