Minggu, 04 Maret 2012
KASIDAH HUJAN
masuklah ke dalam saku jaketku, dik
hujan telah menyeret kita ke ruang yang maha basah
jangan kau tunjukan gemetar saat dingin semakin mencubit
dan petir melesatkan getir.
tak perlu sungkan, dik
masuklah dengan senang hati
sebab dunia kerap membekukan langkah
ceruk abad tak jua menguyurkan restu
berlainan dengan hujan yang senantiasa berkasidah di sembarang waktu.
masuklah ke dalam saku jaketku, dik
berbenahlah dengan setia.
2012
Minggu, 19 Februari 2012
MAJALAH SAGANG (RIAU) EDISI JANUARI 2012
Sajak Perjalanan
tak ada yang lebih tenang
selain menyelami matamu
di sesak perjalanan
2011
KEMARAU TAK BERJARAK
bumi retak
langkah menyulut prahara
kata demi kata menjadi api
menjalar
ke belantara dan padang belukar
kemarau tak berjarak
saujana
kering mengerling di kening
sementara sajak demi sajak bukanlah mantra jitu
buat mengundang hujan.
kemarau tak berjarak
puisi menjadi prahara
sayang, aku butuh gerimis
bukan airmata.
2011
PATENGGANG
Rindu ini melangit, melebar merambah hutan-hutan
seperti kijang emas yang berlari kencang.
Rengganis, berkacalah pada kemarau dan hujan
terlalu lama senja tiada turun lembayung
terlalu lama cemas ini memuncak
sungguh tiada lagi yang mesti dicatat untuk sejarah
atau sekedar memperkaya malam-malam purnama.
Rengganis, tolong titipkan jika benar rindu merepih hati
sebelum waktu menjajah kita kembali.
Rindu ini menembus langit, melebar merambah hutan-hutan
seperti kijang emas berlari kencang
Rengganis, bila cinta ada, harus kucari kemana?
Terlalu lama malam sepi gemintang
telaga hilang riak
hilang embun dari pucuk daun.
Sungguh tiada lagi yang mesti dicatat untuk sejarah
Rengganis,
merapatlah, kita pecahkan rindu di batu
merapatlah jua pada wujud perahu yang selesai kubangun
kita layari telaga ini
bukti pencarian.
Situ Patenggang
26 Agustus 2007
*Patenggang berasal dari kata Pateangan-teangan (Bahasa Sunda) yang berarti Saling Cari.
TELAGA RINDU
Yang terhampar luas di mata kesunyian,
adalah genangan harap tak terhingga, cekungan rasa tak berujung.
Oh, aku terperangkap kaku pada tubuh yang gigil merindu.
Menanti, menangkap kelebat cahaya di langit bulan suci.
Sementara yang terperangkap pada kental udara malam,
adalah gelombang cemas yang berputar di sekitar bulan setengah lingkaran,
bersama getar hati yang mengeja musim dan gerak arloji.
Yang menjulang hingga ke puncak
adalah mercusuar tak terjangkau tingginya, gelisah damba yang merambah langit.
Menanti, tawaf disepanjang malam seribu bulan.
Sementara yang terperangkap pada desau angin pagi
adalah gejolak bahagia yang tak terbatas dan menggelembung ke atas.
JULI 2011
SUBUH DI GAMBIR
Puluhan kuli panggul terjaga dalam pikirannya sendiri,
mengejar gerbong bisu yang baru datang.
Angin menukik pada bangku-bangku perak, mencipta dingin.
Ah, lelah jua di sini
kutambatkan cemas pada puncak monas.
Stasion Gambir 2011
TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan
mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik
apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.
sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari
memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda
asing.
kemudian segenap kenangan yang sempat membukit
perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan
ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.
seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.
langkah dan peristiwa tak terukir di batu.
2011
SMS BUAT CHAIRIL ANWAR
Bung, negeri ini gawat darurat, jalan juang seperti diperalat, hampir sekarat.
Setiap orang bermata merah, bahkan lebih merah dari matamu bung, lebih basah,
Predikat jalangmu bukan apa-apa karena banyak yang lebih jalang darimu bung
lebih lantang, lebih berani, lebih binatang.
Budaya rakus yang kakus mendarah daging sehingga menggerogoti negerinya sendiri.
Bung, negeri ini wajib selamat
namun segala peluang dan obat telah disuntik taktik-taktik
Bermacam starategi seperti gerigi yang memotong habis cahaya pagi.
Yang lebih liar darimu tak terbilang lagi
segala jalur ditempuh demi sulur ambisi.
Bung, negeri ini hilang wajah
semangat Dipenogoro serta Karawang-Bekasimu seperti terbakar habis
tinggal asap yang mengendap membangkitkan sesak.
Jalan juangmu terlindas terus-menerus
oleh gerbong-gerbong kekuasaan.
Bung, negeri ini wajib diselamatkan, meskipun semangat seperti hendak tamat.
Otakmu terang cemerlang, adakah kisi-kisi misi membangun kembali?
semacam akar yang keluar biar kelar segala kelakar.
Bung, bagaimana jika kita pancung saja semua pengerat itu?
Jika setuju, tolong balas sms ini.
2011
http://www.majalahsagang.com/majalah-160.html
Minggu, 08 Januari 2012
CATATAN 2011
2. RADAR TASIKMALAYA 27 MARET 2011 (5 PUISI)
3. KABAR PRIANGAN 6 JULI 2011 (4 PUISI)
4. SINAR HARAPAN 31 JULI 2011 (6 PUISI)
5. KABAR PRIANGAN 24 AGUSTUS 2011 (4 SAJAK SUNDA)
6. SUARA PEMBARUAN 19 JUNI 2011 (5 PUISI )
7. RADAR TASIKMALAYA 18 SEPTEMBER 2011 (1 CERPEN)
8. BULETIN JEJAK SEPTEMBER 2011 (3 PUISI)
9. SUARA MERDEKA 16 OKTOBER 2011 (7 PUISI )
10. KORAN KAMPUNG LOMBOK Oktober 2011 (beberapa Puisi)
11. SUARA PEMBARUAN 18 DESEMBER 2011 (4 PUISI)
12. RADAR TASIKMALAYA 18 DESEMBER (4 PUISI)
* dapat info dari teman, beberapa sajak sunda saya dimuat di GALURA edisi Agustus minggu ke-4
namun karena belum mendapat informasi yang pasti, untuk sementara sengaja belum saya catat.
Demikian catatan 2011 ini
Sabtu, 17 Desember 2011
RADAR TASIKMALAYA 18 DESEMBER 2011
KOI
apa yang hendak dipilin selain mengamini angin
yang menggiringmu ke gigir dingin
sebab puasa rindu telah dikhatamkan waktu
perkenalan yang menjelujur arah tak daya meluruskan langkah
apalagi kisah
ah
apa yang hendak dihimpun dari detak yang berserak
dari debar yang raib di ubin.
saat irama-irama alam memanjakan debur umur
saat itulah kenangan memadat di dada.
apa yang hendak dirajut selain benang-benang ragu yang makin kusut
jarak yang melenggangkan gairah memupuskan deru temu
perkenalan yang melahirkan gejolak tak mampu memahat batu
apalagi hikayat baru
2011
SENJA TELAH SELESAI II
- Mengenang Almarhum Wan Anwar
Senja telah selesai, kelebat waktu telah mengantarkanmu
pada Nopember yang dingin dan lebih asing dari geladak kapal yang ditinggal nelayan.
Sampai pula pada malam-malam yang lebih pucat dari gugur gemintang.
Senja telah selesai. gelombang masa telah melayarkanmu ke Jauh
melewati pulau demi pulau, ketabahan karang serta palung-palung sunyi.
Tak ada lagi rintihan yang menggambarkan asam kenyataan
serta melukiskan jarak antara kerlip kota dan tambak-tambak.
Senja telah selesai
perjalanan dan pencarian
berakhir di Utara
ya, di Utara.
2009-2011
TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan
mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik
apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.
sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari
memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda
asing.
kemudian segenap kenangan yang sempat membukit
perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan
ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.
seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.
langkah dan peristiwa tak terukir di batu.
2011
SANGKURIANG DIPECUNDANGI WAKTU
-
Ferry Fauzi Hermawan
Siapa sangka waktu seterjal tebing bisu
keras dan kaku
berkepinglah tubuh
ketika pikiran meloncat jauh
menerjangnya.
Aku ingin lebih renta dari waktu
dari musim
dari cuaca
dari daun kerontang yang gugur tadi pagi
aku ingin lebih renta dari Sumbi.
Siapa sangka waktu selicin angin
mustahil kembali
ingin aku bersemayam di lain rahim
di lain perut
biar kupinang kau, tanpa takut.
Siapa sangka
aku hilang daya
remuk
kaku
nihil dipecundangi waktu.
8 Juni 2009
SUARA PEMBARUAN 18 DESEMBER 2011
SUBUH DI GAMBIR
Puluhan kuli panggul terjaga dalam pikirannya sendiri, mengejar gerbong bisu yang baru menggeliat
Angin menukik pada bangku-bangku perak, mencipta gejolak di subuh dengan dingin menyayat.
Ah, lelah jua di sini
kutambatkan cemas pada puncak monas.
Stasion Gambir 2011
SMS BUAT CHAIRIL ANWAR
Bung, negeri ini gawat darurat, jalan juang seperti diperalat, hampir sekarat.
Setiap orang bermata merah, bahkan lebih merah dari matamu bung, lebih basah,
Predikat jalangmu bukan apa-apa karena banyak yang lebih jalang darimu bung
lebih lantang, lebih berani, lebih binatang.
Budaya rakus yang kakus mendarah daging sehingga menggerogoti negerinya sendiri.
Bung, negeri ini wajib selamat
namun segala peluang dan obat telah disuntik taktik-taktik
Bermacam starategi seperti gerigi yang memotong habis cahaya pagi.
Yang lebih liar darimu tak terbilang lagi
segala jalur ditempuh demi sulur ambisi.
Bung, negeri ini hilang wajah
semangat Dipenogoro serta Karawang-Bekasimu seperti terbakar habis
tinggal asap yang mengendap membangkitkan sesak.
Jalan juangmu terlindas terus-menerus
oleh gerbong-gerbong kekuasaan.
Bung, negeri ini wajib diselamatkan, meskipun semangat seperti hendak tamat.
Otakmu terang cemerlang, adakah kisi-kisi misi membangun kembali?
semacam akar yang keluar biar kelar segala kelakar.
Bung, bagaimana jika kita pancung saja semua pengerat itu?
Jika setuju, tolong balas sms ini.
2011
TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan
mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik
apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.
sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari
memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda
asing.
kemudian segenap kenangan yang sempat membukit
perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan
ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.
seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.
langkah dan peristiwa tak terukir di batu.
2011
SANGKURIANG DIPECUNDANGI WAKTU
- Ferry Fauzi Hermawan
Siapa sangka waktu seterjal tebing bisu
keras dan kaku
berkepinglah tubuh
ketika pikiran meloncat jauh
menerjangnya.
Aku ingin lebih renta dari waktu
dari musim
dari cuaca
dari daun kerontang yang gugur tadi pagi
aku ingin lebih renta dari Sumbi.
Siapa sangka waktu selicin angin
mustahil kembali
ingin aku bersemayam di lain rahim
di lain perut
biar kupinang kau, tanpa takut.
Siapa sangka
aku hilang daya
remuk
kaku
nihil dipecundangi waktu.
8 Juni 2009
KOI
Minggu, 27 November 2011
BULETIN JEJAK EDISI 6 SEPTEMBER 2011
MEMURNIKAN JELAGA
Seakut inikah sunyi menyelinap di kantung malam.
Aku seperti berjalan sendiri pada lintasan purba, tak terkira jaraknya
Saujana, hamparan langit tak bertiang, tanpa penyangga.
Seakut inikah sepi mengarak di samudera hidup
aku hilang haluan, limbung bahtera, terang redup.
Kekasih, jejakmu benar pasti, memurnikan jelaga.
2011
BULAN
Sebelum kita menjadi asing kembali.
Saling tanya nama satu sama lain.
Peluklah aku sebagaimana engkau memeluk malam.
Peluklah aku sampai berkeringat
dan langit menurunkan airmata.
Juni 2010
JEMBATAN BIRU
Masih banyak yang perlu dilengkapi
sebelum moncong lokomotif mengoyak perjalanan.
Dan melarungkanmu ke jauh ruang.
Di atas jembatan biru berkarat, engkau membaca raut keriput seorang pengemis
seperti membaca waktu yang semakin dekat ke hilir takdir.
Matamu menerawang ke jauh batas, ke ujung rel yang hilang disekap asap.
Seperti berdoa.
Banyak petualangan yang terlewati dari sejuk langkah hingga nyeri
melayari langit kusam hingga pijar pelangi,
masih banyak yang perlu dilengkapi
sebelum bengis roda kereta melindas kita.
Masih banyak yang perlu dibangun, pilar serta tiang penyangga
sebelum tamat
sebagaimana jembatan biru yang habis oleh karat.
2011
Minggu, 13 November 2011
TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan
mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik
apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.
sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari
memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda
asing.
kemudian segenap kenangan yang sempat membukit
perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan
ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.
seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.
langkah dan peristiwa tak terukir di batu.
2011
CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)
Carita Tina Dua Carita “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“ ...
-
Selain sebagai kota kuliner serta fashion. Bandung juga bisa disebut kota museum karena Bandung memiliki beberapa museum yang sangat menarik...
-
GUNUNG PADANG, SITUS WISATA YANG TERSEMBUNYI. Mendengar kata Ciwidey, yang terlintas dalam pikiran kita tidak akan jauh dari wisata. Terle...
-
http://www.suarapembaruan.com/pages/e-paper/2011/06/19/ MENCURI KELAM Mencuri kelam dari tubuhmu ayang udzur, lebih menegangkan dibandin...