Selasa, 18 Juli 2017

CERPEN RIAN IBAYANA. HARIAN WAKTU CIANJUR 14 JULI 2017






MARTIL KEMBAR

Gerhana Bulan Merah
Malam itu, malam gerhana bulan merah. Beberapa stasiun televisi memberitakan secara langsung detik-detik perubahan warna bulan di langit.  Peristiwa langka yang terjadi 18 Tahun sekali. Bulan berubah merah, seperti darah. Gema takbir merambat lewat udara dari pengeras suara masjid tepi kampung, menjelang salat Gerhana. Ketika sebagian besar masyarakat di sekitar rumahku berduyun-duyun pergi ke masjid, aku terbaring sendiri dia atas kasur kenangan  peninggalan emak. Tubuh terasa lebih ringkih dari biasanya, kepala terasa lebih berat, pandangan mata berkunang-kunang. Memang benar bekerja sebagai kuli pemecah batu menguras banyak tenaga, terkadang menguras perasaan juga.
Tiba-tiba ada suara menghentak telinga, ada seseorang memecahkan jendela kamar. Gerakannya sangat cepat sehingga serpihan kaca beterbangan ke arahku. Kemudian dia masuk ke dalam kamar lewat pintu samping, dengan cara mendobraknya. Tampak jelas kedua tangannya menggenggam sebuah martil, berjalan dengan cepat mendekatiku. Kejadian malam itu benar-benar di luar dugaan, seperti mimpi. Dia dengan beringas, mengayunkan martil di tangannya ke arahku, ya dia ingin memecahkan kepalaku, sosok asing itu ingin membunuhku.
Namun sebelum kepala martil menghantam kepalaku. Si Buntung, kucing  peliharaanku tiba-tiba meloncat dan mencakar wajah sosok asing itu, merobek bagian kening, mata hingga pipi sebelah kiri, kejadiannya begitu cepat seperti kilat. Martil di tangannya jatuh di samping ranjang. Antara sadar dan tidak sadar, aku loncat dari tempat tidur, melesat keluar rumah meninggalkan sosok misterius yang ingin membunuhku, lari dan pergi.

Kuli Pabrik
            Menjadi kuli pabrik pengolahan teh, lebih ringan daripada menjadi kuli pemecah batu. Kerja yang hanya mengandalkan tenaga dan teknik menghantam.  Di sini kulitku lebih terawat karena bekerja di bawah atap pabrik yang bisa menahan bengisnya musim, baik kemarau maupun hujan. Aku bekerja di bagian pelayuan yaitu proses yang bertujuan untuk mengurangi kadar air pada daun teh sampai tingkat layu, juga melemaskan daun sehingga dalam proses penggilingan tidak pecah.
            Lewat jalan yang panjang akhirnya aku sampai di sini,  di kaki gunung tertua, gunung yang senantiasa memberikan napas kesejukan meski usianya sudah senja. Aku tinggal di sebuah rumah kontrak, rumah khusus pegawai pabrik. Rumah yang memiliki bentuk, luas  juga warna yang sama, putih dan biru. Rumah beratapkan asbes, berdinding triplek, satu kamar, ruang tengah, dapur dan kamar mandi di belakang rumah. Meski begitu aku sangat nyaman tinggal di sini. Di bagian lain komplek pabrik, ada rumah-rumah megah dengan arsitektur yang sama, di atap rumahnya tampak ada cerobong asap, di dalam rumahnya ada perapian tempat menghangatkan badan. Rumah-rumah seperti itu biasa ditempati oleh para mandor serta staf khusus pabrik. Di komplek megah itu juga terdapat lapangan tenis tempat para mandor mengisi waktu dengan berolahraga.

Ratih
Ratih, di sini aku merintih sendiri, mengulik kenangan yang semakin hari terasa semakin perih. Tuhan menciptakanmu terlalu sempurna, engkau terlalu baik. Tuturmu yang halus mampu melunakan tangan-tangan kasar para pemecah batu. Bahkan sampai melunakkan hatinya. Sikapmu yang anggun membuat semua mata tertarik, meneduhkan kepala-kepala yang setiap hari dibakar terik.
            Aku di sini karena dunia cemburu  Ratih, dunia marah akan sikapmu padaku yang berlebihan, sikapmu padaku yang begitu berbeda, sikapmu padaku yang begitu menyejukan namun setiap tetes kesejukannya mampu membakar jerami yang kita pijak. Yang pada akhirnya akan membakar kita berdua. Dunia seperti mengutuk sikapmu yang berlaku tidak adil, menebar cinta pada lelaki biasa yang tidak berdaya. Seorang kuli pemecah batu, seorang lelaki bertangan kasar, lelaki yang bekerja setiap hari untuk melunasi utang keluarga. Ratih kau anak menak pemilik perusahaan, sementara aku pekerja di perusahaan orang tuamu.
            Ratih, di sini aku merintih sendiri, mengulik kenangan yang semakin hari terasa  semakin perih. Gelang manik-manik yang kau sisipkan ke kantong bajuku tempo hari, gelang yang membuat dunia semakin cemburu padaku, pada kita Ratih. Maaf gelang itu tertinggal di ranjang, saat aku lari dari ancaman. Aku mencintaimu, namun dunia seperti mata-mata , kemanapun aku pergi seluruh kepala seperti malaikat maut, mengintai hidupku.
            Jangan cemas Ratih,  di sini aku lebih aman, di tempat yang selalu kau idamkan, perkebunan teh. Kampung yang setiap sore selalu diselimuti kabut. Jangan khawatir, aku nyaman di sini, setiap pagi aku bisa menghirup oksigen dengan tenang, menyeduh kopi dengan khidmat sebelum berangkat ke pabrik. Di sini aku jauh dari ancaman meski pedih harus jauh darimu. 

Martil Kembar
Aku dilahirkan dari rahim suci seorang wanita perkasa, rahim hangat seorang ibu yang berjuang keras masa kehamilannya. Aku dilahirkan dari rahim yang diselimuti ucapan zikir serta doa-doa, bermantelkan ayat-ayat suci. Seorang ibu yang tak pernah lepas dari tahajud, menghabiskan sepertiga malam dengan kekhusyuan. Aku dilahirkan dari rahim suci seorang wanita yang setiap hari berjihad membantu suaminya bekerja, ya menemani bapakku.
            Meskipun sedang mengandung, konon ibu tetap sabar bekerja menjadi penjual kopi serta gorengan  di area tempat bapak bekerja memecah batu. Konon Bapak membuat tenda kecil menggunakan terpal biru sebagai tempat ibu berdagang, saat istirahat bapak sering merebahkan badan di tenda tersebut. Dagangan ibu lumayan laris, para kuli pemecah batu teman bapak menjadi langanan utama, meski terkadang ngutang, maklum upah sebagai kuli pemecah batu sangat rendah, jika tak pandai mengelolanya,  penghasilan akan habis di tempat.
            Menurut cerita bapak, aku dilahirkan saat bulan purnama tengah sya’ban. Malam itu, bapak begitu khawatir saat ibu mau melahirkanku, tenaganya hampir habis, napasnya seperti tersengal berjuang habis-habisan. Bapak sampai menangis melihat keadaan kala itu apalagi saat aku lahir dengan selamat dan sempurna, disusul beberapa menit kemudian oleh adikku. Ibuku melahirkan anak kembar, bayi yang sama-sama gagah dan tampan.
            Menjelang usia ke 15, paru-paru ibu bocor dan tidak bisa diselamatkan. Aku dan saudara kembarku memutuskan untuk berhenti sekolah dan mengikuti jejak bapak menjadi kuli pemecah batu. Sebenarnya bapak melarang, tetapi kami berdua sudah membulatkan tekad untuk membantu bapak saja, menjadi kuli. Hingga pada sebuah senja yang tembaga, senja yang merah, bapak memberikan masing-masing sebuah martil kepada kami berdua. Bapak bilang, itu adalah martil kembar, ya martil kembar.
Gelang manik-manik
            “Pakailah gelang manik-manik ini, jumlahnya ada 33 butir, bisa kau jadikan alat untuk berzikir” ucap seorang gadis jelita. Gadis bermata coklat, gadis yang senang memakai baju toska. Dengan pelan gadis itu menyisipkan gelang manik-manik itu ke kantong bajuku.  Senyumnya mampu menghentikan putaran bumi bahkan mampu melemahkan batu-batu. Aku hampir tidak percaya, seorang gadis keturunan menak, menaruh perhatian lebih terhadapku. Padahal selama dua belas tahun menjadi seorang kuli pemecah batu di situ aku bersikap biasa saja kepada anak majikanku itu.
            Beberapa serpihan batu yang baru saja kupecahkan menjadi saksi saat gadis jelita itu menyisipkan gelang manik-manik ke kantong bajuku.  Namun rupanya bukan hanya serpihan batu yang menjadi saksi kejadian itu, tapi mata-mata di sekitarku, mata-mata yang tiba-tiba berubah merah, berubah marah. Mata-mata yang menaruh dendam dan cemburu. Mata-mata yang menebar ancaman.

Gerhana Matahari Total
            Aku masih ingat, dan mungkin ini adalah ingatanku yang terakhir. Pagi itu warga perkebunan berbondong-bondong ke masjid untuk menjalankan salat Gerhana. Konon gerhana yang terjadi 33 tahun sekali, dan kebetulan Indonesia menjadi daerah yang terlintasi gerhana tersebut. Gerhana matahari total. Peristiwa alam yang sudah bisa diramalkan oleh para ahli astronomi sehingga beritanya sangat luar biasa. Hampir seluruh stasiun televisi menyiarkan secara langsung fenomena langka tersebut.
            Aku masih ingat, pagi itu tubuhku mengigil. Sebab semalam kebagian kerja lembur karena khusus pada hari terjadinya gerhana semua pegawai diliburkan. Suara takbir terbawa angin dari pengeras suara masjid perkebunan.  Suara takbir terdengar semakin keras, semakin keras hingga kaca jendela kamar pecah. Ah bukan karena takbir kaca itu pecah.
            Sebuah kepala martil memecahkan jendela kamar, disusul suara dobrakan pintu rumah. Ah sosok tubuh yang memakai penutup kepala sudah ada di depanku, membawa sebuah martil. Tak lama kemudian sosok itu mengayunkan martil di tangannya ke arah kepalaku, dia ingin membunuhku. Aku tak berdaya, cerita dan peristiwa berlalu beku*.

Pesan terakhir
            Ratih, di pembaringan ini aku merintih sendiri, mengulik kenangan yang semakin hari terasa semakin perih. Tuhan menciptakanmu terlalu sempurna sehingga banyak mata yang mengharap dan mendamba. Namun kau menaruh cinta pada lelaki yang tak berdaya. Membuat dunia cemburu dan menebar ancaman. Ratih, aku dilahirkan sebagai anak kembar dan diwariskan masing-masing sebuah martil. Dan yang memecahkan kepalaku, salah satu dari martil kembar itu.

2016

*Petikan puisi Chairil Anwar. Yang terhempas dan terputus

Jumat, 12 Mei 2017

PUISI RIAN IBAYANA DI HARIAN WAKTU (CIANJUR) 5 MEI 2017


SAJAK UJUNG TAHUN II

Perkara rindu yang kerap menyergap di ujung musim
biarkan menyalak bersama lengking klakson dan jerit terompet.
Pada titik ini, matikan sejenak getar arloji
biarkan diri melatih sunyi, bertapa di keramaian.
Sebab esok tiada yang berubah, setiap mata berbicang hal yang sama
bicara cemas yang semakin mengancam.

2016



Kancing Lobang  Dua

Tentramlah di sana bersama saudara-saudara kembarmu
Merekatkan hijau di bagian dada kanan
Dengan merah di bagian dada kiri
Juga tegarlah
mengunci rahasia
Yang tersimpan di dalam saku

2016

Di Ruang ICCU
-           Kiai Matdon


Debar mengakar pada ubin dingin
Cemas pecah di kening  labirin, lorong senyap
Di  balik kaca
Doa-doa menyatu dengan udara dalam tabung oksigen
Dzikir mengalir lewat cairan infus

Oh, Mukjizat
Oh, Mukjizat

2016










Pesan Dari Seorang Penari
-           Toleng Ahmad Insyafiah

Aku berkaca berkali-kali, memahami gurat-gurat peristiwa
ketika yang nyata dibalut topeng.
Sementara di pinggir panggung, mata demi mata terbuai lena
gemulai tubuh nan ayu.
Maka pahamilah gerak yang tersirat, dari  memar yang senantiasa aku tutupi.
Kenyataan yang sebenarnya.

2016














Kepada Sumbi

Di luar, bibir-bibir maut seperti mengancam
Agar waktu meloncat lebih cepat
Kau begitu cermat memainkan epiosde ini, melempar peluang,
Sementara di tanganmu, segenggam cara telah mencekik harapan.
Sungguh  tiada yang lebih mengerikan
Selain suara alu menikam lesung,
di ujung
senyummu begitu manis namun menyiksa,
seperti cahaya fajar yang berwajah tajam.

2016

Senin, 28 November 2016

PUISI RIAN IBAYANA DI SUMUT POST MINGGU 27 NOVEMBER 2016

CIWIDEY TENGAH MALAM III


Memahami kembali getar trotoar yang pernah kita pijak
ada sunyi yang lebih dingin
dari malam-malam gugur gemintang.
Bau pesing dan tumpukan sampah di sudut taman,
menyeruak memecah kenangan demi kenangan.
Ada yang berubah,
sebuah wajah telah musnah,
cahaya neon pedagang kaki lima, melahirkan bayang-bayang asing
bengis beton dan rangka yang melingkar
Sementara di sudut lain, menara masjid tampak bisu,
Ada pilu yang lebih kental dari nyeri-nyeri yang pernah kita kenal

CIWIDEY 2016

KEPADA ANNA CHAPMAN


kita berbahasa lewat rahasia

lewat matamu, seluk-beluk lubuk terlihat
lika-liku langkah yang kerap membangunkan bahaya
dalam terjaga
raga waspada
dalam lelap
kerlingmu terjaga

lewat matamu, berlembar-lembar kabar tergambar
sisi-sisi informasi
kalu lesatkan ke jauh
ke timur.

rahasia di balik rahasia
terbuka di meja rahasia

2016

ELEGI DI SEBUAH PASAR


Apa artinya teriakan ini, jika kelir getir tak juga dipahami
bertahun-tahun gelisah beranak-pinak,
di antara batu-batu yang tersembul di jalanan pasar.
Sementara debu-debu masa lalu masih menusuk mata, menampar wajah-wajah gusar.
Angin yang diboncengi bau sampah, seperti mengabarkan ngeri yang tak kunjung henti.
Dada-dada tersenggal oleh penggalan episode lama
ketika hijrah menjadi cara.

Di sini harapan demi harapan menjelma kepalan tangan.

Ciwidey November 2016

ANJANI PIJAR KENCANA


ANJANI
Tangis permata
Menyapa jagat raya
Sepi pun musnah

PIJAR
Jantung bergetar
Dialiri cahaya
Pijar di nadi

KENCANA
Harap melangit
Budi pekerti emas
Anggun mulia

MEI 2015



 http://www.langgamsp.com/2016/11/27/7003/puisi-puisi-rian-ibayana/


Minggu, 23 Oktober 2016

PUISI RIAN IBAYANA DI SUARA MERDEKA 23 OKTOBER 2016

Berikut adalah beberapa puisi saya yang tayang di surat kabar Suara Merdeka. semacam pemicu gairah menulis, sebab lebih dari tiga tahun bersemedi di goa sunyi.
Selamat menikmati



ELEGI TERAKHIR

kecemasan itu tercurahkan sudah
lewat buih dan awan tebal
sayang, sungguh kita terlalu mabuk
menikmati putaran dunia menutup celah segala petaka
sementara alam telah gelisah
merambatkan getarannya pada urat bumi

senja ini
kita bisa membaca selengkapnya
isyarat-isyarat terungkap sudah


sayang kita susuri hutan ini
hingga ke puncak
hingga dapat kita lacak
dag dig dug perut gunung
serta debar samudera

semoga ini
elegi terakhir di pucuk takdir.

2010




MELEWATI  27

Parka usia
Lurus menembus jauh
Beberapa jembatan terlewati
Senyap dan sepi
Hingar keramaian
Satu persatu
Silih berganti

 Ke arah manakah langkah menepi?

 Kompas telah lepas
 Arloji sesaat lagi mati

Aku melihat jarum alam menunjuk lurus
Ke garis akhir
Baqa.

 2016








28 APRIL (BBM Untuk Chairil )

 Bung, aku tau sekarang
Kenapa gambarmu tengadah.
Bukan melihat burung ataupun mega.
Tapi muak menyaksikan amburadulnya negara.
Bung, smsku memang tak pernah kau baca.
Namun aku yakin, kau tak pernah buta
Membaca alurnya urat-urat peristiwa.

 Bung, sepertimu aku hampa
 Sepi ini menekan mendesak, muak.
 Entahlah esok atau lusa, apa aku mampus atau terjaga.

 Bung, semoga BBM ini tidak ceklis.
Jikalau ceklis aku tentunya menangis.

2015









INDRAGIRI

Membacamu
Membaca telapak tangan yang  dingin
Membaca jemari yang memancarkan ketenangan
Dari setiap ruasnya.

Seperti dzikir, aku mengingatmu berkali-kali
Bahkan melupakan mantra
Yang senantiasa diwiridkan para pertapa

Membacamu
Membaca garis-garis ketentraman
Yang sebenarnya



2016

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/puisi-rian-ibayana/




Minggu, 10 April 2016

CIWIDEY KOTA PENUTUP ROADSHOW NOVEL MANEKEN


Mengisi hari libur, Minggu 10 April kemarin, Kawah Sastra Ciwidey (KSC) menggelar bedah buku Maneken, karya Sangaji Mungkian. Seorang penulis muda asli kelahiran Ciwidey. Bedah buku yang diselenggarakan di Cs Me Cafe dan Resto yang beralamat di Jalan Ciwidey - Rancabali KM 4 itu, dihadiri puluhan peserta terutama para remaja yang hobi menulis  juga ingin menimba ilmu dan pengalaman secara langsung dari penulis.
Novel Maneken merupakan novel fiksi yang menceritakan dua Maneken, boneka kayu yang selalu dipajang di toko busana. Kedua Maneken dibuat hidup oleh Sangaji Mungkian, masing-masing bernama Claudia dan Ferelly. Selayaknya manusia, kedua Maneken tersebut saling mencintai dan dituntut untuk memperjuangkan cinta mereka. Dengan berbagai konflik serta kerikil dalam memperjuangkan cinta, akhirnya kdua maneken tersebut berakhir bahagia dalam dunianya.

Sangaji Mungkian penulis Novel Maneken mengatakan bahwasanya gelaran bedah buku serta diskusi itu merupakan penutup dari Roadshow buku Maneken yang diselenggaran di lima kota di Indonesia. Sebelumnya dilaksanakan di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Sumedang serta Magelang.  Aji (nama panggilan penulis) juga mengatakan bahwa roadshow tersebut terselenggara  atas jalinan apik dengan berbagai komunitas serta club pecinta buku di kota-kota tadi. Aji sengaja ingin menutup roadshow buku Maneken  di tempat kelahirannya yaitu Ciwidey. KSC sebagai wadah para pecinta sastra di Ciwidey menyambut baik keinginan Sangaji Mungkian untuk menggelar Bedah Buku tersebut.
Aya Sofi seorang pembaca buku yang hadir pada  acara tersebut mengatakan bahwa Novel Maneken membisikan bahwa imajinasi mampu menghidupkan benda mati dan cintalah yang membuat manusiawi. Diskusi diisi dengan tanya jawab serta sesi berbagi pengalaman menulis, termasuk suka duka ketika menulis novel tersebut yang rampung selama 4 Bulan. Mengirimkannya ke berbagai penerbit namun ditolak, hingga suatu hari penerbit Republika menerima Karya penulis muda Ciwidey itu.
   Lupita Lestari, panitia dari KSC yang merangkap juga sebagai MC. Mengatakan bahwasanya diskusi Maneken karya Sangaji tersebut merupakan agenda bulanan yang selalu  diselenggarakan oleh KSC. Lupita juga memaparkan bahwa dua bulan sebelumnya telah diadakan kajian jurnalistik dengan pemateri Yogira Yogaswara dan diskusi santai membahas tema Budaya Populer oleh Ferry Fauzi Hermawan M.Hum.


Diskusi berlangsung selama dua jam dan berjalan secara hangat. Untuk memecah kejenuhan penulis memberikan beberapa hadiah bagi para peserta yang bisa menjawab pertanyaan perihal novel Maneken. Diskusi ditutup oleh penampilan dari beberapa anggota KSC yaitu Pembacaan Puisi serta Stand Up Comedy. (Rian Ibayana)

CIWIDEY, 2016

CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...