Sabtu, 02 Mei 2020

GADIS PADA PAPAN REKLAME ( CERPEN MEDAN POS 03 MEI 2010)




        Pada awalnya tidak ada yang aneh dengan papan reklame yang menutupi muka sebuah jembatan penyebrangan itu, semua baik-baik saja seperti papan reklame pada umumnya. Lebarnya hampir sama dengan lebar jalan yang berada di bawahnya, sementara tingginya kurang lebih  3 meter, dari jauh papan reklame itu bisa terlihat jelas. Secara berkala gambar yang terpasang pada  papan tersebut diganti sama pihak terkait, tergantung berapa lama pihak yang berkepentingan menyewa papan tersebut. Ada yang menyewa sebagai tempat iklan, ada juga yang memanfaatkannya sebagai sarana kampanye ketika musim pilkada tiba.  Sementara pemerintah menggunakan papan reklame tersebut sebagai sarana menyampaikan informasi penting bagi warganya.
            Pada papan reklame tersebut tampak gambar seorang gadis sedang memegang sebuah apel merah dan seperti hendak menggigitnya. Bibirnya yang bergincu merah muda sedikit terbuka, sehingga giginya yang putih bersih terlihat indah. Matanya yang kebiru-biruan menebarkan jala kesejukan kepada setiap pengguna jalan yang kebetulan melihat papan reklame tersebut. Sosok manis itu merupakan model dari sebuah iklan lemari pendingin, dengan maksud menyampaikan bahwa makanan yang disimpan dalam lemari pendingin itu, akan tetap segar seperti buah apel yang dipegangnya.
            Gambar gadis dalam papan reklame tersebut menjadi penawar lelah para pedagang kaki lima di sekitar jembatan penyebrangan. Pedagang yang selalu diliputi serba salah sebab mereka berjualan tepat di atas trotoar. Di satu sisi mereka sadar telah merampas hak para pejalan kaki, di sisi lain kebutuhan hidup tak bisa ditawar, dapur mesti ngebul. Di sebelah kanan jalan berderet para penjualan pakaian. Sementara di sisi kiri para pedagang makanan dan buah-buahan menjajakan dagangannya.
            Tidak seperti iklan-iklan atau baligo kampanye pilkada yang pernah terpasang sebelumnya. Iklan lemari pendingin dengan sosok gadis manis bermata kebiruan itu, dipajang lebih dari 100 hari, padahal biasanya paling lama bertahan tiga minggu. Seiring berjalannya waktu, pedagang di sekitar jembatan penyebrangan itu merasa akrab dengan sosok gadis pada pada papan reklame tersebut. Rozali, seorang pedagang buah-buahan, setiap pagi senantiasa melemparkan senyum kepada  gadis di papan reklame tersebut. Sementara itu, Ikram seorang pedagang pakaian dalam, kerap melakukan hal yang lebih parah, sebelum menggelar dagangannya dia selalu melakukan sikap hormat kepada gadis itu, seperti pada saat upacara bendera. Gadis pada papan reklame tersebut sudah menjadi keluarga sendiri, jika sehari tidak menyapanya, rasanya ada yang kurang.
Gendis seorang pedagang aksesoris pernah berkata, setelah papan reklame itu dipasang, barang daganganya lebih laris dari biasanya. Gadis tersebut seolah memberikan keberuntungan. Hal tersebut membuat Pak Gandi gemes dan selalu mengingatkan bahwa hal tersebut adalah syirik kecil, meski di dalam hatinya sempat terbersit hal yang sama bahwa dagangannya juga ikut laris setelah papan reklame itu terpasang, namun dia tidak mau mengungkapkannya dan lebih bersikap rasional.
Sempat beberapa kali pihak terkait hendak mencopot gambar pada papan reklame tersebut dengan alasan waktu sewa telah habis. Namun layaknya seseorang yang sedang dihipnotis, mereka urung melakukannya dan kembali turun dari papan tersebut. Gadis pada papan reklame itu mengandung daya sihir yang luar biasa. Semakin hari bibirnya yang bergincu merah muda tampak lebih manis, giginya yang putih tampak makin berkilau, demikian juga dengan matanya yang kebiru-biruan memberi kesejukan bagi siapa saja yang melihatnya.  Para tukang ojeg online, senang menepikan motornya di pinggir jalan tidak jauh dari papan reklame tersebut, sambil menunggu orderan yang masuk lewat gawainya, mereka kerap melakukan swafoto dengan latar gadis yang sedang memegang buah apel itu.
***
Waktu berjalan teratur, bulan berganti bulan, gadis manis pada papan reklame masih terlihat manis, sejuk dan menyejukan. Namun para pedagang, para pengguna jalan maupun tukang ojeg online mulai acuh tidak mempedulikannya lagi, mereka menjalani hidup seperti biasa. Hingga pada suatu pagi, Rozali dikagetkan dengan hal yang aneh dari papan reklame tersebut. Gadis pada papan reklame itu mengeluarkan airmata, awalnya hanya beberapa tetes namun makin siang semakin menderas, mengucur ke tengah jalan. Pengendara yang melintas terpaksa berjalan ke pinggir demi menghindari kucuran airmata sang gadis. Para pedagang bergerombol di bawah papan reklame, demikian dengan para pejalan kaki maupun tukang ojeg online, mereka terheran-heran melihat peristiwa ajaib tersebut.
Akibat kecanggihan media sosial, berita tentang airmata dari papan reklame menyebar dengan cepat. Masyarakat yang penasaran silih berganti berdatangan, memastikan kebenaran berita yang beredar. Ada juga yang memanfaatkannya untuk swafoto dengan latar papan reklame yang mengeluarkan airmata. Guna melancarkan arus lalu-lintas, pihak terkait dibantu para pedagang membuat saluran pipa guna mengalirkan airmata agar tidak mengucur ke tengah jalan, mengalirkannya lewat samping reklame.
“Asin, airnya asin mirip airmata sungguhan.” ungkap Ikram yang ikut membantu memasang pipa.
“Ya, betul ini mirip airmata sungguhan, aneh tapi nyata” sahut Rozali sambil menadah airmata ke dalam botol plastik yang rencananya mau dibawa ke rumah.
Setelah dialirkan melalui pipa, arus lalu lintas kembali lancar, kegiatan jual beli di sekitar jembatan penyebrangan kembali normal. Namun orang-orang yang penasaran dari hari ke hari makin membludak, bahkan ada yang sengaja datang dari luar kota dengan membawa beberapa jerigen kosong. Mereka percaya bahwa airmata dari papan reklame tersebut mengandung keberkahan. Hampir tiap hari media dalam negeri silih berganti meliput kejadian luar biasa tersebut, hingga viral ke luar negeri. Sebenarnya pihak terkait berniat membongkarnya demi mengendalikan situasi, namun tiap kali hendak mencopot gambar tersebut , para pekerja kembali  seperti dihipnotis dan urung menurunkannya.
“ Percaya tak percaya, setelah berita gadis pada papan reklame itu viral, daganganku tiap hari laris manis” ungkap Rozali
“ Ya, pakaian dalam yang aku jual juga, tiap hari laku keras, tuh lihat, siang ini tinggal beberapa potong lagi” sahut Irkam
“ Apa kata saya juga,  Gadis pada papan itu membawa keberuntungan. Sungguh luar biasa, dagangan saya juga selalu sold out ungkap Gendis dengan nada sedikit centil.  
Sementara Pak Gandi, lelaki paruh baya yang sudah sepuluh tahun berjualan mie ayam di sekitar jembatan penyebrangan itu, hanya duduk termanggu, menatap gadis pada papan reklame tersebut, sambil mengamati keluarnya air dari sudut mata sang gadis. Dia masih tidak percaya, tapi dia juga merasakan hal yang sama, setelah papan reklame itu dipasang, dagangannya senantiasa laris. Apalagi telah beritanya viral dan mengundang banyak orang datang ke sana, dia bisa untung dua kali lipat. Namun pak Gandi masih bisa menahan diri, tiap kali terbersit pikiran itu, dia langsung istigfar memohon ampun, dan kembali memantapkan hati bahwa semua yang terjadi adalah rejeki dari yang Maha Kuasa.
***
            Tiga bulan berlalu, berita seorang gadis pada papan reklame yang mengeluarkan airmata menjadi basi. Suasana di sekitar jembatan penyebrangan kembali seperti semula. Tak ada lagi hiruk-pikuk warga yang ingin melihat peristiwa ajaib itu, tukang ojeg online jarang mangkal lagi  di area bawah jembatan. Pedagang mengeluhkan penurunan omset, biasanya tiap hari bisa soldout , sekarang untuk menjual beberapa potongpun, susahnya luar biasa.
            “Makanya jangan percaya tahayul, jangan percaya bahwa papan reklame itu memberikan keberuntungan, buang jauh-jauh pikiran itu. Rejeki diatur sama Yang Maha Kuasa.” Ungkap Pak Gandi kepada rekan-rekan pedagang di bawah jembatan penyebrangan yang kebetulan pada siang itu sedang berkumpul.
            Rojali, Ikram serta Gendis mengangguk pelan, seolah mengerti dan membenarkan apa yang Pak Gandi ungkapkan.
            “Lihat-lihat, lihat gadis pada papan reklame itu....” kata Udad seorang pedagang gorengan membuyarkan suasana.
            Semua pedagang berhamburan untuk melihat gadis pada papan reklame itu. Airmata gadis itu berubah merah, ya, gadis itu mengeluarkan airmata darah. Semua pedagang tertegun. Beberapa pejalan kaki menghentikan langkahnya, para pengendara menepikan kendaraanya, semua terpaku menatap peristiwa aneh yang kembali terulang.
            Rojali, Ikram dan Gendis saling tatap satu sama lain. Mereka tersenyum ceria. Besok lusa dagangannya pasti soldout  kembali.


2019





Senin, 03 Juni 2019

CERPEN RIAN IBAYANA DI DENPASAR POST MINGGU 02 JUNI 2019


MARTIL PAMUNGKAS

Martil Terakhir
Matamu tampak memancarkan rona amarah tiap kali mengusap benda itu. Sebuah martil tua yang kau pajang di ruang tengah rumahmu. Martil yang berwajah dingin, legam seperti menyimpan dendam. Napasmu terlihat tidak beraturan lebih cepat dari biasanya ketika menurunkan benda itu ke atas meja, kau amati dengan seksama mulai dari kayu pegangan yang terbuat dari kayu rasamala  hingga bagian kepala martil tersebut. Kau memandangi benda itu dengan khusyu, seperti menyelami masa lalu.
            Setiap malam ke empat belas, ketika bulan bulat sempurna, kau senantiasa membersihkan martil itu, bahkan sifatnya menjadi wajib. Kau rajin melingkari tanggal-tanggal pada kalender yang bertepatan dengan bulan purnama dan kau haramkan orang-orang untuk bertamu jika malam sakral itu telah tiba. Sebenarnya tak ada yang menarik dengan martil yang kau manjakan itu, bentuknya sama dengan martil biasa dipakai oleh para pemecah batu. Namun caramu merawat benda itu membuatku tidak paham, kau seperti merawat amarah dan dendam yang ada pada benda itu.
            “Ini martil terakhir di keluarga kita” ungkapmu di sebuah malam purnama. Umurku baru tujuh tahun kala itu, belum mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Namun aku bisa melihat di sudut matammu tampak basah, seperti habis menangis. Kau menyuruhku memegang martil yang beratnya kira-kira 10 kilogram itu. “Peganglah, namun sampai akhir hidupmu jangan sekali-kali memegangnya lagi” suaramu lirih. Tanganmu yang sedikit kasar, mengarahkan tanganku ke arah benda dingin itu. “Martil ini warisan dari kakekmu, warisan paling berharga milik kita, setelah ini kamu jangan sekali-kali menyentuhnya lagi, berjanjilah, kita sudah hidup layak saat ini, sudah saatnya mengubur kerasnya masa lalu” .
            Selepas malam purnama itu, aku tidak pernah melihat airmatamu lagi. Matamu lebih sering memancarkan cahaya merah, seperti api. Sejak itu aku tidak berani mendekatimu ketika kamu melakukan ritual pembersihan martil, kau telah berubah.
Potret Usang
        Senja merah tembaga, kamu duduk di teras rumah, di hadapanmu ada sebuah koper hitam, sedikit berdebu. Kau menyuruhku duduk lebih dekat, kemudian tanganmu mengelus rambutku dengan manja, hal yang jarang kamu lakukan. Sebuah album foto berwarna merah hati kau keluarkan dari dalam koper tua itu kemudian menyuruhku membuka album itu lembar perlembar.
            “ Itu kakekmu” katamu sambil menunjuk sebuah potret lelaki tua menggunakan baju safari berdiri di depan sebuah helikopter. Potret hitam putih dengan sudut gambar yang sudah memudar. “Kata kakekmu, foto ini diambil ketika pemerintah mengadakan program pameran alusista di lapangan kecamatan, masyarakat kecil seperti kakek merasa senang sebab menjadi hiburan tersendiri, makanya kakekmu sengaja memakai baju paling bagus. Dan ikut berfoto di depan helikopter yang dipamerkan.” Kau tampak bersemangat menceritakan sosok di foto itu.
            Pada halaman kedua album tersebut , aku tak berani bertanya apa-apa, aku hanya diam melihat foto dua anak yang wajahnya tampak mirip, sepertinya anak kembar, atau kakak beradik yang usianya tidak berjauhan. Kedua anak itu duduk di tepi kolam, tampak habis berenang. Yang satu sedang tersenyum sambil mengangkat tangannya, sementara anak yang satu lagi tampak dingin dengan sorot mata kosong.
            “Ini bapak” katamu sambil menunjuk ke arah anak yang bermata kosong. Aku mengangguk pelan, tanpa memberikan tanggapan lebih. Kemudian tanganmu mengelus wajah anak yang sedang tersenyum pada potret usang itu. “Ini saudara kembar bapak” ungkapmu dengan bibir gemetar. Semenjak itu, aku tahu bahwa bapak mempunyai saudara kembar.

KEPERGIAN IBU
          Pernah suatu ketika aku bertanya soal ibu kepadamu, namun tamparanmu kala itu seakan mengunci mulutku hingga saat ini. Semenjak itu, pikiran tentang ibu seolah-olah lenyap, aku seakan tak peduli tentang ibu. Matamu yang memerah ketika pertanyaan itu aku lontarkan, seakan menyiratkan pesan amarah yang sangat dalam.
            Beberapa hari sebelum aku melemparkan pertanyaan tentang ibu, tanpa sengaja aku menemukan berkas-berkas tua di dalam laci lemari gudang. Entah berkas apa, namun di sana tedapat nama ibu, nama kamu, serta nama yang hampir mirip denganmu, mungkin itu saudara kembarmu. Nama kakek serta nama nenek yang menurut cerita dari suadara meninggal karena bocor jantung.
            “Jangan tanya-tanya lagi soal ibumu, dia sudah mati bersama kekasihnya yang lebih dulu mati.” Entah apa yang kau ungkapkan, pada saat itu aku belum mengerti dan sampai sekarang sama sekali tidak ingin mengerti. Sejak saat itu ketika ada teman atau tetangga yang bertanya soal ibu, aku selalu bilang bahwa ibuku adalah sebuah martil yang selalu disayangi bapak. Ibuku adalah sebuah benda tumpul yang selalu dimandikan setiap malam bulan purnama.

Rahasia
            Memasuki kamar rahasia itu adalah tindakan yang paling diharamkan, tak ada seorangpun yang boleh memasukinya termasuk aku, anakmu. Aku paham betul apa yang akan terjadi jika peraturan itu dilanggar. Entah apa yang ada di dalam kamar rahasia  itu, aku sama sekali tidak bisa menerka-nerka. Setiap hari kamar itu terkunci rapat hanya kamu yang mampu membuka kunci tersebut, bahkan apabila kamu keluar kota untuk urusan pekerjaan, kamar rahasia itu sampai dikunci ganda.
            Namun berbeda dengan malam itu, kamu tiba-tiba meninggalkan kamar dengan tergesa, pintunya dibiarkan terbuka. Tampak isi kamar sangat berantakan, lampu kamar berwarna hijau menambah angker suasana di dalamnya, wewangian aneh menyeruak ke luar kamar. Beberapa koran tampak tercecer di lantai bersama bunga-bungan yang sudah mengering kecoklatan. Entah apa yang biasa kamu lakukan di dalam kamar rahasia tersebut.
            Aku beranjak memasuki kamar rahasia tersebut, pada dinding kamar tampak terpasang foto-foto usang, ada foto seorang kakek yang sedang memecah batu, ada foto seorang ibu tua yang sedang duduk di dalam tenda, ada juga foto sepasang anak kembar yang berpose di antara batu-batu. Pada dinding bagian lain  ada foto pernikahan kamu dengan ibu, foto aku ketika masih bayi dan foto lain yang tidak kukenali.
            Namun yang paling menggetarkan dada adalah ketika aku membaca headline koran-koran yang tercecer di lantai, tampak dari titi mangsanya adalah koran lama yang terbit jauh sebelum aku dilahirkan.  Ada yang berjudul “Seorang Pemuda Dibunuh Saat Gerhana Matahari”. Kemudian di halaman koran yang lain ada berita utama dengan jjudul “Sadis, Pelaku Menggunakan Martil Untuk Membunuh”.

            Namun yang membuat hati ini lebih ngilu adalah ketika membaca Headline surat kabar yang bertitimangsa jauh dengan koran sebelumnya namun masih berkaitan. “Terungkap, Pelaku Pembunuhan Menggunakan Martil adalah Saudara Kembar Korban. Motif Pembunuhan adalah Karena Cemburu”. Hati menolak untuk percaya namun berita pada surat kabar tersebut sudah menjadi bukti lembaran kelam hidupmu. Kau telah membunuh  saudara kembarmu sendiri.
            “Dirga...! berani-beraninya kamu melanggar peraturan yang sudah bapak tentukan, kamar ini haram buat siapapun untuk memasukinya.” Tubuhku bergetar manakala melihatmu berdiri di pintu kamar. Wajahmu memerah, tanganmu memegang sebuah martil, ya martil itu tampak berdarah.

2019





Senin, 07 Januari 2019

3 PUISI RIAN IBAYANA DI TRIBUN BALI edisi MINGGU 06 JANUARI 2019


LONSUM KERTASARI

Tiba-tiba aku menjadi asing di sini, seperti terlambat mengenalmu.
Pada kelokan terakhir, kurasakan jantungmu tetap berdenyut
meski waktu terus menggerus di setiap putarannya.
Tiba-tiba aku menjadi asing di sini, seperti lupa ketika mula nafas menghiba
Kau tampak tegar, menjulang ke gigir ruang cakrawala
meski senja membuntutimu lebih tajam dari biasanya.

2016




KASIDAH WAKTU II

Waktu berbahasa lebih senyap dari biasanya, tubuh melepuh di ujung tempuh.
Masih luas terbentang halaman lain , dari ribuan halaman yang ditakdirkan
Catatan demi catatan lalu, sejenak aku tinggalkan bersama jejak-jejak
Yang lebih dulu tersapu angin.
Harapan demi harapan saling pandang di muka cermin
Melahirkan semangat baru
Waktu berkasidah menghangatkan ruang kamar,
kamar batin
kamar hidup

Waktu berbahasa lewat udara, membawa langkah pada tangga 
yang lebih tinggi
Satu tahapan
Menuju puncak yang sebenarnya
Mercusuar keabadian.
Memandang jauh Ke-Mahaluasan-Nya

2017

YANG TERTINGGAL DI PASAR BARANG BEKAS ASTANA ANYAR


Memandang jauh ke ujung
Kisah-kisah tua terhampar di atas trotoar
Puluhan kepala menunduk, seperti mencari rindu
Yang tertinggal
Diantara besi-besi berkarat, kunci kuno
Kipas angin serta berbagai dinamo
Yang entah masih berfungsi
Atau memiliki nasibnya sendiri
Mati.

Di sebrang jalan, kios-kios kecil berdiri tegak
Menjajakan keping-keping kuningan
Tempat lilin, serta patung perunggu.
Yang dari matanya terpancar kenangan tempo dulu.


2018





Rabu, 05 September 2018

DABLU KE LUAR ANGKASA Cerpen Rian Ibayana HARIAN RAKYAT SULTRA 27 AGUSTUS 2018

Setiap karya punya nasib masing-masing.
Seperti cerpen ini nasibnya tayang di Kendari. Jauh di tenggara.





DABLU KE LUAR ANGKASA


Kesabaran mpih Engkus sudah terkuras habis oleh tindakan Dablu. Bagaimana tidak, sore itu Dablu berhasil membawa lari nyai Ida, anaknya. Ini untuk ketiga kalinya Dablu melakukan tindakan itu, kejadian pertama dan kedua terjadi berturut-turut sebulan yang lalu, meski hanya untuk jalan-jalan, cara Dablu membawa pergi nyai Ida tanpa tata kesopanan membuat mpih Engkus geram. Sejak awal mpih Engkus tidak suka jika anaknya menjalin hubungan dengan Dablu. Sore itu juga mpih Engkus berniat  pergi ke kantor polisi , untuk melaporkan Dablu dengan tuduhan penculikan.
            Dablu adalah seorang pemuda paling pintar di kampung Tambak, namun karena terlalu pintar, waktu kelas dua SMA Dablu dikeluarkan dari sekolahnya dengan alasan sering membantah pendapat guru, terlalu kritis, mencemarkan nama sekolah dengan tingkahnya dan sederet alasan lain. Sejak itu Dablu tidak melanjutkan sekolah, dia merasa muak dengan orang-orang di sekolah, Dablu memilih bekerja.
 Dablu yatim piatu sejak bayi, dia dibesarkan oleh bi Raspi dan mang Paman. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, sebenarnya bi Raspi dan mang Paman bukanlah keluarga asli dari orang tua Dablu. Tetapi, ah tak perlu diceritakan, terlalu ngeri membayangkan sosok bayi yang dibuang di pinggir sebuah parit, bi Raspi dan mang Paman menyelamatannya. Namun hingga dewasa, Dablu tidak pernah mengetahui asal-usulnya, rahasia itu disimpan baik-baik oleh bi Raspi dan mang Paman.
Mpih Engkus segera menghidupkan motor yang diparkir di depan rumahnya.  Matanya memerah, kemarahannya benar-benar meluap. Ini sudah di luar batas kesabaran, pikirnya.
“ Ambu, ambilkan jaket kulit ! Mpih mau berangkat ke kantor polisi sekarang juga” mpih Engkus sedikit berteriak kepada Ambu Casmi di dalam rumah.
“ Tunggu dulu  mpih, jangan dulu berangkat, ini ada hal penting,  anak kita meninggalkan surat di atas ranjang”  suara ambu Casmi dari dalam kamar nyai Ida.
            Mpih Engkus terkejut, tak biasanya nyai Ida meninggalkan surat seperti itu.  Dia kemudian turun kembali dari motornya dan beranjak ke kamar anaknya itu. Kamar nyai Ida terletak di bagian depan rumah, dengan jendela yang bisa dibuka. Inilah yang menyebabkan  Dablu dengan mudah membawa pergi nyai Ida, membawa lari jauh.
“ Surat apa ambu? “ tanya Mpih Eengkus.
“ Ini mpih, surat dari anak kita, mpih buka saja sendiri, ambu tidak berani membukanya” sambil gemetaran ambu menyerahkan surat itu kepada suaminya.
            Muka mpih Engkus mendadak merah kehitam-hitaman, darahnya mendidih naik ke kepala, jantungnya seperti berlari, tangan kirinya mengepal kemudian diarahkan ke atas, seperti hendak meninju langit. Ternyata surat itu dari Dablu, bukan dari anaknya.
            “Mpih dan Ambu yang saya hormati, rasa hormat yang tulus dari palung hati. Rasa hormat yang nilainya sama dengan rasa hormat kepada Bibi dan Paman. Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada Mpih dan Ambu, dengan lancang telah membawa lari putri semata wayang, putri kebanggaan yang diharapkan akan mengharumkan nama keluarga kelak. Jujur, saya telah mempertimbangkan jalan ini dengan matang, dipikirkan bolak-balik, direnungkan hingga meminta jalan lewat Salat Istiharah. Dan hari ini saya membulatkan tekad membawa lari jauh anak Mpih dan Ambu. Saya tidak akan menyesal menempuh cara ini.
             Di puncak Pasir Kemir, berbulan-bulan saya merangkai sebuah pesawat berbentuk bulat, yang bisa melesat ke langit, menembus atmosfer bumi, menerobos segala kemustahilan, dan saya tidak tau dimana kelak akan mendarat. Dengan pesawat itu saya akan pergi jauh bersama nyai Ida, kekasih hati saya. Hal ini terpaksa saya lakukan, sebab restu tak jua terucap. Mpih dan ambu jangan cemas, segala peralatan dalam pesawat itu sudah terjamin, cadangan makanan cukup untuk waktu yang lama. Namun jika lebih dari satu bulan kami tidak kembali, mpih dan ambu saya harap bisa menerima takdir dengan lapang dada, mungkin ini jalan terbaik yang digariskan Gusti kepada mpih dan ambu, nasib yang harus diterima oleh saya juga putri kesayangan mpih dan ambu ini.
            Jikalau mpih berniat melaporkan saya ke polisi, silahkan. Nanti setelah kembali mendarat di bumi, saya siap untuk dibui. Sebab saya sudah bahagia bisa membawa nyai Ida berkeliling di luar angkasa, mendarat di bulan, mendarat di planet merah, mendarat galaksi lain di luar bima sakti, menyenggol satelit palapa dan benda langit lainnya. Dan saya yakin nyai Ida  tidak akan rela kekasihnya dibui, Nyai Ida bisa saja bunuh diri atau ikut bermukim di balik jeruji besi. Jadi mpih dan ambu tinggal memilih saja, mana yang terbaik
            Surat ini saya akhiri sampai di sini, semoga Mpih dan ambu bisa merelakan kepergian kami”
            Ini sungguh di luar dugaannya, jantung mpih Engkus seakan copot saat membaca isi surat , dadanya naik turun, kakiknya tiba-tiba  gemetar. Melihat reaksi suaminya seperti itu, ambu Casmi kemudian memegang punggung suaminya, menyuruh duduk di atas ranjang, kemudian dia mengambil air dingin dari dapur. Setelah meminum air dingin, emosi mpih Engkus mulai terkendali.
            “ Nyaan kabina-bina pisan si Dablu teh, ambu” ungkap mpih Engkus kepada istrinya.
            “ Coba Ambu pikir, Dablu akan membawa anak kita ke luar angkasa, dia menyuruh kita sabar menunggu selama satu bulan, jika tidak pulang selama satu bulan, kita harus menerima takdir, itu isi suratnya Ambu”  mpih Engkus mencoba memaparkan isi surat kepada istrinya.
            Ambu Casmi menarik napas panjang, merasa tidak percaya sedikitpun isi surat itu. Apakah betul Dablu akan melakukan hal tersebut. Ambu Casmi mengetahui betul siapa sosok yang membawa lari anaknya itu. Pemuda yang terkenal pintar di kampungnya, ambu Casmi juga mengetahui jikalau dulu  Dablu dikeluarkan dari sekolahnya karena kepintarannya melebihi siswa kebanyakan. Dablu adalah pemuda paling kritis di kampungnya, bahkan ambu Casmi pernah mendengar berita Dablu ditampar pak kades saat rapat di balai desa. Dablu terlalu vocal dan tajam mengkritik  kebijakan pemerintah desa yang mengizinkan berdirinya pabrik pengolahan air mineral di kampungnya yang terkenal subur. Namun apalah daya Dablu seorang diri yang kritis, pabrik air mineral itu tetap berdiri.
            Mata ambu Casmi diarahkan ke langit-langit kamar, membayangkan jikalau pada akhirnya nyai Ida harus berdampingan dengan Dablu di pelaminan. Sebenarnya ambu tidak terlalu mempersoalkan latar belakang keluarga Dablu. Dablu juga bisa dibilang pemuda paling tampan di kampungnya,  banyak gadis yang mengharapkan jadi kekasihnya. Meski Dablu belum mempunyai pekerjaan tetap, tapi Ambu Casmi yakin, jika Dablu bisa jadi penerus usaha suaminya, dengan kepintarannya bukan tidak mungkin bisa membuat strategi meningkatkan hasil kebun yang dikelola suaminya.
            “ Ambu...! Ambu...! kalakah ngalamun... !“ bentak mpih Engkus membuyarkan lamunan ambu Casmi.
            Ambu terkejut oleh bentakan suaminya,  lamunannya terhenti, pikiran soal Dablu menguap jauh, jauh sejauh-jauhnya dan tidak kembali. Ambu kemudian ikut duduk di samping  Mpih Engkus.
            “ Pergilah mpih ke kantor polisi, segera laporkan apa yang terjadi. Bawa juga surat di tangan mpih itu. Sebagai barang bukti, siapa tahu polisi bisa segera mengejar Dablu”
            “Baiklah ambu, mpih akan segera berangkat, semoga anak kita akan segera ditemukan, si Dablu harus segera  membayar apa  yang diperbuatnya”

***
Di puncak Pasir Kemir, ada sebuah tanah datar yang hanya ditumbuhi ilalang-ilalang, dahulu tempat ini merupakan tempat paling asyik dan banyak dikunjungi muda-mudi untuk pacaran atau untuk keluarga menikmati indahnya kampung dari ketinggian. Namun setelah terjadi peristiwa pembunuhan seorang gadis oleh kekasihnya, tempat ini tak ada yang berani mengunjungi, puncak Pasir Kemir menjadi angker, apalagi setelah beredar kabar arwah gadis yang dibunuh itu, gentayangan di sekitar puncak pasir.
            Beberapa petugas kepolisian ditemani mpih Engkus, ketua RW Pasir Kemir juga beberapa tokoh masyarakat di sana bergegas menuju puncak, untuk menindaklanjuti laporan mpih Engkus kemarin sore. Menulusuri kebenaran isi surat si Dablu. Perjalanan dari pusat kampung hingga ke puncak ditempuh sekitar 20 Menit, melewati jalan setapak tanah merah.
            Rombongan yang telah sampai di puncak, luar biasa kagetnya melihat keadaan sekitar puncak. Di atas lahan yang biasanya ditumbuhi ilalang terdapat lekukan besar, cekungan yang dalamnya sekitar 2 meter hasil dari tekanan benda berat berbentuk lingkaran. Di ujung timur puncak terdapat sisa-sisa sebuah pengelasan bahan logam, besi-besi serta kaca berantakan. Bau bahan bakar masih menyengat di area puncak, sementara ilalang yang tumbuh di sana habis terbakar.
            Rombongan yang naik ke puncak saling pandang satu sama lain, seolah tidak percaya dengan apa yang ada dihadapan mereka. Komandan polisi yang ikut serta pada penyelidikan itu kemudian menyuruh anak buahnya untuk memberikan garis polisi diseluruh sisi puncak Pasir Kemir, guna kepentingan investigasi dan tidak dijamah orang-orang.
            “ Benarkah ini yang dimaksud dalam isi surat si Dablu itu?” pikir komandan polisi di dalam hati.
           
***
Dua minggu berjalan, kasus penculikan yang dilakukan Dablu masih menjadi berita paling ditunggu di media, mewarnai surat kabar. Isi surat yang menjadi barang bukti tersebar media sosial. Dablu masih menjadi buah bibir, diperbincangkan baik di suasana serius maupun obrolan santai di warung kopi. Soal jejak pesawat yang dibuat Dablu, banyak pertanyaan yang mengemuka, benarkah itu jejak pesawat luar angkasa yang dibuat Dablu untuk pergi jauh bersama kekasihnya, yaitu Nyai Ida. Atau hanya akal-akalan Dablu untuk membuat sensasi sehingga membuyarkan perhatian khalayak, menutupi perbuatannya menculik anak seorang juragan.
            Polisi belum bisa menyimpulkan apakah itu jejak pesawat sungguhan, atau hanya jejak buatan manusia. Para ahli pesawat luang angkasa didatangkan dari ibu kota juga dari berbagai perguruan tinggi, bahkan diberitakan para ahli antariksa dari luar negeri juga sudah memantau kasus ini dengan khidmat. Bukan tidak mungkin akan ikut membantu memecahkan jejak pesawat itu.
            Sementara itu Bi Raspi dan Mang Paman benar-benar kewalahan menghadapi serbuan wartawan juga warga sekitar yang penasaran tentang Dablu, terutama tentang kepintarannya yang konon berhasil membuat pesawat yang bisa terbang jauh ke luar angkasa. Mereka lebih dari sepuluh kali dipanggil ke kantor polisi guna memberikan keterangan tentang si Dablu. Dan pada akhirnya bi Raspi pun tumbang karena tidak kuat menghadapi situasi seperti itu dan dirawat di rumah sakit.
***

            Polisi dan tim investigasi yang terdiri dari para ahli pesawat juga ahli antariksa mulai mendapatkan titik terang, mereka yakin dan bisa menyimpulkan bahwa jejak pesawat di puncak Pasir Kemir itu, murni buatan manusia bukan sisa-sisa pesawat yang lepas landas.  Mereka mengagumi kepintaran Si Dablu yang berhasil membuyarkan konsentrasi khalayak, mengaburkan berita penculikan menjadi isu pesawat luar angkasa yang dibuatnya. Media yang lebih menyoroti jejak pesawat mulai mengalihkan kembali kepada kasus penculikan sebenarnya. Nihil, lebih dari sebulan Dablu belum juga ditemukan, belum ada informasi kemana Dablu pergi membawa Nyai Ida. Namun meski begitu polisi tetap bekerja keras memburu Dablu, menjadi tantangan tersendiri bagi pihak berwajib.
***

Di ruang tamu, Mpih Engkus dan Ambu Casmi sama-sama terdiam. Pikiran mereka masing-masing melayang jauh. Cemas luar biasa menghinggapi ambu Casmi, naluri seorang ibu yang mengkhawatirkan keadaan anaknya. Ambu Casmi membayangkan jikalau dari dulu suaminya menerima  Dablu, mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Sebulan telah berlalu namun dablu tak juga pulang membawa anaknya. Sempat terlintas oleh ambu Casmi, haruskah menyerah pada takdir seperti yang dituliskan Dablu dalam suratnya. Lapang menerima nasib. Ah...
            Sementara itu, pikiran mpih Engkus seperti benang kusut, terbayang wajah-wajah pemuda yang hendak melamar putrinya. Ada wajah Gandi, anak dari temannya, seorang kepala bidang di sebuah perusahan garment di ibu kota. Kemudian muncul wajah Sutisna, seorang guru yang sudah menjadi PNS mengajar di sekolah menengah pertama. Juga tersirat wajah jang Febri, anak dari pemilik pabrik air mineral yang berdiri di kampung Tambak. Mpih Engkus tak habis pikir kenapa anaknya menolak semua lamaran itu dan memilih lari dengan Dablu.
            Sebenarnya dalam hati mpih Engkus mengakui kepintaran Dablu, juga mengakui bahwa Dablu adalah pasangan yang ideal bagi putrinya. Namun ada alasan lain dibalik penolakan Mpih Engkus terhadap sosok Dablu. Isi kepala Mpih engkus melayang, melesat jauh ke jendela masa lalu, mengingat kisah kelam 28 tahun yang silam. Beberapa tahun sebelum bertemu dengan Ambu Casmi dan memustuskan menikahinya.
            Di sebuah malam yang berbalut hujan, mpih Engkus berjalan bersama seorang wanita menyusuri sebuah parit yang jauh dari pemukiman.  Kala itu dingin begitu mencekam, wanita yang berjalan bersma Mpih engkus menggendong bayi mungil yang dibalut samping batik. Suara bayi itu memekik meninju langit, membelah angkasa. Mpih Engkus dan wanita itu memberikan sebuah kecupan hangat di kening bayi mungil itu, kemudian meletakannya di pinggir parit. Kisah kelam itu dia tutup rapat-rapat tanpa ada seorangpun yang tahu.
            Mpih Engkus berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia beranjak ke pintu rumah melemparkan pandang, jauh ke ujung jalan. Dadanya sesak, bayang-bayang masa lalu silih berganti dengan bayang-bayang putrinya kemudian dengan bayang-bayang wajah Dablu,  saling berebut tempat di kepala. Nafasnya seperti tersenggal, kepalanya terasa hampir pecah, mpih Engkus tahu betul bayi yang dibuangnya 28 tahun silam itu adalah Dablu, anaknya sendiri. Pemuda yang membawa lari putrinya ke luar angkasa.

CIWIDEY  OKTOBER 2016

SEKIAN





PUISI DI TRIBUN BALI 03 JUNI 2018

Terima kasih bli Angga Wijaya atas infonya.
Terima kasih buat Ni Wayan Nina Asrini sedia mengirimkan koran tersebut ke Bandung


Senin, 22 Januari 2018

PERKENALAN DENGAN MAJELIS SASTRA BANDUNG (MSB)


    Entah bagaimana persisnya, perkenalan saya dengan MSB tidak lama setelah saya membuat akun FB. Seuatu hal baru yang begitu banyak manfaatnya, dari yang tidak tau menjadi tau, dari sendiri menjadi banyak, dari tidak kenal jadi saling kenal. Saya tertarik pada dunia sastra khususnya pada puisi, sejak sekolah menengah pertama. Namun sejak lulus tahun 2003 hingga 2007 saya hanya belajar sendiri, membaca dan menulis sendiri tanpa ada teman diskusi, puisi-puisi saya tulis pada sebuah buku catatan kemudian menyimpannya. Hingga pada tahun 2007 saya bertemu kawan seperjuangan yang bernama Ferry Fauzi Hermawan, rupanya dia kuliah jurusan bahasa dan sastra Indonesia di UPI. Dari dialah saya mulai tau banyak hal, tentang perkembangan sastra Indonesia, tentang buku-buku baru, info lomba dll.
            Saya pertama kali membuat akun FB sekitar tahun 2009, dari sinilah semua bermula, saya sangat bersyukur dengan kecanggihan teknologi ini, hasrat saya dalam dunia sastra bisa tersalurkan. Saya buka-buka koleksi koran yang memuat karya sastra tiap minggu, saya lihiat nama-nama penyairnya, kemudian saya cari di FB, rupanya hampir semua penyair mempunyai akun FB, sebut saja Yopi Setia Umbara, Heri Maja Kelana ataupun Esa Tegar Putra. Saya hanya tahu namanya saja di koran, melalui fb saya bisa bersilaturahmi dengan mereka.
            Bagaimana persisnya, saya lupa  kenapa saya bisa tahu ada group MSB di FB. Intinya saya bergabung pada group yang digawangi Oleh KYAI MATDON tersebut, namanya tidak asing karena saya adalah pendengar radio Cosmo, kebetulan Matdon pembaca berita 7 di radio itu. Ketika saya masuk Group MSB di FB, kegiatan MSB sudah berjalan satu tahun, kegiatan unggulan MSB yang berjalan setiap bulan sekali bertitel Pengajian Sastra. Diskusi yang membedah karya-karya para anggota MSB oleh para penyair atupun Cerpenis senior. Sistemnya simple yaitu para anggota disuruh mengirimkan karya terbaiknya ke email MSB, dan pada saatnya akan dapat giliran dibedah. Dan diujung tahun, seluruh karya yang masuk dijadikan antologi bersama, saya ingat buku antologi pertama MSB berjudul Ziarah Kata.
            Dari Ciwidey, Bandung selatan, saya memberanikan diri untuk turun gunung mengikuti kegiatan pengajian sastra. Kebetulan pada waktu itu agenda pengajian sastra membahas puisi karya Dave Sky, Riza Fahlevi dan Dony P Herwanto (berhalangan hadir) dengan dipandu oleh moderator Arry syakir Gifary. Saya belajar banyak dari pengajian sastra perdana itu, pun saya dapat berkenalan dengan banyak rekan baru. Diantaranya bisa berkenalan langsung dengan Kyai Matdon,  Yunita Indriani (Dwinita), Arry Syakir Gifari, kang Oppet, Iwan M Ridwan dan banyak lagi.
            Sampai pula akhirnya di tahun kedua Kyai Matdon mengundang anggota baru maupun anggota lama di group MSB untuk mengirimkan 10 karya terbaiknya. Saya tidak membuang kesempatan itu, saya ikut mengirimkan 10 puisi. Namun pada tahun kedua ini, pengajian sastra tidak lagi membahas dan membedah karya anggotanya satu persatu, tetapi formatnya mengundang sastrawan senior untuk menjadi narasumber setiap bulannya. Sementara diskusi karya diadakan seminggu sekali di kebun seni. Di penghujung tahun kedua lahirlah antologi kedua MSB yang berjudul BERSAMA GERIMIS yang diambil dari salah satu judul puisi John Heryanto. Dan alhamdulillah silaturahmi bersma gerimis tetap terjaga hingga sekarang. Beberapa penyair yang masuk antologi ini adalah Zein Arfiarahman, Den Bagoes, Yunita Indriani, Miko Alonso, Kang Agus Nasihin beserta istrinya ibu Yanti Sri Budiarti, teh Elis tating Bardiah, Jhon Heryanto, Wong agung Utomo dan rekan lainnya.


            Untuk antologi bersama gerimis ini, MSB mengadakan road show ke beberapa  tempat diantaranya bedah buku di Braga, di kedailalang Jakarta waktu itu bertemu Endah Sulwesi dan Mas Kurnia Effendy, kemudian berkunjung ke WAPRES BULUNGAN di acara Reboan yang diadakan oleh Zay Lawang langit, Budi Setiawan dll. Buku ini juga dibahas di Beranda 28 Tasikmalaya yang digawangi oleh Kang Bode Riswandi, di sini saya bertemu banyak teman yang sebelumnya hanya kenal di dunia maya, ketemu Arrief Reff, Ria arista Budiarti (RAB), Kang Opik Nerro Taopik Abdilah ( yang sekarang lebih terkenal sebagai penggiat literasi nasional), kang Bunbun, Arinda Risa Kamal dan penggiat sastra lainnya di Tasikmalaya.

            Tahun ketiga MSB menerbitkan kumpulan puisi yang berjudul wirid angin, beberapa penyair yang masuk antologi ini diantaranya Rezki Darojattus Sholihin, Trisna Iryansyah juga Deri Hudaya. Waktu berjalan pada porosnya, pengajian sastra tetap digelar setiap bulan,berbagai kegiatan digelar seperti lomba baca puisi, lomba menulis puisi ramadhan hingga yang paling hangat adalah lomba menulis Esai.
Dan tidak terasa tahun 2018 ini, MSB sudah berusia 9 tahun, usia yang tidak muda lagi. Selamat ulang tahun MSB, semoga tetap eksis dan jaya selamanya.


CIWIDEY 22 JANUARI 2018

Senin, 04 Desember 2017

2 PUISI DI PIKIRAN RAKYAT MINGGU 3 DESEMBER 2017

GERAM

Siapa yang tak geram, ketika negara dikoyak dari dalam
Rakyat dipaksa  membuat riwayat baru, riwayat melarat dari waktu ke waktu
Tak bisa dipahami, selalu saja ada cara menghujamkan tangan
Kemudian menyembunyikannya dengan apik
Tak bisa dimengerti. begitu mudah otak meracik taktik
Menyulap yang ada menjadi tiada, juga sebaliknya
Mengidupkan yang tiada menjadi tampak di depan mata.
Sementara rakyat semakin tercekik, tanpa ada yang melirik
Semacam hikayat baru telah terlahir.

Siapa yang tak geram, ketika negara dikoyak dari dalam
Kursi demi kursi yang tercipta dari rahim ambisi, hanya mampu melemparkan getir
Hilang pegangan, musnah faedahnya.
Kepala demi kepala seperti menciptakan kepala baru, kepala batu.
Kepala yang penuh reka perdaya,
Menyulap yang ada menjadi tiada, juga sebaliknya
Menghidupkan yang tiada menjadi tampak di depan mata.
Sementara rakyat semakin terhimpit, di ruang yang penuh jerit
Sandiwara baru tercipta kembali.


2017


Basa-basi rindu

Demi rindu, berbagai cara kau tempuh,
meski jalanmu dipenuhi serpihan kaca, sisa kekacauan kemarin.
Tampaknya isi dadamu lebih menggebu dari berkobarnya api.

Rindumu berlapis-lapis, lebih tebal dari deretan kawat berduri
Saat terjadi kekacauan kemarin

Ya rindu jualah yang memaksamu memasak lebih dini
bangun lebih janari dan  mencuci lebih pagi
Agar segera bersua, mematangkan isi kepala.

Ah,  jangan terlalu serius, ini hanya basa-basi rindu


Desember 2016




CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...