SUBUH DI GAMBIR
Puluhan kuli panggul terjaga dalam pikirannya sendiri, mengejar gerbong bisu yang baru menggeliat
Angin menukik pada bangku-bangku perak, mencipta gejolak di subuh dengan dingin menyayat.
Ah, lelah jua di sini
kutambatkan cemas pada puncak monas.
Stasion Gambir 2011
SMS BUAT CHAIRIL ANWAR
Bung, negeri ini gawat darurat, jalan juang seperti diperalat, hampir sekarat.
Setiap orang bermata merah, bahkan lebih merah dari matamu bung, lebih basah,
Predikat jalangmu bukan apa-apa karena banyak yang lebih jalang darimu bung
lebih lantang, lebih berani, lebih binatang.
Budaya rakus yang kakus mendarah daging sehingga menggerogoti negerinya sendiri.
Bung, negeri ini wajib selamat
namun segala peluang dan obat telah disuntik taktik-taktik
Bermacam starategi seperti gerigi yang memotong habis cahaya pagi.
Yang lebih liar darimu tak terbilang lagi
segala jalur ditempuh demi sulur ambisi.
Bung, negeri ini hilang wajah
semangat Dipenogoro serta Karawang-Bekasimu seperti terbakar habis
tinggal asap yang mengendap membangkitkan sesak.
Jalan juangmu terlindas terus-menerus
oleh gerbong-gerbong kekuasaan.
Bung, negeri ini wajib diselamatkan, meskipun semangat seperti hendak tamat.
Otakmu terang cemerlang, adakah kisi-kisi misi membangun kembali?
semacam akar yang keluar biar kelar segala kelakar.
Bung, bagaimana jika kita pancung saja semua pengerat itu?
Jika setuju, tolong balas sms ini.
2011
TENTANG ISTANA (KEBUN TEH ) TERAKHIR
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan perjalanan
mata juang disuguhi punggung takdir yang menjauh seiring terbunuhnya detik
apa yang pernah terhimpun musnah di belakang kabut.
sementara waktu telah mengurung denyut dari jauh hari
memenjarakan debar pada jeruji yang berbeda
asing.
kemudian segenap kenangan yang sempat membukit
perlahan mesti dilayarkan ke jauh dengan rakit ketabahan
ribuan rasa yang sempat mendaun jarum, merimbun cemara.
seperti senja yang condong ke bawah bumi. berakhir di atap bisu
akhirnya jarak jualah yang mengkhatamkan kedip harap.
langkah dan peristiwa tak terukir di batu.
2011
SANGKURIANG DIPECUNDANGI WAKTU
- Ferry Fauzi Hermawan
Siapa sangka waktu seterjal tebing bisu
keras dan kaku
berkepinglah tubuh
ketika pikiran meloncat jauh
menerjangnya.
Aku ingin lebih renta dari waktu
dari musim
dari cuaca
dari daun kerontang yang gugur tadi pagi
aku ingin lebih renta dari Sumbi.
Siapa sangka waktu selicin angin
mustahil kembali
ingin aku bersemayam di lain rahim
di lain perut
biar kupinang kau, tanpa takut.
Siapa sangka
aku hilang daya
remuk
kaku
nihil dipecundangi waktu.
8 Juni 2009
KOI