Kamis, 08 Oktober 2020

RUBRUK SENYUM (CERPEN DI MEDAN POS 04 OKTOBER 2020 )

 

RUBRIK SENYUM

 

            Aroma kopi hitam asli Cikajang Garut, menyeruak ke sudut kamar Noerlistanto. Belakangan ini bapaknya kembali menjadi pecandu kopi, padahal lebih dari sepuluh tahun dia berhenti minum seduhan yang mengandung cafeeine tersebut karena masalah lambung. Suara benturan sendok ke sisi cangkir ketika bapaknya mengaduk kopi, terdengar jelas ke kamar Noerlistanto, sehari dia bisa mendengarkan tiga kali suara benturan sendok ke sisi cangkir tersebut. 

            Noerlistanto mengambil topi pet kotak-kotak andalannya, kemudian mengemas berbagai perlengkapan fotografi untuk melakukan perburuan. Dia berencana pergi ke kota kecamatan di selatan Bandung. Menurut informasi yang beredar, aktifitas masyarakat di sana masih berjalan normal, suasana tetap ramai seperti sedia kala.  Dia berharap bisa mendapatkan hasil maksimal dalam perburuannya hari itu. Dia juga berencana mau membeli kopi asli daerah tersebut yang terkenal lebih manis dari kopi dari daerah lain.

            Sejak tamat sekolah menengah atas, Noerlistanto yang lebih akrab disebut Noer memang lebih menekuni hobinya daripada bekerja. Berbekal sebuah kamera hadiah dari pamannya ketika ulang tahun ke 17, Noer kerap mengisi waktunya dengan memotret bebas. Awalnya Noer senang memotret pemandangan, namun karena jenuh, dia beralih memotret binatang-binatang kecil, seperti kupu-kupu, capung, dan serangga. Dan sekarang dia lebih suka memotret keadaan sosial masyarakat.

            Berkat ketekunannya dalam mengolah mata lensa dan berburu objek-objek menarik. Dia berhasil menjadi juara ketiga lomba fotografi  tingkat nasional yang diadakan oleh kementrian pariwisata. Prestasi tersebut membuat seorang pemilik majalah nasional meminta Noer untuk bergabung di dalam perusahaannya. Sebagai fotografer khusus untuk rubrik senyum,  rubrik andalan majalah tersebut, sebuah halaman yang selalu menyajikan foto-foto insan yang sedang tersenyum. Tanpa berpikir panjang, Noer langsung menerima, karena pekerjaan tersebut sejalan dengan hobinya. Dia bekerja dengan senang hati dan mempunyai kode nama samaran yaitu Lancah Maung.

            “ Semoga perburuanmu hari ini, mendapatkan hasil memuaskan” ungkap bapak Noer sambil menepuk pundak anaknya.

            Noer menganggukan kepala, kemudian memasukan secarik kertas ke dalam saku jaketnya. Kertas yang bertuliskan alamat kedai kopi di selatan Bandung yang akan dia kunjungi. Dia kemudian melesat mantap menggunakan motor astrea tahun 90an yang biasa dia panggil Kyai Garden. Entah apa alasannya dia memberikan nama itu pada kuda besinya.

 

***

 

           Berburu senyum, adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah. Begitu banyak jenis senyuman di dunia ini. Noer dituntut bisa mendapatkan foto senyum  dalam situasi apapun. Inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Noer dalam menjalankan tugasnya. Pertama kali bekerja, Noer ditugaskan untuk berburu senyum anak-anak. Dia berburu ke taman-taman kota yang banyak dikunjungi anak-anak, sesekali dia pergi ke sekolah-sekolah, kadang-kadang dia pergi ke arena hiburan anak, baik yang ada di mall maupun yang di luar ruangan. Atasannya sangat puas dengan hasil bidikan Noer, lebih dari 10 foto karya Noer selalu tayang setiap majalahnya terbit. Tampak senyum keceriaan yang disuguhkan dari hasil bidikannya.

            Kemudian Noer ditugaskan untuk berburu senyum lapisan bawah masyarakat yang berada diperkotaan. Di sini hati Noer mulai meringis, menyaksikan potret kehidupan masyarakat bawah yang sangat menyedihkan. Noer berburu ke pemukiman-pemukiman kumuh di tepi kali, gubuk-gubuk kardus di dekat rel kereta api, ataupun emperan toko yang banyak dipakai tidur para gelandangan. Batinnya mulai diuji, bagaimana mungkin bisa menemukan senyum diantara kepedihan hidup. Dari pemulung, pengemis, gelandangan, pengamen, kuli panggul di stasiun, Noer jarang menemukan senyum terbaik. Seandainya ada, senyuman getir yang tersuguh. Namun Noer tidak patah semangat, dia terus berburu hingga dia menemukan senyum penuh syukur dari bibir seorang nenek yang baru mendapatkan rejeki, senyum seorang lelaki paruh baya yang baru mendapatkan upah kuli panggul, senyum anak-anak jalanan yang mendapat beberapa keping uang hasil mengamen. Noer berhasil mengabadikannya.

            Ketika musim pilkada atau pemilihan legislatif tiba, Noer mendapatkan stok senyum yang melimpah. Senyum penuh janji para calon kepala daerah, senyum penuh harapan dari calon anggota legislatif, ataupun senyum penuh kepalsuan dari para relawannya. Senyum bahagia para simpatisan partai yang telah mendapatkan jatah uang makan, senyum pengusaha-pengusaha yang diuntungkan dengan adanya pilkada. Senyum lapisan bawah masyarakat yang bahagia karena diiming-imingi janji dan harapan. Ketika musim pemilu berakhir, stok senyum sinis makin melimpah, stok senyum penuh kebencian dari pihak yang kalah betebaran. Demikian juga dengan senyum jumawa dari para pemenang maupun relawan-relawan yang bangga dengan kemenangan jagoannya. Noer dengan mudah mengirimkan hasil kerja kepada atasannya.

            Adapun yang paling pelik bagi Noer adalah ketika ditugaskan ke sebuah provinsi yang dilanda bencana gempa bumi, sebuah pulau di bagian tenggara. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan senyum di daerah yang terkena bencana alam. Noer berburu senyum hingga tenda-tenda pengungsian, menelusuri puing-puing reruntuhan, menyusuri lorong-lorong di rumah sakit tempat para korban dirawat. Batin Noer berkecamuk. Namun di sela bencana tersebut akhirnya Noer menemukan senyum penuh ketabahan, senyum penuh keikhlasan para korban. Serta senyum optimis untuk bangkit dari keterpurukan.

            Noer juga pernah ditugaskan untuk beburu senyum ke daerah konflik, ditugaskan ke daerah yang sedang terjadi kerusuhan maupun berburu senyum di sela demonstrasi masa. Dalam situasi seperti itu, Noer selalu pasrah karena nyawa bisa menjadi taruhannya. Namun meskipun begitu Noer tetap semangat karena pekerjaanya tersebut selaras dengan hobi yang dia tekuni sejak dulu.

 

***

 

            Noerlistanto mengendarai Kyai Garden dengan santai. Dia tahu, tempat yang dituju kali ini adalah daerah wisata yang kerap dikunjungi para turis. Dia menikmati setiap kelokan jalan, menikmati tanjakan-tanjakan yang sedikit berliku, juga menikmati pemandangan-pemandangan indah sepanjang jalan. Noer merasakan perubahan suhu udara dalam perjalanannya, semakin atas terasa semakin dingin. Setelah satu jam setengah menempuh perjalanan, akhirnya dia sampai di pusat kota kecamatan, Bandung selatan.

 

             

            Akhir tahun lalu, dunia digemparkan dengan menyebarnya sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus yang sangat ganas. Virus itu menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, WHO badan kesehatan dunia menetapkan sebagai pandemi. Lima bulan berlalu, para ilmuan dari seluruh negara berusaha membuat vaksin dan obat yang tepat buat menangani wabah tersebut, namun ikhtiar itu belum membuahkan hasil. Masyarakat dunia hanya bisa mencegah dengan melakukan sosial distancing, rajin cuci tangan, menghindari kerumunan  dan memakai masker jika terpaksa bepergian. Bahkan beberapa negara melakukan strategi lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut.

            Setelah memarkirkan Kyai Garden miliknya, Noer bergegas masuk ke taman kota, suasananya tampak ramai. Noer berpikir akan mudah mendapatkan banyak senyum jika melihat kondisi dan situasi yang ramai seperti itu. Noer duduk di sebuah bangku kayu, sambil mempersiapkan alat fotonya. Sesekali dia mencermati keadaan taman kota tersebut. Tampak ada beberapa kelompok anak muda duduk-duduk santai di atas rumput sintetis. Ada juga beberapa keluarga yang berbincang hangat bangku taman. Yang menarik perhatiannya adalah ada satu keluarga yang tampak ceria, terdiri dari suami istri dan dua orang anak, yang satu anak perempuan kurang lebih 12 tahun, yang satu lagi anak laki-laki kurang lebih 6 tahun. Terdengar gelak tawa dari mereka. Namun gelak tawa itu terbungkus kain masker, Noer kesulitan untuk mengabadikannya. Noer mencoba mencari buruan lain, namun sisa-sia, semua pengunjung taman tersebut memakai masker.

            Lancah Maung, apakah sudah mendapatkan hasil perburuan, ingat besok harus udah ada foto yang masuk ke meja redaksi?” sebuah pesan masuk dari atasanya.

            Noer belum bisa menjawab pesan dari atasannya tersebut, dia masih berusaha mendapatkan potret senyum terbaik.. Namun nihil. Semua orang yang berada di taman kota  menggunakan masker. Sempat ada ide untuk membujuk dengan mengiming-imingi uang kepada beberapa pengunjung agar membuka masker dan pura-pura tersenyum. Namun nuraninya tidak membenarkan cara curang tersebut. Noer paham betul situasi di kala pandemi seperti sekarang membuat masyarakat wajib memakai masker sebagai protokol kesehatan dari badan kesehatan dunia. Yang berimbas kepada perkerjaannya, sangatlah sulit bisa menemukan senyum terbaik dalam situasi seperti itu. Noer berpikir, kalaupun mereka membuka masker, niscaya yang tersaji adalah senyum penuh kegetiran, senyum yang dibalut  rasa takut ataupun senyum kepura-puraan.

Noer putus asa, dia duduk termenung di sebuah bangku kosong, di sudut taman kota. Pikirannya melesat jauh ke sebuah masa dimana senyum telah terenggut dari kehidupannya. Masih terbayang di matanya, kenangan pahit ketika seorang ibu yang dia sayangi mencampakan dirinya. Pergi jauh bersama seorang lelaki yang bukan pasangan halalnya. Meninggalkan Noer bersama bapaknya. Sejak kejadian pahit itu, Noer tidak pernah tersenyum sama sekali. Ini sangat bertolak belakang dengan pekerjaanya sebagai pemburu senyum. Ya sangat bertolak belakang.

            Noer merogoh sebuah kertas di dalam saku jaketnya, kemudian mencermati alamat sebuah kedai kopi yang terkenal di selatan Bandung itu. Setelah membereskan perlengkapan fotografinya, Noer bergegas untuk mengunjungi alamat kedai kopi tersebut. Tiba-tiba terlintas bayangan bapaknya sedang tersenyum bahagia, mendapat bingkisan kopi dari anaknya. Ya, itu lebih baik pikirnya.

 

2020





Sabtu, 29 Agustus 2020

PUISI RIAN IBAYANA. BMR FOX 27 AGUSTUS 2020

 LEWAT SIARAN RADIO

-          Kepada Moch Syarif Hidayat

 

Di udara, kalimat-kalimat isyarat  menentukan nasibnya.

Puisi mengembara, merambat lewat celah gelombang

Menuju  titik takdirnya masing-masing.

Di udara, kata demi kata  membentuk wasilahnya sendiri.

Entah untuk membunuh rindu ataupun mengabadikan kenangan.

Merawat baik-baik hingga sampai ke palung batin, pendengarnya.

 

2020

 

Menuju Duhur

Sekian jam kita mengolah cemas dengan kadar yang berbeda.
Tak terhitung detak jantung diburu, waktu yang setajam pisau.

Buka lemari kecil di dapurmu, masih adakah cadangan tabah yang kau simpan?
Masih luaskah loyang kesabaramu?

Sebelum tulang iga lelah menjaga rahasia

Sebelum lutut menjadi payah menopang perkara

Siapkan alat masak dan segenap bumbu
sudah saatnya kita mematangkan rindu

2020

 

 PENGANGKUT AIR



Mengarungi sungai peluh dari dahi menuju ujung kaki
dapat kuhayati betapa jauhnya jarak langit dan bumi.
Kegelisahan merambat lewat urat nadi

Ketika musim tiba-tiba berubah
semua mata kehilangan arah.

Mendaki pundak kanan yang semakin hari semakin berlubang
kutemukan makna perjuangan
tak sia-sia
langkah demi langkah makin berharga.

Mengarungi sungai peluh dari dahi menuju ujung kaki
dapat kuhayati betapa jauhnya jarak langit dan bumi.

Ketika tanah pecah kekeringan
Kehadiranmu adalah harapan.



2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SINAN*

Adalah untuk keagungan yang tak terbatas.
Pondasi kau tata
di atas tanah damai ini
Benteng-benteng panjang
serta megah kubah dan menjulangnya menara.
Tata kota gemilang
air mancur serta kolam sultan.


Bukan sekedar tumpukan batu
apa yang kau susun, apa yang kau bangun
Adalah ketegaran do'a,
serta keluasan rindu kepada-NYA


* Arsitek jaman raja Sulaiman, Turki othoman.


NOVEMBER 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ONOMATOPE HATI


Anjing menyalak di puncak bukit


Namun hati,
berteriak tanpa suara
menentang kekeliruan raga.


2020

 

 

OMRAN ALAN (KE KOTA LUKA 3)

 

lagi-lagi, ke kota luka, kepala demi kepala disetir getir

menyaksikan sebuah jam,  pecah di ubin darah

 

di sana masa depan seperti terhenti tertimpa puing-puing

 

tolong diam beberapa menit, tengoklah

seorang bocah telungkup di tepi laut

 

ke kota luka, mata kita digiring

memahami nurani yang semakin kering

 

tolong diam sejenak, seorang bocah dengan tatapan kosong

menyeka luka di dahinya, wajah penuh debu  dan darah

 

apa yang dapat diharapkan, dari deru peluru dan desing pesawat

yang memekakan telinga?

 

semua sia-sia

 

lagi-lagi, kepala demi kepala disetir getir

ke kota luka

ya, ke kota luka

 

2016


http://epaper.bfox.co.id/2020/08/27/mobile/index.html

 

Jumat, 08 Mei 2020

PUISI RIAN IBAYANA KHAZANAH PIKIRAN RAKYAT 06 MEI 2020


Variasi Malam

Malampun berjantung,
dentumannya lebih kencang  dari deru jantungmu.
Getarannya lebih terasa, bahkan cenderung tergesa.
Sementara kita masih menggauli puing-puing ragu dalam raga
Yang seharusnya kita tinggalkan ketika ikatan mula menghiba.
Malampun berjantung, bahkan detaknya lebih kacau tak beraturan.
Dingin mencekam, cahaya temaram seperti membunuh dirinya sendiri.
Sementara kita masih bergulat tak tentu, mencoba mengukur nasib
Menikam waktu.

2020




DI HALAMAN ASING

Akhir-akhir ini, kita semakin tersesat serta lupa jalan pulang
Rumah, yang berabad-abad kita huni dengan mudah kita tinggalkan,
Dalam keadaan  jendela terbuka dan pintu tidak terkunci

Akhir-akhir ini, kita kerap mengira-ngira
halaman lain lebih terang dari matahari
Padahal bukan tidak mungkin kita dihadapkan dengan hujan
Maupun badai

Akhir-akhir ini kita terlalu larut dalam batin kata, yang tak mampu kita cerna
Sementara tiang-tiang rumah, kita biarkan keropos begitu saja
Dinding-dinding mengelupas, noda-noda dibiarkan mengeras pada kaca dan teras.

Bukankah kenangan kita ada di sana?
Bukan di jalan ini, bukan di halaman asing  ini?

2019



 SARKOFAGUS


Selamat siang
Izinkan aku mengetuk pintu purbamu
Menyelami musim sunyi yang mustahil tersentuh
Berilah restu untuk menyatu dengan udara masa silammu
Dimana sajak demi sajak, serta mantra kematian
Saling melengkapi
Menaruh jejak di batu, jembatan menuju nirwana

OKTOBER 2019












Sabtu, 02 Mei 2020

GADIS PADA PAPAN REKLAME ( CERPEN MEDAN POS 03 MEI 2010)




        Pada awalnya tidak ada yang aneh dengan papan reklame yang menutupi muka sebuah jembatan penyebrangan itu, semua baik-baik saja seperti papan reklame pada umumnya. Lebarnya hampir sama dengan lebar jalan yang berada di bawahnya, sementara tingginya kurang lebih  3 meter, dari jauh papan reklame itu bisa terlihat jelas. Secara berkala gambar yang terpasang pada  papan tersebut diganti sama pihak terkait, tergantung berapa lama pihak yang berkepentingan menyewa papan tersebut. Ada yang menyewa sebagai tempat iklan, ada juga yang memanfaatkannya sebagai sarana kampanye ketika musim pilkada tiba.  Sementara pemerintah menggunakan papan reklame tersebut sebagai sarana menyampaikan informasi penting bagi warganya.
            Pada papan reklame tersebut tampak gambar seorang gadis sedang memegang sebuah apel merah dan seperti hendak menggigitnya. Bibirnya yang bergincu merah muda sedikit terbuka, sehingga giginya yang putih bersih terlihat indah. Matanya yang kebiru-biruan menebarkan jala kesejukan kepada setiap pengguna jalan yang kebetulan melihat papan reklame tersebut. Sosok manis itu merupakan model dari sebuah iklan lemari pendingin, dengan maksud menyampaikan bahwa makanan yang disimpan dalam lemari pendingin itu, akan tetap segar seperti buah apel yang dipegangnya.
            Gambar gadis dalam papan reklame tersebut menjadi penawar lelah para pedagang kaki lima di sekitar jembatan penyebrangan. Pedagang yang selalu diliputi serba salah sebab mereka berjualan tepat di atas trotoar. Di satu sisi mereka sadar telah merampas hak para pejalan kaki, di sisi lain kebutuhan hidup tak bisa ditawar, dapur mesti ngebul. Di sebelah kanan jalan berderet para penjualan pakaian. Sementara di sisi kiri para pedagang makanan dan buah-buahan menjajakan dagangannya.
            Tidak seperti iklan-iklan atau baligo kampanye pilkada yang pernah terpasang sebelumnya. Iklan lemari pendingin dengan sosok gadis manis bermata kebiruan itu, dipajang lebih dari 100 hari, padahal biasanya paling lama bertahan tiga minggu. Seiring berjalannya waktu, pedagang di sekitar jembatan penyebrangan itu merasa akrab dengan sosok gadis pada pada papan reklame tersebut. Rozali, seorang pedagang buah-buahan, setiap pagi senantiasa melemparkan senyum kepada  gadis di papan reklame tersebut. Sementara itu, Ikram seorang pedagang pakaian dalam, kerap melakukan hal yang lebih parah, sebelum menggelar dagangannya dia selalu melakukan sikap hormat kepada gadis itu, seperti pada saat upacara bendera. Gadis pada papan reklame tersebut sudah menjadi keluarga sendiri, jika sehari tidak menyapanya, rasanya ada yang kurang.
Gendis seorang pedagang aksesoris pernah berkata, setelah papan reklame itu dipasang, barang daganganya lebih laris dari biasanya. Gadis tersebut seolah memberikan keberuntungan. Hal tersebut membuat Pak Gandi gemes dan selalu mengingatkan bahwa hal tersebut adalah syirik kecil, meski di dalam hatinya sempat terbersit hal yang sama bahwa dagangannya juga ikut laris setelah papan reklame itu terpasang, namun dia tidak mau mengungkapkannya dan lebih bersikap rasional.
Sempat beberapa kali pihak terkait hendak mencopot gambar pada papan reklame tersebut dengan alasan waktu sewa telah habis. Namun layaknya seseorang yang sedang dihipnotis, mereka urung melakukannya dan kembali turun dari papan tersebut. Gadis pada papan reklame itu mengandung daya sihir yang luar biasa. Semakin hari bibirnya yang bergincu merah muda tampak lebih manis, giginya yang putih tampak makin berkilau, demikian juga dengan matanya yang kebiru-biruan memberi kesejukan bagi siapa saja yang melihatnya.  Para tukang ojeg online, senang menepikan motornya di pinggir jalan tidak jauh dari papan reklame tersebut, sambil menunggu orderan yang masuk lewat gawainya, mereka kerap melakukan swafoto dengan latar gadis yang sedang memegang buah apel itu.
***
Waktu berjalan teratur, bulan berganti bulan, gadis manis pada papan reklame masih terlihat manis, sejuk dan menyejukan. Namun para pedagang, para pengguna jalan maupun tukang ojeg online mulai acuh tidak mempedulikannya lagi, mereka menjalani hidup seperti biasa. Hingga pada suatu pagi, Rozali dikagetkan dengan hal yang aneh dari papan reklame tersebut. Gadis pada papan reklame itu mengeluarkan airmata, awalnya hanya beberapa tetes namun makin siang semakin menderas, mengucur ke tengah jalan. Pengendara yang melintas terpaksa berjalan ke pinggir demi menghindari kucuran airmata sang gadis. Para pedagang bergerombol di bawah papan reklame, demikian dengan para pejalan kaki maupun tukang ojeg online, mereka terheran-heran melihat peristiwa ajaib tersebut.
Akibat kecanggihan media sosial, berita tentang airmata dari papan reklame menyebar dengan cepat. Masyarakat yang penasaran silih berganti berdatangan, memastikan kebenaran berita yang beredar. Ada juga yang memanfaatkannya untuk swafoto dengan latar papan reklame yang mengeluarkan airmata. Guna melancarkan arus lalu-lintas, pihak terkait dibantu para pedagang membuat saluran pipa guna mengalirkan airmata agar tidak mengucur ke tengah jalan, mengalirkannya lewat samping reklame.
“Asin, airnya asin mirip airmata sungguhan.” ungkap Ikram yang ikut membantu memasang pipa.
“Ya, betul ini mirip airmata sungguhan, aneh tapi nyata” sahut Rozali sambil menadah airmata ke dalam botol plastik yang rencananya mau dibawa ke rumah.
Setelah dialirkan melalui pipa, arus lalu lintas kembali lancar, kegiatan jual beli di sekitar jembatan penyebrangan kembali normal. Namun orang-orang yang penasaran dari hari ke hari makin membludak, bahkan ada yang sengaja datang dari luar kota dengan membawa beberapa jerigen kosong. Mereka percaya bahwa airmata dari papan reklame tersebut mengandung keberkahan. Hampir tiap hari media dalam negeri silih berganti meliput kejadian luar biasa tersebut, hingga viral ke luar negeri. Sebenarnya pihak terkait berniat membongkarnya demi mengendalikan situasi, namun tiap kali hendak mencopot gambar tersebut , para pekerja kembali  seperti dihipnotis dan urung menurunkannya.
“ Percaya tak percaya, setelah berita gadis pada papan reklame itu viral, daganganku tiap hari laris manis” ungkap Rozali
“ Ya, pakaian dalam yang aku jual juga, tiap hari laku keras, tuh lihat, siang ini tinggal beberapa potong lagi” sahut Irkam
“ Apa kata saya juga,  Gadis pada papan itu membawa keberuntungan. Sungguh luar biasa, dagangan saya juga selalu sold out ungkap Gendis dengan nada sedikit centil.  
Sementara Pak Gandi, lelaki paruh baya yang sudah sepuluh tahun berjualan mie ayam di sekitar jembatan penyebrangan itu, hanya duduk termanggu, menatap gadis pada papan reklame tersebut, sambil mengamati keluarnya air dari sudut mata sang gadis. Dia masih tidak percaya, tapi dia juga merasakan hal yang sama, setelah papan reklame itu dipasang, dagangannya senantiasa laris. Apalagi telah beritanya viral dan mengundang banyak orang datang ke sana, dia bisa untung dua kali lipat. Namun pak Gandi masih bisa menahan diri, tiap kali terbersit pikiran itu, dia langsung istigfar memohon ampun, dan kembali memantapkan hati bahwa semua yang terjadi adalah rejeki dari yang Maha Kuasa.
***
            Tiga bulan berlalu, berita seorang gadis pada papan reklame yang mengeluarkan airmata menjadi basi. Suasana di sekitar jembatan penyebrangan kembali seperti semula. Tak ada lagi hiruk-pikuk warga yang ingin melihat peristiwa ajaib itu, tukang ojeg online jarang mangkal lagi  di area bawah jembatan. Pedagang mengeluhkan penurunan omset, biasanya tiap hari bisa soldout , sekarang untuk menjual beberapa potongpun, susahnya luar biasa.
            “Makanya jangan percaya tahayul, jangan percaya bahwa papan reklame itu memberikan keberuntungan, buang jauh-jauh pikiran itu. Rejeki diatur sama Yang Maha Kuasa.” Ungkap Pak Gandi kepada rekan-rekan pedagang di bawah jembatan penyebrangan yang kebetulan pada siang itu sedang berkumpul.
            Rojali, Ikram serta Gendis mengangguk pelan, seolah mengerti dan membenarkan apa yang Pak Gandi ungkapkan.
            “Lihat-lihat, lihat gadis pada papan reklame itu....” kata Udad seorang pedagang gorengan membuyarkan suasana.
            Semua pedagang berhamburan untuk melihat gadis pada papan reklame itu. Airmata gadis itu berubah merah, ya, gadis itu mengeluarkan airmata darah. Semua pedagang tertegun. Beberapa pejalan kaki menghentikan langkahnya, para pengendara menepikan kendaraanya, semua terpaku menatap peristiwa aneh yang kembali terulang.
            Rojali, Ikram dan Gendis saling tatap satu sama lain. Mereka tersenyum ceria. Besok lusa dagangannya pasti soldout  kembali.


2019





Senin, 03 Juni 2019

CERPEN RIAN IBAYANA DI DENPASAR POST MINGGU 02 JUNI 2019


MARTIL PAMUNGKAS

Martil Terakhir
Matamu tampak memancarkan rona amarah tiap kali mengusap benda itu. Sebuah martil tua yang kau pajang di ruang tengah rumahmu. Martil yang berwajah dingin, legam seperti menyimpan dendam. Napasmu terlihat tidak beraturan lebih cepat dari biasanya ketika menurunkan benda itu ke atas meja, kau amati dengan seksama mulai dari kayu pegangan yang terbuat dari kayu rasamala  hingga bagian kepala martil tersebut. Kau memandangi benda itu dengan khusyu, seperti menyelami masa lalu.
            Setiap malam ke empat belas, ketika bulan bulat sempurna, kau senantiasa membersihkan martil itu, bahkan sifatnya menjadi wajib. Kau rajin melingkari tanggal-tanggal pada kalender yang bertepatan dengan bulan purnama dan kau haramkan orang-orang untuk bertamu jika malam sakral itu telah tiba. Sebenarnya tak ada yang menarik dengan martil yang kau manjakan itu, bentuknya sama dengan martil biasa dipakai oleh para pemecah batu. Namun caramu merawat benda itu membuatku tidak paham, kau seperti merawat amarah dan dendam yang ada pada benda itu.
            “Ini martil terakhir di keluarga kita” ungkapmu di sebuah malam purnama. Umurku baru tujuh tahun kala itu, belum mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Namun aku bisa melihat di sudut matammu tampak basah, seperti habis menangis. Kau menyuruhku memegang martil yang beratnya kira-kira 10 kilogram itu. “Peganglah, namun sampai akhir hidupmu jangan sekali-kali memegangnya lagi” suaramu lirih. Tanganmu yang sedikit kasar, mengarahkan tanganku ke arah benda dingin itu. “Martil ini warisan dari kakekmu, warisan paling berharga milik kita, setelah ini kamu jangan sekali-kali menyentuhnya lagi, berjanjilah, kita sudah hidup layak saat ini, sudah saatnya mengubur kerasnya masa lalu” .
            Selepas malam purnama itu, aku tidak pernah melihat airmatamu lagi. Matamu lebih sering memancarkan cahaya merah, seperti api. Sejak itu aku tidak berani mendekatimu ketika kamu melakukan ritual pembersihan martil, kau telah berubah.
Potret Usang
        Senja merah tembaga, kamu duduk di teras rumah, di hadapanmu ada sebuah koper hitam, sedikit berdebu. Kau menyuruhku duduk lebih dekat, kemudian tanganmu mengelus rambutku dengan manja, hal yang jarang kamu lakukan. Sebuah album foto berwarna merah hati kau keluarkan dari dalam koper tua itu kemudian menyuruhku membuka album itu lembar perlembar.
            “ Itu kakekmu” katamu sambil menunjuk sebuah potret lelaki tua menggunakan baju safari berdiri di depan sebuah helikopter. Potret hitam putih dengan sudut gambar yang sudah memudar. “Kata kakekmu, foto ini diambil ketika pemerintah mengadakan program pameran alusista di lapangan kecamatan, masyarakat kecil seperti kakek merasa senang sebab menjadi hiburan tersendiri, makanya kakekmu sengaja memakai baju paling bagus. Dan ikut berfoto di depan helikopter yang dipamerkan.” Kau tampak bersemangat menceritakan sosok di foto itu.
            Pada halaman kedua album tersebut , aku tak berani bertanya apa-apa, aku hanya diam melihat foto dua anak yang wajahnya tampak mirip, sepertinya anak kembar, atau kakak beradik yang usianya tidak berjauhan. Kedua anak itu duduk di tepi kolam, tampak habis berenang. Yang satu sedang tersenyum sambil mengangkat tangannya, sementara anak yang satu lagi tampak dingin dengan sorot mata kosong.
            “Ini bapak” katamu sambil menunjuk ke arah anak yang bermata kosong. Aku mengangguk pelan, tanpa memberikan tanggapan lebih. Kemudian tanganmu mengelus wajah anak yang sedang tersenyum pada potret usang itu. “Ini saudara kembar bapak” ungkapmu dengan bibir gemetar. Semenjak itu, aku tahu bahwa bapak mempunyai saudara kembar.

KEPERGIAN IBU
          Pernah suatu ketika aku bertanya soal ibu kepadamu, namun tamparanmu kala itu seakan mengunci mulutku hingga saat ini. Semenjak itu, pikiran tentang ibu seolah-olah lenyap, aku seakan tak peduli tentang ibu. Matamu yang memerah ketika pertanyaan itu aku lontarkan, seakan menyiratkan pesan amarah yang sangat dalam.
            Beberapa hari sebelum aku melemparkan pertanyaan tentang ibu, tanpa sengaja aku menemukan berkas-berkas tua di dalam laci lemari gudang. Entah berkas apa, namun di sana tedapat nama ibu, nama kamu, serta nama yang hampir mirip denganmu, mungkin itu saudara kembarmu. Nama kakek serta nama nenek yang menurut cerita dari suadara meninggal karena bocor jantung.
            “Jangan tanya-tanya lagi soal ibumu, dia sudah mati bersama kekasihnya yang lebih dulu mati.” Entah apa yang kau ungkapkan, pada saat itu aku belum mengerti dan sampai sekarang sama sekali tidak ingin mengerti. Sejak saat itu ketika ada teman atau tetangga yang bertanya soal ibu, aku selalu bilang bahwa ibuku adalah sebuah martil yang selalu disayangi bapak. Ibuku adalah sebuah benda tumpul yang selalu dimandikan setiap malam bulan purnama.

Rahasia
            Memasuki kamar rahasia itu adalah tindakan yang paling diharamkan, tak ada seorangpun yang boleh memasukinya termasuk aku, anakmu. Aku paham betul apa yang akan terjadi jika peraturan itu dilanggar. Entah apa yang ada di dalam kamar rahasia  itu, aku sama sekali tidak bisa menerka-nerka. Setiap hari kamar itu terkunci rapat hanya kamu yang mampu membuka kunci tersebut, bahkan apabila kamu keluar kota untuk urusan pekerjaan, kamar rahasia itu sampai dikunci ganda.
            Namun berbeda dengan malam itu, kamu tiba-tiba meninggalkan kamar dengan tergesa, pintunya dibiarkan terbuka. Tampak isi kamar sangat berantakan, lampu kamar berwarna hijau menambah angker suasana di dalamnya, wewangian aneh menyeruak ke luar kamar. Beberapa koran tampak tercecer di lantai bersama bunga-bungan yang sudah mengering kecoklatan. Entah apa yang biasa kamu lakukan di dalam kamar rahasia tersebut.
            Aku beranjak memasuki kamar rahasia tersebut, pada dinding kamar tampak terpasang foto-foto usang, ada foto seorang kakek yang sedang memecah batu, ada foto seorang ibu tua yang sedang duduk di dalam tenda, ada juga foto sepasang anak kembar yang berpose di antara batu-batu. Pada dinding bagian lain  ada foto pernikahan kamu dengan ibu, foto aku ketika masih bayi dan foto lain yang tidak kukenali.
            Namun yang paling menggetarkan dada adalah ketika aku membaca headline koran-koran yang tercecer di lantai, tampak dari titi mangsanya adalah koran lama yang terbit jauh sebelum aku dilahirkan.  Ada yang berjudul “Seorang Pemuda Dibunuh Saat Gerhana Matahari”. Kemudian di halaman koran yang lain ada berita utama dengan jjudul “Sadis, Pelaku Menggunakan Martil Untuk Membunuh”.

            Namun yang membuat hati ini lebih ngilu adalah ketika membaca Headline surat kabar yang bertitimangsa jauh dengan koran sebelumnya namun masih berkaitan. “Terungkap, Pelaku Pembunuhan Menggunakan Martil adalah Saudara Kembar Korban. Motif Pembunuhan adalah Karena Cemburu”. Hati menolak untuk percaya namun berita pada surat kabar tersebut sudah menjadi bukti lembaran kelam hidupmu. Kau telah membunuh  saudara kembarmu sendiri.
            “Dirga...! berani-beraninya kamu melanggar peraturan yang sudah bapak tentukan, kamar ini haram buat siapapun untuk memasukinya.” Tubuhku bergetar manakala melihatmu berdiri di pintu kamar. Wajahmu memerah, tanganmu memegang sebuah martil, ya martil itu tampak berdarah.

2019





Senin, 07 Januari 2019

3 PUISI RIAN IBAYANA DI TRIBUN BALI edisi MINGGU 06 JANUARI 2019


LONSUM KERTASARI

Tiba-tiba aku menjadi asing di sini, seperti terlambat mengenalmu.
Pada kelokan terakhir, kurasakan jantungmu tetap berdenyut
meski waktu terus menggerus di setiap putarannya.
Tiba-tiba aku menjadi asing di sini, seperti lupa ketika mula nafas menghiba
Kau tampak tegar, menjulang ke gigir ruang cakrawala
meski senja membuntutimu lebih tajam dari biasanya.

2016




KASIDAH WAKTU II

Waktu berbahasa lebih senyap dari biasanya, tubuh melepuh di ujung tempuh.
Masih luas terbentang halaman lain , dari ribuan halaman yang ditakdirkan
Catatan demi catatan lalu, sejenak aku tinggalkan bersama jejak-jejak
Yang lebih dulu tersapu angin.
Harapan demi harapan saling pandang di muka cermin
Melahirkan semangat baru
Waktu berkasidah menghangatkan ruang kamar,
kamar batin
kamar hidup

Waktu berbahasa lewat udara, membawa langkah pada tangga 
yang lebih tinggi
Satu tahapan
Menuju puncak yang sebenarnya
Mercusuar keabadian.
Memandang jauh Ke-Mahaluasan-Nya

2017

YANG TERTINGGAL DI PASAR BARANG BEKAS ASTANA ANYAR


Memandang jauh ke ujung
Kisah-kisah tua terhampar di atas trotoar
Puluhan kepala menunduk, seperti mencari rindu
Yang tertinggal
Diantara besi-besi berkarat, kunci kuno
Kipas angin serta berbagai dinamo
Yang entah masih berfungsi
Atau memiliki nasibnya sendiri
Mati.

Di sebrang jalan, kios-kios kecil berdiri tegak
Menjajakan keping-keping kuningan
Tempat lilin, serta patung perunggu.
Yang dari matanya terpancar kenangan tempo dulu.


2018





CARITA TINA DUA CARITA (CARPON RIAN IBAYANA DI AYOBANDUNG.COM 20 MARET 2021)

Carita Tina Dua Carita               “ Ké ké naha kuring aya dimana? Dimana ieu? Asa kakara kuring ka tempat ieu, naha bet aya di dieu?“    ...