RUBRIK SENYUM
Aroma
kopi hitam asli Cikajang Garut, menyeruak ke sudut kamar Noerlistanto. Belakangan
ini bapaknya kembali menjadi pecandu kopi, padahal lebih dari sepuluh tahun dia
berhenti minum seduhan yang mengandung cafeeine tersebut karena masalah
lambung. Suara benturan sendok ke sisi cangkir ketika bapaknya mengaduk kopi,
terdengar jelas ke kamar Noerlistanto, sehari dia bisa mendengarkan tiga kali
suara benturan sendok ke sisi cangkir tersebut.
Noerlistanto
mengambil topi pet kotak-kotak andalannya, kemudian mengemas berbagai
perlengkapan fotografi untuk melakukan perburuan. Dia berencana pergi ke kota
kecamatan di selatan Bandung. Menurut informasi yang beredar, aktifitas
masyarakat di sana masih berjalan normal, suasana tetap ramai seperti sedia
kala. Dia berharap bisa mendapatkan
hasil maksimal dalam perburuannya hari itu. Dia juga berencana mau membeli kopi
asli daerah tersebut yang terkenal lebih manis dari kopi dari daerah lain.
Sejak
tamat sekolah menengah atas, Noerlistanto yang lebih akrab disebut Noer memang
lebih menekuni hobinya daripada bekerja. Berbekal sebuah kamera hadiah dari
pamannya ketika ulang tahun ke 17, Noer kerap mengisi waktunya dengan memotret
bebas. Awalnya Noer senang memotret pemandangan, namun karena jenuh, dia
beralih memotret binatang-binatang kecil, seperti kupu-kupu, capung, dan
serangga. Dan sekarang dia lebih suka memotret keadaan sosial masyarakat.
Berkat
ketekunannya dalam mengolah mata lensa dan berburu objek-objek menarik. Dia
berhasil menjadi juara ketiga lomba fotografi
tingkat nasional yang diadakan oleh kementrian pariwisata. Prestasi
tersebut membuat seorang pemilik majalah nasional meminta Noer untuk bergabung
di dalam perusahaannya. Sebagai fotografer khusus untuk rubrik senyum, rubrik andalan majalah tersebut, sebuah
halaman yang selalu menyajikan foto-foto insan yang sedang tersenyum. Tanpa berpikir
panjang, Noer langsung menerima, karena pekerjaan tersebut sejalan dengan
hobinya. Dia bekerja dengan senang hati dan mempunyai kode nama samaran yaitu Lancah
Maung.
“
Semoga perburuanmu hari ini, mendapatkan hasil memuaskan” ungkap bapak Noer
sambil menepuk pundak anaknya.
Noer
menganggukan kepala, kemudian memasukan secarik kertas ke dalam saku jaketnya.
Kertas yang bertuliskan alamat kedai kopi di selatan Bandung yang akan dia
kunjungi. Dia kemudian melesat mantap menggunakan motor astrea tahun 90an yang
biasa dia panggil Kyai Garden. Entah apa alasannya dia memberikan nama itu pada
kuda besinya.
***
Berburu
senyum, adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah. Begitu banyak jenis
senyuman di dunia ini. Noer dituntut bisa mendapatkan foto senyum dalam situasi apapun. Inilah yang menjadi
tantangan tersendiri bagi Noer dalam menjalankan tugasnya. Pertama kali bekerja,
Noer ditugaskan untuk berburu senyum anak-anak. Dia berburu ke taman-taman kota
yang banyak dikunjungi anak-anak, sesekali dia pergi ke sekolah-sekolah,
kadang-kadang dia pergi ke arena hiburan anak, baik yang ada di mall maupun
yang di luar ruangan. Atasannya sangat puas dengan hasil bidikan Noer, lebih
dari 10 foto karya Noer selalu tayang setiap majalahnya terbit. Tampak senyum
keceriaan yang disuguhkan dari hasil bidikannya.
Kemudian
Noer ditugaskan untuk berburu senyum lapisan bawah masyarakat yang berada
diperkotaan. Di sini hati Noer mulai meringis, menyaksikan potret kehidupan
masyarakat bawah yang sangat menyedihkan. Noer berburu ke pemukiman-pemukiman
kumuh di tepi kali, gubuk-gubuk kardus di dekat rel kereta api, ataupun emperan
toko yang banyak dipakai tidur para gelandangan. Batinnya mulai diuji,
bagaimana mungkin bisa menemukan senyum diantara kepedihan hidup. Dari pemulung,
pengemis, gelandangan, pengamen, kuli panggul di stasiun, Noer jarang menemukan
senyum terbaik. Seandainya ada, senyuman getir yang tersuguh. Namun Noer tidak
patah semangat, dia terus berburu hingga dia menemukan senyum penuh syukur dari
bibir seorang nenek yang baru mendapatkan rejeki, senyum seorang lelaki paruh
baya yang baru mendapatkan upah kuli panggul, senyum anak-anak jalanan yang
mendapat beberapa keping uang hasil mengamen. Noer berhasil mengabadikannya.
Ketika
musim pilkada atau pemilihan legislatif tiba, Noer mendapatkan stok senyum yang
melimpah. Senyum penuh janji para calon kepala daerah, senyum penuh harapan
dari calon anggota legislatif, ataupun senyum penuh kepalsuan dari para
relawannya. Senyum bahagia para simpatisan partai yang telah mendapatkan jatah
uang makan, senyum pengusaha-pengusaha yang diuntungkan dengan adanya pilkada. Senyum
lapisan bawah masyarakat yang bahagia karena diiming-imingi janji dan harapan. Ketika
musim pemilu berakhir, stok senyum sinis makin melimpah, stok senyum penuh
kebencian dari pihak yang kalah betebaran. Demikian juga dengan senyum jumawa dari
para pemenang maupun relawan-relawan yang bangga dengan kemenangan jagoannya. Noer
dengan mudah mengirimkan hasil kerja kepada atasannya.
Adapun
yang paling pelik bagi Noer adalah ketika ditugaskan ke sebuah provinsi yang
dilanda bencana gempa bumi, sebuah pulau di bagian tenggara. Bagaimana mungkin
dia bisa menemukan senyum di daerah yang terkena bencana alam. Noer berburu
senyum hingga tenda-tenda pengungsian, menelusuri puing-puing reruntuhan,
menyusuri lorong-lorong di rumah sakit tempat para korban dirawat. Batin Noer
berkecamuk. Namun di sela bencana tersebut akhirnya Noer menemukan senyum penuh
ketabahan, senyum penuh keikhlasan para korban. Serta senyum optimis untuk
bangkit dari keterpurukan.
Noer
juga pernah ditugaskan untuk beburu senyum ke daerah konflik, ditugaskan ke
daerah yang sedang terjadi kerusuhan maupun berburu senyum di sela demonstrasi
masa. Dalam situasi seperti itu, Noer selalu pasrah karena nyawa bisa menjadi
taruhannya. Namun meskipun begitu Noer tetap semangat karena pekerjaanya
tersebut selaras dengan hobi yang dia tekuni sejak dulu.
***
Noerlistanto
mengendarai Kyai Garden dengan santai. Dia tahu, tempat yang dituju kali ini
adalah daerah wisata yang kerap dikunjungi para turis. Dia menikmati setiap
kelokan jalan, menikmati tanjakan-tanjakan yang sedikit berliku, juga menikmati
pemandangan-pemandangan indah sepanjang jalan. Noer merasakan perubahan suhu
udara dalam perjalanannya, semakin atas terasa semakin dingin. Setelah satu jam
setengah menempuh perjalanan, akhirnya dia sampai di pusat kota kecamatan,
Bandung selatan.
Akhir
tahun lalu, dunia digemparkan dengan menyebarnya sebuah penyakit yang
disebabkan oleh virus yang sangat ganas. Virus itu menyebar dengan cepat ke
seluruh dunia, WHO badan kesehatan dunia menetapkan sebagai pandemi. Lima bulan
berlalu, para ilmuan dari seluruh negara berusaha membuat vaksin dan obat yang
tepat buat menangani wabah tersebut, namun ikhtiar itu belum membuahkan hasil.
Masyarakat dunia hanya bisa mencegah dengan melakukan sosial distancing,
rajin cuci tangan, menghindari kerumunan dan memakai masker jika terpaksa bepergian. Bahkan
beberapa negara melakukan strategi lockdown untuk memutus mata rantai
penyebaran virus tersebut.
Setelah
memarkirkan Kyai Garden miliknya, Noer bergegas masuk ke taman kota, suasananya
tampak ramai. Noer berpikir akan mudah mendapatkan banyak senyum jika melihat
kondisi dan situasi yang ramai seperti itu. Noer duduk di sebuah bangku kayu,
sambil mempersiapkan alat fotonya. Sesekali dia mencermati keadaan taman kota
tersebut. Tampak ada beberapa kelompok anak muda duduk-duduk santai di atas
rumput sintetis. Ada juga beberapa keluarga yang berbincang hangat bangku
taman. Yang menarik perhatiannya adalah ada satu keluarga yang tampak ceria,
terdiri dari suami istri dan dua orang anak, yang satu anak perempuan kurang
lebih 12 tahun, yang satu lagi anak laki-laki kurang lebih 6 tahun. Terdengar
gelak tawa dari mereka. Namun gelak tawa itu terbungkus kain masker, Noer
kesulitan untuk mengabadikannya. Noer mencoba mencari buruan lain, namun
sisa-sia, semua pengunjung taman tersebut memakai masker.
“Lancah
Maung, apakah sudah mendapatkan hasil perburuan, ingat besok harus udah ada
foto yang masuk ke meja redaksi?” sebuah pesan masuk dari atasanya.
Noer
belum bisa menjawab pesan dari atasannya tersebut, dia masih berusaha
mendapatkan potret senyum terbaik.. Namun nihil. Semua orang yang berada di
taman kota menggunakan masker. Sempat
ada ide untuk membujuk dengan mengiming-imingi uang kepada beberapa pengunjung
agar membuka masker dan pura-pura tersenyum. Namun nuraninya tidak membenarkan
cara curang tersebut. Noer paham betul situasi di kala pandemi seperti sekarang
membuat masyarakat wajib memakai masker sebagai protokol kesehatan dari badan
kesehatan dunia. Yang berimbas kepada perkerjaannya, sangatlah sulit bisa
menemukan senyum terbaik dalam situasi seperti itu. Noer berpikir, kalaupun
mereka membuka masker, niscaya yang tersaji adalah senyum penuh kegetiran,
senyum yang dibalut rasa takut ataupun
senyum kepura-puraan.
Noer putus asa,
dia duduk termenung di sebuah bangku kosong, di sudut taman kota. Pikirannya
melesat jauh ke sebuah masa dimana senyum telah terenggut dari kehidupannya. Masih
terbayang di matanya, kenangan pahit ketika seorang ibu yang dia sayangi
mencampakan dirinya. Pergi jauh bersama seorang lelaki yang bukan pasangan
halalnya. Meninggalkan Noer bersama bapaknya. Sejak kejadian pahit itu, Noer
tidak pernah tersenyum sama sekali. Ini sangat bertolak belakang dengan pekerjaanya
sebagai pemburu senyum. Ya sangat bertolak belakang.
Noer
merogoh sebuah kertas di dalam saku jaketnya, kemudian mencermati alamat sebuah
kedai kopi yang terkenal di selatan Bandung itu. Setelah membereskan
perlengkapan fotografinya, Noer bergegas untuk mengunjungi alamat kedai kopi
tersebut. Tiba-tiba terlintas bayangan bapaknya sedang tersenyum bahagia, mendapat
bingkisan kopi dari anaknya. Ya, itu lebih baik pikirnya.
2020





